bold text
Telepon itu belum berdering lama ketika Bagas langsung mengangkatnya. Suaranya terdengar agak terengah, seperti habis berlari kecil atau baru saja berpindah tempat. “Rani?” Nada khawatirnya saja sudah cukup membuat dada Rani terasa hangat.
Rani menelan napasnya. “Kamu lagi sibuk nggak?” “Nggak. Aku lagi nunggu lighting disetel buat rehearsal. Kenapa? Suaramu agak beda.”
Rani mengusap wajahnya yang sejak tadi memanas karena frustrasi. “Aku capek, Gas. Bukan capek fisik, tapi capek hati. Bisa nggak kamu dengar aku ngomel dua menit tanpa nyela?”
“Dua menit? Lima juga boleh,” jawab Bagas ringan. “Ayo, keluarin semua.”
Rani pun bercerita. Tentang meeting yang baru saja meruntuhkan moodnya. Tentang konsep video yang ia susun dengan sepenuh hati. Mengenai riset sejarah, memeriksa arsip, merancang alur narasi, menimbang tone visual dan semuanya.
Tentang bagaimana atasan sekaligus klien malah meminta konten receh, joget-joget ala TikTok.
“Bayangin, Gas. Aku udah siap presentasi kayak mau skripsi. Terus mereka bilang, ‘Yang viral itu joget.’ Joget, Bagas. Jogeeetttt. Terus budaya, edukasi, sejarah? Disuruh minggir.”
“Hmm,” Bagas menggumam pelan, seakan menahan tawa. “Kalau mau joget, aku bisa sih, tapi aku yakin TMII langsung turun derajat.”
Rani menepuk dahinya sambil mendengus. “Aku serius!”
“Aku juga serius,” potong Bagas cepat. “Aku tuh, punya bakat joget yang memalukan. Kalau aku yang tampil, satu Indonesia bakal sepakat menghapus budaya joget dari kehidupan bangsa.”
Rani akhirnya tidak tahan tertawa kecil dan tawa itu meski sebentar, sudah membuat dadanya jadi sedikit lebih ringan.
Setelah candaannya mereda, suara Bagas berubah lebih lembut. Lebih dalam. “Rani,” panggilnya pelan, “kamu boleh kecewa. Bahkan boleh banget marah, tapi kamu tahu apa yang paling bikin aku greget dari ceritamu?”
“Apa?”
“Kamu ngomongin konten budaya kayak kamu lagi ngomongin seseorang yang kamu sayangin banget. Kamu itu peduli, Ran. Kamu bawa TMII bukan cuma sebagai tempat kerja. Kamu bawa itu sebagai bagian dari identitasmu.”
Rani menghela napas, kali ini lebih berat. “Iya, karena TMII itu bukan sekadar lokasi syuting buatku. Dari kecil aku ke sana sama mama dan almarhum ayah. Ada kenangan yang bikin aku ngerasa kalo aku punya hutang untuk menjaga tempat itu tetap dikenang secara benar.”
Telepon terdiam selama dua detik, tapi Rani bisa merasakan Bagas benar-benar menyimaknya.
“Aku paham,” ujarnya. “Dan menurutku, justru karena itu kamu nggak boleh mengalah begitu saja. Kalau orang kayak kamu yang ngerti sejarah, ngerti rasa, ngerti makna nyerah, siapa lagi yang bakal nyelamatin konten budaya dari jadi bahan lucu-lucuan?”
Suara Rani tercekat. Ucapannya itu menusuk, tapi dengan cara yang justru menghidupkan.
“Gas.” “Hm?” “Kamu tahu nggak? Kata-katamu barusan, lebih manjur daripada vitamin C dosis tinggi.”
“Aku memang suplemen berjalan.” “Bukan. Kamu lebih mirip alarm. Bikin aku kaget, tapi penting.”
Bagas tertawa. “Alarm favoritmu, kan?” “Alarm yang bunyinya sopan,” balas Rani.
