Kebaya Pengantin

07 January 2026

Pagi itu toko pakaian tempat Arema bekerja sudah mulai ramai. Musik lembut mengalun pelan dari speaker kecil di sudut ruangan, berpadu dengan suara gesekan hanger dan langkah kaki pelanggan yang keluar masuk.

Arema berdiri di depan etalase, tangannya cekatan merapikan deretan pakaian yang sempat berantakan karena dicoba beberapa pembeli sejak pagi.

Kemeja, gamis, dress pesta, semuanya ia susun rapi sesuai ukuran dan warna. Wajahnya terlihat tenang, seolah semalam tidak terjadi apa-apa.

Padahal jauh di lubuk hatinya, lelah masih bersarang, bukan hanya karena fisik, tapi juga karena pikiran.

"Permisi, Mbak."

Sebuah suara terdengar, Arema refleks menoleh. Seorang gadis dan pria muda berdiri di depan kasir.

"Apa ada kebaya pengantin?" tanya perempuan itu ramah.

"Oh, ada, Kak," sahut Nita, rekan kerja Arema, yang juga seniornya. "Kalau mau, bisa sekalian fitting di ruang sebelah."

"Boleh," jawab si perempuan.

Arema yang semula kembali fokus pada lipatan pakaian, mendadak terhenti. Ada suara lain yang menyusul, suara laki-laki yang begitu ia kenal, terlalu kenal.

"Iya, kita sekalian aja, Sayang. Biar langsung kelihatan cocok apa nggaknya."

Jantung Arema seolah berhenti berdetak. Perlahan, hampir tanpa sadar, ia menoleh ke arah sumber suara. Matanya membesar, napasnya tercekat.

Rino. Dan … Vheronika.

Dua sosok itu berdiri tak jauh dari kasir. Rino mengenakan kemeja putih lengan panjang, tampak rapi seperti biasa.

Di sampingnya, Vhero berdiri dengan dress ketat berwarna krem, rambut panjangnya tergerai, wajahnya dipoles make up tipis namun mencolok.

Tangan Vhero melingkar manja di lengan Rino. Arema menelan ludah. "Jangan-jangan, mereka beneran mau nikah?" batinnya.

Dadanya mendadak sesak. Ada rasa panas yang menjalar dari ulu hati hingga ke tenggorokan. Sedikit cemburu, namun tidak sepenuhnya.

Lebih tepatnya campuran antara perih, kecewa, dan amarah yang sudah lama ia tekan.

"Mas, kebayanya yang modern aja ya. Aku gak suka yang terlalu klasik. Tenang aja, aku yang bayar semua," ucap Vhero manja.

"Iya, Sayang. Yang penting kamu suka," jawab Rino tanpa ragu.

Kalimat itu seperti pisau yang menusuk tepat ke jantung Arema.

Dulu, dulu Rino juga berbicara kepada Arema memakai kata 'sayang' Dengan nada yang sama. Dengan tatapan yang sama.

Dasar munafik, batin Arema getir.

"Eh, Mbak Rema." Suara Nita tiba-tiba menyentak kesadarannya.

Arema menoleh cepat. "Iya, Mbak?"

"Itu ada pelanggan mau fitting kebaya. Tolong dibantu ya."

Arema menegang. Tatapannya refleks kembali ke arah Rino dan Vhero. Keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya.

Ia tidak siap, juga tidak ingin beradu muka dengan mereka. Dan tidak mau berdiri berhadapan dengan mereka sekarang.

Arema tahu betul, jika Vhero melihatnya, perempuan itu pasti tidak akan diam. Ejekan, sindiran, tatapan meremehkan, semuanya pasti ia terima. Dan yang lebih menyakitkan, Vhero akan merasa menang. Merasa berhasil merebut Rino, merasa lebih unggul.

Arema mengepalkan tangannya pelan. Tidak. Aku tidak mau memberi dia kepuasan itu. Tiba-tiba Arema memegangi perutnya, wajahnya dibuat meringis.

"Aduh, Mbak," katanya pada Nita dengan suara tertahan. "Maaf banget, aku mules banget. Perutku sakit. Boleh ke belakang dulu sebentar nggak?"

Nita terkejut. "Hah? Kamu kenapa, Rema?"

"Kayaknya dari tadi pagi udah nggak enak. Aku ke toilet dulu ya, bentar aja," sahut Arema dengan nada yang dibuat semelas mungkin.

