Bab 12. Emosinya Leona

Penulis alend_
07 January 2026

Tadinya, Leona berpikir kalau mereka akan makan di restoran yang terhubung dengan apartemen ini. Tapi, yang terjadi adalah Noah membawanya ke salah satu unit mewah di lantai 23.

“Anda mau apa?” tanya Leona dan langsung bersikap waspada.

“Makan malam,” jawab Noah dengan cuek dan bersikap seolah-olah tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan.

Leona menatap kesal pada Noah. Perutnya yang lapar, tubuh yang sangat lelah memengaruhi emosinya.

“Karena saya miskin dan yatim piatu, jadi kalian berpikir kalau saya bisa dijadikan mainan, begitu?” Suara Leona terdengar sangat dingin dan terluka.

Jelas sekali tergambar di wajahnya, luka dan penghinaan yang tercap dan sudah mencoreng harga dirinya.

Noah membuka mulut dan hendak menjelaskan semuanya. Namun sayangnya, Leona sedang tidak bisa berpikir dengan jernih, dia tak berniat mendengarkan apa pun.

“Tuan Muda, saya jelas-jelas tidak paham kenapa Anda harus melakukan hal bodoh dan tak berakal. Memilih saya yang sudah jelas sekali tidak pantas untuk orang terhormat seperti Anda, Tuan. Saya yakin kalau Anda jelas tahu, kalau saya ini miskin dan sebatang kara.” Air mata Leona menetes ketika mengutarakan kalimat itu, tapi dia sedang tidak menangis.

Noah cuma bisa menjadi pendengar sekaligus penonton. Tangan kanannya memijit dahinya yang sedang tidak sakit.

‘Bagaimana menjelaskannya, kalau dia saja bicara terus menerus seperti itu?’ Dalam hati, Noah menggerutu, tapi yang menjadi perhatiannya paling besar adalah wajah itu.

‘Dia sudah lelah seperti itu, sudah pasti lapar karena makan malamnya sudah berbau dan sudah kubuang.’ Noah mengamati wajah Leona yang mengeluarkan air mata, tapi dia pun tak menangis.

Belum pernah Noah melihat seseorang seperti Leona saat ini.

‘Dia ini menangis atau tidak, sih?’ tanya Noah dalam hati.

“Kenapa?” Leona menghapus air matanya. “Anda merasa Anda sudah pasti bisa membuat saya menerima tawaran yang tidak masuk akal itu, kan? Lalu, Anda dengan santai membawa saya ke sini untuk memaksa saya dan menekan saya secara pribadi!” Dengan marah, Leona maju dan berdiri dengan tegak, menantang sosok tinggi dan kaya raya itu.

Leona tidak memiliki rasa takut sedikit pun. Bahkan, dia tidak takut jika pria ini bisa menghalanginya mendapatkan pekerjaan yang layak suatu saat nanti. Saat ini, dia sangat marah dan benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.

Sungguh, Leona sudah sangat muak!

Tak ingin lagi berdebat, Leona memutuskan pergi dari tempat ini dan tak memikirkan bagaimana caranya untuk kembali ke rumahnya.

Noah tak menghentikan. Hanya melihat dan menonton saja. Menarik napas dan mencoba untuk bersabar, mencoba untuk memahami sikap wanita ini.

‘Baru kali ini aku menghadapi wanita pemarah seperti dia. Apa ini yang namanya harga diri?’ tanya Noah dalam hati.

Di den pintu lift, Leona mencari-cari tombol. Tetapi, tak ada satu pun tombol yang ditemukan. Kemudian, dia menyadari sesuatu.

“Apartemen ini sangat mahal, pasti semua fasilitas menggunakan kartu akses untuk masuk,” monolog Leona dan menutup mata sejenak. Menahan emosi karena kemarahannya sendiri.

Jarak unit ke lift tidak jauh.

Dari pintu unit lurus saja ke pintu lift. Dan tak juga ada tetangga, kanan dan kiri sepanjang lorong hanyalah dinding.

“Lift itu tidak akan terbuka. Itu lift khusus,” kata Noah dengan suara hampir berteriak.

“Kalau begitu, lemparkan saja kartu aksesnya!” balas Leona dengan berteriak, tak peduli jika ada yang terganggu.

“Tidak ada. Kartu akses hanya untuk masuk ke gedung dan ke fasilitas eksklusif lainnya.” Noah bersikap sangat cuek.

