Pagi itu, Harlia berangkat kerja dengan niat yang sangat sederhana, tidak overthinking. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri semalam. Tidak akan memperbesar hal kecil. Tidak akan mengulang adegan kafe. Tidak akan mengingat kata “cantik memang”.
“Fokus kerja,” gumamnya sambil melangkah masuk area parkiran kantor.
Dan seperti biasa, hidup tidak pernah mendukung rencana sederhana. Dari kejauhan, Harlia melihat mobil yang sudah terlalu ia kenal. Mobil Topan. Mengkilap, mencolok, dan… berhenti.
Jantung Harlia langsung naik ke tenggorokan.
“Jangan,” gumamnya. “Jangan pagi-pagi gini.”
Pintu mobil terbuka. Dan turunlah…
Arin.
Rapi.
Segar.
Cantik dari lahir tanpa usaha.
Harlia berhenti melangkah. Dadanya mendesak.
Topan berdiri sebentar, lalu berjalan mengantar Arin sampai pintu gedung. Bukan sekadar berhenti. Bukan sekadar melambai. Tapi mengantar. Lagi.
“LAGI?” bisik Harlia dengan mata membesar.
Tangan Harlia mengepal bukan karena siap meninju, tapi karena menahan diri agar tidak meninju udara. Kuku-kukunya menekan telapak, rasanya seperti rem darurat emosi yang ditarik mendadak. Di kepalanya, alarm overthinking berbunyi serempak, lengkap dengan backsound sinetron jam tayang utama.
“Tenang,” bisiknya lagi, lebih tegas. “Ini pagi. Kopi belum masuk. Jangan lebay.”
Tapi tubuhnya tidak sepakat. Dadanya panas. Perutnya mual ringan jenis mual yang muncul bukan karena masuk angin, tapi karena harga diri merasa diusik. Ia berdiri kaku, seperti patung peringatan bertuliskan Perempuan Dewasa yang Katanya Kuat Tapi Nyatanya Rapuh Jam 8 Pagi. Harlia menarik napas panjang, lalu satu lagi, lalu berhenti di napas ketiga karena malah terasa mau nangis. Ia melirik sekeliling, memastikan tidak ada satpam yang menangkap ekspresinya yang setengah ingin kerja, setengah ingin pulang rebahan.
“Ini bukan cemburu,” katanya dalam hati. “Ini… evaluasi situasi.”
Evaluasi itu berlangsung cepat dan tidak adil.
Topan tertawa. Arin tersenyum. Jarak mereka aman, tapi cukup dekat untuk membuat Harlia merasa dirinya seperti catatan kaki dalam hidup orang lain. Kepln tangannya akhirnya mengendur. Bukan karena lega, tapi karena capek.
“Baik,” gumamnya pasrah. “Kalau hidup mau lucu, sekalian aja.”
Ia melangkah lagi, membawa tas, membawa senyum tipis, dan membawa hati yang pura-pura kuat padahal di dalamnya sedang duduk bersila, memeluk lutut, sambil berkata, tolong jangan hari ini.
“Oke,” katanya pada diri sendiri. “Tenang. Mungkin kebetulan.”
Tapi langkah Topan terlalu dekat. Tawa Arin terlalu ringan. Gerak tubuh mereka terlalu… nyaman.
Sesuatu di dada Harlia retak kecil.
“Enggak,” gumamnya. “Aku harus tanya.”
Tanpa pikir panjang, Harlia berlari kecil.
“TOPAN!!!!”
Terlambat.
Mobil sudah bergerak.
“TOPAN!” teriaknya lagi sambil melambaikan tangan.
Topan tidak melihat. Mobil melaju keluar area parkir. Arin sudah masuk gedung.
“Ya Allah…” Harlia terengah.
Ia mempercepat langkah. Tumitnya tersangkut ujung trotoar.
“EH—”
GEDEBUKKK!!!
Tubuh Harlia kehilangan keseimbangan. Bukan jatuh biasa. Tapi menggelinding.
Satu putaran.
Dua putaran.
Tas terlempar.
Sepatu hampir copot.
Dan Harlia berhenti dalam posisi yang sangat tidak heroik.
