Drama

Bab 6. Orang Kaya, Gila!

Penulis alend_
07 January 2026

Leona terpelongo. Bola mata seperti ingin keluar dan mulutnya terbuka. Beberapa saat dia membeku demi mencerna yang baru saja didengarnya. Kemudian, dengan jari telunjuknya, Leona mengorek-ngorek kedua telinganya bergantian.

Kevin menahan tawa, sekuat tenaga. Sedangkan Noah, menahan geram.

“Anda ini gila atau semacamnya, Tuan Muda Jasper?” tanya Leona sambil menahan suaranya dengan geraman.

“Tidak!” jawab Noah dengan cepat. “Saya ini adalah satu-satunya pria matang, kaya, mapan dan sukses yang paling waras di negara ini!”

Kevin membulatkan mata dan masih menahan tawanya dengan kuat.

“Haah! Hahaha …,” tawa Leona meledak dan menatap Kevin dengan mata penuh iba. “Pak Kevin, saya kasihan melihat Anda. Betapa lelahnya pekerjaan Anda dan mengurus atasan seperti dia.” Dia menunjuk ke arah Noah dengan dagunya.

“Saya?” Spontan saja Kevin menunjuk wajahnya sendiri.

“Saya permisi!” kata Leona dengan tegas.

Langkah kakinya pun tidak ragu untuk keluar dari pintu. Gerakan tangan untuk membuka pintu pun sangat kasar.

Sayang, tidak terdengar suara dentuman keras akibat dari pintu yang dibanting. Semua itu karena pintu di Lantai Eksekutif sangat berat dan besar, terbuat dari kayu jati asli yang sudah pasti mahal.

Leona kesal karena tidak bisa melampiaskan amarahnya. Kevin sudah tidak tahan lagi.

“Dia lucu sekali ya, Pak,” kata Kevin setelah Leona tidak tampak lagi di depan matanya.

“Kau masih bisa tertawa?” Noah melotot dengan marah.

“Ah, maaf, Pak.” Cepat-cepat Kevin memperbaiki ekspresi dan kembali ke mode serius, bekerja.

Noah melipat kedua tangannya dan duduk bersandar dengan kaki bersilang. Keningnya berkerut dan air mukanya pun berubah sangat keruh.

Kevin tahu dengan jelas situasi ini dan dengan tenang dia hanya duduk dan menunggu. Saat ini, Noah sedang mempertimbangkan untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat.

Noah teringat beberapa hari lalu, saat Kevin menjelaskan kendala pada jarak usia antara dia dan Leona. Leona masih berusia 21 tahun dan dia sendiri sudah berumur 39 tahun. Jarak mereka sangatlah jauh. Hal ini benar-benar yang menjadi pertimbangan Noah.

Namun, Kevin berkali-kali meyakinkan Noah dan mengusulkan ide beasiswa ini.

Benar, hasil ujian tertulis hingga psikotest Leona sangat baik, mendekati predikat sempurna. Noah tertarik dengan kecerdasan wanita ini. Namun, itu saja tidak cukup untuknya.

Sampai saat ujian terakhir tiba, wawancara. Hari ini, Noah benar-benar ingin mengetahui kepribadian Leona, secara langsung.

Sampai-sampai dia memberikan instruksi khusus untuk menggenapkan jumlah peserta lulus untuk tahap interview menjadi 10 orang. Padahal, seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka hanya memanggil 9 orang saja untuk mengikuti tes tahap akhir.

Dan, Noah memerintahkan Kevin untuk mengawasi sendiri berlangsungnya wawancara yang dilakukan.

Awalnya, Noah akan membuat hasil hari ini menjadi jawaban untuk menolak Leona. Namun, belum juga sampai 40 menit, wanita itu sudah berani beradu mulut dengannya.

Ego sebagai seorang pria berkuasa mengusiknya.

‘Aku dikalahkan oleh gadis kecil?’ Dalam hati Noah tentu saja menolak mentah-mentah keadaan saat ini.

“Kevin,” panggil Noah dengan suaranya yang dingin.

“Ya, Pak? Apa kita cari saja penggantinya?”

“Pengganti?!” Noah langsung menatap Kevin. Kevin pun mengangguk.

“Dan kau pun mau menghancurkan harga diriku di depan wanita itu?” Noah membalas Kevin dengan sengit.

Noah berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.

“Berikan alamat tempat tinggal wanita itu dan semua alamat tempat kerjanya. Termasuk setiap jadwal kerjanya!” perintah Kevin tegas.

“Tapi, Pak?”

