Malam semakin larut ketika Arema mendorong gerobak martabaknya keluar dari area terminal. Lampu-lampu jalan menyala redup, memantulkan bayangan panjang di aspal yang mulai lengang.
Tubuhnya terasa lelah luar biasa, bahunya pegal, telapak tangannya perih karena seharian bekerja tanpa henti. Namun, langkahnya tetap ringan—hari ini dagangannya habis, dan hatinya terasa sedikit lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
"Capek, tapi lumayan," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis.
Gerobak itu berdecit pelan setiap kali roda melintasi jalan yang tidak rata.
Arema menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa penat. Pikirannya melayang, tentang rencananya ke depan, tentang uang yang perlahan terkumpul, tentang hidup mandiri yang sedang ia bangun dengan susah payah.
Ia sudah hampir sampai di persimpangan kecil menuju gang kosnya. Malam itu sunyi. Terlalu sunyi.
Lampu lalu lintas di kejauhan menyala hijau. Arema melangkah sedikit ke tengah jalan, menarik gerobak agar menyeberang lebih cepat. Pandangannya sempat melirik kanan dan kiri. Setelah dirasa sepi, ia melangkah lagi.
Dan ....
BRUK!
Suara benturan keras memecah keheningan. Arema hanya sempat merasa tubuhnya terdorong ke belakang.
Pegangan gerobak terlepas dari tangannya. Roda besi berdecit nyaring, diikuti suara kaca bergetar dan logam menghantam aspal. Gerobaknya terpental.
Arema terjatuh ke samping, lututnya menghantam jalan. Nafasnya tercekat, dadanya sesak. Dunia seakan berputar beberapa detik.
"Aduh," desisnya lirih.
Lampu mobil menyinari tubuhnya yang terduduk lemas di pinggir jalan. Mesin mobil berhenti mendadak. Pintu terbuka dengan kasar.
"Ya Tuhan!"
Seorang pria keluar tergesa-gesa dari mobil hitam mewah itu.
Langkahnya cepat, wajahnya pucat. Jas rapi yang dikenakannya tampak kontras dengan kepanikan di matanya.
"Mbak! Mbak nggak apa-apa?" Suaranya tegang.
Arema masih terduduk, tangannya gemetar menopang tubuh. Kepalanya sedikit pening, tapi ia sadar. Ia mengusap lututnya—perih, tapi tidak berdarah parah.
"A-aku … aku nggak apa-apa," jawabnya pelan.
Namun, ketika pandangannya beralih ke arah gerobak, dadanya langsung terasa seperti diremas. Gerobak martabak itu remuk.
Bagian samping penyok, roda depan bengkok tak berbentuk, kaca etalase pecah berserakan di aspal. Wajan terbalik, bahan-bahan tumpah, adonan berserakan seperti sisa mimpi yang hancur berantakan.
Arema terdiam. Lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat.
"Itu ...." Suaranya nyaris tak terdengar, "gerobakku."
Pria itu mengikuti arah pandangnya. Wajahnya makin pucat.
"Sa-saya minta maaf," ucapnya cepat. "Saya yang salah, karna saya melamun. Saya benar-benar tidak lihat mbak menyeberang."
Ia berjongkok di depan Arema. "Tolong bilang, mbak sakit di mana? Kita ke rumah sakit sekarang."
Arema menggeleng pelan. "Aku nggak apa-apa, kok. Cuma … gerobakku." Nada suaranya pecah.
Pria itu berdiri, menghela napas berat. "Tenang saja, Mbak. Saya akan bertanggung jawab penuh."
Pria itu menoleh ke mobilnya, lalu kembali menatap Arema dengan tatapan serius. "Semua kerugian akan saya ganti. Apa pun."
Arema menatap pria itu. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan wajahnya.
Usianya sekitar awal tiga puluhan. Wajah tegas, rahang kokoh, sorot mata tajam. Namun, sekarang dipenuhi rasa bersalah.
"Ini satu-satunya alat aku cari makan," ucap Arema lirih. Dadanya naik turun. Air mata menggenang tanpa ia sadari.
