Drama #Humor #Baper

SALAH PAHAM LEVEL DEWASA

06 January 2026

Harlia tidak tidur nyenyak semalaman. Bukan karena mimpi buruk. Bukan karena lapar. Tapi karena satu hal sederhana yang terlalu rumit dan membuat penasaran. Begitu ayam berkokok, atau lebih tepatnya, alarm dapur ibunya berbunyi, Harlia sudah duduk di meja makan dengan wajah seperti orang yang mau mengaku dosa.

Ibunya sedang menggoreng telur. Ayahnya membaca koran. Suasana damai. Terlalu damai.

“Bu,” kata Harlia pelan.

Ibunya tidak menoleh.

“Kalau mau nambah nasi, ambil sendiri.”

“Bukan itu.”

Ayahnya melirik dari balik koran.

“Kenapa suara kamu kayak mau sidang?”

Harlia menarik napas.

“Aku mau cerita.”

Ibunya langsung berhenti menggoreng.

“Tentang apa?”

“Topan.”

Wajan ditaruh. Api dimatikan.

“APA LAGI?” tanya ibunya cepat.

Ayah menurunkan koran.

“Duduk yang tenang.”

Harlia menggenggam sendok.

“Kemarin… di kantor… ada cewek baru.”

Ibunya menyipitkan mata.

“Terus?”

“Dia diantar Topan.”

Sunyi satu detik. Dua detik. Lalu....

“NAH KAN!” teriak ibunya. “IBU JUGA BILANG APA?!”

Ayah terbatuk.

“Ibuuu—”

“ITU PASTI PACARNYA!” lanjut ibunya tanpa rem. “UDAH JELAS GITU MAH CIRI-CIRI PLAYBOY MLM, MAKANYA PINTER NGOMONG!!!!”

Harlia meringis.

“Bu, belum tentu—”

“BELUM TENTU APA?!!!” Ibunya berkacak pinggang. “Cowok mana mau repot antar cewek cantik pagi-pagi kalau bukan spesial?!”

Ayah menghela napas.

“Belum tentu, Bu.”

Ibunya menoleh tajam.

“Ayah jangan naif.”

Ayah menyesap teh.

“Bisa jadi saudara.”

Ibunya mendengus.

“Saudara kok cantik, langsing, muda?”

Harlia nyengir kecil.

“Bu, jangan body shaming anak sendiri.”

Ibunya melotot.

“Ibu bukan bandingin sama anak ibu!”

Ayah menatap Harlia.

“Kamu udah tanya langsung?”

Harlia menggeleng.

“Belum.”

“Nah,” kata ayahnya, “jangan berasumsi.”

Ibunya menunjuk ayahnya.

“Itu kesalahan laki-laki. Kebanyakan mikir positif.”

Ayah tersenyum tipis.

“Itu namanya waras.”

Harlia berangkat kerja dengan perut penuh dan kepala penuh prasangka. Sepanjang jalan, pikirannya berisik.

Cantik.

Langsing.

Dianter Topan.

“Tenang,” katanya pada diri sendiri. “Belum tentu.”

Tapi begitu sampai kantor, “belum tentu” itu langsung runtuh.

Di depan meja resepsionis, berdiri seorang perempuan. Tinggi, rambut hitam panjang, jatuh rapi. Kemeja putih pas badan. Celana bahan yang entah kenapa terlihat mahal. Dia tersenyum. Dan senyum itu seperti iklan pasta gigi.

“Ya Allah,” gumam Harlia. “Ini pasti Arin.”

Seolah semesta ingin mengonfirmasi, HRD lewat sambil berkata,

“Arin, nanti jam sepuluh ikut meeting ya.”

Arin mengangguk sopan.

“Baik, Kak.”

Suaranya lembut. Lembut yang bikin Harlia ingin minum air.

Rina muncul di samping Harlia.

“Itu dia Arin.”

Harlia menelan ludah.

“Aku tau.”

Rina berbisik, “Cantik, ya?”

Harlia menjawab cepat, “Nggak usah diperjelas.”

Takdir atau komedi hidup memaksa mereka bertemu di pantry. Harlia sedang menuang kopi instan ketika Arin masuk.

“Permisi,” kata Arin ramah. “Kopi ini yang biasa?”

Harlia menoleh, dan dunia pantry mendadak seperti mode slow motion tanpa izin. Sendok di tangannya berhenti di udara, kopi instan menggumpal seperti ikut kaget. Dari dekat… ini bukan saingan biasa. Ini saingan yang bikin Harlia merasa kalah telak. Ia menelan ludah. Dalam hati, Harlia menghitung cepat: Satu—bulu mata lentik Dua—kulit mulus tanpa jerawat bekas stres hidup Tiga—wangi yang jelas bukan parfum diskonan akhir bulan. Lengkap. Paket hemat tapi menyakitkan.

“Oh,” jawab Harlia akhirnya, suaranya terdengar seperti modem lemot. “Iya. Yang itu.”

Arin tersenyum. Senyum ramah. Terlalu ramah. Senyum orang yang tidak tahu ia sedang berdiri di tengah konflik batin seseorang.

Harlia mengaduk kopi terlalu keras. Air nyaris tumpah, tapi ia pura-pura santai. Dalam kepalanya, alarm berbunyi, "Ini dia. Cewek yang diantar Topan. Cewek yang dibukain pintu. Cewek yang… langsing itu."

“Baru, ya?” tanya Harlia, sok basa-basi, sambil menatap gelasnya seolah ada jawaban hidup di dasar kopi.

“Iya,” jawab Arin. “Hari kedua.”

Harlia mengangguk.

“Oh. Semoga betah.”

Semoga cepat pindah, tambahnya dalam hati, langsung merasa berdosa tapi tetap berharap.

