Aku tidak masuk. Aku duduk di kursi yang berada di teras kafe.
Posisiku lumayan strategis. Deretan tanaman lidah mertua yang berada di depan jendela, menutupi keberadaanku. Mereka tidak bisa melihatku. Belum lagi deretan rak di jendela sebelah dalam semakin menutupi pandangan ke luar.
Aku yang bisa melihat mereka dengan jelas dari balik kaca yang memantulkan separuh bayanganku dan separuh dunia mereka. Rasanya seperti menonton film yang tidak pernah ingin kutonton, tapi juga tidak bisa kuhentikan.
Pelayan datang mendekatiku. Aku pesan espresso. Pahitnya setara kenyataan di hadapanku saat ini. Dari sela jendela aku melihat Rian dan Sisca memesan minuman dingin. Entah kopi, entah milkshake. Aku tidak tahu pasti.
Mungkin lebih tepatnya aku tidak terlalu peduli. Di benakku saat ini hanya ingin menjawab rasa penasaran. Intrusive thoughts bermunculan. Bagaimana jika aku langsung mendatangi mereka berdua saja dan meminta penjelasan.
Atau jika perlu diviralkan saja ya...? Namun, aku akan terlihat sangat emosional dan mempermalukan diri sendiri. Lantas, apa? Apa yang sebenarnya harus aku lakukan? Diam saja, mengamati seperti sekarang ini?
Ah banyak sekali kemungkinan-kemungkinan berseliweran di dalam kepalaku. Aku takut mengambil salah satunya. Tidak ada yang benar-benar positif, smuanya pesimistis.
Aku takut kehilangan Rian, tapi juga tidak sanggup hidup dalam kebohongan. Bukankah lebih baik kepahitan yang jujur, ketimbang dusta yang manis? Sikapi Rian yang akhir-akhir ini terlalu baik juga seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Harapan yang semula kukubur karena menyadari karakternya yang tidak bisa berubah, mendadak muncul lagi.
"Praang...," gelas espresso pecah. Pelayan yang seharusnya menyajikan biang kopi itu tersandung tepat di sebelahku.
Aku menunduk, khawatir jika Rian dan Tante Sisca menengok ke arah luar karena ada suara berisik. Namun, mereka sama sekali tidak melihat ke arah luar. Mereka terlalu asyik sepertinya dengan dunianya.
Aku kembali memesan espresso. Pelayan meminta maaf berulang kali. Aku hanya mengiyakan, supaya tidak terlalu mencolok perhatian. Pelayan yang terlalu lama di satu titik sambil membungkuk-bungkuk minta maaf bisa menarik perhatian.
Rian dan Sisca tampak seperti dua orang yang sedang berbicara tentang hal yang sangat mereka pahami, tanpa perlu menjelaskannya terlalu banyak. Itu yang membuatku goyah, keakraban yang tidak membutuhkan kata-kata.
Hatiku bukan sekadar berdebar. Ia menekan dadaku dari dalam, seperti sesuatu yang ingin keluar tapi masih mencari jalan.
Aku tidak mendengar sejak awal pembicaraan mereka. Tapi aku mendengar saat yang salah. Atau saat yang tepat, tergantung dari sisi mana aku melihat hidup. Rian bersandar pada kursinya.
“Aku nggak mau berdebat,” katanya pelan.
Nada suaranya tidak tinggi. Justru itu yang membuatnya terdengar lebih sungguh-sungguh.
Sisca menatapnya, dagunya terangkat sedikit, tetapi matanya lembut.
“Kita tidak sedang berdebat,” katanya. “Kita hanya sedang mengingat.” Rian tertawa pendek, tanpa humor. “Itu lebih melelahkan daripada berdebat.”
Sisca memiringkan kepala. “Bagi orang seperti kamu, iya.”
“Orang seperti aku itu yang seperti apa?” Rian menatapnya. Lama.
“Orang yang lebih mudah memaafkan orang lain,” jawab Sisca pelan, “daripada memaafkan diri sendiri.”
Rian terdiam.
Kalimat itu menabrakku juga.
Rian yang kukenal memang seperti itu, rapi di luar, berantakan di dalam, tapi tetap ingin terlihat mampu mengatur kekacauannya sendiri. Ia pandai menenangkan orang lain, tapi tidak pernah sungguh-sungguh duduk dan bicara dengan dirinya sendiri. Rian seolah rajin membangun tembok tinggi di dalam dirinya. Tidak sekali pun ia mengizinkan orang mendekat, apalagi memanjat tembok tersebut.
