Aku tidak langsung menangis setelah Sisca meninggalkan kamarku.
Aku hanya duduk di tepi ranjang, memandang karpet.
Tikar tipis itu terlihat biasa-biasa saja bagi siapa pun, tapi bagiku ia seperti pintu kecil ke masa lalu. Tempat aku menyembunyikan uang receh waktu kecil, lalu merasa kaya saat menemukannya lagi di hari yang buruk.
Di atas tikar itu, dunia seakan menyusut menjadi hal-hal sederhana yang membahagiakan: suara sendok beradu dengan piring logam, aroma teh manis mengepul pelan, dan tawa Ayah yang selalu datang terlambat setelah ceritanya sendiri. Aku masih ingat, Ayah suka menggulung lengan bajunya, lalu duduk bersila di sebelahku. Ia membagikan potongan mangga dingin dari kulkas, memberiku bagian terbesar tanpa pernah mengakuinya.
Kadang kami berbaring sejajar menatap langit-langit, menebak bentuk awan yang tampak dari celah jendela, katanya, ada naga malas dan kucing gemuk yang diam-diam menjaga kami. Aku percaya saja, karena di dekat Ayah, segala dongeng terdengar mungkin, tidak ada yang mustahil.
Di tikar itu kami menyusun kapal kertas, membiarkannya berlayar di sungai imajiner yang Ayah gambar dengan jari di udara. Jika listrik mati, ia menyalakan lampu minyak kecil; bayangan kami menari di dinding, dan Ayah membuat suara-suara lucu hingga perutku sakit karena tertawa. Sesekali, aku tertidur tanpa sadar, dengan kepala berat di lengannya, sementara ia menepuk-nepuk punggungku seperti irama lagu tanpa kata.
Di luar mungkin hujan, mungkin ramai klakson, mungkin orang-orang sedang mengejar sesuatu, tetapi di atas tikar tipis itu waktu terasa jinak. Tak ada masalah yang terlalu besar, hanya detik-detik hangat yang terhampar luas. Ayah jarang banyak nasihat, ia hanya hadir penuh, dan kehadiran itu seperti selimut tipis yang anehnya selalu cukup memberi kehangatan dan kenyamanan.
Kini, ketika aku menyentuh anyaman kasarnya, aku seperti menyentuh tawa yang belum usang, remah-remah kue yang pernah jatuh, dan suara Ayah yang memanggil namaku pelan. Tikar itu tidak mewah, tetapi di situlah aku pertama kali belajar bahwa bahagia sering datang tanpa janji, duduk bersila saja, di sebelah Ayah.
Aku belum pernah menceritakan itu pada siapa pun.
Ayah yang menemukannya.
Bukan karena ia mencari.
Karena suatu hari ia duduk di lantai, bercanda denganku, dan ujung karpet itu terangkat sedikit. Koin-koin jatuh berkelontang. Aku panik. Ia tertawa, tidak menegur, hanya berkata:
“Kalau kamu sedih, jangan sembunyikan. Nanti kamu ketemu lagi, sedihnya dobel.”
Sekarang aku baru mengerti maksudnya.
Kesedihan yang kusimpan terlalu lama, kembali dengan jumlah bunga.
Aku menarik napas panjang. Oke. Cukup. Aku berdiri.
Ada satu tempat yang terus memanggilku bahkan sejak kemarin, kamar kerja Ayah. Bukan karena aku ingin menyiksa diri. Tapi karena aku merasa jawaban tidak ada di percakapan, melainkan di benda-benda yang ditinggalkan.
Aku berjalan ke sana.
Pintu setengah terbuka, persis seperti terakhir kali kutinggalkan.
Cahaya sore membentuk garis tipis di lantai. Debu menari dalam cahaya itu, seperti butiran waktu yang belum sempat dibersihkan.
Kotak itu masih ada di meja. Kotak besi dengan ukiran samar A & S Aku menarik kursi dan duduk.
Aku memegangnya. Beratnya… sama. Pertanyaannya… lebih berat.
“Kalau kamu sedih, jangan sembunyikan.” Aku tertawa kecil.
“Ayah,” gumamku, “aku tidak sembunyi. Aku cuma belum siap buka mata lebar-lebar.”