Pria itu mengangguk pelan. "Saya mengerti. Dan justru itu sebabnya saya tidak akan lari dari tanggung jawab."
Ia mengeluarkan ponsel. "Saya bisa ganti sekarang juga. Atau besok pagi, kita beli gerobak baru. Lebih bagus dari yang ini."
Arema tertegun. "Bapak siapa?"
Pria itu terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangan.
"Kenalin, saya Jordi Wijaya."
Nama itu membuat Arema mengerutkan kening. "Wijaya?" ulangnya.
"Iya," jawab Jordi singkat. "CEO Grup Wijaya."
Arema terbelalak. Itu bukan nama asing. Bahkan sangat dikenal. Grup Wijaya adalah perusahaan terbesar di kota itu, properti, perhotelan, manufaktur.
Namanya sering muncul di berita. Arema menelan ludah.
"Saya nggak bohong," tambah Jordi, seolah membaca ekspresi Arema. "Dan saya tidak ingin masalah ini selesai hanya dengan permintaan maaf."
Arema terdiam. Kepalanya penuh. Malam yang tadinya biasa saja berubah menjadi kekacauan dalam hitungan detik.
"Aku cuma orang kecil, Pak," ucapnya akhirnya.
"Gerobak ini, warisan dari orang tuaku. Kalau rusak begini, aku nggak bisa jualan. Dan aku juga takut, orang tuaku akan kecewa."
Jordi menatap gerobak itu lagi. "Mbak jualan martabak?"
"Iya," angguk Arema lemah.
"Sendirian?" Jordi mengerutkan keningnya.
Arema mengangguk pelan.
Jordi menghela napas panjang. "Kalau begitu, izinkan saya bertanggung jawab lebih dari sekadar ganti rugi."
Arema mendongak. "Maksud Bapak, apa?"
"Besok saya akan belikan gerobak baru," ujar Jordi tegas. "Peralatan lengkap. Bahan-bahan. Bahkan kalau perlu, saya bisa bantu cari tempat jualan yang lebih aman."
Arema tercekat. "Tapi, Pak … itu terlalu ...."
"Enggak," potong Jordi lembut tapi tegas. "Ini kesalahan saya. Dan saya tidak bisa tidur nyenyak kalau tidak bisa menebus kesalahan saya."
Beberapa orang mulai melirik dari kejauhan, tapi Jordi memberi isyarat agar mereka tidak mendekat. Ia fokus pada Arema.
"Kamu tinggal di mana?" tanyanya.
"Di kos dekat sini," jawab Arema.
"Baik," jawab Jordi. "Saya antar kamu pulang."
Arema sempat ragu. "Tapi gerobakku ...."
"Besok pagi saya urus," ujar Jordi tanpa ragu.
"Sekarang kamu harus istirahat."
Arema memejamkan mata sejenak. Lututnya kembali terasa nyeri, rasa lelah menyerbu tiba-tiba. Ia mengangguk pelan.
Dalam perjalanan menuju kos, Arema duduk diam di kursi penumpang. Mobil melaju pelan. Hening menyelimuti mereka.
"Maaf," ucap Jordi pelan, memecah keheningan. "Saya sedang banyak pikiran."
Arema menatap keluar jendela. "Nggak apa-apa, aku maklum, kok."
Mobil berhenti di depan kos sederhana. "Besok pagi, saya jemput. Kita beli gerobak baru," kata Jordi.
Arema menatapnya, masih setengah tak percaya. "Terima kasih, Pak," ucapnya lirih.
Jordi mengangguk. "Istirahatlah. Dan, syukurlah kalau kamu nggak apa-apa."
Saat Arema melangkah masuk ke kos, jantungnya masih berdegup kencang.
**
Arema sudah membuka pintu mobil ketika suara Jordi menahannya.
"Oh ya," ujar pria itu, nadanya lebih lembut dibanding sebelumnya. "Nama kamu siapa? Dari tadi kita ngobrol, tapi saya belum sempat tahu nama kamu."
Arema berhenti, lalu menoleh. Lampu dashboard menerangi wajahnya yang tampak lelah namun tetap tenang.
