Bab 10. Apa Anda Seorang Penguntit?

Penulis alend_
07 January 2026

Meskipun Karina sudah menguatkan, tapi begitu bangun tidur Leona kembali merasa ketakutan. Dia mandi dan bersiap untuk berangkat kerja. Hatinya sangat gelisah.

“Tapi, kau harus tetap bekerja, Leona!” tegur Leona pada diri sendiri.

Leona tidak ingin membuang kesempatan. Dia mendapatkan tawaran pekerjaan hari ini, di hotel bintang tiga sebagai pencuci piring untuk acara pesta pernikahan. Upahnya lumayan, tidak mungkin harus dilepaskan.

Dengan perasaan takut dan cemas, Leona berangkat kerja.

Sepanjang jalan menuju lokasi, Leona selalu was-was, takut ada yang mengenalinya. Sejak keluar dari rumah, dia merasa ada yang mengikuti.

Di angkutan umum, beberapa orang masih memutar tayangan itu, rekaman viral tentang Noah dan wajahnya yang disensor.

Dia melirik, memang benar kalau tak ada sedikit pun wajahnya terihat, tapi tetap saja ada ketakutan mengelilinginya.

‘Kenapa mereka harus menonton sih?’ gerutu Leona yang berusaha menahan tangis.

Jaraknya masih sedikit jauh, tapi dia memutuskan untuk turun di halte terdekat begitu melihat penjual masker.

“Pak, saya beli yang isi 10 ya.”

“Silakan, Nona.” Si penjual tua memberikan barang yang diminta oleh Leona.

Setelah membayar, Leona pun langsung memakai masker dan menggerai rambutnya untuk menutupi wajahnya. Setidaknya, itulah yang membuat dia merasa sedikit tenang. Meski begitu, tetap saja dia merasa diikuti.

Langkah cepat dan beberapa kali berlari, Leona tiba di tujuan dalam waktu 20 menit.

“Untunglah masih ada 5 menit lagi,” ucap Leona pelan seraya bersyukur.


Ada rasa isi dalam hati Leona ketika menyaksikan diam-diam perhelatan mewah itu. Meskipun ada di hotel bintang tiga, tetap saja dia tidak akan pernah bisa berada di posisi si pengantin wanita.

“Kita ini hanya bisa menikah sampai catatan sipil saja. Bahkan, untuk mengadakan pesta kecil saja pun, aku yakin kita tidak akan mampu,” ucap salah seorang pekerja yang sedang memisahkan sisa-sisa makanan dari piring.

“Mungkin, kalau masa muda kalian ada di masaku, kalian bisa saja merayakan pernikahan dengan pesta, walau hanya di kampung halaman.” Seorang wanita paruh baya menyambut obrolan mereka.

Leona hanya menyimak sambil melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak ikut dalam obrolan, tapi dia ikut larut dalam tawa. Mereka bekerja dengan ceria, hingga pesta usai.

Setelah menerima upah dan menerima makanan yang memang disiapkan untuk mereka, Leona berniat langsung pulang.

Namun, langkahnya terhenti begitu melihat banner yang menampilkan gambar pengantin. Tak menyangka jika dia bekerja untuk pernikahan orang yang sangat dikenalnya.

“Dean dan Aurora, kalian menikah juga akhirnya,” gumam Leona tak terdengar. Kedua tangannya mengepal dengan erat, menyimpan kemarahan yang hampir meledak.

“Dean dan Aurora, kudoakan kalian hidup dengan bahagia.”

Entahlah, dia sendiri tak tahu harus mendoakan dengan tulus atau dengan sumpah serapah. Situasinya cukup sulit sekarang ini.

Ketika dia masih menatap dan meratapi hubungan pengantin baru itu, para tamu undangan pesta itu pun mulai keluar satu per satu tentu saja dengan obrolan yang berhasil membuat Leona menahan napas.

“Ternyata Aurora itu sudah hamil 4 bulan.”

“Pantas saja pernikahan mereka dilangsungkan secara kilat.”

“Tapi ya, kabarnya, pacar Dean itu bukan Aurora. Kabarnya sih, pacar Dean itu wanita yang pintar.”

“Mereka tidak disetujui hanya karena pacarnya Dean itu miskin dan yatim piatu.”

“Hah?! Zaman sekarang masih mempermasalah itu? Kalau saya sih ya, lebih baik seorang wanita pintar. Sudah pasti dia akan membuat saya bangga. Apalagi, kalau dia juga seorang pekerja keras. Aduuuh, betapa bahagianya saya jika punya menantu yang punya karier bagus.”

