bold text
Pagi itu, langit Jakarta sedang cantik-cantiknya. Awan tipis melayang seperti bulu-bulu putih yang sengaja ditata Tuhan untuk memberi manusia harapan baru, tapi bagi Rani, keindahan itu terasa seperti ironi pahit. Ia berjalan masuk ke kantor PT Aruna Creativa dengan langkah mantap. Namun, hati berkecamuk.
Laptop, flashdisk dan catatan konsep berada di dalam totebag. Ia memegangnya seperti memegang sesuatu yang sangat berharga, karena memang berharga.
Konsep itu adalah hasil kerja keras yang keluar langsung dari hatinya dan dari kenangan yang baru kembali ia buka setelah bertahun-tahun terkunci.
Ditambah lagi dari seseorang yang kini mulai mengisi ruang kecil dalam pikirannya. Bagas.
Rani menghembuskan napas panjang sebelum membuka pintu ruang meeting.
Di dalam, sudah ada empat orang. Pak Varel, klien utama dari divisi marketing TMII. Siska, rekan tim satu lantai yang selalu tampil rapi. Dion, editor muda yang gemar pakai hoodie meski kantor dingin dan terakhir, sosok yang paling menentukan nasib video itu, Pak Dimas, atasan Rani di Aruna Creativa.
Rani tersenyum kecil. “Pagi semuanya.”
“Pagi, Ran,” jawab Siska sambil merapikan layar proyektor.
Pak Dimas hanya mengangguk tanpa ekspresi. Ini tanda bahaya, pikir Rani.
Ia duduk dan mengatur file presentasinya. Jantungnya berdetak agak cepat, bukan karena gugup, melainkan karena ia bangga dengan apa yang akan ia tunjukkan. Konsep ini bukan sekadar materi klien, ini pesan untuk masyarakat bahwa TMII bukan hanya tempat wisata, tapi tempat kehidupan.
Ketika layar menampilkan slide pembuka, Rani mulai bicara.
“Baik, hari ini saya akan presentasikan konsep video TMII bertema ‘Indonesia dalam Satu Pelukan.’ Konsep ini menggabungkan edukasi budaya, visual puitis dan narasi sejarah yang relevan untuk anak muda.”
Ia memulai dengan alur. Tentang shot-shot anjungan. Tentang footage masa kecil yang menginspirasi tone visual nostalgia. Tentang bagaimana TMII bisa kembali menjadi ruang keluarga dan ruang belajar budaya.
Ia menampilkan cuplikan rekaman, merak di Taman Burung, anjungan Aceh yang megah, danau arsipel berkilau di sore hari. Semua tampak indah, hampir seperti iklan internasional.
Dion bahkan berbisik pelan, “gila, ini tone warnanya cakep banget, Ran.”
Rani tersenyum kecil. Itu komentar jujur, bukan formalitas.
Ia melanjutkan presentasi, sampai pada bagian narasi. "Video ini bukan hanya promosi wisata, tapi ajakan untuk kembali mengenali Indonesia. Dari pakaian adat, arsitektur, hingga filosofi ruang. Saya ingin orang yang menonton merasa ikut berjalan bersama kita, seperti membuka kembali album kenangan yang hilang.”
Ketika slide terakhir muncul, ruangan sempat hening beberapa detik. Rani menahan napas. Ia menatap Pak Dimas dan Pak Varel.
“Baik,” kata Pak Varel akhirnya. “Visualnya bagus. Teknisnya rapi. Ide edukatifnya menarik.”
Rani merasa sedikit lega.
Namun, kalimat berikutnya menghancurkan itu semua, "tapi ini terlalu serius.”
Rani mengerjap. “Maaf, Pak?”
Pak Varel menyandarkan tubuhnya. “Kami perlu sesuatu yang lebih ya, yang viral. Yang bisa nyangkut di FYP. Anak muda sekarang sukanya konten yang fun, lucu. Joget-joget. Challenge. Yang gampang share.”
Rani pikir ia salah dengar.
Ia menatap Pak Dimas untuk mencari dukungan, tapi justru menemukan sorot mata yang sudah tahu arah pembicaraan.
Pak Varel melanjutkan, “Konsep edukatif bagus, tapi jangan terlalu berat. Kita ingin TMII dilihat fun, bukan museum pelajaran sejarah.”
Rani membuka catatannya, mencoba tetap tenang, “tapi Pak, edukasi tidak harus berat. Visual puitis bisa tetap engaging. Kita bisa padukan informasi dengan storytelling.”
Pak Dimas memotong lembut, tapi dingin.
“Ran, coba lebih fleksibel, ya. Kita harus mengikuti apa yang diminta klien.”
“Pak, konsep ini disusun berdasarkan brief awal. Briefnya meminta narasi budaya, bukan konten komedi.”
pak Dimas tersenyum kaku. “Brief memang begitu, tapi sekarang tren sudah berubah dan yang menentukan tren itu FYP, bukan sejarah.”
Kalimat itu seperti tamparan.
Rani menelan ludah “tapi kita sedang mengangkat warisan budaya, Pak. Kalau terlalu receh, nanti pesannya hilang.”
“Kita bukan bikin film dokumenter nasionalisme.” Nada Pak Dimas masih halus, tapi menusuk. “Kita bikin konten promosi. Klien mau video yang ramai, mudah viral. Itu tugas kita.”
