Drama #Humor #Baper

JANJINYA MAHAL RESPONNYA MURAH

06 January 2026

Sejak angka tiga miliar itu diucapkan dengan wajah serius di ruang tamu, sesuatu berubah. Bukan dramatis. Bukan meledak. Tapi pelan-pelan menjauh. Harlia masih menerima pesan dari Topan. Masih ada “selamat pagi” dan “jangan lupa makan”. Tapi tidak lagi setiap jam, tidak lagi panjang, dan tidak lagi penuh stiker berlebihan. Dan yang paling terasa adalah Topan tidak lagi menelepon.

Harlia menatap ponselnya di kasur, jam menunjukkan pukul 23.48.

“Biasanya jam segini udah,” gumamnya.

Seperti dipanggil, layar ponselnya menyala.

Topan: Udah tidur, Dek?Harlia langsung duduk.

Harlia: Belum.

Titik tiga muncul lama. Sangat lama. Harlia memeluk bantal. Akhirnya pesan masuk.

Topan: Tunggu ya. Abang akan halalin adek.

Harlia senyum sendiri. Senyum lebay. Senyum orang yang lupa besok harus kerja. Ia mengetik cepat.

Harlia: Aku nunggu. Jangan lama-lama.

Topan membalas singkat.

Topan: Doain aja.

Hanya itu.

Tidak ada emot, tidak ada panggilan sayang lanjutan, dan tidak ada voice note. Harlia menatap layar ponsel seperti menunggu mie instan matang tanpa kompor. Diam. Terlalu diam. Kata Doain aja itu melayang-layang di kepalanya, kurus, dingin, dan tanpa pelukan. Ia menghela napas, menekan layar padahal tak ada yang bisa ditekan. Hatinya bimbang antara percaya penuh ala drama romantis atau curiga ringan ala cicilan tak dibayar. Ia tertawa kecil sendiri.

“Ini cinta apa paket data lemot, sih?” pikirnya, lalu memeluk ponsel, berharap sinyal kejujuran Topan lebih kuat dari segalanya.

“Tetep gombal,” gumamnya, “tapi kok kayak nahan napas.”

Besok paginya, Harlia bangun dengan perasaan campur aduk. Bahagia karena “akan dihalalkan”. Gelisah karena “tunggu”.

Ibunya melirik dari dapur.

“Kenapa senyum sendiri?”

Harlia kaget.

“Hah? Nggak.”

Ibunya menyipitkan mata.

“HP kamu di nyala terus, tuh.”

“Itu alarm,” kilah Harlia.

“Alarm kok dibalas?” sindir ibunya.

Ayahnya tertawa kecil dari meja makan.

Harlia duduk sambil memandangi ponsel. Tidak ada pesan baru.Di kantor. Harlia mencoba fokus bekerja. Mencoba, tapi pikirannya lompat-lompat.

“Tunggu abang.”

“Halalin.”

“Tiga miliar.”

Ia menghela napas.

“Kenapa nikah rasanya kayak cicilan rumah mewah,” gumamnya.

Tiba-tiba Rina datang dengan wajah penuh makna. Wajah yang biasanya berarti gosip segar.

“Har,” bisik Rina sambil duduk, “aku punya cerita.”

Harlia menoleh lesu.

“Aku lagi nggak siap drama.”

“Ini bukan drama,” jawab Rina. “Ini fakta lapangan.”

Harlia mengerutkan kening.

“Fakta apa?”

Rina mendekat.

“Tadi pagi ada staf baru.”

“Oh....“

Harlia mengangguk hambar.

“Terus?”

“Datangnya diantar,” lanjut Rina pelan.

Harlia masih datar.

“Biasa.”

“Diantar,” Rina menekankan, “sama Topan.”

Jantung Harlia berhenti sepersekian detik.

“Hah?” suaranya kecil.

Rina mengangguk.

“Mobil yang sama.”

Harlia tertawa kaku.

“Mungkin nebeng.”

Rina menggeleng.

“Turunnya depan lobby. Lama. Ngobrol.”

Harlia menelan ludah.

“Terus?”

“Ceweknya,” Rina berbisik, “langsing.”

Harlia memejamkan mata.

“Rapi,” lanjut Rina. “Cantik.”

Harlia membuka mata.

“Rin…”

“Dan....” Rina menambahkan pelan, “Topan bukain pintu.”

Sunyi.

Harlia tertawa kecil.

“Hahaha,” katanya. “Ya masa bukain pintu dibilang pacar.”

Rina menatapnya.

“Aku nggak bilang pacar.”

“Tapi nada kamu,” Harlia menunjuk, “udah kayak backsound sinetron.”

Rina menghela napas.

“Aku cuma bilang apa yang aku lihat.”

Harlia kembali ke layar komputernya.

“Tiga miliar,” gumamnya. “Mungkin sekretaris.”

Rina mendekat.

“Har, aku temen kamu.”

“Aku tau.”

“Aku juga tau kamu lagi sensitif.”

Harlia mengetik asal.

“Aku baik-baik aja.”

“Kalau baik-baik aja,” kata Rina, “kenapa tangan kamu gemeter?”

Harlia berhenti mengetik. Menarik napas panjang.Harlia menatap jemarinya yang berhenti di atas keyboard, seolah baru sadar tangannya bukan lagi milik dirinya. Jari-jari itu gemetar seperti habis minum kopi lima gelas, padahal sejak pagi ia cuma minum air galon kantor yang rasanya selalu setengah ikhlas. Ia tertawa kecil, tawa orang yang sadar sedang rapuh tapi tetap berusaha kelihatan profesional.