Percakapan mereka tak berhenti sampai di situ saja. Sampai mereka keluar dari hotel, mereka masih membicarakan kehamilan sampai perselingkuhan antara Dean dan Aurora.

Leona sangat penasaran dan mengikuti gerombolan wanita yang sedang sibuk bergosip tentang pengantin.

Kini, dia tahu semua, perihal pernikahan mantannya dan selingkuhan yang kaya itu.

“Setidaknya, meskipun miskin, kau menjaga harga diri dan kehormatanmu, Leona. Good job,” puji Leona pada diri sendiri.

Hari sudah malam. Leona menatap langit di atas sana dan menghirup udara.

“Hari ini sudah berakhir dengan tenang. Syukurlah ada hal kecil yang membuatku bisa tidur dengan nyenyak.”

Ada senyum di wajahnya, menampilkan wajahnya yang manis.

“Bagaimana pekerjaan hari ini? Apa kamu tidak lelah jika seperti ini terus menerus?” Noah sudah bersandar di sisi kiri mobil mewahnya.

“Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Leona yang tak menyangka sama sekali akan keberadaannya. Tak menjawab, hanya segaris senyum yang diterbitkan.

“Jika Anda ada urusan bisnis di sini, silakan kerjakan. Selamat malam.” Leona tak berniat berlama-lama untuk bicara dengan Noah.

Langkah lebar pun diambil untuk meninggalkan tempat itu dan segera pulang. Tetapi, selebar apa pun langkah yang diambil tetap saja Noah bisa menghalanginya.

Dengan cepat, Noah berdiri di depan Leona.

“Saya antarkan pulang.” Noah tidak membujuk, ada nada memerintah dari ajakannya itu.

Gadis ini menarik napas dan berusaha menahan diri. Dia menatap Noah dengan mata menyipit. “Anda tahu dari mana saya ada di sini?”

“Tentu saja tahu,” jawab Noah asal sambil mengendikkan bahu.

“Apa Anda seorang penguntit? Kenapa Anda tahu saya ada di sini? Tidak ada alasan Anda mengikuti saya. Dan jika memang Anda sudah menyelidiki latar belakang saya, seharusnya pekerjaan saya hari ini dan di sini Anda tidak tahu!” cecar Leona.

“Masuk ke mobil dan akan saya jawab semua pertanyaan kamu.” Noah langsung beraksi.

Dengan lembut, Noah mendorong bahu Leona. Gadis itu tentu saja berusaha untuk menolak, tapi sayang sekali, tenaga pria ini jauh lebih besar darinya.

Tambah lagi, Leona sudah sangat lelah dan tenaganya tentu saja sudah tak banyak yang tersisa. Tubuh lelahnya mau tak mau menurut ketika didorong oleh tangan besar Noah.

Interior mobil yang mewah dan aroma yang lembut menunjukkan status dari Noah Jasper. Leona tentu saja kagum dengan mobil mewah ini, tak pernah ada dalam angan-angannya, bahkan dalam daftar keinginannya untuk duduk di mobil sehebat ini.

“Pakai sabuk pengaman, kita jalan sekarang.” Ucapan Noah terdengar lembut.

Leona tidak menjawab, hanya melakukan perintah saja. Duduk dengan tegang karena takut merusak jok yang sudah pasti sangat mahal ini.

“Seharian ini kamu sudah bekerja dengan lelah, duduk dengan tenang dan bersandarlah. Supaya pinggangmu bisa beristirahat.”

Noah tampak perhatian, dia sendiri pun bingung kenapa bisa bersikap seperti itu. Hanya saja, dalam beberapa detik dia mengendalikan diri.

“Terima kasih, Tuan, tapi pakaian saya kotor dan juga saya bau,” jawab Leona dingin. Ada rasa malu ketika dia mengatakan itu. Tapi, tetap harus diakui.

“Bukan masalah untuk saya. Di mobil ini parfum khusus saya bisa menghilangkan bau apa pun.” Tidak ada niat untuk menyombongkan diri, tapi yang dikatakan Noah terdengar jumawa di telinga Leona.

“Ya, baiklah. Terima kasih, Tuan.” balas Leona dengan sinis.

Mobil melaju dengan kecepatan sandar. Leona sudah sangat lapar dan ingin segera makan, tapi dia tidak punya kekuatan untuk berbicara lagi.

Udara di dalam mobil sangat sejuk tak mampu membuat Leona bertahan untuk tetap terjaga. Tanpa sadar, dia pun tertidur. Tapi, tubuh lelahnya sungguh tahu diri.

Secara alami, bungkus makanan yang sejak tadi dibawa pun tetap digenggam dengan erat.