Sunyi sesaat.
Lalu....
“Hahaha!”
“Eh jatuh!”
“Aduh…”
Beberapa orang menoleh. Beberapa menahan tawa. Beberapa tidak. Wajah Harlia panas. Ia mencoba bangun. Tangannya menekan lantai. Namun tidak bisa.
“Kok berat, sih?” gumamnya panik.
Ia mencoba lagi. Tapi tetap tidak berhasil.
“Ya Allah…” lirihnya. “Bangun dong.”
Tawa kecil terdengar lagi. Seseorang berbisik, “Kayak bola jatuh.”
Harlia memejamkan mata. Malu, sakit, dan harga dirinya remuk. Ia mencoba menggeser tubuhnya. Tapi sia-sia.
“Kenapa sekarang?” bisiknya. “Kenapa selalu aku?”
“Tangannya, Mbak.”
Suara itu muncul dari samping. Dalam. Tenang. Harlia membuka mata. Seorang pria berdiri di sampingnya. Kaos oblong sederhana. Celana panjang gelap. Wajah sedikit berkeringat. Di belakangnya, sebuah truk box terparkir.
“Tangannya,” ulang pria itu sambil mengulurkan tangannya.
Harlia ragu.
“Pegang aja,” katanya lagi. “Saya bantu.”
Harlia menelan ludah. Ia menggenggam tangan itu. Pria itu menarik pelan, menyesuaikan tenaga.
“Pelan-pelan,” katanya. “Santai.”
Dengan usaha yang tidak sedikit dan harga diri yang sudah tidak tersisa Harlia akhirnya berdiri. Ia terengah. Mukanya merah. Tasnya diambilkan pria itu.
“Ini,” katanya sambil menyerahkan.
“Terima kasih,” kata Harlia cepat.
Pria itu tersenyum kecil.
“Sama-sama.”
Harlia menunduk.
“Maaf bikin tontonan.”
Pria itu melirik sekitar.
“Ah, orang bentar lagi lupa.”
Harlia tersenyum pahit.
“Aku nggak.”
Pria itu tertawa kecil.
“Nama saya Jordi,” katanya sambil mengulurkan tangan lagi.
“Harlia,” jawabnya.
“Kerja di sini?” tanya Jordi.
“Iya,” jawab Harlia. “Kamu?”
“Nganter barang,” jawab Jordi sambil menunjuk truk. “Supir box.”
“Oh,” kata Harlia. “Pantes.”
“Pantes apa?” tanya Jordi heran.
“Angkatannya kuat,” jawab Harlia refleks.
Jordi tertawa.
“Latihan dari hidup.”
Harlia ikut tertawa kecil. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia bernapas normal.
“Bisa-bisanya jatuh emang dikejar siapa?” tanya Jordi santai.
Harlia tersedak.
“Hah?”
“Kayak buru-buru banget,” lanjut Jordi.
Harlia terdiam sebentar.
“Kejar… kejar kenyataan.”
Jordi mengangguk seolah paham.
“Berat, ya?”
“Iya,” jawab Harlia. “Berat banget.”
Jordi tersenyum tipis.
“Kalau berat itu jangan lari.”
Harlia mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Nanti jatuh,” jawab Jordi ringan.
Harlia tertawa.
“Aku baru buktiin tadi.”
Jordi mengangguk puas. Kemudian Rina muncul dari kejauhan, wajah panik.
“HAR!” teriaknya. “KAMU NGGAK APA-APA?!”
Harlia mengangkat tangan.
“Masih utuh!”
Rina mendekat, menatap Jordi.
“Ini siapa?”
“Jordi,” jawab Harlia. “Penolong hidup gue pagi ini.”
Jordi mengangguk sopan.
“Supir box, mbak.”Rina menatap truk.
“Wah… makasih ya, Mas.”
“Sama-sama,” jawab Jordi.
Rina melirik Harlia.
“Kamu kenapa sih lari-lari?”
Harlia menoleh ke arah pintu gedung. Tapi Arin sudah tidak terlihat.
“Nanti aja deh critanya,” jawab Harlia pendek.
Jordi melirik jam.
“Saya harus bongkar barang.”
