Leona semakin bingung? “Apa iya?” tanyanya lagi.
Irvin memutuskan mengabaikan Leona dan langsung menatap k arah Noah. “Tuan Muda, silakan dinikmati.”
“Baik, terima kasih.” Noah pun menatap Leona. “Kamu juga, silakan dinikmati.”
“Terima kasih, Tuan Jasper, tapi saya sedang berada di jam kerja dan belum waktunya istirahat.” Leona menolak mentah-mentah.
“Saya rasa tidak masalah. Benar, kan, Tuan Irvin.” Noah mencari dukungan.
“Oh, tentu saja, Tuan.” Irvin menatap Leona lagi. “Leona juga, selamat menikmati ya.”
“Tapi, Pak-”
“Kalau begitu, saya pamit ke belakang, Tuan,” potong Irvin begitu matanya tanpa sengaja menatap Kevin yang sudah memberikan kode untuk meninggalkan mereka.
“Ya, silakan. Selamat bekerja,” ucap Noah dengan ramah.
Biasanya, Noah tidak bersedia makan di tempat yang cukup terbuka seperti ini. Selalu saja Kevin akan mereservasi terlebih dahulu untuk Noah.
Namun, kali ini berbeda. Ada angin badai yang sedang melanda pria kaya itu. Tidak peduli dengan banyaknya pasang mata yang menyaksikan pria itu makan dengan anggun, khas tata cara makan para konglomerat.
Leona tidak menyentuh makanan itu karena dia tahu tujuan mereka berdua datang jauh-jauh ke tempatnya bekerja.
Datang hanya untuk makan siang di kafe ini, bukanlah sebuah alasan yang bagus. Tidak ada yang istimewa di Kafe Luxy. Makan yang tersaji di depan mereka ini pun bukanlah menu di kafe ini. Menu utama hanyalah kopi dan makanan ringan. Bukan makanan berat.
“Kenapa tidak dimakan? Semuya ini cukup enak loh,” bujuk Noah sudah seperti membujuk kekasihnya saja.
“Maaf, Tuan, saya alergi makanan laut!” jawab Leona pelan dan ketus.
Noah menatap Kevin dan meminta jawaban tanpa harus memberikan pertanyaan.
“Nona Leona tidak memiliki alergi terhadap makanan apa pun, Pak. Termasuk makanan laut. Nona Leona bukan tipe pemilih makanan.” Kevin tentu saja memberikan jawaban yang akurat.
“Pak Kevin, Anda menyelidiki latar belakang saya?” Leona seperti sudah sangat marah.
“Tentu saja karena itulah saya sangat tahu apa yang kamu butuhkan.” Noah yang menjawab.
Kali ini, Noah menjawab dengan dingin dan datar, tapi tetap mengunyah makanan.
Leona merasakan sesuatu. Tidak memahami apa yang dirasakan, yang pasti ada rasa takut dari keberadaan pria ini.
“Makanlah dengan tenang, nikmati makanan ini. Meskipun tidak terlalu enak untuk lidah saya, tapi rasanya cukup untuk mengenyangkan perut saya.” Noah tidak memuji makanan itu sedikit pun.
Untuknya, makan terbaik adalah masakan dari chef ternama di seluruh negeri.
Leona hanya bisa menurut sekali ini. Dia mulai memakan sesuap. Begitu suapan pertama menyentuh lidah, daging sapi kualitas terbaik terasa meleleh di lidah.
“Makanan ini enak!” protes Leona tidak setuju dengan penilaian Noah.
“Saya akan membawa kamu menikmati makanan terenak dan terbaik di negara ini. Bahkan, terbaik di dunia. Saya bisa mengundang chef terbaik di dunia.” Dengan keangkuhan yang mendarah daging, Noah menawarkan kenikmatan menjadi bagian dari orang kaya.
Leona diam.
Cukup sadar diri dan menahan diri. Menikmati makanan yang belum tentu bisa dinikmatinya lagi, entah itu besok atau mungkin di masa depan. Leona tahu dengan jelas kemampuan keuangannya dan kemampuan dirinya yang tidak akan pernah menikmati makan yang harganya bisa lebih dari setengah gajinya dalam sebulan. Itu pun jika diakumulasi dari semua upah yang diterima dan dari semua pekerjaan yang ditekuni.
Sudah lebih dari satu jam, waktunya Noah kembali ke perusahaan. Ada rapat penting yang harus dihadiri.
“Jadi, kamu bersedia menerima ajakan saya?” tanya Noah untuk menutup pertemuan hari ini.