“Kenapa? Kau tidak bisa mengerjakan pekerjaan kecil ini?” tanya Noah dan mukanya mulai meragukan kemampuan bekerja sekretarisnya itu.

Tanpa peduli dengan jawaban atau bantahan dari Kevin, Noah meninggalkannya dan kembali ke ruang kerjanya.

Setelah Noah sudah masuk ke ruang kerjanya, Kevin pun mulai mengeluh, “Dia tidak tahu ya? Pekerjaan paruh waktu itu tidak pasti, flexibel. Jadwal pun dibuat per minggu. Belum lagi pekerjaan serabutan wanita itu.”

Kevin masih duduk di ruangan dan berpikir dengan keras. Hingga akhirnya, setelah berpikir cukup lama, dia pun menepuk jidat dan menyadari kebodohannya.

“Dasar bodoh, Kevin! Kau bisa menyuruh orang dan membayar orang itu untuk mengawasi Leona!”

Lalu, jari-jarinya yang lincah pun mengirim data-data pribadi Leona kepada orang kepercayaannya.

Hari ini, pekerjaan untuk mengurus Leona sudah beres. Dan sudah waktunya dia kembali kepada pekerjaan yang menumpuk di ruangannya.

Siang hari, di dalam kamar sewanya yang sangaaat kecil dan hanya bisa ditinggali satu orang saja, Leona menangis dan mengutuki Noah Jasper.

“Leona, ada apa?” Karina datang setelah tak berhasil menghubungi Leona sejak sejam lalu. “Suaramu terdengar sampai keluar. Untung saja penghuni lain tidak ada di sini. Untung saja penjaga tidak memarahimu.”

Bukannya tenang, Leona justru semakin menangis sekeras-kerasnya.

Tidak melanjutkan untuk bertanya, Karina memeluk Leona dengan hangat dan mengusap-usap punggung sahabatnya, berusaha menenangkan.

Setelah tangis reda, Leona pun mulai menceritakan semua yang telah terjadi.

“Mereka melakukan itu?” Karina menggeram dengan marah. “Dasar orang kaya gila!”

Karina berdiri dengan marah. Leona menahan lengannya dan menghapus air matanya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Leona dengan suara masih terisak.

“Akan kuberikan pelajaran pada dua orang itu!”

“Tapi, Karina, mereka berasal dari kalangan konglomerat. Apa kamu bisa menghadapi konsekuensinya kalau mengganggu mereka?”

Karina langsung terdiam. Dia menyadari, meskipun dia juga berasal dari kalangan orang kaya, tapi status keluarganya jauh di bawah Konglomerat Jasper.

“Aku gak mau sesuatu terjadi padamu dan keluargamu karena membelaku, Karina.”

Karina terduduk dengan lemas. “Aku lupa kalau Keluarga Jasper itu bukan orang yang mudah diganggu.”

Keluarga Jasper memang terkenal kejam, terutama di bidang bisnis. Tapi, mereka tidak akan mengganggu perusahaan kecil atau siapa pun yang tidak mengganggu Grup Jasper atau orang-orang yang bergerak di belakang nama keluarga besar itu.

Sekarang, yang dilakukan Karina hanya bisa menenangkan Leona yang kembali sedih karena sudah dihina dan direndahkan.

Kevin tidak bisa menyerahkan jadwal pekerjaan Leona pada Kevin, semua itu karena tidak ada jadwal yang tetap di semua pekerjaannya.

“Kamu ini bagaimana? Masa orang bekerja tidak ada jadwal kerja?” Mata Noah langsung menatap Kevin dengan sorot meremehkan.

“Saya akan memaklumi sikap Bapak ini. Tapi, sebagai wawasan tambahan untuk Bapak, saya beritahukan kalau tidak semua orang yang punya pekerjaan banyak akan memiliki jadwal rutin dan teratur. Apalagi memiliki sekretaris yang mengatur dan mengagendakan setiap pekerjaan,” cecar Kevin panjang lebar. “Jadi, Pak-”

“Sudah, sudah! Kau ini cerewet sekali, seperti seorang perempuan saja,” potong Noah dengan kesal.

Jujur saja, Kevin sudah siap untuk berteriak tepat di depan muka Tuan Muda Noah Jasper. Namun, tidak mungkin dilakukannya.

Dia sendiri paling tahu sifat asli dari pria kaya ini, si calon tunggal ahli waris dari Keluarga Jasper. Tidak ada yang bisa menebak dan mengerti tentang karakternya. Terkadang, dia pun sulit menebak.

Jika saat ini ada yang menerka dia sedang dalam keadaan tenang dan bisa diajak bercanda, belum tentu seperti itu. Atau, bisa saja situasi sebaliknya.