Hening sejenak, tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti hening yang menandakan mereka sama-sama memikirkan hal yang sama, betapa percakapan ini terasa terlalu nyaman.
Rani bersandar ke sofa rumahnya. “Kamu tahu nggak, tadi tuh rasanya kayak dikhianatin profesionalitas. Aku kerja sungguh-sungguh, tapi yang dihargai malah tren sesaat. Seolah idealismeku itu barang basi.”
Bagas mendengus. “Karena kamu kerja di industri yang sering kebablasan nyembah algoritma.”
“Bener banget.”
“Tapi justru di tempat kayak gitu, satu orang yang masih waras itu penting.”
Rani tidak segera menjawab. Rasanya ada sesuatu yang menghangat dalam dadanya, perpaduan antara ketenangan, rasa dimengerti dan hal yang berbeda yang ia belum berani beri nama.
“Kamu yakin aku harus tetap pertahanin konsep edukatif?” tanya Rani lirih. “Ran,” jawab Bagas mantap. “Kamu boleh kompromi. Tapi jangan sampai kehilangan jiwamu. Kamu bikin konsep itu pakai hati, kan?”
“Iya.”
“Kalau gitu, hati itu jangan kamu biarin dipaksa diam. Kalau kamu nggak perjuangin budaya, siapa lagi?”
Kalimat itu menghantam tepat sasaran. Membuat Rani terdiam. Membuat gumpalan kecewa yang tadi menduduki dadanya perlahan-lahan menguap.
“Gas.” “Hmm?” “Makasih. Serius. Kamu bikin aku inget sama diriku sendiri.”
“Aku cuma ingetin, bukan ngajarin,” jawab Bagas lembut. “Karena kamu sebenarnya sudah tahu arah yang benar.”
Rani mengusap sudut matanya,entah kenapa ada sedikit air yang menggenang, meski ia tidak sedang sedih. “Aku jadi pengen lihat kamu joget.”
“Tidak!” seru Bagas cepat. “Itu garis merah kehormatanku.”
“Berarti kamu bohong tadi waktu bilang bisa joget.”
“Aku bisa, tapi bukan berarti aku boleh mempertontonkan keanehan itu ke dunia.”
Rani tertawa lagi, lebih lepas kali ini. “Ya udah, aku simpan dulu idemu sebagai senjata cadangan kalau klien maksa.”
“Kalau sampai kamu pakai, bilang ke aku dulu biar aku kabur ke hutan.”
Rani menahan senyum.
Satu hal yang ia sukai dari Bagas: apa pun situasinya, lelaki itu punya kemampuan meredakan luka dengan humor, tapi lebih dari itu, ia juga bisa berubah serius dalam sekejap.
Saat suaranya melembut, Rani merasa dirinya sedang dituntun, bukan dihakimi.
“Ran,” kata Bagas lagi, “kamu itu dibuat bukan untuk ikut arus. Kamu diciptain untuk bikin arus baru.”
“Kalimatmu ini cocok dijadiin quote Instagram.”
“Bagus. Aku siap jadi caption boy kamu.”
“Halah.” Keduanya tertawa lagi dan perlahan tawa itu berubah menjadi keheningan kecil yang hangat, seperti malam yang mulai turun tanpa terasa.
“Ran?” panggil Bagas setelah beberapa detik. “Ya?” “Kalau kamu butuh revisi konsep, kamu boleh telepon aku kapan aja. Aku nggak paham teknis videografi, tapi aku bisa jadi orang yang baca konsep kamu dari sudut pandang penonton. Siapa tahu bisa bantu.”
Rani tersenyum. Senyum yang tidak bisa ia tahan, bahkan ketika tidak ada siapa pun yang melihat.
“Serius?” “Seriuslah. Kita kan, partner TMII.”
Kata partner itu membuat jantung Rani menari kecil. Bukan joget viral, tapi yang lebih privat, yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang mulai menyukai seseorang tanpa sadar.
