Sengaja Noah tak membangunkan Leona. Membawa gadis muda itu menuju satu tempat yang sudah direncanakannya sejak tadi pagi. Dengan tenang, Noah pun menunggu Leona yang sedang tidur lelap dan matanya menatap bungkusan yang tak lepas dari tangannya itu.
“Sejak tadi dia pegang terus. Memangnya bungkusan itu berharga?” Rasa penasaran Noah sungguh membuatnya terganggu.
Dia pun menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah benda yang digenggam dengan erat oleh Leona “Bau apa ini?” Dalam sekejap, Noah langsung merasa mual.
Dia pun keluar dan memutuskan menghirup udara.
Setelah cukup dan merasa hidungnya tak lagi mencium aroma tak sedap itu, perhatiannya pun beralih kepada Leona yang masih tidur dengan lelap. Wajah kurus wanita muda itu tak menghilangkan wajah manisnya, meskipun warna kulitnya sedikit gelap.
“Kata Kevin, dia juga mengambil beberapa pekerjaan yang mengharuskan berdiri di bawah terik matahari. Memangnya, ada pekerjaan seperti itu?” tanya Noah pada diri sendiri.
Noah bersandar di sisi samping mobilnya sambil menghisap sebatang rokok. Tempatnya parkir saat ini adalah parkir khusus dan itulah yang membuatnya leluasa untuk merokok. Tambah lagi, gedung tempatnya berdiri saat ini adalah The Noah’s.
Gedung mewah yang dengan bisnis berjalan pusat perbelanjaan mewah dengan nama Sun Mal dan hunian tempat tinggal mewah, Apartement Giant City.
Semua adalah bisnis pribadi milik Noah. Yang dibangun tentu saja dengan kekuatan Grup Jasper sebagai pendukung dan dirinya sendiri yang-menurutnya-sangat hebat.
“Bagaimana cara membangunkannya? Aku tidak pernah mengurusi perempuan yang tidur di dalam mobilku.” Noah mulai kebingungan.
Bagaimana pun juga, mereka belum saling mengenal. Noah juga bukan pria yang suka bermain wanita dengan sembarangan. Nama baiknya terlalu bagus untuk dicemari sebagai konglomerat yang doyan bermain wanita.
Pelan-pelan Noah membuka pintu mobil. Mulus sekali, tak terdengar suara sekecil apa pun. Tentu saja, mobil seharga rumah mewah itu tak mungkin membuat kesalahan kecil.
“Nona Leona, bangun. Kita sudah sampai.”
Leona tak bergerak. Jok mobil ini terlalu nyaman untuk wanita yang selalu tidur di kasur yang sudah lapuk dan tanpa dipan.
“Nona Leona, apa Anda akan tidur di sini sepanjang malam?”
Pertanyaan bodoh itu, tentu saja berasal dari mulut Noah yang asal-asalan. Gadis itu sudah pasti tidak akan mendengarkannya, sudah terlalu larut dalam tidur yang nyenyak.
“Selamat malam, Tuan Noah,” sapa seorang pria beseragam dan bertuliskan Keamanan The Noah’s. “Ada yang bisa saya bantu?”
Noah menoleh dan langsung saja memasang wajah datar dan dingin, menunjukkan karakternya di depan semua orang.
“Bukan masalah, saya hanya ingin membangunkan kekasih saya.”
Noah sudah berani mengakui Leona sebagai kekasih. Sepertinya sudah sangat yakin, jika wanita ini benar-benar akan menerima tawarannya. Sungguh, sangat percaya diri sekali.
Petugas itu tentu saja terkejut. Berita ini secara langsung dia dengar. Dan hati kecilnya pun tidak menyangka, jika Noah akan membawanya ke tempat ini.
Wajah penuh tanda tanya dan rasa penasaran tingkat tinggi itu tak luput dari jangkauan mata Noah.
“Ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Noah dengan nada penuh selidik.
“O … oh-” Si petugas pun tergagap. “Tidak, Tuan, bukan apa-apa.” Takut disangka ikut campur dan berdampak buruk terhadap pekerjaannya, si petugas hanya bisa menahan diri.
Noah pun mengabaikan pria yang terlihat masih lebih muda darinya itu. Kembali memerhatikan Leona sambil sibuk berpikir untuk membangunkan Leona.
“Maaf, Tuan. Saran saya, sebaiknya digendong saja.”