"Rema," jawab Arema singkat.
Jordi mengangguk kecil, seolah menyimpan nama itu di ingatannya. "Oke, Rema. Besok saya jemput kamu di sini, ya. Kita urus soal gerobak."
Arema ragu sejenak. Ia menutup pintu mobil setengah terbuka. "Kalau sore saja gimana, Pak? Soalnya pagi aku kerja."
"Kerja?" Jordi spontan menoleh, alisnya terangkat. "Bukannya kamu jualan martabak? Dan gerobak kamu juga rusak."
"Iya." Arema tersenyum tipis. "Aku pagi kerja di toko baju. Dari jam delapan sampai sore. Malamnya baru jualan martabak buat tambahan penghasilan."
Ucapan itu membuat Jordi terdiam beberapa detik. Tangannya yang semula memegang setir mengendur.
Ia menatap Arema lebih lama, bukan dengan tatapan seorang CEO pada umumnya, melainkan tatapan seseorang yang benar-benar tersentuh.
Dalam benaknya terlintas satu kalimat, perempuan ini bekerja dua kali lipat, hanya untuk bertahan hidup.
"Berarti kamu hampir nggak punya waktu istirahat," ucap Jordi pelan.
Arema mengangkat bahu. "Udah biasa, Pak. Capek sih, tapi mau gimana lagi."
Jordi menarik napas dalam. Ada rasa iba yang menekan dadanya, bercampur kagum yang sulit ia jelaskan.
Tidak banyak orang seusia Arema yang sanggup menjalani hidup sekeras itu tanpa mengeluh.
"Kalau begitu sore," kata Jordi akhirnya. "Saya nggak mau ganggu pekerjaan kamu."
Arema tersenyum kecil. "Makasih, Pak."
Saat Arema turun dan melangkah menuju kosnya, Jordi masih duduk di balik kemudi, menatap punggungnya sampai menghilang di balik pagar besi.
Entah kenapa, kisah Arema terasa jauh lebih berarti daripada semua angka dan proyek besar yang biasa ia tangani.Malam semakin larut ketika Arema mendorong gerobak martabaknya keluar dari area terminal. Lampu-lampu jalan menyala redup, memantulkan bayangan panjang di aspal yang mulai lengang.
Tubuhnya terasa lelah luar biasa, bahunya pegal, telapak tangannya perih karena seharian bekerja tanpa henti. Namun, langkahnya tetap ringan—hari ini dagangannya habis, dan hatinya terasa sedikit lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
"Capek, tapi lumayan," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis.
Gerobak itu berdecit pelan setiap kali roda melintasi jalan yang tidak rata.
Arema menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa penat. Pikirannya melayang, tentang rencananya ke depan, tentang uang yang perlahan terkumpul, tentang hidup mandiri yang sedang ia bangun dengan susah payah.
Ia sudah hampir sampai di persimpangan kecil menuju gang kosnya. Malam itu sunyi. Terlalu sunyi.
Lampu lalu lintas di kejauhan menyala hijau. Arema melangkah sedikit ke tengah jalan, menarik gerobak agar menyeberang lebih cepat. Pandangannya sempat melirik kanan dan kiri. Setelah dirasa sepi, ia melangkah lagi.
Dan ....
BRUK!
Suara benturan keras memecah keheningan. Arema hanya sempat merasa tubuhnya terdorong ke belakang.
Pegangan gerobak terlepas dari tangannya. Roda besi berdecit nyaring, diikuti suara kaca bergetar dan logam menghantam aspal. Gerobaknya terpental.
Arema terjatuh ke samping, lututnya menghantam jalan. Nafasnya tercekat, dadanya sesak. Dunia seakan berputar beberapa detik.
"Aduh," desisnya lirih.
Lampu mobil menyinari tubuhnya yang terduduk lemas di pinggir jalan. Mesin mobil berhenti mendadak. Pintu terbuka dengan kasar.
"Ya Tuhan!"
Seorang pria keluar tergesa-gesa dari mobil hitam mewah itu.
Langkahnya cepat, wajahnya pucat. Jas rapi yang dikenakannya tampak kontras dengan kepanikan di matanya.