“APA?” Leona merasa frustrasi. “Lalu, bagaimana saya keluar dari tempat ini?”

“Gampang.” Noah pun menunjukkan ke dinding di sisi pintu unit. “Tombolnya ada di sini. Unit ini ekslusif, tak ada yang bisa dengan mudah menjangkau. Hanya pemilik atau penghuninya saja yang punya akses penuh.”

Leona putus asa.

Dia pun berteriak dengan frustrasi.

Noah terkejut? Tentu saja.

“Hei, jangan teriak. Sepanjang lorong ini ada CCTV.” Noah pun mendekati Leona.

“Tekan tombolnya! Saya mau pulang!”

“Ya, tapi Anda harus tenang dulu. Jangan bertingkah seperti orang gila di sini!”

“Terserah! Peduli apa Anda dengan semua itu?”

“Kalau begitu, lakukan sendiri.” Noah tak mau kalah, tapi dia pun lelah menghadapi wanita yang usianya berjarak 18 tahun darinya.

Lelaki itu tak lagi berusaha untuk membujuk Leona. Dia justru semakin masuk ke dalam unit dan membiarkan gadis itu untuk mengambil tindakan sendiri.

Merasa tak ditanggapi, Leona hanya bisa menghentakkan kaki dengan marah. Menyadari kalau tidak mungkin memerintah pria berkuasa itu.

“Tempat ini miliknya. Jadi, dia tidak mungkin akan mengabulkan permintaan wanita rendahan sepertiku. Aku ini hanya perempuan miskin!” kritik Leona pada diri sendiri.

Gadis itu pun menyadari kalau dia sudah terlalu sering mengingatkan diri sendiri tentang statusnya, entah sudah berapa puluh kali. Hingga membuatnya selalu sadar diri untuk tidak dengan mudah masuk dalam jebakan harta atau kemewahan lainnya.

“Ya, sudah. Aku ke sana. Aku harus bisa keluar dari tempat ini, segera!” Leona sangat bertekad. Begitu Leona masuk dan melihat ke sisi yang tadi ditunjukkan Noah tadi. Saat itu pula dia pun kebingungan.

“Tombol yang mana?” tanya Leona yang takut jika dia akan salah menekan tombol. Noah tidak menjawab, dia hanya melepaskan jas dan meletakkan di salah satu kursi yang ada di meja makan.

“Tuan Muda Jasper, saya mohon, tolong bantu saya,” pinta Leona menekan marah di dalam dada. Saat ini, Leona sudah masuk ke dalam wilayah Noah. Tentu saja dia pasti ketakutan. Suara Leona terasa bergetar. Tidak mungkin Noah tak tahu. Pria itu pun mulai memahami sikap Leona saat ini.

Tadinya ingin memasak untuk makan malam, tapi niat itu diurungkan.

“Begini, Nona Leona.” Noah mendekat ke arah Leona.

Noah menjaga jarak, hampir 2 meter. Untuk membangun kepercayaan Leona terhadapnya.

“Dari area ini, sudah tidak ada taksi di jam segini. Jadi, akan sangat sulit untuk Anda pulang sekarang.”

Mendengar penjelasan Noah itu, membuat kaki Leona semakin lemas saja menopang tubuhnya.

“Saya pulang bagaimana?” Leona pun terduduk dan tak kuat lagi menahan diri. Dia pun menangis. Runtuh sudah pertahanan Leona. Tak ada lagi yang ingin ditahan, termasuk egonya yang tinggi. Dia hanya ingin pulang.

“Saya tidak akan melakukan hal buruk pada Anda, Nona Leona. Saya hanya ingin Anda mendengar alasan saya atas penawaran saya waktu itu.”

Noah pun menjelaskan. Tidak mungkin lagi berteka-teki.

Leona mendengar, tapi belum bisa menerima. Hanya ingin menangis dan melepaskan semua kepenatannya. Noah pun membiarkan Leona melepaskan rasa sesak di dada.

‘Bagaimana pun, ini adalah salahku. Membawa dia ke tempat ini dan membuat dia salah paham,’ sesal Noah dalam hati.

Cukup lama Leona menangis dan cukup meredakan perasaannya. Noah masih berdiri sambil menatap gadis belia yang duduk di lantai dengan mata sudah hampir bengkak.

Lalu, Leona pun mendongak.

Mereka saling menatap, satu sama lain.