“Berhenti membaca aku,” katanya, setengah bercanda, setengah sungguhan.
“Kalau kamu tidak mau dibaca, jangan duduk di hadapan Gemini,” jawab Sisca ringan.
Mereka berdua tertawa kecil.
Aku menggenggam tepi tas yang kubawa, terlalu erat. Itu tawa yang berbeda. Bukan karena isinya. Karena ritmenya. Tawa dua orang yang punya sejarah, entah sejarah yang seperti apa.
Beberapa menit berlalu. Aku tidak tahu berapa lama. Waktu kehilangan bentuk ketika kau sedang berusaha tidak menangis.
Aku mendengar Rian berkata, lebih pelan kali ini, “Kalau dia tahu, bagaimana?”
Hatiku berhenti berdetak sepersekian detik. Dia.
Aku tahu mereka sedang membicarakan siapa. Aku.
Sisca tidak langsung menjawab.
Ia memutar gelas dengan jarinya pelan, menatap cairan di dalamnya seolah di sana ada langit malam.
“Dia tidak harus tahu semuanya,” katanya.
Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang tajam di ujungnya.
Rian menatapnya lama. “Kamu yakin itu tidak jahat?”
Sisca mengangkat bahu pelan. “Jahat itu relatif. Ada yang kita sebut jahat hanya karena kebenaran datang terlalu cepat.”
“Aku tidak ingin menyakiti dia,” kata Rian.
Aku memejamkan mata.
Sebagian dari diriku ingin masuk, ingin menuntut jawaban, ingin memecahkan semua kaca di antara kami. Tapi bagian lain hanya diam di sana, menyaksikan hidupnya berjalan tanpa kehadiranku di dalam percakapan mereka.
“Kalau begitu,” kata Sisca, suaranya lebih pelan lagi, “jangan terus-menerus berdiri di dua tempat.”
Rian merundukkan bahu sedikit.
“Aku tidak berdiri di dua tempat.”
“Kamu berdiri di tengah,” koreksi Sisca lembut. “Itu lebih menyakitkan.”
Keheningan jatuh di antara mereka. Bukan keheningan canggung. Keheningan orang yang sudah terlalu sering berkelahi dengan kata-kata di dalam kepalanya sendiri.
“Aku tidak menyesal bertemu kamu,” kata Rian akhirnya.
Kalimat itu merambat dari meja mereka ke kakiku, naik ke dadaku, lalu berhenti di tenggorokanku.
Aku menelan ludah pelan. Aku tidak tahu apakah aku marah, sedih, cemburu, atau hanya… retak.
“Dan aku tidak berharap kamu menyesal,” jawab Sisca kalem. “Aku hanya berharap kamu jujur, pada dirimu sendiri dulu. Bukan padaku. Bukan pada dia.”
Dia. Aku lagi. Aku merasa seperti hantu yang berdiri di luar tubuhnya sendiri, menonton sesuatu yang terjadi atas namaku tanpa aku ikut di dalamnya. Aku tidak sadar kapan aku mulai bergerak lebih dekat. Hanya beberapa langkah. Aku berdiri di sisi dinding, cukup dekat untuk mendengar dengan jelas, cukup jauh untuk tetap tersembunyi. Suara Sisca menjadi lebih rendah.
“Rian.” “Hm?” “Ada hal yang tidak boleh terjadi lagi.” “Aku tahu.” “Ada hal yang tidak boleh diulang.” “Aku tahu.” “Ada hal yang…” Kalimatnya terputus sebentar.
Aku mengintip sedikit. Sorot matanya berubah. Lebih serius. Lebih jujur.
“…dia tidak boleh tahu,” lanjutnya pelan. Rian menegang.
Aku merasakan tegangnya bahkan dari jarak ini.
“Kenapa?” tanyanya.
“Karena kalau dia tahu kita pernah saling kenal..”
Aku berhenti bernapas. Kalimat itu terasa seperti batu yang dilempar ke danau tenang di dalam diriku. Gelombangnya menyebar ke mana-mana.
Sisca melanjutkan dengan sangat pelan, seperti memilih kata yang tepat agar tidak mematahkan sesuatu yang rapuh: “..hidupnya akan runtuh lebih cepat dari yang seharusnya.”