Drama #Humor #Baper

CANTIK MEMANG?!

06 January 2026

Jam menunjukkan pukul 19.05 ketika Harlia tiba di kafe yang sudah terlalu sering jadi saksi harapan dan kecemasan. Tempat biasa. Tempat yang sekarang terasa tidak biasa.

Topan sudah duduk di pojok, masih dengan gaya rapi yang terlalu percaya diri untuk ukuran orang yang sedang diuji tiga miliar rupiah.

“Hai,” kata Topan sambil berdiri.

“Hai,” jawab Harlia, duduk perlahan.

Topan memperhatikan wajahnya.

“Kamu capek?”

“Biasa,” jawab Harlia singkat.

Topan mengangguk, lalu langsung ke inti.

“Soal Arin,” katanya.

Harlia menegang.

“Iya.”

“Dia adiknya Arman,” lanjut Topan. “Temen lama aku.”

“Oh,” jawab Harlia datar.

“Dia baru pindah,” kata Topan lagi. “Masih adaptasi.”

“Oh,” ulang Harlia.

Topan tersenyum kecil.

“Kok jawabannya pendek semua?”

Harlia tersenyum tipis.

“Hemat kata.”

Topan tertawa.

“Oke. Jadi gini—”

“Iya,” potong Harlia. “Aku tau. Dia bukan siapa-siapa.”

Topan mengangguk.

“Bukan.”

“Cuma adik temen,” lanjut Harlia.

“Iya.”

Harlia menatap meja.

“Cantik, ya?”

Topan refleks menjawab, “Arin? Ya, dan cantik memang.”

Boom!!!

Harlia mengangkat kepala perlahan, seperti tokoh utama sinetron yang baru sadar kamera sedang zoom in ke wajahnya. Senyumnya masih ada, tapi sudah berubah fungsi bukan senyum bahagia, melainkan senyum penahan gempa batin.

“Oh,” katanya lagi.

Kata favorit hari ini. Serbaguna. Bisa berarti iya, bisa berarti tidak apa-apa, bisa juga berarti aku mau lempar sendal tapi sopan. Dalam kepalanya, alarm berbunyi.

Cantik memang.

Dua kata itu berputar-putar seperti backsound komedi yang salah tempat. Harlia menatap Topan, mencoba mencari tombol undo di wajah cowok itu. Tidak ketemu.

“Tenang,” lanjut Harlia ringan, terlalu ringan untuk orang yang hatinya baru kepentok lemari. “Aku nggak nanya kok. Aku cuma konfirmasi… ke semesta.”

Topan tertawa gugup. Harlia ikut tertawa. Dua tawa yang sama-sama palsu, saling adu siapa paling terdengar normal. Di dalam hati, Harlia mencatat:

Satu—dia cantik. Dua—Topan jujur. Tiga—jujur itu menyakitkan. Empat—komedi hidup memang kejam tapi konsisten.

“Apa tadi?” tanya Harlia.

Topan kaget.

“Eh, maksudku—”

“Cantik memang,” ulang Harlia pelan.

Topan tertawa kaku.

“Secara objektif.”

Harlia menyilangkan tangan.

“Objektif apanya?”

Topan menggaruk tengkuk.

“Ya… cantik umum.”

“Cantik umum itu kayak apa?” tanya Harlia.

“Ya… rapi, pintar,” jawab Topan. “Potensial.”

Setiap kata terasa seperti tusukan kecil.

“Oh,” kata Harlia, senyumnya tipis tapi matanya redup.

Topan akhirnya sadar.

“Eh… kamu kenapa?”

“Kenapa apa?” balas Harlia cepat.

“Aku fine.”

Topan menyipitkan mata.

“Ekspresi kamu bilang sebaliknya.”

Harlia mengangkat bahu.

“Aku cuma denger.”

Topan terdiam sebentar, seperti laptop tua yang sedang memproses file terlalu besar. Matanya bergerak ke kanan, ke kiri, lalu ke meja, seolah jawaban pintar bisa muncul dari serat kayu. Ia menarik napas panjang. Napas orang yang sadar satu kata bisa berujung perang dunia kecil. Di kepalanya, kalimat berlarian: jujur tapi jangan salah, manis tapi jangan lebay, jelas tapi jangan defensif. Paket kombo sulit.

Harlia menunggu dengan wajah datar, jenis datar yang berisik di batin.Topan akhirnya menghela napas lagi, lebih pendek.

“Aku tuh,” katanya pelan, “capek jelasin hal yang sebenarnya sederhana.”

Harlia mengangkat alis.

“Sederhana versi kamu biasanya ribet.”

Topan nyengir kecut.

“Nah, itu dia. Aku cuma mau kamu tau, kalau aku mikir orang cantik itu wajar. Tapi milih kamu, itu keputusan.”

Sunyi sepersekian detik. Harlia mendengus kecil.

“Promosi diri banget.”

Topan tersenyum lega. Setidaknya, ia belum diusir.

“Oke,” katanya. “Ganti topik.”

Harlia menatapnya.

“Kenapa?”

Topan mencondongkan badan.

“Karena aku nggak mau kamu salah paham.”

“Terus?” tanya Harlia.

“Maharnya,” kata Topan pelan.

Jantung Harlia berdetak lebih cepat.

