Drama #Drama #roman

Saat Pertanyaan Berbalik

Penulis Gwen
07 January 2026

Aku pulang tanpa sadar bagaimana caranya.

Aku tidak ingat kapan kaki mulai melangkah menjauh dari kafe itu. Tidak ingat lampu apa yang menyala di perempatan. Tidak ingat suara klakson siapa yang memecah udara. Yang kuingat hanya satu kalimat itu, menggaung di kepalaku, “Dia tidak boleh tahu kita pernah saling kenal.”

Aku duduk di tepi ranjang, masih memakai sepatu.

Ruang kamar terasa miring. Foto-foto di dinding, tumpukan buku, semua seperti ikut menatapku dan menunggu aku memutuskan apakah akan menangis atau tertawa. Aku tidak melakukan keduanya.

Pisces di dalam diriku biasanya langsung tenggelam ke dalam emosi. Kali ini tidak. Kali ini aku… sunyi. Sunyi yang bukan kosong. Sunyi yang penuh. Pintu kamar diketuk pelan.

“Ani?” Suara itu. Tenang. Hangat. Berbahaya.

“Tante boleh masuk?”

Aku menelan ludah. “Masuk saja.”

Pintu terbuka.

Sisca berdiri di ambang pintu, rambutnya tergerai, bayangan lampu koridor jatuh di bahunya. Wajahnya tidak menunjukkan kelelahan, tapi aku bisa merasakan ia membawa banyak malam yang belum selesai tidur.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Pertanyaan sederhana.

Tapi justru itu yang membuatku hampir retak.

Aku tersenyum tipis. “Kalimat itu biasanya dipakai orang yang tahu seseorang tidak baik-baik saja.”

Ia tersenyum kecil, melangkah masuk, lalu duduk di kursi dekat jendela. Ia tidak langsung mendekat. Ia memberiku ruang atau ia sedang mengukur jarak, aku tidak tahu.

“Aku melihat kamu keluar sore tadi,” katanya pelan. “Udara membantu?”

Pertanyaannya biasa.

Maknanya tidak.

“Udara selalu membantu,” jawabku. “Yang bikin pusing biasanya bukan udara. Orang.” Ia terkekeh pelan. “Kita semua memang begitu.”

Aku menatapnya. Tidak melirik. Tidak menunduk. Menatap.

“Aku mau nanya sesuatu,” kataku. “Dan aku pengin jawaban jujur.”

“Tanya,” katanya lembut. “Kalau aku bisa jujur, aku jujur. Kalau belum bisa… aku akan bilang belum bisa.”

Jawaban Gemini yang sempurna, transparan sekaligus tertutup.

Aku mengangguk.

“Tante sama Rian,” kataku pelan, “sebenarnya apa?”

Ia tidak kaget. Itu yang membuatku justru ingin berteriak.

Tidak ada gerakan spontan. Tidak ada kaget setengah detik. Tidak ada “hah?” refleks. Ia hanya menghela napas sangat pelan, seperti seseorang yang sudah lama menunggu kalimat itu akhirnya keluar dari mulutku.

“Kamu melihat apa?” tanyanya balik.

Aku tertawa kecil, kering. “Jadi sekarang aku yang ditanya?”

“Bukan,” katanya lembut. “Aku hanya ingin tahu dari mana rasamu datang. Dari apa yang kamu lihat… atau dari apa yang kamu takutkan.”

Pertanyaan itu menembus sesuatu di dalam diriku. Aku terdiam. Aku tidak menjawab langsung.

Gambar kafe itu muncul di kepalaku lagi: lampu kuning hangat, meja kayu kecil, dua gelas yang tinggal setengah, tawa yang terlalu pelan untuk disebut biasa, tatapan yang terlalu lama untuk disebut sopan.

“Aku melihat,” kataku akhirnya, “dua orang yang sudah lama saling kenal… pura-pura baru saling kenal.”

Ia menunduk. Aku melanjutkan, suaraku lebih pelan, “Aku melihat seseorang yang kusebut pacar… dan seseorang yang kusebut keluarga… bicara seperti orang yang pernah punya sesuatu yang tidak punya nama.”

Sisca mengangkat wajah. Matanya tidak berkilat oleh pembelaan. Tidak ada panik. Yang ada justru kejujuran yang menunggu.

“Kalau aku bilang ‘tidak’,” katanya tenang, “kamu percaya?” Aku terdiam.

Kejujuran paling menyakitkan bukan “iya”.

Kejujuran paling menyakitkan adalah ketika “tidak” pun tidak bisa kita percayai lagi.

“Jadi?” tanyaku hampir berbisik. “Jawabannya apa?”

Ia memandangku lama. Lama sekali.

“Kami pernah saling mengenal,” katanya pelan.

Kata “pernah” itu seperti pisau tumpul. Tidak memotong cepat. Tapi tetap melukai.

“Sejak kapan?” suaraku pecah kecil.