“Iya,” kata Harlia. “Sekali lagi makasih.”
Jordi tersenyum.
“Hati-hati jalannya.”
Harlia mengangguk.Saat Jordi melangkah pergi, Harlia memperhatikan punggungnya sebentar. Bukan karena tertarik. Tapi karena satu hal sederhana, pria itu membantunya tanpa bertanya apa-apa.
Di dalam gedung, Harlia duduk di mejanya dengan lutut sedikit nyeri. Rina menatapnya serius.
“Kamu jatuh gara-gara Topan lagi?”
Harlia terdiam. Bukan diam yang dramatis sampai hujan turun dari langit-langit kantor, tapi diam jenis berbahaya. Dam yang di dalamnya pikiran lari maraton tanpa pemanasan. Matanya menatap layar komputer, tapi yang terlihat justru ulang tayang pagi tadi: Topan, Arin, tawa ringan, dan lututnya yang mencium aspal dengan penuh penghayatan.
“Diam kamu lama banget,” ujar Rina pelan.
Harlia berkedip.
“Aku lagi loading.”
“Loading apa?”
“Keputusan hidup.”
Rina mendengus.
“Jangan lama-lama, nanti hang.“
Harlia hampir tertawa, tapi yang keluar cuma senyum miring. Ia menyandarkan punggung ke kursi. Lututnya masih nyeri, tapi dadanya lebih ribut. Rasanya seperti habis jatuh bukan cuma secara fisik, tapi juga emosional dan keduanya sama-sama bikin malu.Dalam diamnya, Harlia menyadari sesuatu yang mengganggu sekaligus jujur. Ia tidak sedang marah pada Topan. Ia juga tidak sepenuhnya cemburu pada Arin. Ia marah pada dirinya sendiri karena masih berharap pada seseorang yang selalu membuatnya merasa harus mengecil agar muat di hidupnya.
“Kenapa ya,” gumamnya pelan, “orang yang nggak janji apa-apa malah pegang tanganku paling yakin?”
Rina pura-pura tidak dengar, tapi alisnya naik.
Harlia menatap jari-jarinya sendiri. Tadi pagi, tangan ini gemetar karena cemburu. Beberapa menit kemudian, tangan yang sama ditarik seseorang yang bahkan tidak tahu namanya, tanpa penilaian, tanpa banding-bandingkan.
Lucu. Romantisnya hidup memang sering nyeleneh. Yang datang membawa janji malah bikin sesak. Yang datang cuma bawa niat baik, malah bikin napas lega. Harlia menghela napas panjang.
“Rin,” katanya akhirnya.
“Hm?”
“Kalau aku capek jatuh terus, itu berarti aku lemah… atau cuma salah tempat berdiri?”
Rina tersenyum kecil.
“Kamu cuma berdiri di lantai licin terlalu lama.”
Harlia mengangguk pelan. Diam lagi. Tapi kali ini berbeda.Diam yang pelan-pelan menguat. Diam yang tidak lagi ingin berlari. Diam yang mulai bertanya mungkin bukan soal siapa yang menghalalkan, tapi siapa yang tidak membiarkan aku jatuh sendirian.
Rina menghela napas.
“Har…”
“Aku lihat sendiri,” kata Harlia pelan. “Bukan gosip.”
Rina duduk.
“Dan?”
“Dan aku kalah,” jawab Harlia. “Bahkan sebelum bertanding.”
Rina menatapnya lama.
“Kamu nggak kalah.”
“Aku jatuh dan diketawain,” balas Harlia.
“Itu fisik,” kata Rina. “Bukan nilai kamu.”
Harlia tersenyum pahit.
“Tetep sakit.”
Siang itu, Harlia melihat ke luar jendela. Truk box Jordi sudah tidak ada. Topan juga tidak muncul. Yang tersisa hanya rasa cemburu yang belum selesai dan lutut yang sedikit bengkak. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Topan, Harlia berpikir, “Kenapa orang yang baru aku temui lima menit bisa membuatku merasa lebih aman daripada orang yang katanya mau menghalalkan aku?“
Pertanyaan itu menggantung. Bersama rasa nyeri di lutut. Dan dada yang belum sembuh.