Bab 7. Memulai Pengejaran

Penulis alend_
07 January 2026

Jika saat ini ada yang menerka dia sedang dalam keadaan tenang dan bisa diajak bercanda, belum tentu seperti itu. Atau, bisa saja situasi sebaliknya.

Kevin meneliti sudut mata Noah karena dari sanalah dia akan tahu apa yang “mungkin saja” dipikirkan oleh Noah adalah masalah pribadi yang terlihat sepele.

‘Sepertinya memang begitu. Ada yang mengganggu dia tadi malam dan hari ini, dia benar-benar terdesak.’ Sepertinya, Kevin tahu apa yang terjadi.

“Lalu, apa yang akan Anda lakukan sekarang, Pak?” tanya Kevin.

Situasi saat ini membuatnya kembali konsentrasi pada rencana awal mereka. Mencari jalan keluar dan mencari cara untuk membujuk Leona menjadi pasangan palsu untuk Noah.

Tidak ada satu pun jalan keluar yang bisa mereka temukan. Ada banyak cara yang dipikirkan dan didiskusikan. Namun, saat itu juga mereka menemukan hambatan lain.

“Sial! Apa tidak ada cara yang bisa kita lakukan?” teriak Noah dengan marah sambil meninju meja kerjanya.

Kevin terperanjat. Dia sedang berpikir, masih mencari cara.

“Pak, saya pikir masih ada satu cara lagi,” kata Kevin dengan pelan, tak yakin dengan ide yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya. Noah menatap Kevin dengan tatapan tajam dan dingin. “Katakan!” perintah Noah dengan tegas.

“Tapi, Pak, sebelum saya mengatakannya, saya harap Anda bisa menahan diri dan menahan emosi karena hanya ini satu-satunya cara yang bisa saya andalkan.”

Noah yang tadinya berdiri pun duduk kembali di kursinya. “Katakan. Apa pun itu akan kupertimbangkan.”

Noah sungguh sudah kehilangan kesabarannya.

“Mau tak mau, Anda hadir di mana Nona Leona berada, Pak.” Usulan Kevin membuat Noah berpikir dengan keras.

Kevin hanya menunggu, pria ini terlalu memikirkan banyak hal dengan teliti.

“Kalau ada yang membongkar identitas Leona dan berujung rencana ini akan terbongkar, bagaimana?” Pertanyaan Noah membuat Kevin mengangguk.

Tampaknya, Kevin memang sudah memikirkan solusinya.

“Media bisa kita tahan, jika ada yang berusaha mencari tahu latar belakan dan membocorkan ke publik kita akan tuntut secara hukum. Begitu juga jika ada yang menyebarkan foto-foto Nona Leona.”

Solusi dari Kevin membuat Noah menjadi senang.

“Pak, kuasa hukum Grup Jasper masih berada di posisi nomor 1 sampai saat ini dan belum ada yang berani menyinggung Anda karena takut pada kuasa hukum kita.”

Benar, Noah melupakan Tim Legal milik perusahaannya itu.

“Bahkan, banyak yang takut jika somasi sampai kepada mereka,” lanjut Kevin membuat Noah menerbitkan senyum.

“Oke, kalau begitu, aku akan mulai hari ini juga.” Cepat sekali Noah berubah.

“Jika itu sudah menjadi keputusan Anda, baiklah, Pak.” Kevin pun menyerahkan tablet-nya. “Sejak tadi, sebenarnya saya ingin menyerahkan ini pada Anda, Pak. Tapi, emosi Anda sangat tidak mendukung.”

“Apa itu?” Noah menerima tablet dan mulai membaca.

Binar senang di mata Noah pun terbit. Dengan teliti membaca setiap detail jadwal di dalam tabel laporan.

“Dia bekerja di semua tempat ini?” tanya Noah tidak percaya.

“Benar, Tuan.”

“Kalau jam kerjanya seperti ini, jam berapa dan berapa jam dia tidur?” tanya Noah lagi.

“Menurut orang suruhan saya, terkadang dia tidur di tempat kerjanya, Pak. Bahkan, untuk tempat tinggalnya pun bisa dikatakan tidak layak.”

Noah meletakkan tablet di atas meja dan memijit keningnya yang tidak sakit sedikit pun.

“Kenapa bisa ada wanita yang bekerja sekeras itu?”

