Aku tidak langsung masuk ke teras setelah mendengar kalimat itu.
Aku berdiri di balik pintu, punggung menempel pada dinding, mencoba menenangkan napasku agar tidak terdengar. Teh di tanganku sudah tidak terlalu panas, tapi telapak tanganku tetap berkeringat.
“Dia belum tahu apa-apa.”
Kalimat itu berputar di kepalaku seperti jarum jam yang patah, tetap bergerak tapi tidak menunjukkan waktu dengan benar. Aku menunggu sampai suara Sisca kembali stabil.
“Baik,” katanya. “Nanti aku kabari. Jangan telepon duluan.”
Lalu sunyi.
Aku mundur beberapa langkah, berpura-pura baru datang dari dapur, lalu membuka pintu dengan suara kecil.
“Tante,” kataku sepelan mungkin agar nada suaraku wajar, “aku bikin teh. Mau?”
Sisca menoleh. Wajahnya tenang, sangat tenang. Seakan tidak ada satu pun kalimat penting yang baru saja keluar dari mulutnya beberapa detik lalu.
“Boleh,” jawabnya sambil tersenyum. “Teh malam selalu terasa lebih jujur.”
Aku menyerahkan satu cangkir padanya.
“Ngapain di sini sendirian?” tanyaku ringan.
“Ngobrol sama langit,” jawabnya santai. “Kalau terlalu banyak hal yang tidak bisa dikatakan ke manusia, langit selalu mau mendengar.”
Aku ikut duduk.
Kami tidak membahas apa pun yang penting.
Kami berbicara tentang suara jangkrik, tentang cuaca yang akhir-akhir ini berubah-ubah, tentang bagaimana orang datang dan pergi seperti cuaca juga. Sisca tertawa beberapa kali, tawa yang ringan tapi terdengar seperti menyimpan banyak hal di belakangnya.
Aku tidak menyinggung telepon tadi. Tidak malam itu. Tidak saat aku belum siap mendengar jawabannya.
Pisces dalam diriku memilih menyimpan, bukan karena tidak berani, tapi karena mengetahui sesuatu bukan hal yang mudah dibalik. Beberapa kebenaran, sekali dibuka, tidak bisa ditutup lagi.
Keesokan harinya, Rian datang pagi-pagi sekali. Aku masih setengah sadar saat bel berbunyi. Rambutku berantakan, kausku kebesaran. Rian berdiri di depan pintu dengan kantong plastik besar.
“Apa ini?” tanyaku, mengucek mata.
“Logistik,” jawabnya pendek.
Dia masuk begitu saja seperti biasa, menuju dapur, mengeluarkan isi kantong, roti, buah, telur, susu, madu, daftar lengkap layaknya daftar belanja yang disusun di kepala orang Virgo.
“Kamu enggak perlu repot,” kataku.
“Aku mau,” ia menjawab tanpa menoleh.
Ada kehangatan kecil di dadaku, tapi juga ada rasa lain: sesuatu yang terasa terlalu… rapi. Rian hari ini seperti seseorang yang menghafal naskah “pacar ideal” semalaman lalu mempraktikkannya.
“Makan,” katanya. “Nanti kamu sakit.”
Aku memperhatikannya memecahkan telur dengan hati-hati, mengatur api kecil, membalik roti tepat waktu. Ia bergerak terencana, presisi, seolah jika semuanya dibuat sempurna, dunia di dalam dirinya juga akan ikut rapi.
“Rian,” kataku pelan, duduk di kursi dapur, “kamu baik banget hari ini.”
Dia terkekeh. “Harusnya aku tersinggung karena kamu bilang ‘hari ini’.”
“Aku serius.”
Ia berhenti sebentar. Tidak menoleh, tapi bahunya kaku.
“Aku cuma enggak mau kamu merasa sendirian,” katanya akhirnya.
Aku mengangguk. “Terima kasih.”
Aku tidak tahu sejak kapan, tapi akhir-akhir ini kata “terima kasih” terasa berat. Seperti ada sesuatu di baliknya yang ingin ikut keluar tapi tidak jadi.
Kami sarapan berdua.
Sesekali bahu kami saling bersentuhan. Rian berbicara ringan tentang pekerjaan, tentang rekan kantornya yang obsesif pada detail lebih darinya. Aku mendengarkan, tersenyum di beberapa bagian, mengangguk di bagian lain, sementara sebagian pikiranku masih berada di teras semalam.
“Dia belum tahu apa-apa.”
Aku mendadak menanyakan sesuatu.
“Rian.”
“Hm?” “Kamu kemarin ke mana?”
Ia berhenti mengaduk kopinya.
Sepersekian detik saja, tapi aku melihatnya.
Keheningan kecil itu.
“Keluar bentar,” katanya. “Ada urusan.”
“Urusan apa?”
