Leona duduk di kursi meja makan. Di seberang, Noah sedang memasak.
Tentu saja, Leona tidak menyangka apa yang dilihatnya sekarang ini.
“Ada yang aneh?” tanya Noah yang instingnya bekerja. Kepala bagian belakangnya seolah-olah berbicara kalau Leona sedang menatapnya.
Leona terkejut, tak menyangka jika Tuan Muda Jasper memiliki keahlian menggunakan peralatan masak.
“Bu-bukan apa-apa.” Saat itu juga, Leona sadar jika dia salah berucap. Lalu segera meralatnya, “A-anda bisa masak?” tanyanya lagi.
“Hanya masakan sederhana,” jawab Noah singkat.
“Masakan sederhana? Yang seperti apa? Sepertinya, Anda sudah cukup lama berdiri di sana.”
“Hanya masakan yang paling mudah dikerjakan.”
“Dari aromanya, saya rasa itu bukan mi instan.”
Perkataan polos Leona membuat Noah langsung menoleh. “Mi instan?! Apa Anda selalu makan makanan tak sehat itu?” Keningnya berkerut.
“Ya, saya biasanya akan beli yang dalam kemasan cup dan menuangkan air panas. Tutup dan tunggu 3 menit, mi isntan sudah jadi.” Dengan enteng Leona menjelaskan. “ Itu cukup mengenyangkan sebelum tidur.”
Noah sedikit tersenyum mendengar cara Leona berbicara. Dari nadanya, gadis itu sudah lumayan tenang dan merasa yakin kalau Leona sudah bisa diajak untuk bicara.
‘Kali ini, mungkin aku harus merendahkan diriku. Supaya Nona Leona ini bersedia membantuku.’ Noah bertekad untuk membuat Leona bekerja sama.
Masakan Noah sudah jadi dan dia juga yang menghidangkannya di meja.
Melihat makanan yang tak pernah berani dia bayangkan tersaji di depannya. “Ini? Sederhana?!” Leona tidak bisa mengekspresikan dirinya. Antara kagum dan bingung, tidak tahu harus berkata apa. “Bagaimana makanan ini bisa jadi sangat sederhana?”
Noah yang masih berdiri pun melepaskan celemek yang terpasang sebatas pinggangnya. Masih dengan lengan baju yang digulung dan menampakkan otot-otot lengannya. Setelah meletakkan celemek di sisi kirinya, Noah pun duduk.
Mereka duduk saling berhadapan.
“Steak dan pasta tidak butuh waktu lama untuk memasak. Di sana, ada kompor dengan 4 tungku. Jadi, bisa memasak sekaligus.”
Mulut Leona terbuka. Untuk saat ini, dia terpesona pada kharisma Noah Jasper.
‘Leona! Ada apa denganmu. Pria di depanmu ini berbahaya!’ Dalam hati Leona mengingatkan diri sendiri.
“Makanlah, santai saja. Jangan terburu-buru. Saya tidak berniat jahat pada Anda. Saya hanya ingin kita berbicara saja.”
“Saya tidak tahu, pasta apa yang Anda suka. Saya hanya memasak dengan bahan yang tersedia di kulkas. Pasta Carbonara, semoga Anda suka.”
“Terima kasih,” ucap Leona tulus.
Ragu untuk memulai, tapi perut yang sudah mulai perih tak mungkin lagi menunda untuk makan terlalu lama. Meski tidak tahu cara memakan steak dan pasta, Leona tetap harus makan. Dia melirik ke arah Noah, diam-diam.
Leona ingin sekali meniru gerakan Noah ketika sedang makan. Cara menggunakan peralatan makan sesuai fungsinya dan apa yang harus dimakan lebih dulu.
“Maaf, Tuan, apa ada aturan makan-” Leona merasa malu menanyakan hal itu. Dan dia pun merasa harus berhenti bertanya. “Ah, tidak apa-apa, Tuan.”
“Pasta terlebih dahulu, lalu steak .” Noah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Leona, tapi wanita itu malu untuk menanyakannya.
Dengan sikap seorang pria jantan, Noah pun menyodorkan piring berisi pasta untuk Leona. “Tak perlu pikirkan table manner-nya. Makanlah, mau bagaimana caramu menikmati makanan.”
Ucapan Noah tidak merendahkan dan tak pula meremehkan status Leona. Dia hanya bicara apa adanya.
“Baik, terima kasih, Tuan,” kata Leona pelan.
Leona tak lagi memedulikan tata cara memegang garpu, sendok dan pisau yang ada di depannya. Dia mengambil garpu dan dibantu sendok mulai menyendok pasta dan memasukkan ke dalam mulut.