Tanpa menunggu jawaban, Arema berbalik cepat. Langkahnya agak tergesa menuju ruang belakang. Begitu melewati pintu, ia langsung menghela napas panjang, punggungnya bersandar ke dinding. Tangannya gemetar.

Bukan karena sakit perut, tapi karena hatinya yang kembali diacak-acak masa lalu. Di balik pintu, suara Rino dan Vhero masih samar terdengar.

"Mas, toko ini lumayan juga ya," kata Vhero. "Pegawainya banyak, bajunya juga lengkap."

"Iya," jawab Rino singkat.

Arema memejamkan mata. Ada rasa getir menyusup pelan. Seolah tempat ia mencari nafkah ini tidak lebih dari sekadar persinggahan biasa.

Ia masuk ke toilet, mengunci pintu, lalu duduk di atas kloset tertutup. Tangannya menutup wajah. Tenang, Rema. Tenang, ia membujuk dirinya sendiri.

Kamu sudah lepas dari dia. Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Namun, bayangan kebahagiaan palsu di depan matanya terus terngiang.

Vhero yang tersenyum puas, Rino yang tampak seolah pria bertanggung jawab.

Dalam hati Rino, ada rasa bimbang. Ia teringat betul saat di kos Arema. Wanita itu menjanjikan akan memberi uang satu juta untuk membeli obat penggugur kandungan Vheronika.

Namun, harus gagal karena ia kembali salah sebut nama di depan Arema.

Padahal, Arema terkekeh lirih tanpa suara. Padahal aku tahu kebenarannya.

Beberapa menit kemudian, Nita mengetuk pintu. "Rema? Kamu masih di dalam?"

"Iya, Mbak," jawab Arema, suaranya dibuat lemah. "Masih sakit. Kayaknya aku perlu istirahat sebentar."

"Ya udah, istirahat aja bentar. Aku yang handle fitting-nya."

"Makasih ya, Mbak," ucap Arema lega.

Setelah suara langkah Nita menjauh, Arema kembali bersandar. Kali ini, matanya menatap kosong ke arah pintu.

Di luar sana, Rino dan Vhero mungkin sedang memilih kebaya. Mengukur masa depan yang dibangun di atas kebohongan, pengkhianatan, dan luka orang lain.

Arema menarik napas dalam. "Aku gak akan runtuh cuma karena ini."

Beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri keluar dari toilet. Ia berjalan pelan menuju ruang belakang toko, mengambil segelas air, lalu duduk di kursi kecil dekat gudang.

Dari celah tirai, ia bisa melihat sekilas. Vhero sedang berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya putih gading.

Tubuhnya diputar-putar, menilai dirinya sendiri dengan senyum puas. Rino berdiri di samping, mengangguk-angguk.

"Cocok gak, Mas?" tanya Vhero manja.

"Cocok," jawab Rino. "Kamu kelihatan cantik."

Kata 'cantik' membuat Arema tersenyum miris.

Cantik dari luar, tapi busuk di dalam, batinnya.

Tak lama, fitting selesai. Arema mendengar langkah kaki mereka mendekat ke kasir.

"Ini kita ambil ya, Mbak," ucap Vheronika ceria. "Nanti tinggal disesuaikan lagi."

"Baik, Mbak," jawab Nita ramah.

Arema menunduk, memastikan dirinya tidak terlihat. Jantungnya berdetak kencang saat suara Rino semakin dekat.

Namun, Rino tidak menoleh ke arah belakang sama sekali. Seolah Arema benar-benar telah hilang dari dunianya.

Beberapa menit kemudian, pintu toko berbunyi. Mereka pergi.

Arema baru mengangkat kepalanya saat suasana kembali lengang. Ada rasa lega, tapi juga perih yang sulit dijelaskan.

Nita menghampirinya. "Kamu nggak apa-apa, Rema?" tanyanya ketika Arema keluar dari toilet.

Arema mengangguk pelan. "Udah agak mendingan."

"Tadi kamu pucet banget," kata Nita khawatir.

"Cuma kaget perutnya." Arema tersenyum tipis.

Nita tidak tahu dan tidak perlu tahu, bahwa yang membuatnya nyaris roboh bukanlah sakit perut, melainkan kenyataan pahit yang kembali menyapa tanpa permisi.

Arema berdiri, kembali merapikan pakaiannya. Tangannya kembali bekerja, langkahnya kembali bergerak.

