Drama

TMII di Bawah Cahaya Senja

07 January 2026

bold text

Senja selalu punya cara untuk membuat TMII terasa seperti dunia lain. Langit perlahan berubah dari biru muda menjadi jingga keemasan yang lembut, seolah matahari sedang menaburkan serpihan cahaya terakhir sebelum beristirahat. Rani berdiri di depan gerbang Keong Mas, menarik napas panjang. Ada rasa lega sekaligus gugup, seperti ia sedang kembali ke rumah setelah pergi terlalu jauh.

Di tangannya, ia menggenggam kamera dan buku catatan. Semalam, setelah telepon panjang dengan Bagas, ia memutuskan satu hal, sebelum merevisi konsep video, ia harus kembali ke sumbernya. Ke tempat yang membuatnya jatuh cinta pada budaya sejak kecil. Tempat yang menjadi awal dari segalanya dan bagaimanapun, Bagas sudah berjanji datang.

Rani menoleh ke kiri dan mendapati seorang pria berjalan santai sambil mengangkat tangan. Senyumnya lebar, cerah dan entah kenapa selalu berhasil membenarkan perasaannya.

“Rani!” panggil Bagas, melambai.

Rani juga mengangkat tangan. “Kamu cepat juga.”

“Aku kan partner TMII,” jawabnya sambil terkekeh. “Partner itu harus datang duluan biar kelihatan profesional.”

“Sok banget.”

“Tapi kamu senang kan aku cepat datang?”

Rani mendorong bahu Bagas pelan, berpura-pura tidak tersentuh. Padahal dadanya sudah keburu menghangat.

“Ayo,” kata Bagas sambil menepuk-nepuk ransel kecil di punggungnya. “Aku mau ajak kamu ke tempat yang jarang orang tahu. Tenang, nggak jauh kok.”

“Misterius sekali,” Rani bergumam sambil mengikuti langkahnya.

Mereka berjalan menyusuri jalur pedestrian di samping Danau Arsipelago. Angin senja meniup lembut rambut Rani. Air danau memantulkan cahaya jingga yang berkilauan seperti permukaan kaca yang ditempa matahari. Jarang ada pengunjung sore-sore begini, sehingga TMII terasa seperti taman pribadi yang dipesan khusus untuk mereka berdua.

“Kamu yakin ini bukan tempat aneh-aneh?” tanya Rani sambil melirik Bagas.

Bagas langsung memasang wajah dramatis. “Rani. Aku ini pemandu wisata terakreditasi nasional yang dianugerahi kepercayaan publik.”

“Pemandu apaan? Kamu aja kalau jelasin arah suka salah.”

“Itu karena GPS-ku berbasis intuisi.”

Rani tertawa, sebuah tawa yang jujur, tanpa tekanan dan hanya terjadi ketika ia bersama lelaki ini.

Mereka melewati area Miniatur Rumah Adat, kemudian berbelok ke jalur samping yang teduh. Bagas berhenti di depan sebuah jalan kecil yang dinaungi pohon tinggi.

“Lewat sini,” katanya.

Rani mendekat. “Ini kayak jalan rahasia.”

“Itu dia tujuannya.”

Setelah berjalan sekitar lima menit melewati jalur rindang, mereka tiba di sebuah pelataran kecil di tepi danau. Pelataran itu hampir tidak pernah muncul di brosur. Ada bangku kayu tua, sebuah panggung mini berbentuk setengah lingkaran dan pohon besar dengan akar menjuntai yang membingkai pemandangan danau persis seperti lukisan.

Rani terbelalak. “Ini indah banget.”

“Aku tahu kamu bakal suka,” Bagas tersenyum puas. “Tempat ini biasanya cuma dipakai kalau ada latihan kecil, tapi kebanyakan orang lewat begitu saja.”

Rani melangkah ke tepi panggung kecil itu, lalu menatap permukaan air yang memantulkan warna senja. Angin membawa aroma rumput dan tanah yang hangat. Sejenak, dunia terasa halus dan damai.

“Aku pengen ngerekam tempat ini,” katanya pelan, nyaris seperti bisikan.

“Silakan. Aku nggak ganggu,” jawab Bagas.

Rani mengangkat kamera, menekan tombol rekam, dan perlahan memutar tubuh mengelilingi pelataran. Cahaya senja jatuh tepat pada garis wajahnya, membuatnya terlihat seperti tokoh utama dalam film puitis yang dibuat untuk mengabadikan rasa rindu.

Bagas mengamatinya dari samping. Caranya menatap Rani bukan tatapan biasa, ada kekaguman yang tulus dan sesuatu yang lebih lembut dari itu.

“Kamu kelihatan hidup,” gumam Bagas.

“Hah?” Rani menoleh.

“Kalau kamu syuting hal yang kamu sayang, wajahmu beda. Kayak ada cahaya sendiri.”

Rani merasa wajahnya memanas. “Ngomong apa sih?!”

“Aku cuma jujur.”


Setelah Rani selesai rekaman, mereka duduk di bangku kayu yang menghadap danau. Senja makin pekat, tapi masih menebarkan sisa cahaya yang hangat seperti selimut. Rani menutup notebooknya dan menghembuskan napas.

“Tempat ini bisa jadi scene pembuka videoku,” katanya antusias. “Narasinya bisa mulai dari sini, tentang bagaimana budaya adalah jalan untuk kembali ke rumah.”

“Bagus,” respon Bagas sambil tersenyum. “Kedengeran kayak kamu udah nemu napasnya lagi.”

