Drama #Drama #roman

Pertemuan yang Dirahasiakan

Penulis Gwen
07 January 2026

Hari-hari setelah itu berjalan seperti hujan yang tidak jadi turun.

Langit mendung, berat, menggantung lama, tapi tidak ada air yang benar-benar jatuh. Aku beraktivitas seperti biasa: membantu ibu, menjawab pesan belasungkawa, membalas kalimat-kalimat yang tidak tahu harus dibalas bagaimana. Tapi di dalam kepalaku, satu kalimat masih tertinggal, “Dia belum tahu apa-apa.”

Aku tidur, aku bangun, aku minum teh, aku berbicara dengan orang, tapi kalimat itu tetap duduk di dalam diriku seperti tamu yang menolak pulang.

Dan entah sejak kapan, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak kupikirkan.

Cara Rian menaruh ponsel selalu menghadap ke bawah. Cara Sisca tersenyum sebelum menjawab pertanyaan langsung. Cara ibu menahan napas setiap kali nama Sisca disebut.

Hal-hal kecil itu saling menatap satu sama lain di kepalaku. Siang itu, aku sedang membereskan kamarku ketika ponselku bergetar.

Nama Rian muncul di layar. Aku mengangkatnya sambil duduk di tepi kasur. “Halo?”

“Sibuk?” suaranya terdengar normal. Terlalu normal.

“Enggak. Lagi beres-beres dikit.”

“Jangan capek-capek,” katanya refleks, seperti kebiasaan. “Kamu udah makan?”

Aku tersenyum. “Udah. Kamu?”

“Sudah,” jawabnya. Hening sejenak. “Anita.”

“Hm?”

Nada suaranya berubah sedikit lebih hati-hati. “Kayaknya sore ini aku enggak bisa ke rumah.”

“Kenapa?”

“Ada… ketemuan.”

“Klien?”

“Hm,” jawabnya cepat. “Semacam itu.” Aku berdiri dan berjalan ke jendela. Langit cerah, tapi rasanya seperti mendung di dalam diriku sendiri.

“Oke,” kataku pelan. “Hati-hati.”

“Aku kabarin nanti,” katanya. “Jangan dipikirin macam-macam, ya?”

Aku tertawa kecil tanpa humor. “Kalau kamu bilang kayak gitu, justru susah.”

Dia ikut tertawa pendek. “Iya juga.”

Telepon ditutup.

Aku menatap layar ponsel beberapa detik setelahnya, seperti menunggu sesuatu terjadi dengan sendirinya. Tidak terjadi apa-apa, tentu saja.

Lalu aku melihatnya. Notifikasi kecil. Bukan dari Rian. Dari S. Hatiku refleks berdebar.

“Sudah makan?” Aku menghela napas. Aku seharusnya bertanya banyak hal. Tentang telepon malam itu. Tentang “rencana”. Tentang Rian. Tapi jariku justru mengetik:

“Sudah. Tante di mana?”

Balasannya cepat.

“Keluar.” Gemini. Tidak pernah memberi satu kalimat penuh; selalu menyisakan ruang untuk tebak-tebakan emosional. Aku menggigit bibir bawahku.

“Dengan siapa?” Beberapa detik.

Lalu “Dengan urusan.” Aku tersenyum miring tanpa sadar. Oke. Baik. Dunia tampaknya sedang senang bermain teka-teki denganku.

Sore hari, aku memutuskan keluar rumah.

Aku bilang pada ibu ingin jalan sebentar, cari udara. Ibu hanya mengangguk dan berpesan agar aku membawa jaket jika malam tiba-tiba turun hujan. Hal-hal kecil seperti itu yang membuatku sadar: sekalipun hidup terasa rumit, beberapa perhatian tetap sederhana.

Kakiku melangkah tanpa rencana.

Aku naik angkutan, turun, berjalan lagi. Kota terasa berbeda ketika pikiranmu penuh. Orang-orang berjalan, mobil klakson, seorang anak menangis karena balonnya terlepas, tapi semuanya seperti latar belakang suara hatimu sendiri.

Tanpa sadar, aku berhenti di depan sebuah kafe.Kafe itu tidak asing.

Aku pernah ke sini beberapa hari lalu. Bersama Sisca.

Kafe itu terletak tepat di tengah kota, namun seolah memilih untuk tidak benar-benar ada.

Ia bersembunyi di antara deretan bangunan tua yang catnya mulai pudar, masuk melalui gang sempit yang hanya diketahui oleh mereka yang penasaran atau terbiasa berjalan kaki tanpa tujuan.

Dari luar, tak ada papan nama mencolok, hanya pintu kayu sederhana dengan gagang besi dingin dan aroma kopi samar yang menyelinap keluar, memancing siapa pun yang lewat untuk berhenti sejenak.