Di dalam hati, ia berbisik pelan. "Aku gak akan kalah. Bukan sama Vhero. Bukan juga sama Rino. Aku akan bangkit dengan caraku sendiri."Pagi itu toko pakaian tempat Arema bekerja sudah mulai ramai. Musik lembut mengalun pelan dari speaker kecil di sudut ruangan, berpadu dengan suara gesekan hanger dan langkah kaki pelanggan yang keluar masuk.

Arema berdiri di depan etalase, tangannya cekatan merapikan deretan pakaian yang sempat berantakan karena dicoba beberapa pembeli sejak pagi.

Kemeja, gamis, dress pesta, semuanya ia susun rapi sesuai ukuran dan warna. Wajahnya terlihat tenang, seolah semalam tidak terjadi apa-apa.

Padahal jauh di lubuk hatinya, lelah masih bersarang, bukan hanya karena fisik, tapi juga karena pikiran.

"Permisi, Mbak."

Sebuah suara terdengar, Arema refleks menoleh. Seorang gadis dan pria muda berdiri di depan kasir.

"Apa ada kebaya pengantin?" tanya perempuan itu ramah.

"Oh, ada, Kak," sahut Nita, rekan kerja Arema, yang juga seniornya. "Kalau mau, bisa sekalian fitting di ruang sebelah."

"Boleh," jawab si perempuan.

Arema yang semula kembali fokus pada lipatan pakaian, mendadak terhenti. Ada suara lain yang menyusul, suara laki-laki yang begitu ia kenal, terlalu kenal.

"Iya, kita sekalian aja, Sayang. Biar langsung kelihatan cocok apa nggaknya."

Jantung Arema seolah berhenti berdetak. Perlahan, hampir tanpa sadar, ia menoleh ke arah sumber suara. Matanya membesar, napasnya tercekat.

Rino. Dan … Vheronika.

Dua sosok itu berdiri tak jauh dari kasir. Rino mengenakan kemeja putih lengan panjang, tampak rapi seperti biasa.

Di sampingnya, Vhero berdiri dengan dress ketat berwarna krem, rambut panjangnya tergerai, wajahnya dipoles make up tipis namun mencolok.

Tangan Vhero melingkar manja di lengan Rino. Arema menelan ludah. "Jangan-jangan, mereka beneran mau nikah?" batinnya.

Dadanya mendadak sesak. Ada rasa panas yang menjalar dari ulu hati hingga ke tenggorokan. Sedikit cemburu, namun tidak sepenuhnya.

Lebih tepatnya campuran antara perih, kecewa, dan amarah yang sudah lama ia tekan.

"Mas, kebayanya yang modern aja ya. Aku gak suka yang terlalu klasik. Tenang aja, aku yang bayar semua," ucap Vhero manja.

"Iya, Sayang. Yang penting kamu suka," jawab Rino tanpa ragu.

Kalimat itu seperti pisau yang menusuk tepat ke jantung Arema.

Dulu, dulu Rino juga berbicara kepada Arema memakai kata 'sayang' Dengan nada yang sama. Dengan tatapan yang sama.

Dasar munafik, batin Arema getir.

"Eh, Mbak Rema." Suara Nita tiba-tiba menyentak kesadarannya.

Arema menoleh cepat. "Iya, Mbak?"

"Itu ada pelanggan mau fitting kebaya. Tolong dibantu ya."

Arema menegang. Tatapannya refleks kembali ke arah Rino dan Vhero. Keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya.

Ia tidak siap, juga tidak ingin beradu muka dengan mereka. Dan tidak mau berdiri berhadapan dengan mereka sekarang.

Arema tahu betul, jika Vhero melihatnya, perempuan itu pasti tidak akan diam. Ejekan, sindiran, tatapan meremehkan, semuanya pasti ia terima. Dan yang lebih menyakitkan, Vhero akan merasa menang. Merasa berhasil merebut Rino, merasa lebih unggul.

Arema mengepalkan tangannya pelan. Tidak. Aku tidak mau memberi dia kepuasan itu. Tiba-tiba Arema memegangi perutnya, wajahnya dibuat meringis.

"Aduh, Mbak," katanya pada Nita dengan suara tertahan. "Maaf banget, aku mules banget. Perutku sakit. Boleh ke belakang dulu sebentar nggak?"

Nita terkejut. "Hah? Kamu kenapa, Rema?"

"Kayaknya dari tadi pagi udah nggak enak. Aku ke toilet dulu ya, bentar aja," sahut Arema dengan nada yang dibuat semelas mungkin.

