Harlia pulang menjelang magrib dengan langkah yang tidak lagi sama. Sedikit pincang. Sedikit ditahan. Sedikit dipaksakan agar terlihat biasa saja. Begitu pintu rumah dibuka, ibunya yang sedang menyapu langsung menoleh.
“Har?”
Harlia tersenyum.
“Iya, Bu.”
Ibunya menyipitkan mata.
“Kenapa jalannya kayak sinetron abis ditembak?”
Harlia refleks menurunkan kaki.
“Biasa. Capek.”
Ibunya mendekat, lalu menunduk.
“ITU KAKI KAMU KENAPA?” teriaknya.
Harlia panik.
“Bu, pelan—”
“KOK DIPERBAN?!” lanjut ibunya sambil langsung berlutut.
Ayah muncul dari ruang tengah.
“Ada apa? Ibu ini selalu ngagetin ayah.”
“KAKI ANAK KITA!” teriak ibunya.
Ayah menoleh.
“Har?”
Harlia menghela napas.
“Cuma keseleo dikit.”
“Keseleo di mana?” tanya ibunya curiga.
“Di… jalan.”
“JALAN MANA?” Ibunya naik pitam. “Jalan cinta?!”
Ayah berdeham.
“Ibu.”
Harlia cepat menyahut.
“Bu, sumpah nggak apa-apa. Aku jatuh kecil.”
Ibunya melotot.
“Jatuh kecil kok diperban?”
Harlia menoleh ke arah lain.
“Itu… estetika.”
Ayah menahan senyum.
“Ya, perban memang lagi tren.”
Ibunya menatap ayahnya tajam.
“Ayah jangan nambah.”
Ibunya kembali ke Harlia.
“Siapa yang bikin kamu jatuh?”
Harlia terdiam bukan karena bingung memilih jawaban, tapi karena di kepalanya sedang rapat darurat. Semua opsi terasa salah. Kalau bilang “jatuh sendiri”, ibunya tidak akan percaya. Kalau bilang “karena Topan”, drama nasional siap tayang ulang. Kalau bilang “karena hidup”, nanti disuruh ikut pengajian.
Diamnya terlalu lama.
Ibunya menyipitkan mata, curiga level intel.
“Kenapa diem?”
Harlia menelan ludah.
“Soalnya… kalau aku jawab jujur, ibu pasti salah fokus.”
“Fokus ke mana?” tanya ibunya tajam.
“Ke orangnya,” jawab Harlia pelan.
Ayah menghela napas, duduk di kursi.
“Har, kamu jatuh karena siapa?”
Harlia mengangkat bahu.
“Bukan siapa-siapa.”
Ibunya langsung berkacak pinggang.
“Nah. Kalimat ‘bukan siapa-siapa’ itu paling bahaya. Biasanya berujung siapa-siapanya penting.”
Harlia menggaruk pelipis.
“Bu, aku jatuh karena lari.”
“Lari dari apa?” tanya ibunya cepat.
Harlia jujur setengah.
“Dari… pikiran sendiri.”
Ayah terdiam. Ibunya ikut diam, tapi diam yang menilai.
“Jadi,” kata ibunya akhirnya, lebih pelan, “kamu jatuh bukan karena cowok?”
Harlia mengangguk.
“Enggak.”
Ibunya menghela napas panjang, lalu berdiri.
“Syukurlah.”
Harlia lega terlalu cepat.
“Tapi,” lanjut ibunya sambil menunjuk kaki Harlia, “kalau nanti ibu tahu ada cowok yang bikin kamu lari sampai jatuh—” Ibunya tersenyum manis. Terlalu manis.“Ibu yang akan bikin dia jatuh.”
Ayah berdeham keras, menyembunyikan tawa. Harlia menghela napas, separuh lega, separuh lelah. Di dalam dadanya, rasa sakit di lutut kalah nyeri dibanding satu hal lain, ternyata jatuh itu tidak sesakit diam sendirian. Dan entah kenapa, wajah Jordi dengan tangan asing yang menahan tubuhnya, menyelinap pelan, membuat dadanya hangat di saat yang paling tidak terduga.
Baru lega sebentar, tiba-tiba ibunya bikin kaget orang serumah.
“Ibu tau! Pasti Topan, kan?” tebak ibunya cepat.
“Bukan,” jawab Harlia refleks.
Ibunya mengangkat alis.
“Oh. Berarti ada nama lain.”
“Ibu!” Ayah mengangkat tangan. “Sudah. Kalau Har nggak mau cerita, jangan dipaksa.”
Ibunya mendengus, tapi akhirnya berdiri.
“Masuk, terus duduk! Jangan banyak gerak!"
Malam itu, Harlia duduk di kamar dengan kaki disangga bantal. Nyeri fisik masih ada. Tapi yang lebih berat pikirannya. Ia menatap langit-langit.
“Aku mau nikah nggak, sih?” gumamnya.
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi jawabannya berisik. Ia teringat jatuh pagi tadi. Tertawa orang-orang. Tangan Jordi yang mengulurkan bantuan tanpa syarat. Lalu teringat Topan. Gombalan, janji, tiga miliar.
“Kalau bukan sekarang,” katanya pelan, “kapan?”
Harlia menutup mata, berharap gelap bisa merapikan pikirannya yang berantakan seperti kabel charger murah. Tapi yang datang justru parade adegan jatuh berguling, tawa orang, suara eh jatuh! Lalu tangan Jordi yang hangat dan tenang. Aneh, lima menit bersama orang asing itu terasa lebih sunyi dan aman daripada berbulan-bulan janji yang selalu berisik. Ia menghela napas. Kaki berdenyut, tapi hatinya yang lebih nyeri.
