“Leonaaa,” panggil Noah dengan nada berbeda.
Tentu saja, Leona terkejut dan semua orang yang ada di sana mulai mempertanyakan siapa dia? Siapa wanita yang dipanggil akrab oleh Tuan Muda Jasper itu.
“Kenapa diam saja?” Lagi-lagi Noah bicara dengan lembut dan hangat.
Suara-suara dengungan mulai terdengar, terutama dari para wanita yang hadir di tempat itu. Tak ada satu pun yang tak tahu tentang Noah Jasper.
Sejauh ini, dia sangat dikenal tak pernah dekat dengan wanita mana pun, selain wanita dari masa lalunya.
Leona tak menanggapi, dia hanya melihat saja sambil meremas kuat kain lap yang dipegangnya sejak tadi.
‘Orang kaya ini benar-benar gila,’ maki Leona dalam hati.
“Leona, kenapa diam saja?” Suara seorang pria yang mengenakan pakaian yang sama dengan Leona pun menyadarkannya. “Kamu dipanggil. Sepertinya, dia suka sama cara kamu melayani. Mungkin, kali ini dia akan memberikan tip yang banyak untukmu.”
“Dia bukan pelanggan di sini. Ini baru pertama kali mereka datang ke sini.” Suara Leona berbicara terdengar sinis dan geram, bercampur menjadi satu.
“Hah?! Yang benar saja? Lalu, dia tahu kamu dari siapa?”
Leona membuka mulut bersiap untuk menjawab pertanyaan itu, tapi semua ditahan.
“Ah, lupakan saja. Mereka itu hanya orang kaya iseng saja,” kata Leona, pada akhirnya.
“Lalu, apa yang-”
“Halo, Anda?” Noah memotong pembicaraan rekan kerja Leona, mencoba mencari perhatian Leona. “Saya mau bicara dengan Leona.” Meskipun tidak mendengar apa yang dibisikkan oleh pria itu pada calon tuangannya itu.
Saat itu pula, seorang pria tampan dengan gaya berpakaian casual keluar dari arah pintu khusus untuk para pegawai. Berjalan mendekati Noah dan Kevin yang duduk dengan aura penuh kewibawaan di sekitar mereka.
“Halo, Tuan Muda Jasper,” sapa pria bernama Irvin Marcel, pemilik Kafe Luxy, saudara sepupu dari Karina. “Apakah Anda mengenal Leona?”
Dia bertanya dengan gaya bahasa sangat formal. Terutama jika berhadapan dengan orang penting dan terhormat.
“Anda adalah ….” Noah harus tahu siapa yang bertanya. Matanya menatap penuh selidik.
Kevin ingin memberi tahukan, tetapi Noah tidak menatap ke arahnya sedikit pun. Jadi, dia hanya diam saja dan membiarkan Noah melakukan yang ingin dia lakukan.
“Saya Irvin Marcel, pemilik kafe ini,” ucap Irvin memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan.
“Oh,” sambut Noah dan mereka pun berjabat tangan. “Salam kenal.”
Siapa yang tak mengenal Noah Jasper?
Pria kaya dan terhormat ini sangat dikenal dengan kesombongannya. Bukan hanya itu, dia pun sangat terkenal sangat angkuh.
Tetapi, kali ini, tanpa berpikir panjang Noah menyambut uluran tangan Irvin. Tak ada yang menyangka, termasuk Irvin sendiri.
Dan Irvin pun merasakan keberuntungannya dalam satu tahun telah terpakai.
“Tuan Noah ingin memesan apa?” tanya Irvin sudah siap melayani.
Sejenak Noah tampak berpikir. Lalu, memutuskan untuk meminta Leona yang melayaninya.
“Bisakah Leona saja yang melayaniku? Kami saling mengenal, kok.” Wajah Noah memang tampak meyakinkan.
“Baiklah, Tuan,” jawab Irvin dengan cepat.
Irvin pun menoleh ke arah Leona. “Leona, sini,” panggil Irvin begitu sosok Leona akan masuk ke arh dapur.
Tak bisa mengelak lagi, Leona pun terpaksa memutar badan. Dan, memberikan senyuman palsu.
“Baik, Pak Irvin,” jawab Leona patuh. Bagaimana pun, dia tak bisa mengelak lagi.
