Langit Shanghai pekat. Kantor sementara Ezra Xavier masih terang benderang. Ruangan itu dipenuhi aroma tembakau mahal yang menempel di udara, bercampur dengan bau kulit dari sofa dan kursi eksekutif. Ezra bersandar di kursinya, kepalanya sedikit miring, mata tajamnya menatap kosong pada skyline kota. Pundaknya tegang, ia baru saja menyelesaikan serangkaian meeting panjang dengan investor internasional. Beberapa hari terakhir benar-benar menguras tenaga. Para konglomerat, direktur, dan pemegang saham dunia bukanlah lawan bicara yang mudah. Ezra harus menjaga ketegasan, sekaligus memutar otak agar tidak kehilangan kendali dalam negosiasi. Namun pada akhirnya, semua berjalan sesuai kehendaknya, Ezra Xavier selalu menang.
Kini tubuhnya pegal, otot-ototnya seperti menjerit minta direnggangkan. Tapi wajahnya, tetap dingin, keras, seolah tidak pernah mengenal kata lelah. Ezra Xavier, pria yang selalu terlihat tegak bahkan ketika tubuhnya ingin runtuh. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu menoleh pada pria setia yang berdiri di sudut ruangan.
“Nael,” panggilnya, suara berat, namun tetap menjaga aura angkuhnya.
Nael yang sejak tadi diam, hanya mengamati, menegakkan tubuhnya. “Ya?”
Mata Ezra menyipit, sorotnya tajam menusuk. “Ada laporan dari orang yang kukirim ke Bangkok?” tanyanya. Nada suaranya bukan sekadar meminta, tapi menuntut. Sesaat Nael tidak menjawab. Ia sempat menimbang. Nael tahu betul laporan itu ibarat minyak disiramkan ke bara api. Ezra sudah lelah, emosinya tipis, dan laporan ini hanya akan menyulut ledakan. Namun ia juga tahu, menunda lebih lama hanya akan membuat Ezra curiga dan murka.
Akhirnya Nael mendekat, menyerahkan sebuah iPad yang sedari tadi ia genggam. “Ini. Laporan yang dikirimkan anak buah.”
Ezra menerima benda itu dengan tangan kokoh, lalu menggeser layar. Dan seketika napasnya berhenti sesaat.
Foto pertama menampilkan Seira dengan gaun merah menyala, berdiri berdampingan dengan seorang model pria muda, wajah tampan, tubuh atletis. Posisi mereka begitu dekat, mata saling menatap penuh intensitas. Lensa kamera menangkapnya dengan sempurna, menciptakan ilusi sebuah kisah cinta. Ezra menatap lama, detak jantungnya menggema keras.
Ia menggeser lagi. Foto berikutnya, lebih parah. Seira terlihat menunduk, tersenyum kecil, sementara pria itu meraih dagunya dengan lembut. Memang jelas itu pose untuk pemotretan, tapi bagi Ezra, itu adalah bentuk pengkhianatan. Foto lain menunjukkan Seira tertawa, berdiri di balik panggung bersama pria yang sama. Bukan lagi ekspresi profesional, melainkan interaksi alami, akrab, nyaris intim.
Darah Ezra mendidih.
“Ini… apa-apaan?” suaranya serak, nyaris seperti geraman binatang buas.
Nael menatap lurus, tenang, meski tahu badai sudah pecah. “Itu dokumentasi dari pemotretan di Bangkok. Dan beberapa diambil dari balik layar.” Ezra mengepalkan tangan. Jemarinya memutih, iPad itu hampir terhempas dari genggamannya.
“Dia milikku!” bentak Ezra. Urat di pelipisnya menonjol, matanya merah, seperti singa yang wilayahnya diinjak. “Dan sekarang dia… dia membiarkan pria lain menyentuhnya, menatapnya begitu?”
Nael menghela napas panjang, tahu tak ada jawaban yang bisa menenangkan amarah itu. “Bukannya ini hal biasa? Bukan pertama kalinya, ini pekerjaannya. Bagian dari kontraknya.”
“Pekerjaan?” Ezra tertawa, tapi suaranya dingin, penuh ejekan. “Pekerjaan macam apa yang membuat istriku terlihat seperti… seperti… ” Ia menahan diri, tidak melanjutkan kata-kata keji yang sudah nyaris keluar. “Aku sudah memberinya kontrak itu kembali, aku sudah memenuhi permintaannya. Dan balasannya? Ini?”
Nael tetap diam, biarkan badai itu pecah. Lalu, tanpa aba-aba, Ezra menghantamkan tangannya ke meja kaca. Bunyi dentum keras bergema di seluruh ruangan. Gelas whisky yang masih setengah penuh pecah berantakan, cairan amber mengalir cepat, membasahi dokumen penting yang tadi siang dibicarakan.