Tanpa menunggu jawaban, Arema berbalik cepat. Langkahnya agak tergesa menuju ruang belakang. Begitu melewati pintu, ia langsung menghela napas panjang, punggungnya bersandar ke dinding. Tangannya gemetar.

Bukan karena sakit perut, tapi karena hatinya yang kembali diacak-acak masa lalu. Di balik pintu, suara Rino dan Vhero masih samar terdengar.

"Mas, toko ini lumayan juga ya," kata Vhero. "Pegawainya banyak, bajunya juga lengkap."

"Iya," jawab Rino singkat.

Arema memejamkan mata. Ada rasa getir menyusup pelan. Seolah tempat ia mencari nafkah ini tidak lebih dari sekadar persinggahan biasa.

Ia masuk ke toilet, mengunci pintu, lalu duduk di atas kloset tertutup. Tangannya menutup wajah. Tenang, Rema. Tenang, ia membujuk dirinya sendiri.

Kamu sudah lepas dari dia. Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Namun, bayangan kebahagiaan palsu di depan matanya terus terngiang.

Vhero yang tersenyum puas, Rino yang tampak seolah pria bertanggung jawab.

Dalam hati Rino, ada rasa bimbang. Ia teringat betul saat di kos Arema. Wanita itu menjanjikan akan memberi uang satu juta untuk membeli obat penggugur kandungan Vheronika.

Namun, harus gagal karena ia kembali salah sebut nama di depan Arema.

Padahal, Arema terkekeh lirih tanpa suara. Padahal aku tahu kebenarannya.

Beberapa menit kemudian, Nita mengetuk pintu. "Rema? Kamu masih di dalam?"

"Iya, Mbak," jawab Arema, suaranya dibuat lemah. "Masih sakit. Kayaknya aku perlu istirahat sebentar."

"Ya udah, istirahat aja bentar. Aku yang handle fitting-nya."

"Makasih ya, Mbak," ucap Arema lega.

Setelah suara langkah Nita menjauh, Arema kembali bersandar. Kali ini, matanya menatap kosong ke arah pintu.

Di luar sana, Rino dan Vhero mungkin sedang memilih kebaya. Mengukur masa depan yang dibangun di atas kebohongan, pengkhianatan, dan luka orang lain.

Arema menarik napas dalam. "Aku gak akan runtuh cuma karena ini."

Beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri keluar dari toilet. Ia berjalan pelan menuju ruang belakang toko, mengambil segelas air, lalu duduk di kursi kecil dekat gudang.

Dari celah tirai, ia bisa melihat sekilas. Vhero sedang berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya putih gading.

Tubuhnya diputar-putar, menilai dirinya sendiri dengan senyum puas. Rino berdiri di samping, mengangguk-angguk.

"Cocok gak, Mas?" tanya Vhero manja.

"Cocok," jawab Rino. "Kamu kelihatan cantik."

Kata 'cantik' membuat Arema tersenyum miris.

Cantik dari luar, tapi busuk di dalam, batinnya.

Tak lama, fitting selesai. Arema mendengar langkah kaki mereka mendekat ke kasir.

"Ini kita ambil ya, Mbak," ucap Vheronika ceria. "Nanti tinggal disesuaikan lagi."

"Baik, Mbak," jawab Nita ramah.

Arema menunduk, memastikan dirinya tidak terlihat. Jantungnya berdetak kencang saat suara Rino semakin dekat.

Namun, Rino tidak menoleh ke arah belakang sama sekali. Seolah Arema benar-benar telah hilang dari dunianya.

Beberapa menit kemudian, pintu toko berbunyi. Mereka pergi.

Arema baru mengangkat kepalanya saat suasana kembali lengang. Ada rasa lega, tapi juga perih yang sulit dijelaskan.

Nita menghampirinya. "Kamu nggak apa-apa, Rema?" tanyanya ketika Arema keluar dari toilet.

Arema mengangguk pelan. "Udah agak mendingan."

"Tadi kamu pucet banget," kata Nita khawatir.

"Cuma kaget perutnya." Arema tersenyum tipis.

Nita tidak tahu dan tidak perlu tahu, bahwa yang membuatnya nyaris roboh bukanlah sakit perut, melainkan kenyataan pahit yang kembali menyapa tanpa permisi.

Arema berdiri, kembali merapikan pakaiannya. Tangannya kembali bekerja, langkahnya kembali bergerak.

Di dalam hati, ia berbisik pelan. "Aku gak akan kalah. Bukan sama Vhero. Bukan juga sama Rino. Aku akan bangkit dengan caraku sendiri."