Aku membalik kotak itu, mencari kunci yang tidak ada. Sisi-sisinya halus, sudutnya dingin di kulitku. Kalung Sisca muncul di kepala. Bandul kecil itu. Tonjolan kecil itu. Potongan kunci yang tidak terlihat seperti kunci. Aku bersandar ke kursi. Oke.
Berarti ada dua pilihan, membiarkan kotak itu tertutup atau suatu hari harus meminta kalung itu dari leher perempuan yang memegang terlalu banyak rahasia Pisces dalam diriku ingin menunggu.
Namun bagian lain, bagian dari diriku yang mungkin bukan zodiak apa pun, ingin berhenti menjadi orang yang selalu terlambat memahami hidupnya sendiri.
Tanganku menyentuh ukiran itu. A & S. Ayah & Sisca.
Keduanya terhubung lebih dalam daripada yang pernah diceritakan siapa pun padaku.
Aku membuka laci meja.
Laci tempat Ayah biasa menyimpan surat, buku catatan, dan hal-hal kecil yang katanya tidak penting tapi ia simpan juga entah kenapa. Aku mengeluarkan tumpukan amplop tua.
Tulisan tangan Ayah.
Tulisan tangan yang kukenal betul, sedikit miring, huruf “t” dibuat panjang, titik pada “i” selalu sedikit terlalu tinggi.
Kebanyakan amplop tidak dibuka. Sebagian terbuka setengah. Satu amplop paling tua kusentuh. Ada nama di depannya.
Bukan nama Ibu. Bukan namaku. Namanya Sisca
Jantungku berdegup pelan tapi dalam. Amplop itu tidak dilem kembali. Suratnya masih utuh di dalam. Aku menariknya perlahan.
Kertas sudah menguning sedikit di ujungnya, wangi tua, wangi lemari kayu dan waktu. Aku membuka lipatannya hati-hati.
Tulisan Ayah memenuhi halaman. Beberapa kalimat pendek. Beberapa kalimat panjang. Beberapa kalimat berhenti di tengah. Aku membaca.
“S, aku tidak pernah pandai meminta maaf. Kamu tahu itu. Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu merasa dikhianati. Tapi aku juga tahu, suatu hari nanti kamu akan mengerti: ada yang kulakukan bukan karena aku tidak menyayangimu, justru karena aku terlalu menyayangimu.”
Mataku bergerak cepat. Kata “menyayangimu” terasa aneh. Bukan kasih adik-kakak yang ringan. Ada sesuatu yang lebih berat di bawahnya.
Aku melanjutkan: “Kamu akan membenciku lama. Tidak apa-apa. Asal kamu hidup. Asal kamu tidak hancur bersama pilihanmu.”
Pilihan. Pilihan apa? Aku menggigit bibir.
Kalimat berikutnya seperti menunggu aku bersiap: “Dia tidak akan pernah bisa hidup tenang bersamamu. Bukan karena kamu tidak cukup, tapi karena dunia tidak akan pernah cukup baik pada kalian.”
Aku berhenti membaca. Aku menekan surat ke dada sebentar. Ada cerita yang tidak pernah sampai padaku. Dan aku berdiri di tengahnya.
Aku melanjutkan lagi, walaupun tanganku gemetar. “Ini bukan tentang benar atau salah. Ini tentang kamu yang akan lebih terluka jika tetap bertahan. Maka aku memilih menjadi orang jahat dalam cerita kamu.”
Air mataku jatuh tanpa aku sadari. Aku tidak tahu untuk siapa air mata itu, untuk Ayah, untuk Sisca, atau untuk diri kecilku yang selalu merasa cerita orang dewasa terlalu rapi padahal tidak. Aku meletakkan surat itu. Ada benda lain di dalam kotak laci.
Sebuah foto. Aku menariknya keluar. Foto lama. Tiga orang.
Ayah. Sisca. Seseorang lagi, laki-laki, lebih muda sedikit dari Ayah, wajahnya teduh, matanya tajam tapi hangat. Mereka bertiga berdiri di depan sebuah bangunan tua.
Aku memandangi foto itu lama. Aku membaliknya. Di belakang foto itu ada tulisan kecil.
Tulisan tangan yang berbeda dari Ayah. Lebih tegas. Lebih muda. Hanya satu kata. Satu nama. Rian.