Ezra bangkit berdiri, tubuh tingginya memancarkan aura mengancam. Ia melempar iPad itu ke sofa, untung tidak ke lantai. Matanya liar, rahangnya mengeras.
“Dia mempermainkanku, Nael. Seira berpikir aku akan duduk diam, melihat semua ini tanpa bereaksi?”
Ia menyambar kursi di samping meja, melemparkannya hingga menabrak dinding. Suara kayu hancur bercampur dengan kaca retak.Pihak hotel pasti akan mengirim tagihan ganti rugi, tapi itu urusan kecil. Ezra terlalu kaya untuk peduli. Yang tidak bisa ia beli adalah harga dirinya. Ezra berputar, menghantam rak buku dengan tinjunya. Buku-buku jatuh berserakan, beberapa bingkai foto pecah. Napasnya berat, tubuhnya seperti gunung berapi yang akhirnya meletus.
Nael tetap di tempat, tubuh tegap, wajah datar. Ia sudah terbiasa dengan amukan Ezra. Tugasnya bukan menahan, tapi memastikan setelah badai reda, tidak ada yang terlalu hancur.
“Jangan menyakiti tanganmu, Ezra. Kamu masih harus tanda tangan dokumen penting,” kata Nael sarkastik.
Ezra menoleh, mata membara menatapnya. Ada sekilas rasa sakit di balik sorot tajam itu, tapi cepat ia tutup rapat-rapat.
“Aku tidak bisa terima ini, Nael. Tidak bisa!” suaranya serak, pecah di ujungnya.
Nael menunduk, dalam hati ia tahu, ini bukan hanya soal foto atau pekerjaan. Ini tentang harga diri Ezra, tentang egonya yang tak rela istrinya tampak ‘dimiliki’ dunia, meski sebatas kamera.
“Besok,” Ezra menegakkan tubuhnya lagi, suara dingin menggema. “Besok aku akan menemuinya. Aku akan menyelesaikan ini, sendiri.”
“Besok pagi kau masih ada rapat dengan delegasi dari Eropa,” suara Nael masuk, tenang tapi penuh pertimbangan. “Kalau kau tinggalkan begitu saja, mereka bisa merasa diremehkan. Itu akan berisiko pada kontrak besar.”
Ezra berbalik cepat, tatapannya menusuk. “Kau pikir aku peduli pada rapat itu sekarang?” suaranya rendah, tapi tajam seperti pisau. “Kau kira aku akan duduk manis mendengar ocehan mereka, sementara istriku dipajang seperti mainan di depan pria lain?”
“Ezra..” Nael mencoba menahan dengan logika.
“Tidak, Nael!” Ezra menghantam meja dengan keras, membuat sisa gelas pecah makin berantakan. “Memangnya kau tidak bisa menggantikanku?!”
Nael terdiam sejenak, bahunya tetap tegak, wajahnya tidak berubah. Hanya ada keheningan beberapa detik, sebelum ia menundukkan kepala sedikit.
“Ok, kalau memang itu yang kau mau…” suaranya tenang, dingin. “…aku akan menggantikanmu. Mungkin memang lebih baik begitu, ketimbang kau datang ke rapat hanya untuk meremukan semua orang.”
Ezra terdiam sesaat, rahangnya mengeras. Nada sarkastik Nael sudah tidak mempan lagi bagi Ezra. Dia tahu Nael benar. Tapi egonya tidak mau mengakuinya.
“Aku tidak peduli bagaimana kau atur. Yang jelas, aku harus menemui Seira. Tidak ada yang bisa menghalangiku.”
“Ya, as you wish,” Nael menegakkan tubuhnya penuh hormat. Tidak ada bantahan lagi.
**
Sejak pagi, layar ponsel Seira telah berkedip. Pesan masuk dari Ezra. [Aku pulang hari ini.]
Sederhana, tapi berat. Pesan itu dikirim berulang kali, ditambah panggilan telepon yang tiada henti. Namun Seira tidak menjawab satupun. Entah karena sibuk, atau karena lelah menghadapi badai yang sudah ia tahu pasti akan datang. Di sisi lain, pesawat pribadi Ezra baru saja mendarat. Raut wajahnya tegang, matanya kelam bagai bara. Dia tidak ditemani Nael, orang kepercayaannya itu terjebak dalam rapat penting yang seharusnya Ezra hadiri. Semua tugas itu dilemparkan begitu saja ke Nael, karena ada sesuatu yang jauh lebih penting dan lebih mengusik pikiran Ezra. Seira.
Begitu menjejak aspal bandara, Ezra tidak membuang waktu. “Bawa aku ke penthouse. Sekarang,” perintahnya dingin pada sopir. “Baik, Tuan.”