Yang memanggilnya kali ini adalah bosnya, kakak sepupu dari sahabatnya. Dan juga, salah satu orang yang sudah membantu dalam hidupnya.
Leona mendekat dan Noah memberikan senyuman untuk “calonnya” itu.
“Apa yang kamu rekomendasikan, Leona?” tanya Noah tanpa menunggu Leona berbicara.
“Tuan Muda Jasper, saya minta maaf sebelumnya. Di sini, sistemnya adalah order and pay di meja kasir. Jadi, silakan-”
“Tidak apa-apa, Leona,” potong Irvin cepat. “Kita bisa terima pesanan dari Tuan Noah dari sini saja.”
Leona benar-benar tak menyangka kalau Irvin yang sangat tegas, termasuk pada konsumen pun ikut tunduk karena pria bernama Noah Jasper ini.
“Begini saja, gimana kalau sajikan menu terbaik di sini?” Noah lagi-lagi membuat geram Leona.
Kafe Luxy memang tidak menyajikan menu berat sebagai hidangan utama, tapi selalu siap sedia jika ada permintaan menu untuk makanan berat, terutama di saat-saat weekend.
“Baik, Tuan. Saya mohon Anda bersedia untuk menunggu, selama 30 menit.” Irvin tentu saja menyambut dengan sopan.
“Tapi, Pak-”
“Tidak apa-apa, Leona. Semua bisa kita lakukan untuk Tuan Muda Jasper.” Irvin pun sudah tunduk di bawah pengaruh seorang Noah Jasper.
“Oh, tentu saja. Tidak masalah. Saya dan sekretaris saya bisa menunggu, tapi saya juga meminta Anda mengizinkan Leona untuk duduk bersama kami, di sini.”
Permintaan Noah bukan hanya didengar oleh 3 orang yang ada di dekatnya. Bahkan, pengunjung lain pun semakin menggila.
“Baik, baik, Tuan Muda.” Irvin langsung mendudukkan Leona di kursi kosong tepat di sebelah Noah.
“Leona, tolong bantu kafe kakak ini, ya,” bisik Irvin dengan nada memohon.
Leona hanya bisa menatap Irvin dengan mata memelas. Namun, sorot mata itu jelas-jelas meminta Irvin untuk membantunya keluar dari situasi ini.
Irvin membalas tatapan mata Leona, tentu saja dengan sorot mata penuh permintaan maaf.
“Tuan-Tuan, mohon ditunggu ya.” Irvin langsung pergi dan menyiapkan menu terbaik di kafe miliknya itu.
Sementara Leona, dia hanya duduk sambil menundukkan kepala dan menautkan kedua tangannya. Menggenggam dengan erat, sambil memaki Noah di dalam hati.
“Kevin, sebaiknya pesankan menu pembuka untuk kita bertiga.” Noah harus mencairkan suasana. Tapi, dia tidak sama dengan pria-pria di luar sana yang bisa bersikap romantis.
Untuk Noah, makan adalah cara terbaik untuk bisa berbicara dengan Leona saat ini.
“Baik, Tuan.” Kevin berdiri dan berjalan menuju meja kasir.
“Saya akan memberikan apa pun yang kamu mau dan kamu butuhkan, jika kamu bersedia menerima tawaran dari saya.” Noah langsung pada intinya.
Leona sontak melihat ke arah Noah.
Mata mereka saling menatap.
Noah serius dengan tawarannya, Leona masih tidak terima dengan cara Noah. Dia masih sangat sakit hati.
Ini masalah harga diri untuk gadis itu.
Hidangan sudah tersaji.
Bahkan, Irvin sendiri yang menghidangkan di meja Noah.
Melihat semua makanan yang terhidang, membuat Leona terperangah. Matanya membulat dan bola mata hampir keluar. Dan satu lagi, sejak kapan Irvin menjadi pelayan?
“Pak Irvin, sejak kapan kita punya menu seperti ini?” Leona tentu saja bertanya. Merasa kalau menu ini mungkin masih dirahasiakan.
Irvin melihat Leona dan mengedip-ngedipkan matanya. “Leona ini bagaimana? Kemarin, kan, kita sudah test product.”
Leona semakin bingung? “Apa iya?” tanyanya lagi.
Irvin memutuskan mengabaikan Leona dan langsung menatap k arah Noah. “Tuan Muda, silakan dinikmati.”