“Berkat kamu.”

Bagas mengangkat alis. “Aku cuma penunjuk jalan.”

“Tapi kamu bawa aku ke jalan yang tepat.”

Senyum Bagas melemah, menjadi lebih lembut dan tidak sekadar bercanda. “Aku senang kamu ngomong gitu.”

Hening kecil terbentuk. Namun, hening yang manis. Seakan udara ikut menahan napas menunggu apa yang terjadi selanjutnya.


Beberapa detik kemudian, Bagas membuka ranselnya. “Ran, boleh aku tunjukin sesuatu?”

“Apa?”

Bagas mengeluarkan sebuah alat musik kecil berbentuk bulat memanjang, karinding modern dari kayu gelap dengan ukiran sederhana.

“Kamu bawa ini?” Rani heran.

“Iya. Buatan temenku dari komunitas musik tradisi. Aku suka mainin kalau lagi nunggu latihan. Suaranya lembut, kayak bisik-bisik angin.”

Rani mencondongkan tubuh. “Keren! Kamu bisa main?”

“Sdikit-sedikit. Mau denger?”

“Tentu.”

Bagas memegang karinding itu dengan kedua tangan, menempelkan pada bibir, lalu mengetuknya pelan dengan jari. Getaran itu mengeluarkan suara lirih, ting.. ting.. ting dan menyatu dengan lembut bersama angin dan air.

Rani terpaku.

Tekanan rendah suaranya terpantul di permukaan danau, membentuk melodi pendek yang terdengar seperti panggilan dari masa lampau. Bukan lagu lengkap, hanya potongan nada yang berputar seperti mantra kecil, tapi justru karena kesederhanaannya, melodi itu terasa lebih dekat dan menyentuh.

Seolah TMII ikut bernyanyi bersamanya.

Rani perlahan mengangkat kamera tanpa sadar, lalu menekan tombol rekam.

Bukan karena ia ingin membuat konten, tapi karena ada sesuatu pada cara Bagas memainkan alat musik itu, rasa enang, jujur dan penuh jiwa yang terasa terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.

Bagas menutup permainannya dengan nada rendah yang memanjang, seperti mengunci senja dalam satu hembusan.

“Bagaimana?” tanyanya, menatap Rani.

Rani tidak langsung menjawab. Tenggorokannya tercekat.

“Bagas…”

“Hm?”

“Itu indah banget.”

Bagas tersenyum malu. “Ah, nggak. Aku cuma iseng-iseng.”

“Gas, itu bukan iseng.” Rani menggeleng. “Aku merinding. Serius.”

Angin menepuk lembut rambut Rani, membuat siluetnya terlihat lebih halus di bawah cahaya senja. Bagas menunduk sedikit, entah kenapa tidak sanggup menatapnya terlalu lama.

“Kalau kamu suka, aku bisa main lebih panjang nanti,” katanya.

“Aku nggak cuma suka. Aku pengen itu jadi bagian videoku.”

Bagas menatapnya lagi, kali ini dengan mata membesar. “Hah?”

“Melodi tadi.” Rani menunjuk kamera. “Aku rekam dan aku nggak tahu kenapa tiba-tiba aku dapat ide. Judul projekku harus berubah.”

“Berubah bagaimana?”

Rani mendekat sedikit. Suaranya menjadi lebih rendah, lebih penuh makna. “‘Melodi Cinta Keong Mas.’”

Bagas terdiam. Tepat tiga detik. Lalu ia mengerjap.

“Melodi cinta?”

“Yap.” Rani tersenyum kecil. “Karena melodi itu suara yang kamu mainkan barusan rasanya seperti hati yang menemukan rumahnya.”

Bagas tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Pipinya memanas. Ia menunduk sambil meremas leher ransel.

“Rani.”

“Hmm?”

“Aku nggak nyangka ide begitu keluar dari melodi sekecil itu.”

Rani menggeleng pelan. “Kadang yang kecil justru paling jujur.”

Bagas menatapnya lama. Begitu lama sampai Rani menelan ludah. Ada sesuatu yang berputar antara mereka, halus tapi intens. Seperti angin yang membawa getaran yang hanya bisa dipahami oleh dua hati saja.

“Ran,” Bagas akhirnya berkata, “kalau melodi itu jadi bagian videomu, berarti aku bakal selalu ada di sebagian kecil dari karya kamu.”

Rani tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan perasaan yang belum ia akui secara verbal, tapi mulai tumbuh tanpa bisa dibendung.

“Mungkin memang sudah seharusnya begitu.”

Bagas menahan napas. “Kenapa?”

Rani menatap senja yang hampir hilang, lalu kembali ke wajah Bagas. “Karena kamu bagian dari perjalanan ini.”

Dada Bagas berguncang ringan. “Rani.”

Rani buru-buru berdiri, pura-pura menyamakan nada suara yang mulai terlalu intim. “Ayo! Kita cari angle lain sebelum mataharinya turun total!”

Bagas tertawa kecil, mencoba menyembunyikan rasa gugup yang baru pertama kali ia rasakan di dekat perempuan ini.

“Baik, produser.”

Rani menoleh sambil tersenyum nakal. “Nah, itu baru partner TMII.”

Sambil berjalan mengikuti langkah Rani yang menjauh menuju panggung kecil, Bagas masih bisa merasakan gema melodi tadi berputar dalam dadanya dan ia tahu, Rani merekam lebih dari sekadar video.

Ia merekam awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang mungkin benar-benar bisa disebut sebagai melodi cinta.