“Sejak sebelum kamu tahu,” jawabnya.

Jawaban yang bukan jawaban.

Aku menggenggam ujung seprai. “Kenapa aku tidak pernah diberi tahu?”

Ia memiringkan kepala sedikit. “Karena kamu tidak pernah bertanya.”

Aku menatapnya tidak percaya. “Aku baru tahu ada yang harus ditanya!”

Ia tersenyum sendu. “Nah.”

Aku menarik napas panjang, menahannya, lalu melepaskannya perlahan. Mataku panas, tapi air mata tidak jatuh.

“Aku mau nanya lagi,” kataku.

“Tanya,” jawabnya.

“Kenapa kamu kembali… pas Ayah meninggal?”

Ia tampak berpikir sejenak. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Tapi karena ia memilih bagian mana yang bisa keluar ke dunia.

“Karena manusia sering baru berani pulang,” katanya pelan, “kalau orang yang paling mungkin marah… sudah tidak ada.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada teriakan.

Aku menutup wajah sebentar dengan kedua tangan, bukan untuk menangis, tapi supaya pikiranku tidak berlari terlalu cepat.

Beberapa detik kemudian, aku menurunkan tanganku.

“Tante,” kataku, “aku nggak minta semua rahasia hari ini. Aku cuma minta satu.”

Ia mengangguk.

“Minta aku jujur pada diriku sendiri dulu,” katanya.

Aku menatapnya, terkesiap.

Itu kalimat yang sama dengan yang ia katakan pada Rian.

Aku menelan ludah.

“Oke,” kataku pelan. “Aku jujur.”

Aku menarik napas, lalu mengucapkannya,

“Aku takut.”

Sunyi.

Aku melanjutkan, “Aku takut semua ini bukan kebetulan. Aku takut kamu datang bukan cuma karena Ayah meninggal. Aku takut kamu mengenal Rian bukan cuma ‘kebetulan kafe’. Aku takut… semua orang di sekelilingku tahu sesuatu tentang hidupku… kecuali aku.”

Kata-kata itu akhirnya keluar. Ringan. Berat. Bersamaan. Sisca berdiri. Pelan. Ia melangkah mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, jarak kami hanya sejengkal. Tangannya tidak menyentuhku. Matanya yang menyentuhku.

“Anita,” katanya sangat lembut, “kamu tidak terlalu takut pada aku atau Rian.”

Aku mengernyit. “Terus pada siapa?”

“Pada dirimu sendiri,” katanya.

Aku membuka mulut untuk membantah, tapi tidak ada kata yang keluar.

Ia melanjutkan pelan, seolah sedang berbicara pada seseorang yang jauh lebih muda:

“Kamu takut kalau intuisi Pisces kamu benar sejak awal… dan kamu memilih untuk tidak mendengarnya.”

Dadaku sesak. Ini bukan tuduhan. Ini kebenaran. Aku tertawa kecil, tawa yang goyah.

“Kadang aku benci jadi Pisces,” gumamku.

“Jangan,” katanya sambil tersenyum. “Pisces diciptakan untuk melihat hal yang tidak dilihat orang lain. Cuma… kadang mereka terlambat mengakui bahwa mereka sudah melihatnya.”

Aku terdiam. Aku ingin marah. Aku ingin memeluk. Aku ingin hilang. Semuanya bercampur.

“Boleh aku tanya sesuatu sekarang?” tanyanya lembut. Aku mengangguk pelan.

“Menurut kamu,” katanya, menatap dalam-dalam ke mataku, “apa yang sebenarnya kamu inginkan?”

Pertanyaan itu berhenti di tengah dadaku. Aku membuka mulut. Tidak ada jawaban. Yang ada hanya kesadaran betapa selama ini aku lebih banyak memikirkan apa yang orang lain inginkan dariku, bukan apa yang kuinginkan untuk diriku sendiri.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk. Sisca tersenyum sangat pelan. Ia berdiri. Menuju pintu. Tanganku hampir terulur untuk menahannya tanpa alasan jelas. Di ambang pintu, ia berhenti.

“Anita,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh, “kamu masih suka menyembunyikan uang seribu-seribuan di bawah karpet dekat lemari kecil? Biar kamu merasa punya ‘harta rahasia’ kalau lagi sedih?”

Aku membeku. Darahku seperti berhenti mengalir sesaat. Tidak ada orang yang tahu itu. Tidak Ibu. Tidak Rian. Tidak siapa pun.

Hanya satu orang yang pernah tertawa kecil saat menemukannya dulu, mengusap kepalaku, lalu berkata, “Jangan taruh rahasia di bawah karpet. Nanti kamu lupa, lalu kamu sedih sekali saat menemukannya lagi.”

Aku mendongak cepat. “Nunggu apa?” tanyaku hampir berbisik. “Siapa yang bilang itu ke Tante?”

Sisca menoleh pelan. Matanya lembut. Suaranya tidak bergetar. “Ayahmu.”