‘Enak sekali!’ puji Leona dalam hati.
Sorot mata Leona yang girang dan menikmati makanan menandakan bahwa makanan itu enak, tertangkap oleh Noah yang melirik ke arahnya.
‘Baguslah dia menyukainya.’ Ada kebanggaan dalam hati Noah karena masakannya bisa membuat Leona bahagia.
“Enak, tidak?” tanya Noah ingin tahu pendapat Leona.
Leona mendongak dan dengan mulut penuh dia mengangguk. Anggukkan kepalanya sangat bersemangat.
“Syukurlah kalau begitu,” ucap Noah dengan tersenyum. “Kalau begitu, coba steaknya.”
Mata girang Leona yang menjawab dan Noah mulai memotong-motong steak yang ada di depannya tanpa menyentuh pasta yang ada di piringnya.
“Nanti akan saya coba, Tuan,” jawab Leona masih mulut penuh.
Noah sedang sibuk memotong-motong steak ketika Leona terpesona padanya. Namun, beberapa detik kemudian, dia menyadarkan diri.
‘Perhatikan, Leona! Kali ini, kamu potong steak sendiri, jangan menyusahkan Tuan Noah lagi.’ Leona mengingatkan diri sendiri sambil mengamati cara Noah memotong-motong daging import yang mahal itu.
Noah menukar piring berisi steak yang sudah dipotongnya dengan steak yang ada di depan Leona. “Jangan terburu-buru, santai saja. Saya yakin, kamu sudah kehabisan energi ketika bekerja tadi dan mereka tidak menyiapkan makanan yang layak untuk kalian yang bekerja di sana.”
Leona tersipu. ‘Kalau saja kulitku putih, rona merah di pipiku mungkin terlihat dengan jelas,’ ucapnya dalam hati.
“Terima kasih, Tuan.” Tapi, Leona tetap harus mengucapkannya, kan?
Noah tetap makan, tapi dia memutuskan untuk makan dengan pelan dan santai. Membiarkan Leona mengisi perutnya dengan tenang hingga kenyang.
Karena lapar, kecepatan makan Leona pun di atas standar. Dia tahu, Noah mengizinkannya untuk menghabiskan pasta yang tersisa, maka dengan tenang Leona juga menghabiskan pasta di piring Noah.
Hingga potongan daging terakhir, Noah menuangkan anggur merah dengan merek terkenal yang harga satu botolnya sangat mahal.
“Sa-saya, tidak minum alkohol, Tuan,” tolak Leona halus, dia takut mabuk. Mau seperti apa pun situasinya, Leona harus menjaga diri sendiri.
“Tidak sampai mabuk, sedikit saja. Supaya bisa tidur dengan nyenyak.” Noah tersenyum. Sebelum menenggak cairan berwarna merah pekat itu, Noah memutar-mutar dengan pelan gelas, lalu menghirup aroma. Setelah itu, meminum secara perlahan. Leona pun melakukan hal yang sama.
“Baiklah, saya akan berterus terang,” ucap Noah seteleh gelas mereka letakkan di atas meja. Leona tahu sudah tidak mungkin lagi mereka menunda-nunda obrolan. Dia tahu apa yang akan dibicarakan oleh pria kaya raya ini.
“Saya benar-benar membutuhkan bantuan Anda dan saya akan menawarkan fasilitas yang sudah pasti akan mendukung semua cita-cita Anda.”
“Cita-cita saya?!” Leona bingung.
“Benar! Kuliah seni yang Anda butuhkan di universitas swasta terbaik di negara ini.” Mendengar itu, Leona tentu saja meneguk ludah dengan kasar.
“Bahkan, saya tidak akan membebankan Anda untuk bekerja di perusahaan milik saya setelah lulus nanti. Dan saya juga akan menawarkan bantuan ketika Anda ingin memulai karier sebagai Kurator Seni.”
Tawaran Noah sungguh menggiurkan.
Bagi siapa pun yang mempunyai mimpi dan cita-cita tambah lagi sangat suka belajar, pasti akan dengan cepat menerima tawaran itu,
Akan tetapi, Leona berbeda. Dia justru semakin ragu.
‘Semua ini pasti tidak mudah,’ kata Leona dalam hati.
“Silakan pikirkan, saya bersedia untuk menunggu jawaban Anda.” Noah tidak langsung meminta jawaban saat itu juga, sadar betul jika permintaannya ini sangat berat.
Noah juga tahu, Leona butuh waktu untuk berpikir. Maka, dia pun membiarkan gadis itu tinggal malam itu di apartemen dan dia pulang ke rumah pribadinya.