Kevin hanya bisa menatap kasihan pada Noah. Pengetahuannya tentang wanita sangat sedikit dan terbatas. Syukurlah, mata Noah tertutup ketika Kevin menatapnya seperti itu.

Mata Noah terbuka dan Kevin langsung kembali normal.

“Hari ini, dia bekerja siang, kan? Di kafe?”

“Seharusnya seperti itu, Pak. Jika tidak ada pertukaran atau Nona Leona menerima pekerjaan harian yang gajinya lumayan besar Nona Leona.”

“Perusahaan seperti apa itu yang bisa mengubah-ubah jam kerja?” Lagi-lagi Noah bertanya hal yang tak masuk akal.

Kevin hanya bisa menahan senyum.

“Ya sudah, kembali kerja saja sana,” usir Noah dengan menggerakkan tangan kanannya.

‘Sudah sejak tadi aku bekerja. Anda saja yang tidak bekerja dengan emosi yang tidak jelas.’ Hanya dalam hati saja.

“Baik, Pak.” Kevin pun berdiri dan kembali ke ruangannya.

*

Siang hari, saat jam istirahat hampir tiba, Noah sudah berdiri di depan pintu ruangan Kevin.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Kevin yang lumayan terkejut dengan kedatangan Noah.

Biasanya, bosnya itu menghubungi dulu dan menyuruhnya melakukan sesuatu, tapi kali ini berbeda. Entah dari mana angin bertiup.

“Kita keluar untuk makan siang.”

“Baik, Pak, saya akan reservasi restauran dan-”

“Tidak perlu,” potong Noah cepat. “Kita ke tempat lain saja.”

Noah diikuti Kevin pun turun dan langsung menuju parkiran khusus. Hanya mobil-mobil Noah dan Kevin yang terparkir di sana.

Noah masuk setelah Kevin membukakab pintu untuknya.

“Kita ke mana, Pak?” tanya Kevin setelah siap untuk mengemudi.

“Ke kafe tempat Leona bekerja,” kata Noah dengan cepat. Jelas sekali rencana yang disarankan oleh Kevin tadi diterima oleh Noah.

“Baik, Pak,” jawab Kevin sambil tersenyum.

Jarak antara gedung Grup Jasper dan kafe tempat Leona bekerja memakan waktu 1 jam. Sepanjang perjalanan, Noah menyadari kalau mereka melalui area kelas atas.

“Di wilayah mana kafe itu?” tanya Noah yang penasran.

“Wilayah Utara, berlokasi di lokasi wisata dan lokasi perjudian kelas atas.”

“Bagaimana dia berhasil bekerja di tempat itu? Apa ada yang membantu?”

“Benar, Tuan. Sahabat dari Nona Leona adalah pemilik kafe tempat nona bekerja saat ini.”

Noah mengangguk saja dan kemudian kembali diam, membiarkan Kevin fokus menyetir. Dan tak lama, mobil mereka sudah terparkir dengan sempurna di depan kafe tempat Leona bekerja.

Noah dan Kevin pun masuk. Tepat saat itu, sosok Leona sedang sibuk merapikan meja yang ada di dekat counter table.

“Selamat datang, Tuan-Tuan.” Suara seorang pelayan menyambut kedatangan Noah dan Kevin. Serentak para pekerja lain pun ikut menyahut, “Selamat datang di Kafe Luxy.” Termasuk Leona pun menyambut kedatangan mereka

Leona terkejut begitu melihat siapa tamu mereka kali ini.

Dalam sekejap, suasana kafe pun menjadi ramai.

Leona tidak pernah menyangka hidupnya akan mengalami perubahan hanya dalam beberapa hari saja. Dua pria tampan, kaya dan sukses juga “gila” kini duduk di salah satu meja di tempatnya bekerja.

Harusnya, sekarang ini dia sudah bisa bernapas dengan lega dan bisa mulai untuk merelakan kejadian di Grup Jasper.

Tetapi, entah kesialan apa yang menantinya, siang ini dihadapkan dengan dua orang yang baru saja merusak impian dan cita-citanya.

“Nona Leona,” panggil Noah lembut.

Semua mata memandang pada Leona. Bahkan, yang tidak mengenalnya pun menatap ke arahnya. Semua karena cara Noah menatap dan menyapanya, hingga melambaikan tangan padanya.

Seolah-olah mereka berdua saling kenal dan sangat dekat.

“Leonaaa,” panggil Noah dengan nada berbeda.