Dia tidak langsung menjawab.
“Rian,” ulangku, lebih pelan tapi juga lebih dalam.
Dia menghela napas. “Aku cuma… butuh waktu sendiri.”
Alasan yang mungkin benar.
Mungkin juga tidak.
Aku menatapnya.
Rian menatap balik.
Aku mencari kebohongan di matanya, tapi yang kutemukan justru sesuatu yang lebih membingungkan, rasa bersalah yang tidak sepenuhnya ia mengerti sendiri.
Sisi Piscean di dalamku berkata dia tidak jahat. Tapi dia menyembunyikan sesuatu.
Aku menurunkan pandanganku. “Baik.” Dia tampak lega sekaligus tidak lega.
“Aku pengin kamu percaya sama aku,” katanya pelan.
“Aku pengin kamu percaya sama dirimu sendiri dulu,” jawabku tanpa sengaja.
Kami sama-sama terdiam. Kalimat itu keluar begitu saja, padahal aku belum sepenuhnya memahaminya. Tapi begitu kuucapkan, aku tahu itu benar.
Rian tersenyum tipis. Senyum orang Virgo yang tidak mau membahas perasaannya terlalu dalam. “Aku lagi belajar.”
Siang itu, kami duduk di ruang tamu. Aku bersandar di sofa sambil membaca buku, atau pura-pura membaca, karena jarang sekali mataku mengikuti kata-kata di halaman. Rian bersandar di karpet, menyandarkan punggung pada sofa, memegang ponsel.
Aku tidak mengintip. Aku tidak perlu. Aku bisa merasakan perubahan sekecil apa pun dari ekspresinya. Itu anugerah Pisces sekaligus hukuman: bisa menangkap getaran yang bahkan tidak disadari orang lain.
Rian mengetik sesuatu, lalu menghapus. Mengetik lagi, lalu menghapus lagi. Aku menutup buku.
“Kamu lagi chat siapa?” tanyaku santai.
“Teman kantor,” jawabnya cepat.
“Oh.”
“Hei,” katanya segera setelah itu, menoleh padaku. “Bukan apa-apa.”
“Emang aku bilang apa?”
“Wajah kamu bilang macam-macam.”
Aku tersenyum kecil. “Wajahku memang cerewet.”
Dia ikut tersenyum. Keheningan lagi. Kali ini berbeda. Bukan hening yang nyaman. Bukan juga yang tidak nyaman. Ini hening yang… mengingat. Ada kata-kata yang hampir keluar tapi tidak jadi.
“Anita,” katanya tiba-tiba.
Aku mengangkat alis. “Ya?”
“Kalau suatu hari nanti…” Ia berhenti, menatap jari-jarinya. “Kalau suatu hari nanti kamu tahu sesuatu tentang aku yang kamu enggak suka, kamu bakal apa?”
Pertanyaannya tidak seperti biasanya.
Aku memiringkan kepala. “Contohnya?”
“Ya… apa saja.”
“Rian,” kataku pelan, “semua orang punya sisi yang orang lain enggak suka. Termasuk aku.”
“Aku enggak nanya ‘punya’,” katanya. Suaranya rendah. “Aku nanya ‘kalau kamu tahu’.”
Aku diam.
Pisces dalam diriku ingin memeluknya saat itu juga. Bukan karena cemburu. Bukan karena posesif. Tapi karena aku melihat seorang Virgo yang biasanya kokoh, tiba-tiba berdiri di atas tanah yang bergerak.
“Aku akan dengar kamu,” jawabku akhirnya. “Sampai selesai. Baru habis itu aku nentuin apa yang mau kulakukan.”
Dia mengangguk.
Jawaban itu tampaknya menenangkan… dan tidak menenangkan. Menjelang sore, ia bilang ingin pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju.
“Aku balik lagi malam,” katanya.
Aku mengantar sampai pintu.
Saat ia memelukku sebentar, pelukan ringan, wajar, tidak lebih, aku mencium sesuatu. Aroma. Lembut. Dewasa. Sedikit manis, tapi ada dinginnya.
Aroma yang sama seperti yang menempel di teras semalam. Aroma yang sama dengan parfum yang digunakan Sisca. Aku terdiam sepersekian detik lebih lama dari seharusnya. Rian melepas pelukan.
“Kok bengong?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku menggeleng pelan. “Enggak. Cuma… parfummu ganti, ya?”
“Oh.” Ia menatap bajunya sebentar, lalu tertawa kecil. “Iya. Baru beli.”
“Baunya… enak,” kataku, suaraku hampir tidak terdengar.
“Untung,” jawabnya ringan. “Soalnya ada yang nyaranin.”
“Siapa?”
Dia butuh waktu sepersepuluh detik untuk menjawab.
Sangat cepat untuk orang lain.
Sangat lama untukku.
“Teman,” katanya.