Ada rasa kasihan melihat wanita yang tertidur lelap itu jika harus dibangunkan. Noah sesaat melihat ke arah si petugas dan untuk kali ini, dia menyetujui saran itu. Sebelum menggendong, pelan-pelan bungkusan itu diambil oleh Noah.
“Kencang sekali kamu genggam,” komentar Noah karena sedikit kesulitan ketika mengambil bungkusan yang sudah berbau itu. Noah pun jongkok untuk memudahkan aksinya.
Leona secara naluriah menahan. Hal itu adalah reaksi alami dari tubuhnya, tak ingin melepaskan haknya dan miliknya. Jika pun dia dalam keadaan tertidur, tetap harus mempertahankan.
Keduanya saling berlawanan, Noah yang berusaha melepaskan dan Leona yang berusaha mempertahankan. Dan pada akhirnya, Leona tersentak dan terbangun.
Mereka saling menatap, wajah mereka sangat dekat. Noah dapat melihat dengan jelas mata coklat Leona. Dari mata itu, tampak jelas wanita ini menyembunyikan banyak hal. Jarak yang sangat dekat membuat Noah dapat membaca dengan baik.
Leona tersadar. “Apa yang Anda lakukan?” Spontan dia mendorong Noah. Dan plastik yang digengamnya pun hampir saja terlepas. Untung saja, Noah pun masih dalam kondisi memegang plastik itu. Kalau saja Noah melepaskan, sudalah. Aroma wewangian di mobil ini pun akan berubah drastis.
“Yang kamu bawa itu sangat bau. Apa itu?” tanya Noah dengan bersikap lembut.
“Hah?!” Leona tentu saja bingung. “Anda ini kenapa?” tanyanya lagi.
Noah bersikap lembut karena ada orang lain bersama mereka. Tambah pula, tadi dia sudah mengakui Leona sebagai kekasih.
Noah mendekat. "Ssst … ada security di sini,” bisik Noah, “Anda ikuti saja apa yang akan saya lakukan.”
Leona tentu saja tidak mau, tapi Noah pun sudah jelas tidak ingin mengalah. Malam ini, dia bertekad untuk mendapatkan gadis ini, sebagai tunangan palsunya.
“Apa mau Anda?” Leona sudah jelas tahu tujuan Noah, tapi masih saja dipertanyakan.
‘Bersabarlah, saat ini, kau membutuhkan bantuannya, Noah,’ ucap Noah dalam hati.
“Sebaiknya keluar dulu dan tolong buang yang Anda tenteng sejak tadi,” pinta Noah.
“Tidak bisa! Ini makan malam saya,” tolak Leona, tentu.
“Makan malam?!” Noah mengernyitkan dahi. “Makan apa yang baunya menyengat sekali seperti yang Anda bawa itu?”
“Bau?” Leona tidak salah dengar.
Dengan cepat dia pun mencium aroma dari bungkusan yang dibawa dan dijaganya dengan erat. Benar saja, makanan yang diberikan kepadanya tadi sudah basi.
“Kenapa bisa basi?!” Wajah gadis itu sudah akan menangis, tapi dia masih harus bertahan. Tak ingin kelemahannya terlihat di depan orang lain.
“Sudahlah, buang saja.” Noah pun berdiri dan memanggil petugas tadi yang memang sedang bertugas di pintu khusus itu.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan dan Nona?”
Noah pun mengambil bungkusan dari tangan Leona.
“Kamu,” panggil Noah pada pria yang petugas itu. “Tolong buangkan untuk saya.”
Dengan sigap si petugas pun mengambil plastik dan membuang ke tempat sampah.
“Mari ikut saya,” ajak Noah yang kemudian memegang pintu mobil.
Meski bingung, Leona tak punya pilihan lain, selain mengikuti. Dia tak tahu di mana ini, tempat apa ini. Tapi, matanya segera mencari-cari tulisan yang menjadi petunjuk tempatnya sekarang.
Sesampainya di lift, Leona meneguk ludah dan membulatkan matanya.
‘Grand City? The Noah’s?’ baca Leona dalam hati.
“Kenapa Anda membawa saya ke sini? Tadi Anda mengatakan kalau Anda akan mengantarkan saya pulang.” Leona menuntut jawaban.
Namun, bukan jawaban yang di dapat. Noah justru menarik lengannya dan membawa masuk ke dalam lift. Lalu, menempelkan kartu akses tanpa menekan tombol angka. Saat itu juga, Leona menyadari tak ada tombol lantai di lift itu.
“Kita ke mana?” tanya Leona menuntut.
“Makan malam,” jawab Noah singkat, demi membuat gadis itu diam.