"Mbak! Mbak nggak apa-apa?" Suaranya tegang.
Arema masih terduduk, tangannya gemetar menopang tubuh. Kepalanya sedikit pening, tapi ia sadar. Ia mengusap lututnya—perih, tapi tidak berdarah parah.
"A-aku … aku nggak apa-apa," jawabnya pelan.
Namun, ketika pandangannya beralih ke arah gerobak, dadanya langsung terasa seperti diremas. Gerobak martabak itu remuk.
Bagian samping penyok, roda depan bengkok tak berbentuk, kaca etalase pecah berserakan di aspal. Wajan terbalik, bahan-bahan tumpah, adonan berserakan seperti sisa mimpi yang hancur berantakan.
Arema terdiam. Lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat.
"Itu ...." Suaranya nyaris tak terdengar, "gerobakku."
Pria itu mengikuti arah pandangnya. Wajahnya makin pucat.
"Sa-saya minta maaf," ucapnya cepat. "Saya yang salah, karna saya melamun. Saya benar-benar tidak lihat mbak menyeberang."
Ia berjongkok di depan Arema. "Tolong bilang, mbak sakit di mana? Kita ke rumah sakit sekarang."
Arema menggeleng pelan. "Aku nggak apa-apa, kok. Cuma … gerobakku." Nada suaranya pecah.
Pria itu berdiri, menghela napas berat. "Tenang saja, Mbak. Saya akan bertanggung jawab penuh."
Pria itu menoleh ke mobilnya, lalu kembali menatap Arema dengan tatapan serius. "Semua kerugian akan saya ganti. Apa pun."
Arema menatap pria itu. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan wajahnya.
Usianya sekitar awal tiga puluhan. Wajah tegas, rahang kokoh, sorot mata tajam. Namun, sekarang dipenuhi rasa bersalah.
"Ini satu-satunya alat aku cari makan," ucap Arema lirih. Dadanya naik turun. Air mata menggenang tanpa ia sadari.
Pria itu mengangguk pelan. "Saya mengerti. Dan justru itu sebabnya saya tidak akan lari dari tanggung jawab."
Ia mengeluarkan ponsel. "Saya bisa ganti sekarang juga. Atau besok pagi, kita beli gerobak baru. Lebih bagus dari yang ini."
Arema tertegun. "Bapak siapa?"
Pria itu terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangan.
"Kenalin, saya Jordi Wijaya."
Nama itu membuat Arema mengerutkan kening. "Wijaya?" ulangnya.
"Iya," jawab Jordi singkat. "CEO Grup Wijaya."
Arema terbelalak. Itu bukan nama asing. Bahkan sangat dikenal. Grup Wijaya adalah perusahaan terbesar di kota itu, properti, perhotelan, manufaktur.
Namanya sering muncul di berita. Arema menelan ludah.
"Saya nggak bohong," tambah Jordi, seolah membaca ekspresi Arema. "Dan saya tidak ingin masalah ini selesai hanya dengan permintaan maaf."
Arema terdiam. Kepalanya penuh. Malam yang tadinya biasa saja berubah menjadi kekacauan dalam hitungan detik.
"Aku cuma orang kecil, Pak," ucapnya akhirnya.
"Gerobak ini, warisan dari orang tuaku. Kalau rusak begini, aku nggak bisa jualan. Dan aku juga takut, orang tuaku akan kecewa."
Jordi menatap gerobak itu lagi. "Mbak jualan martabak?"
"Iya," angguk Arema lemah.
"Sendirian?" Jordi mengerutkan keningnya.
Arema mengangguk pelan.
Jordi menghela napas panjang. "Kalau begitu, izinkan saya bertanggung jawab lebih dari sekadar ganti rugi."
Arema mendongak. "Maksud Bapak, apa?"
"Besok saya akan belikan gerobak baru," ujar Jordi tegas. "Peralatan lengkap. Bahan-bahan. Bahkan kalau perlu, saya bisa bantu cari tempat jualan yang lebih aman."
Arema tercekat. "Tapi, Pak … itu terlalu ...."