“Ini keyboardnya rusak,” katanya asal, menekan satu tombol. Huruf A muncul lima kali. AAAAA. Ia mendesah. Bahkan keyboard pun ikut panik.Rina tidak menimpali. Diamnya justru lebih berisik. Harlia benci itu, diam yang penuh makna, seperti status WhatsApp mantan.

Ia menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Dalam kepalanya, kalimat Topan semalam muter seperti lagu galau yang diputar ulang: Doain aja.

Pendek. Hemat kata. Irit perasaan. Sementara di dunia nyata, Topan rajin membukakan pintu untuk perempuan lain yang kata Rina langsing dan rapi.

“Hari ini lucu ya,” gumam Harlia, setengah ke dirinya sendiri. “Aku lagi mikir mahar tiga miliar, eh malah dikasih bonus sinetron episode pengkhianatan.”

Rina akhirnya bersuara pelan, “Har…”

Harlia mengangkat tangan.

“Bentar. Aku lagi nyusun logika.”

Ia tersenyum tipis.

“Kalau dia punya calon sekretaris cantik, ngapain susah-susah balikin aku ke rumah sakit, dimarahin calon mertua, dan janji halalin?”

Ia terdiam lagi. Logikanya berhenti di situ. Tidak ada jawaban yang ramah. Di dalam dada, ada sesuatu yang mengempis. Bukan patah. Lebih ke kempes seperti balon pesta yang semalamnya terlalu bahagia. Ia menatap layar monitor, tapi angka-angka di sana menari-nari seperti sengaja mengejek.Harlia menghela napas, lalu tersenyum lagi, senyum khasnya. Senyum cewek yang belum menyerah, tapi sudah capek.

“Rin,” katanya akhirnya, “kalau aku nangis sekarang, aku masih kelihatan kerja nggak?”

Rina tersenyum sedih.

“Kelihatan. Kamu nangisnya juga estetik.”

Harlia terkekeh kecil.

“Syukurlah. Setidaknya satu hal masih konsisten.”

Ia kembali meletakkan jari di keyboard. Kali ini lebih pelan. Lebih hati-hati. Seperti sedang belajar mengetik ulang hidupnya sendiri dengan harapan, huruf-huruf yang muncul nanti tidak sepenuhnya menyakitkan, dan kalaupun sakit, semoga masih ada unsur komedinya.

“Aku takut,” katanya pelan.

Rina mengangguk.

“Wajar.”

“Takut dia ninggalin,” lanjut Harlia. “Karena aku ribet.”

Rina terdiam.

“Atau karena dia nemu yang lebih gampang,” tambah Harlia.

Rina tidak menjawab. Itu yang paling menakutkan.

Siang itu, Harlia tidak bisa makan. Ia menatap nasi seperti musuh.Rina duduk di seberang.

“Kamu mau nanya langsung?”

Harlia menggeleng cepat.

“Nggak.”

“Kenapa?” tanya Rina.

“Takut sama jawabannya,” jawab Harlia jujur.

Rina menghela napas.

“Har, kamu nggak bisa nikah cuma sama harapan.”

Harlia tersenyum pahit.

“Aku tau.”

“Dan,” lanjut Rina, “cowok yang serius nggak bikin kamu nebak-nebak.”

Harlia menunduk.

“Tapi,” Rina menambahkan, “gosip juga belum tentu bener.”

Harlia menatapnya.

“Kamu tim siapa sih?”

Rina tersenyum kecil.

“Tim kamu waras.”

Malamnya, Harlia kembali menunggu. Jam menunjukkan 23.55. Ponselnya menyala.

Topan: Dek, jangan tidur dulu.Harlia langsung duduk.

Harlia: Kenapa?

Titik tiga muncul. Lebih lama dari biasanya.

Topan: Abang lagi banyak urusan. Tapi inget kamu.

Harlia mengetik pelan.

Harlia: Aku denger gosip hari ini.

Titik tiga berhenti. Lama. Sangat lama. Harlia menggigit bibir. Akhirnya pesan masuk.

Topan: Gosip apa?

Harlia menatap layar. Jarum jam berdetak keras. Ia menarik napas.

Harlia: Tentang cewek yang kamu antar ke kantor.

Tidak ada balasan. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Jantung Harlia berdegup kencang. Akhirnya layar menyala.

Topan: Kita ngobrol besok ya.

Harlia menatap pesan itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada bantahan. Tidak ada gombalan.Hanya satu kalimat. Ia membalas singkat.

Harlia: Oke.

Ia meletakkan ponsel di dada. Matanya menatap langit-langit kamar. Perasaannya campur aduk. Antara percaya, antara takut, antara menunggu dan ingin lari.

Di luar kamar, ibunya memanggil, “Har, udah tidur?”

“Belum,” jawab Harlia pelan.

Ibunya mendekat ke pintu.

“Kamu kenapa?”

Harlia terdiam.

“Takut,” jawabnya akhirnya.

Ibunya terdiam di balik pintu.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Harlia bertanya pada dirinya sendiri.

Apakah Topan benar-benar sedang berjuang, atau justru sudah membuka pintu untuk pilihan lain?

Pesan terakhir malam itu tidak datang. Dan pertanyaan itu menggantung, lebih berat dari angka tiga miliar.