“Maaf, Tuan Muda. Saya rasa, sebaiknya Anda mencari wanita lain dan jauh lebih hebat dari saya,” tolak Leona.
Kali ini, Leona harus menolak dengan baik, sopan dan tanpa kemarahan. Yang dia pahami adalah semakin dia berontak, maka semakin tuan muda ini tertantang. Lalu memutuskan untuk mengalah dan tidak perlu merasa paling benar.
Noah diam dan mengangguk.
Melihat reaksinya, Leona tahu dia menang. Menahan diri dari senyum kemenangan dan menyimpan teriak kegembiraan untuk nanti.
“Kalau begitu, saya akan membayar dulu.” Kevin tahu kapan harus menghindar.
Kevin pun pergi dan meninggalkan kedua orang yang akan menjalin bisnis pertunangan itu. Dia pun tahu, kalau sikap Leona ini adalah cara terakhir wanita itu untuk mengusir mereka.
Kevin tersenyum. “Nona Leona itu merasa menang, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Tuan Muda Jasper.”
Setelah bergumam dia pun bersiap untuk membayar tagihan makan siang mereka. Lalu, sedikit bertanya tentang Leona kepada kasir yang bertugas. Mudah saja untuknya mendapatkan informasi gratis.
Cukup bertanya dan memberikan senyum saja, dia mendapatkan dengan mudah.
Noah pun merapikan diri, melap mulut dengan serbet bersih yang disiapkan, lalu berdiri dan merapikan stelan jasnya.
“Kalau begitu, saya pamit dan sampai jumpa lagi.”
“Apa?” Leona terkejut mendengar salam penutup Noah barusan.
Mata mereka beradu, saling menatap.
Leona dengan ekspresi terkejut dan masih di posisi duduk. Dan Noah, berdiri dan menundukkan kepala untuk menatap wanita keras kepala ini. Ada senyum miring penuh kelicikan di sudut bibir kirinya.
“Ini dia, Tuan Muda Jasper yang tak ingin kalah dan tak bersedia mengalah,” gumam Kevin yang baru saja membalikkan badan dan mendapati adegan ini.
Noah berjalan terlebih dahulu dan Kevin pun mengikuti. Sempat berhenti di dekat Leona untuk berpamitan.
Hari itu, Leona pulang dalam keadaan lelah. Terpaksa dia harus menerima shift tambahan karena kejadian siang tadi.
Hampir tengah malam, Leona sampai di kamar sewanya yang sangat sempit. Kamar termurah yang sanggup dibayarnya dan letaknya pun di kawasan yang mendekati kumuh.
Langsung menghempaskan tubuh di atas kasurnya yang sudah sangat jelek dan tak layak pakai.
“Kenapa hari ini tiba-tiba saja kafe jadi ramai?”
Saat itu juga, sebuah panggilan telepon masuk dan dengan malas-malasan dia pun mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya.
“Karina,” ucapnya pelan begitu membaca nama si penelepon.
“Halo,” jawab Leona setelah menggeser tombol warna hijau. Suaranya sangat lelah.
“Leonaaa,” balas Karina dengan suara teriakan.
Leona pun menjauhkan ponsel dari telinga. “Karina, jangan teriak dong. Aku belum tuli.”
“Kamu dari mana? Sudah sejak sore aku telepon, tapi ponsel kamu mati. Kamu dari mana? Hari ini kamu cuma kerja di kafe.” Karina mengabaikan protes Leona.
“Aku di kafe seharian. Kak Irvin memintaku long shift terus kasih upah harian. Lumayan, kan, aku juga bingung, kenapa kafe tiba-tiba jadi ramai dan di luar sampai ada antrean panjang.”
Karina terdiam lalu menyadari sesuatu.
“Kamu benar-benar tidak tahu ya?”
“Tahu apa?” tanya Leona yang cenderung tidak peduli.
“Kafe Luxy viral! Ada video Tuan Muda Jasper dan sekretaris pribadinya duduk dan makan bersama seorang gadis, seorang pelayan.”
“Apa?” Leona sontak terkejut dan duduk kembali. “Kamu tidak bercanda?”
“Tunggu, kukirimkan link-nya.” Karina bergerak dengan cepat, jarinya dengan lincah mengirimkan melalui pesan.
Leona pun membuka link dan menemukan akun yang merekam dan menyebarkan adegan siang tadi. Bukannya senang, Leona justru ketakutan begitu membaca komentar-komentar yang ditujukan untuknya.
“Leona, tenanglah, wajah kamu disensor kok, tak ada yang akan mengenali wanita itu kamu.” Karina berusaha menenangkan.