Begitu pintu didorong, hiruk pikuk kota seakan tertahan di ambang. Suara klakson, teriakan pedagang, dan deru kendaraan mengecil menjadi bisikan jauh. Di dalam, lampu kuning temaram menggantung rendah, menciptakan bayang-bayang lembut di dinding bata yang dibiarkan telanjang.

Meja-meja kayu dengan sudut sedikit aus berbaris tidak terlalu rapi, seolah ingin mengatakan bahwa tempat ini tidak menuntut kesempurnaan, hanya kehadiran.

Di sudut, rak buku tua berdiri dengan punggung buku beragam warna, beberapa lusuh, beberapa masih tajam. Aroma kopi baru digiling bercampur dengan wangi kayu dan sedikit manis karamel dari dapur kecil di belakang. Musik jazz mengalun pelan, cukup terdengar tapi tidak mengganggu, seperti latar untuk percakapan yang ingin dijaga rahasianya.

Pengunjungnya tidak banyak; beberapa menunduk di balik laptop, yang lain tenggelam dalam buku, sementara sepasang sahabat berbisik sambil tertawa kecil.

Waktu di sini terasa bergerak lebih pelan, seolah kafe ini memiliki ruangnya sendiri, tak tersentuh tergesa-gesa kota di luar. Tempat ini bukan hanya tempat singgah, ia terasa seperti rahasia kecil yang dipeluk hangat oleh tengah kota.

Aku hampir masuk hanya untuk duduk dan minum sesuatu, tapi langkahku berhenti.

Karena melalui kaca besar itu, aku melihat dua orang yang tidak asing sama sekali.Rian. Dan Sisca. Mereka duduk saling berhadapan. Tidak bersentuhan. Tidak bersikap berlebihan. Tidak melakukan apa pun yang bisa dipotret sebagai “kesalahan”.

Tapi udara di antara mereka, udara yang hanya bisa dirasakan, bukan dilihat, terlalu akrab untuk disebut kebetulan.

Aku berdiri mematung di trotoar.

Orang berlalu-lalang di belakangku. Bunyi kendaraan lewat. Tapi suaranya tenggelam oleh detak jantungku sendiri.

Aku memperhatikan.

Rian mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Kebiasaannya ketika benar-benar memperhatikan seseorang. Dahinya berkerut ringan di mode seriusnya. Tangannya tidak gelisah. Ia tampak… nyaman.

Sisca berbicara sambil menggerakkan tangan pelan. Matanya hidup. Sekali-dua kali ia tertawa kecil. Lalu tiba-tiba ia diam, menatap Rian dengan cara yang tidak pernah kuterima dari siapa pun: tatapan yang penuh rahasia sekaligus pengertian.

Aku mencoba tersenyum pada diriku sendiri.

Mungkin mereka membicarakan keluarga. Mungkin mereka membicarakan ayah. Mungkin mereka hanya… kebetulan bertemu.

Kebetulan di kafe yang sama. Di hari yang sama. Saat keduanya sama-sama “ada urusan”.

Aku hampir masuk. Hampir. Tapi langkahku mengakar. Aku ingin melihat, bukan mengganggu. Aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan ketika mereka pikir tidak ada siapa pun yang melihat.

Rian berkata sesuatu. Sisca berhenti. Perlahan, ia menyentuh gelas Rian. Bukan tangan. Bukan wajah. Bukan hal besar. Hanya gelas. Tapi sentuhan sekecil itu, diiringi cara dia memandangnya, mengatakan terlalu banyak.

Bibirnya bergerak pelan. Aku tidak bisa mendengar, tapi aku bisa membaca gerak bibirnya. Aku tahu kalimat itu. Aku pernah mendengarnya dalam mimpi yang tidak ingin kuakui nyata.

“Kamu masih sama seperti dulu.”

Rian menunduk sesaat. Senyum itu muncul. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan ketika berusaha jadi “versi terbaik” dirinya untukku. Senyum orang yang berhenti berpura-pura.

Aku meraih ponsel. Bukan tahu untuk apa. Mungkin hanya ingin memegang sesuatu agar tanganku tidak gemetar sendirian. Saat itulah ponselku bergetar. Pesan baru. Dari nomor tanpa nama. Bukan “S”.

Isinya: “Sama tempat seperti dulu?”

Aku menatap layar. Aku menatap ke dalam kafe lagi.

Sama. Persis sama. Kafe yang sama. Meja yang sama. Orang yang sama.

Aku menurunkan ponsel perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak tahu apakah aku ingin kebenaran datang cepat, atau sebenarnya aku ingin ia tersesat di jalan dan tidak pernah sampai.