"Enggak," potong Jordi lembut tapi tegas. "Ini kesalahan saya. Dan saya tidak bisa tidur nyenyak kalau tidak bisa menebus kesalahan saya."
Beberapa orang mulai melirik dari kejauhan, tapi Jordi memberi isyarat agar mereka tidak mendekat. Ia fokus pada Arema.
"Kamu tinggal di mana?" tanyanya.
"Di kos dekat sini," jawab Arema.
"Baik," jawab Jordi. "Saya antar kamu pulang."
Arema sempat ragu. "Tapi gerobakku ...."
"Besok pagi saya urus," ujar Jordi tanpa ragu.
"Sekarang kamu harus istirahat."
Arema memejamkan mata sejenak. Lututnya kembali terasa nyeri, rasa lelah menyerbu tiba-tiba. Ia mengangguk pelan.
Dalam perjalanan menuju kos, Arema duduk diam di kursi penumpang. Mobil melaju pelan. Hening menyelimuti mereka.
"Maaf," ucap Jordi pelan, memecah keheningan. "Saya sedang banyak pikiran."
Arema menatap keluar jendela. "Nggak apa-apa, aku maklum, kok."
Mobil berhenti di depan kos sederhana. "Besok pagi, saya jemput. Kita beli gerobak baru," kata Jordi.
Arema menatapnya, masih setengah tak percaya. "Terima kasih, Pak," ucapnya lirih.
Jordi mengangguk. "Istirahatlah. Dan, syukurlah kalau kamu nggak apa-apa."
Saat Arema melangkah masuk ke kos, jantungnya masih berdegup kencang.
**
Arema sudah membuka pintu mobil ketika suara Jordi menahannya.
"Oh ya," ujar pria itu, nadanya lebih lembut dibanding sebelumnya. "Nama kamu siapa? Dari tadi kita ngobrol, tapi saya belum sempat tahu nama kamu."
Arema berhenti, lalu menoleh. Lampu dashboard menerangi wajahnya yang tampak lelah namun tetap tenang.
"Rema," jawab Arema singkat.
Jordi mengangguk kecil, seolah menyimpan nama itu di ingatannya. "Oke, Rema. Besok saya jemput kamu di sini, ya. Kita urus soal gerobak."
Arema ragu sejenak. Ia menutup pintu mobil setengah terbuka. "Kalau sore saja gimana, Pak? Soalnya pagi aku kerja."
"Kerja?" Jordi spontan menoleh, alisnya terangkat. "Bukannya kamu jualan martabak? Dan gerobak kamu juga rusak."
"Iya." Arema tersenyum tipis. "Aku pagi kerja di toko baju. Dari jam delapan sampai sore. Malamnya baru jualan martabak buat tambahan penghasilan."
Ucapan itu membuat Jordi terdiam beberapa detik. Tangannya yang semula memegang setir mengendur.
Ia menatap Arema lebih lama, bukan dengan tatapan seorang CEO pada umumnya, melainkan tatapan seseorang yang benar-benar tersentuh.
Dalam benaknya terlintas satu kalimat, perempuan ini bekerja dua kali lipat, hanya untuk bertahan hidup.
"Berarti kamu hampir nggak punya waktu istirahat," ucap Jordi pelan.
Arema mengangkat bahu. "Udah biasa, Pak. Capek sih, tapi mau gimana lagi."
Jordi menarik napas dalam. Ada rasa iba yang menekan dadanya, bercampur kagum yang sulit ia jelaskan.
Tidak banyak orang seusia Arema yang sanggup menjalani hidup sekeras itu tanpa mengeluh.
"Kalau begitu sore," kata Jordi akhirnya. "Saya nggak mau ganggu pekerjaan kamu."
Arema tersenyum kecil. "Makasih, Pak."
Saat Arema turun dan melangkah menuju kosnya, Jordi masih duduk di balik kemudi, menatap punggungnya sampai menghilang di balik pagar besi.
Entah kenapa, kisah Arema terasa jauh lebih berarti daripada semua angka dan proyek besar yang biasa ia tangani.