“Gas.” “Hm?”
“Tahu nggak? Kamu itu bisa banget jadi alasan orang yang hampir nyerah buat berdiri lagi.”
“Bagus dong, tapi.” “Apa?” “Aku cuma mau kamu tahu satu hal.” Nada Bagas menurun, menjadi lebih dalam, lebih jujur. “Kamu bukan orang yang mudah runtuh. Kamu cuma lagi kecewa dan kecewa itu tidak pernah memalukan.”
Rani terdiam lama. Kalimat itu seperti obat luka yang selama ini ia cari-cari.
“Kamu bikin aku ngerasa wajar buat rapuh,” ucap Rani pelan. “Karena kamu manusia.” “Tapi kamu bikin rapuhku terasa aman.”
Bagas terdiam sejenak. Lalu ia tertawa lirih. “Jangan gitu. Aku bisa baper.”
Rani langsung menutup mulutnya. “Eh! Maksudku bukan.”
“Tenang, tenang,” sela Bagas cepat. “Aku bercanda, tapi kalau aku baper pun, ya, wajar lah. Kamu ngomongnya lembut banget barusan.”
Rani terkulai di sofa sambil menutupi wajah dengan bantal. “Aaaah kenapa aku ngomong gitu?!”
“Aku suka kok,” jawab Bagas santai. “Jadi jangan tarik balik.”
“Bagas!” “Hehehe.”
Detik itu Rani merasakan pipinya panas, tapi lucunya ia tidak keberatan sama sekali.
“Ran,” kata Bagas kemudian, suaranya kembali stabil. “Besok kamu mau mulai revisi konsepnya?”
“Iya, tapi aku nggak mau revisi total sesuai permintaan mereka. Aku mau kombinasikan supaya bisa relevan, tapi tetap ada nilai budaya.”
“Hebat.” “Ini juga gara-gara kamu sih,” gumam Rani pelan. “Kalau kamu nggak ngomong tadi, mungkin aku sekarang masih nangis di parkiran kantor.”
“Kalau kamu nangis di parkiran, aku bakal langsung ke sana.”
Rani terdiam. “Serius?” “Ya. Aku kan partner TMII.” “Tapi itu bukan urusan TMII.” “Kalau urusan kamu, itu urusan aku.”
Jantung Rani berhenti sepersekian detik.
“Bagas!” “Iya?” “Makasih.”
“Sama-sama.” Suara Bagas terdengar seperti senyum. Senyum yang tidak ia lihat, tapi ia rasakan di dada.
Sebelum telepon ditutup, Bagas menambahkan. “Ran, kamu punya visi yang indah. Jangan biarkan orang yang cuma mikirin statistik menghancurkannya. Kamu bukan pembuat konten biasa. Kamu pencerita.”
Kali ini, air mata Rani benar-benar jatuh, bukan karena sedih, tapi karena hatinya terasa diremas lembut.
“Gas!” “Hm?” “Kamu tahu nggak? Kamu itu penyelamat satu hariku.”
“Dan kamu juga penyelamat mood aku menjelang latihan,” jawab Bagas ringan.
Rani tertawa di tengah tangis tipisnya.
“Udah sana. Latihan. Jangan kebanyakan ngobrol sama aku.”
“Baik, produser.”
“Gas!” “Apa?” “Good luck.”
“Kamu juga, danRan?”
“Ya?”
“Aku bangga sama kamu.” Kali ini, Rani tidak bisa mengatakan apa pun selain, "terima kasih, Bagas.”
Telepon akhirnya ditutup, tapi kata-katanya, tetap tertinggal, mengisi ruang kosong di hati Rani yang tadi terasa remuk dan untuk pertama kalinya hari itu, Rani merasa segala sesuatu masih bisa diperjuangkan. Terutama ketika ada seseorang yang membuatnya percaya bahwa ia tidak sendirian.