Arin menuang kopi dengan anggun. Harlia menuang kopi dengan trauma. Pantry sunyi, tapi isi kepala Harlia ribut antara cemburu, insecure, dan dorongan absurd untuk tiba-tiba cerita soal mahar tiga miliar pada orang asing.

Ia tersenyum tipis. Senyum orang dewasa yang berusaha waras, meski hatinya sedang jungkir balik seperti kopi sachet jatuh ke lantai. Lalu Arin mengulurkan tangan.

“Aku Arin.”

Harlia menjabat. Tangannya terasa… kecil.

“Harlia,” jawabnya. “Tim administrasi.”

“Senang kenal,” kata Arin tulus.

Harlia mengangguk.

“Sama.”

Dalam hati, Harlia menjerit. Dia ramah. Cantik. Sopan. Lengkap.

Arin tersenyum lagi.

“Kantor ini enak ya?”

“Iya,” jawab Harlia. “Lumayan.”

“Apalagi kalau dianter,” lanjut Arin ringan.

Jantung Harlia copot.

“Hah?” refleksnya.

Arin tertawa kecil.

“Eh, maksudnya… aku tadi dianter.”

“Oh,” kata Harlia cepat. “Iya.”

“Topan baik ya?” kata Arin polos.

Nah. Itu dia.

“Oh,” ulang Harlia. “Iya.”

Harlia diam. Diam yang ramai. Diam yang di dalam kepalanya sudah ada konferensi pers lengkap dengan notulen dan snack box.

Arin menyeruput kopi.

“Dia temennya kakakku.”

Jantung Harlia berhenti.

“Oh,” katanya lagi dalam hati.

Temennya kakak. Bukan pacar. Bukan calon. Bukan rahasia. Kata-kata itu berputar seperti kipas angin rusak, bunyinya kecil, tapi bikin pusing. Ia tersenyum tipis, senyum pegawai teladan yang barusan hampir runtuh secara emosional di depan kopi instan. Tangannya sibuk mengaduk, padahal gula sudah larut sejak hidupnya belum serumit ini. Dalam kepalanya, Harlia mulai menghitung peluang, kemungkinan, dan skenario terburuk. Kalau temannya kakak, kenapa dibukain pintu? Kenapa lama? Kenapa wangi parfumnya masih nempel di udara, bahkan mengalahkan aroma kopi sachet?

Arin menyesap kopinya dengan santai. Harlia menyesap udara, berusaha menelan perasaan yang ukurannya sudah seperti martabak spesial telur bebek yang penuh, panas, dan sulit disembunyikan.

“Hah?” katanya lagi. Kali ini lebih kecil.

“Iya,” lanjut Arin santai. “Kebetulan searah. Jadi dianter.”

“Oh,” kata Harlia untuk ketiga kalinya.

Temennya kakak.

Temennya kakak.

Temennya kakak.

Otak Harlia memutar ulang kalimat itu seperti lagu favorit.

“Temennya kakak,” gumam Harlia lagi dalam hati, seperti mantra penenang.

Tenang. Belum tentu apa-apa. Belum tentu segalanya runtuh hari ini. Ia mengangguk kecil, pura-pura mengerti, padahal hatinya sedang duduk di pojok pantry, ngambek sambil peluk lutut.

“Oh,” katanya lagi, sambil tersenyum lebih lebar. “Kirain…”

“Kirain apa?” tanya Arin penasaran.Harlia panik.

“Kirain… supir online.“

Arin tertawa.

“Mobilnya terlalu bagus buat ojol.”

Harlia tertawa juga.

“Iya.”

Rina masuk pantry tepat waktu.

“Eh, kalian kenalan?” tanya Rina.

Arin mengangguk.

“Iya.”

Rina menatap Harlia.

“Tuh kan.”

Harlia melirik Rina tajam. Saat Harlia kembali ke mejanya, dadanya terasa aneh. Lega? Iya. Tapi juga… minder. Sangat minder.

Ia menatap pantulan dirinya di layar monitor.

“Kenapa aku langsung minder?” gumamnya.

Arin berjalan melewati mejanya. Tersenyum padanya  dengan langkah yang ringan.

“Fokus,” kata Harlia pada diri sendiri. “Dia bukan ancaman.”

Tapi kalimat itu terasa seperti bohong kecil yang diulang-ulang.

Ponselnya bergetar. Nama Topan muncul dan Harlia menegang. Ia mengangkat telepon.

“Halo?”

“Dek,” suara Topan terdengar. “Kamu sibuk?”

“Enggak,” jawab Harlia cepat. Terlalu cepat.

“Kita ketemu sepulang kerja, ya!”

Harlia terdiam.

“Ketemu?”

“Iya,” jawab Topan. “Aku mau jelasin.”

Jantung Harlia berdetak cepat.

“Jelasin apa?” tanyanya.

“Semua,” kata Topan singkat.

Harlia menelan ludah.

“Oke.”

“Jam tujuh,” lanjut Topan. “Tempat biasa.”

Harlia mengangguk meski ia tau Topan tidak melihat.

“Oke.”

Telepon ditutup. Rina menatapnya penuh arti.

“Ketemu?”

Harlia mengangguk.

“Siap?” tanya Rina.

Harlia menarik napas panjang.

“Entah.”

Ia menatap ke arah Arin yang sedang tertawa bersama rekan kerja lain. Cantik. Percaya diri. Ringan. Harlia menatap dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya bukan pada orang lain, tapi pada dirinya sendiri.

“Kalau nanti Topan harus memilih, apakah aku cukup atau aku hanya persinggahan sebelum yang ‘sempurna’ itu datang?“

Hari itu berjalan lambat. Terlalu lambat. Menuju jam tujuh.