“Lucu ya,” gumamnya lirih. “Yang bikin jatuh malah yang mau nikahin.”
Ia memiringkan badan, memeluk bantal seperti sedang memeluk jawaban yang belum jadi. Bayangan Topan muncul senyum percaya diri, kata doain aja, lalu hilang. Tidak jahat, tapi juga tidak hadir. Seperti Wi-Fi satu bar. Harlia tertawa kecil, getir.
“Aku capek ngejar,” bisiknya.
“Capek pura-pura kuat.”
Di luar kamar, terdengar ibunya batuk kecil, ayahnya berdehem suara rumah yang tetap setia. Harlia membuka mata sebentar, lalu menutupnya lagi. Kali ini bukan untuk lari, tapi untuk berhenti.
“Kalau harus jatuh,” katanya pelan, “aku mau ditangkap.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, pikirannya sedikit tenang. Bukan karena sudah menemukan jawaban, melainkan karena akhirnya berani mengakui pertanyaannya.
Ketukan pintu terdengar.
“Har,” suara ibunya. “Ada tamu.”
Harlia mengerang pelan.
“Bu, aku capek.”
“Tetep,” jawab ibunya. “Kerabat kita ini.”
Harlia bangkit dengan susah payah. Di ruang tamu, dua orang duduk dengan senyum lebar. Bibi Sulastri dan suaminya. Ibunya langsung berdiri tegak, senyum formal terpasang.
“Silakan duduk, Har,” kata ibunya.
Harlia duduk perlahan. Bibi Sulastri tersenyum cerah.
“Wah, Harlia makin cantik ya.”
Harlia tersenyum sopan.
“Terima kasih, Bi.”
Bibi Sulastri membuka tas.
“Kami mau ngasih undangan.”
Ia mengeluarkan undangan pernikahan. Nama yang tercetak membuat Harlia menelan ludah. Putri mereka. Usia 23 tahun.
“Anak kami akhirnya ketemu jodoh,” kata Bibi Sulastri bangga. “Cepat ya kalau sudah waktunya.”
Ibunya tersenyum kaku.
“Iya… alhamdulillah.”
Bibi Sulastri menoleh ke Harlia.
“Kamu kapan, Har?”
Senyum Harlia membeku. Ibunya langsung menyambar, “Doain aja, Bi. Harlia itu bukan nggak laku, cuma selektif.”
“Selektif banget berarti,” kata Bibi Sulastri sambil tertawa kecil. Ayah Harlia berdeham.
“Yang penting bahagia.”
“Iya,” sahut Bibi Sulastri. “Tapi kalau kelamaan, kasihan orang tuanya.”
Ibunya tertawa kering.
“Kami masih kuat.”
Harlia menunduk. Setiap kata terasa seperti jarum kecil.
“Kakinya kenapa, Har?” tanya Bibi Sulastri tiba-tiba.
Ibunya refleks menjawab, “Kecapekan kerja.”
Bibi Sulastri mengangguk.
“Makanya, perempuan itu enaknya cepat nikah.”
Harlia mengepalkan tangan. Ibunya tersenyum lebar tapi matanya tajam.
“Perempuan itu enaknya bahagia, Bi.”
Bibi Sulastri tertawa canggung.
“Iya… iya.”
Setelah tamu pulang, rumah kembali sunyi. Ibunya duduk lemas di sofa. Ayah menuangkan air. Ibunya menghela napas panjang.
“Capek ya, Yah?“
Ayah mengangguk.
“Kamu terlalu sering pasang badan.”
Ibunya menatap Harlia.
“Ibu nggak apa-apa dibela. Yang Ibu capek itu lihat kamu ngerasa kurang.”
Harlia menunduk.
“Aku bikin ibu capek.”
Ibunya mendekat.
“Kamu bikin ibu khawatir.”
Ayah menambahkan, “Nikah itu pilihan, Har. Bukan pelarian.”
Harlia terdiam.
“Tapi,” lanjut ayahnya lembut, “kalau kamu memilih, pastikan karena yakin, bukan karena dikejar omongan.”
Ibunya mengangguk.
“Dan jangan cuma karena ibu terus-terusan membela kamu.”
Harlia menggigit bibir. Ia masuk kamar tanpa berkata apa-apa. Di kamar, Harlia duduk di tepi kasur. Undangan pernikahan itu masih terbayang. Usia 23.Sudah menikah. Sudah “selesai”.
Ia menatap kakinya yang diperban.
“Kalau aku nunggu terus,” gumamnya, “aku bakal jatuh lagi?”
Ia mengambil ponsel. Menatap nama Topan. Jarinya gemetar. Ia mengetik.
Harlia: Pan, kamu serius sama aku?
Balasan tidak langsung datang. Detik terasa lama. Akhirnya....
Topan: Aku serius, Dek.
Harlia menelan ludah.
Harlia: Kalau serius, aku minta satu hal.
Titik tiga muncul.
Topan: Apa?
Harlia menarik napas panjang. Mengetik, menghapus, mengetik lagi. Akhirnya....
Harlia: Lamar aku. Sekarang!
Sunyi.
Tidak ada balasan.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Harlia memeluk ponsel. Dadanya naik turun. Di luar kamar, ibunya berjalan pelan, berhenti di depan pintu, ragu mengetuk. Di layar ponsel, titik tiga belum muncul. Dan di kepala Harlia, satu pertanyaan bergema lebih keras dari sebelumnya.
Apakah keputusan ini lahir dari cinta atau dari lelah terus-menerus harus dibela?
Bab ini berakhir tepat saat ponsel Harlia kembali menyala.Nama Topan muncul. Pesan masuk, tetapi belum dibuka.