Rani memejamkan mata sejenak. Ia menahan amarah yang menekan dada.
“Jadi,” suara Rani serak. “Konsep ini harus direvisi total?”
Pak Varel mengangguk mantap. “Iya, Mbak Rani. Tolong dibuat versi yang lebih fun. Ada joget sedikit juga bagus. Biar nyangkut.”
Dion menunduk, berusaha tidak ikut bersuara. Siska memainkan pulpen, tampak tidak enak hati.
Rani merasa lantai ruangan bergetar.
Ia tidak percaya telinganya.
Joget?
Untuk video budaya TMII?
Siska akhirnya bersuara ragu. “Atau mungkin bisa mix, Pak? Ada bagian edukatifnya tetap dipertahankan?”
Pak Varel mengibaskan tangan. “Boleh, tapi porsi edukasi jangan lebih banyak dari yang lucu-lucu. Kalau bisa masukkan tren audio TikTok yang lagi naik.”
Rani tertegun.
pak Dimas mengangguk. “Ran, kamu bisa. Coba cari arah yang lebih ringan. Kamu punya kreatifitas.”
Rani menatap layar presentasi yang masih menampilkan slide terakhir. Slide itu berisi kutipan. "Budaya adalah cermin yang menuntun kita kembali pada akar.”
Ia menatap kata-kata itu lama. Seakan itu bukan sekadar quotes, tapi jeritan hatinya sendiri.
Ia menarik napas. “Pak, maaf, tapi apakah tidak ada cara untuk pertahankan sedikit esensi budaya TMII? Kalau kita buat terlalu receh, saya takut pesannya tidak sampai.”
Pak Varel tertawa kecil, tapi sinis. “Justru pesannya bisa sampai kalau videonya ramai. Kalau sepi, mau sebudaya apa juga percuma.”
Seketika dadanya panas.
Ia ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa budaya tidak boleh diremehkan. Bahwa TMII bukan tempat untuk joget-joget receh. Bahwa ada kenangan banyak orang yang terikat di sana. Termasuk dirinya, tapi semua itu mati di tenggorokan.
Pak Dimas menutup percakapan. “Baik, kalau tidak ada lagi yang mau dibahas, kita tunggu draft konsep revisi dari Rani dalam dua hari, ya.”
Dua hari. Untuk mengubah seluruh esensi konsep yang telah ia bangun dari hati?
Rani merasa seperti dicekik.
Tak lama kemudian, rapat selesai. Kursi bergeser, file dibereskan, laptop ditutup. Para peserta keluar satu per satu.
Rani tetap duduk. Tangannya menggenggam buku catatan sampai buku itu tertekuk.
Siska mendekat pelan. “Ran, kamu nggak apa-apa?”
Rani tersenyum kaku. “Nggak apa-apa. Cuma kaget.”
Siska menepuk bahunya lembut. “Aku tahu konsep kamu bagus banget. Serius, tapi ya, kamu tahu sendiri sistem kita.”
Rani mengangguk. Meski hatinya ingin berteriak, ia menahan diri.
Setelah ruangan benar-benar sepi, Rani berdiri perlahan. Ruang meeting terasa lebih dingin daripada ACnya. Udara yang tercampur aroma spidol dan karpet itu tiba-tiba membuatnya mual.
Ia berjalan keluar, tapi matanya menangkap bayangan dirinya di kaca pintu.
Sorot matanya tampak kosong. Seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang ia bangun dengan sepenuh jiwa.
Di meja kerjanya, Rani duduk lama tanpa bergerak. Monitor menyala, tapi ia tidak menyentuh keyboard. Ia hanya menatap folder berisi file presentasinya tadi.
Folder penuh harapan. Folder yang kini terasa seperti peti jenazah.
Ia membuka salah satu file rekaman Bagas. Bagas sedang tertawa kecil setelah Rani memarahinya karena terlalu banyak bercanda.
Rani tersenyum samar, lalu air matanya jatuh tanpa permisi.
Ia menutup wajahnya.
“Kenapa, kenapa semua yang aku bangun harus dibikin receh?” bisiknya pelan, getir.
Ia merasa dikhianati. Bukan oleh orang lain saja, tapi oleh sistem, oleh industri yang hanya peduli angka, bukan makna. Bahkan oleh atasannya yang selama ini ia hormati.
Rani memijat pelipis, mencoba menenangkan diri, tapi hati tidak bisa dibohongi.
Ia terluka.
Ia kecewa.
Ia marah dan untuk pertama kalinya sejak mulai proyek ini, ia merasa kehilangan arah.
“Bagas,” ia berbisik samar. “Kalau kamu ada, aku pasti cerita,” tapi realita kembali menghantam. Ia sendirian di kantor ini. Di ruangan dingin yang hanya berisik oleh bunyi AC.
Perlahan, ia tarik napas panjang. Lalu air mata berikutnya jatuh lagi.
Ini bukan hanya soal konsep. Ini tentang dirinya. Tentang idealismenya yang diinjak. Tentang hatinya yang mulai bergerak, tapi sekarang kembali tersandung dan Rani tahu, malam ini ia akan pulang dengan tekanan yang lebih berat dari kemarin.
Sebuah bab sulit baru dimulai.