“Aku lagi ngusahain,” lanjut Topan. “Serius.”

Harlia terdiam bukan karena kehabisan kata, tapi karena kepalanya kebanjiran suara. Ada suara harapan yang tepuk tangan terlalu cepat, ada suara takut yang sudah siap lari pakai sandal jepit. Diamnya seperti lampu merah berhenti total, tapi mesin hatinya masih hidup.

Ia menatap meja, menghitung serat kayu yang tiba-tiba terasa penting. Lucu, pikirnya, tiga miliar bisa membuat seseorang mendadak ahli tekstur furnitur. Dadanya hangat, lalu nyeri tipis. Topan serius. Itu menyenangkan sekaligus menakutkan seperti naik wahana tanpa sabuk pengaman, tapi orang yang duduk di sampingmu bilang, “Tenang, aku pegang.”

Harlia menarik napas pelan, berusaha tersenyum tanpa terlihat berharap terlalu tinggi.

“Bukan janji kosong,” tambah Topan. “Aku nggak akan ngomong sejauh ini kalau nggak niat.”

Harlia menatapnya ragu.

“Topan…”

“Aku cuma minta satu,” kata Topan. “Percaya.”

Harlia menggenggam tasnya.

“Aku lagi di posisi sulit,” lanjut Topan. “Tapi aku nggak pergi.”

Harlia mengangguk pelan.

“Aku tau.”

Topan menatapnya.

“Kamu yakin?”

Harlia tersenyum kecil.

“Aku pengen yakin.”

Topan tersenyum lega.

“Itu cukup.”

Mereka berpisah dengan suasana setengah ringan, setengah menggantung.Di jalan pulang, Harlia menatap jendela. Kata-kata Topan berputar-putar di kepala.

Cantik memang.

Potensial.

Objektif.

Dadanya terasa panas.

“Kenapa aku kepikiran?” gumamnya.

Sesampainya di rumah, Harlia masuk kamar dan menjatuhkan tas. Ia duduk di tepi kasur.

“Dia cuma jujur,” katanya pada diri sendiri. Tapi hatinya tidak sepakat.

“Kenapa jujurnya ke arah situ?” lanjutnya.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir.

“Objektif dari mana?” gumamnya.

Ia menatap cermin.

“Kalau objektif…” katanya lirih, “aku apa?”

Dadanya semakin sesak. Ia menjatuhkan diri ke kasur.

“Kenapa aku cemburu?” katanya keras.

Ia menutup wajah dengan bantal.

“Padahal bukan pacar.”

Ia memukul bantal.

“PADAHAL BELUM HALAL.”

Ia bangkit duduk.

“Aku lebay,” katanya. “Aku tau.”

Tapi air mata tetap keluar. Tantrum kecil dimulai. Ia berdiri lagi, mengibaskan tangan.

“Kenapa sih aku selalu ngerasa kalah sebelum lomba?” teriaknya pelan. Pintu kamar diketuk.

“Har?” suara ibunya.

Harlia terdiam.

“Kenapa kamu ngomel-ngomel sendiri?” tanya ibunya sambil membuka pintu.

Harlia panik.

“Nggak apa-apa!”

Ibunya masuk.

“Kamu lagi tantrum?”

“Enggak!”

Ibunya melipat tangan.

“Kamu lagi cemburu.”

Harlia membeku.Ibunya menghela napas.

“Ib tau?”

Harlia duduk di kasur, kalah.

“Dia bilang cewek itu cantik.”

Ibunya mendengus.

“Terus?”

“Dan potensial,” lanjut Harlia lirih.

Ibunya mengangkat alis.

“Lah, kamu pikir kamu nggak?”

Harlia menatap ibunya.

“Buuu…”

Ibunya duduk di sampingnya.

“Har, dengar. Cowok bisa ngaku orang lain cantik,” lanjut ibunya, “Bukan berarti dia suka sama cewek itu.”

Harlia menggigit bibir. “Tapi rasanya…”

“Cemburu itu wajar,” kata ibunya. “Yang nggak wajar itu kamu nyiksa diri.”

Harlia menghela napas.

“Aku capek ngerasa kalah.”

Ibunya mengelus punggungnya.

“Makanya jangan ukur diri dari mata orang lain.”

Harlia menunduk.

“Tapi,” lanjut ibunya, “kalau kamu nggak siap bersaing…”

Ibunya berhenti.

“Jangan nikah dulu,” lanjutnya.

Harlia mendongak.

“Ibu!”

Ibunya tersenyum kecil.

“Bercanda.”

Harlia menghela napas.

“Aku hampir pingsan.”

Ibunya berdiri.

“Tidur. Jangan mikir macem-macem.”

Harlia merebahkan diri. Lampu dimatikan. Di gelap kamar, kalimat Topan kembali terngiang:

Cantik memang.

Harlia menatap langit-langit. Dadanya terasa terbakar. Dan ia bertanya dalam hati, “Kalau nanti Topan berhasil memenuhi tiga miliar. Apakah kekagumannya pada yang cantik dan potensial itu akan berhenti, atau justru menjadi alasan baru untuk aku kembali merasa insecure?”

Malam itu, Harlia tertidur dengan dada sesak, dan cemburu yang belum menemukan jawabannya.