Drama #Drama #roman

Kekecewaan 20 Tahun

Penulis Gwen
07 January 2026

Ada saat-saat dalam hidup ketika waktu tidak berjalan maju, tapi membulat. Ia tidak bergerak dari hari ini ke besok, melainkan berputar kembali ke dua puluh tahun lalu, ke momen-momen yang tidak pernah kita tuai, lalu jatuh ke pangkuan kita tanpa peringatan.

Malam itu, aku merasakannya. Foto itu masih tergeletak di meja. Kalimat Rian masih terngiang di kepalaku.

“Aku sudah mengenalnya jauh sebelum aku mengenalmu.”

Rian sudah pulang. Bukan karena aku mengusirnya. Kami hanya sama-sama kehabisan kata untuk sementara waktu. Aku butuh sendiri. Ia butuh ruang untuk tidak berpura-pura kuat.

Rumah terasa terlalu besar. Aku berjalan tanpa suara ke arah jendela. Di luar, lampu jalan memantulkan cahaya kuning pada aspal basah. Entah hujan turun sebentar atau hanya kabut tipis—aku tidak melihat prosesnya, hanya melihat sisa-sisanya.

Pisces dalam diriku biasanya larut. Malam ini, entah bagaimana, aku justru terasa sangat jernih. Seperti air yang berhenti bergerak dan menjadi cermin.

Aku tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semua ini kebetulan. Terlalu banyak garis yang saling bertemu: nama di balik foto, parfum yang sama, kalimat-kalimat yang berhati-hati, cara Rian menatap Sisca dengan rasa bersalah yang tidak 100% ingin pergi.

Aku tahu satu hal. Aku belum selesai berbicara dengan Sisca. Aku mengetuk pintu kamarnya. Pelan. Tidak ada jawaban beberapa detik.

Aku hampir mundur ketika suara itu muncul, “Masuk saja, Nita.” Nada suaranya membuatku berhenti. Ia sudah tahu.

Bukan tentang topik pembicaraan kami, tapi tentang fakta aku akan datang. Sisca selalu begitu, satu langkah di depan, tidak jauh, tapi cukup untuk membuatmu merasa sedang menyusul seseorang yang berjalan tanpa menoleh.

Aku membuka pintu. Kamarnya remang. Hanya lampu meja yang menyala, membuat ruangan terlihat seperti adegan lama yang diputar ulang. Sisca duduk di dekat jendela, tubuhnya sedikit condong ke depan, wajahnya setengah tertutup bayangan.

Aku berdiri di ambang pintu. “Boleh?” tanyaku.

Ia menoleh sedikit, tersenyum tipis. “Kalau kamu tanya ‘boleh masuk?’, pintunya sudah keburu terbuka.”

Aku masuk dan menutup pintu perlahan. Beberapa detik kami hanya diam. Diam yang padat. Diam yang penuh isi.

“Ada yang mau kamu tanyakan,” katanya lebih dulu, bukan bertanya, melainkan mempersilakan.

Aku mengangguk. Aku duduk di kursi di seberang tempatnya duduk. Aku menatap tanganku sebentar, lalu mengangkat wajah.

“Aku baru tahu sesuatu hari ini,” kataku. “Aku pengin dengar dari kamu… bukan dari orang lain.” Ia menunggu.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Tante,” kataku pelan, “dua puluh tahun Tante ke mana?”

Ia mengalihkan pandangan kembali ke jendela. Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi setiap kata di dalamnya membawa bebannya sendiri.

“Aku pergi,” katanya akhirnya. Aku mengerutkan dahi sedikit. “Itu aku tahu.”

“Aku pergi,” ia mengulang, “karena kalau aku tinggal… aku akan hancur.” Kalimat itu tidak dramatis. Ia tidak bergetar. Justru karena itu, terasa sangat nyata.

“Apa yang menghancurkan?” tanyaku. Ia tersenyum kecil tanpa humor. “Cinta.”

Aku mendadak ingin tertawa dan menangis sekaligus. Cinta. Kata yang sering kita gunakan sembarangan tiba-tiba terasa seperti batu yang berat ketika berdiri di hadapan seseorang yang mengucapkannya tanpa sisa.

“Cinta siapa?” tanyaku, walau aku tahu sebagian jawabannya. Matanya bergerak sedikit. “Ayahmu,” katanya pelan, “melarangku.”

Aku memejamkan mata sebentar, bukan karena kaget, tetapi karena aku tahu kalimat itu akan muncul, dan tetap saja rasanya seperti pintu yang dibanting.

“Melarang apa?” suaraku pelan. “Melarang aku mencintai orang yang kucintai,” jawabnya tanpa melunakkan apa pun. Aku menunggu.

Ia melanjutkan, “Aku mencintai seseorang yang… dunia sekeliling kami anggap salah. Bukan karena kami menyakiti siapa pun secara langsung, tapi karena kami berani memilih sesuatu yang tidak mereka izinkan.”

Aku memperhatikan wajahnya. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada kebencian. Hanya kelelahan.

“Orang itu…” kataku pelan, “…ayah Rian?” Ia tersenyum tipis. “Kamu cepat.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku bergerak pelan, seperti gelombang kecil. “Jadi semua ini… karena itu?”

“Tidak sesederhana itu,” katanya pelan. “Tak pernah sesederhana itu.”

Ia menggeser rambut dari bahunya.

“Waktu itu,” lanjutnya, “aku muda. Mudanya bukan soal umur saja. Aku… penuh keyakinan bahwa cinta cukup. Bahwa kalau kita saling memilih, dunia akan mengalah. Aku salah.”

Ia tertawa pendek.

“Dunia tidak pernah mengalah hanya karena dua orang saling mencintai,” katanya. “Justru dunia membuka buku hukum, tradisi, moral, luka lama, semuanya dikeluarkan sekaligus.”

Aku bisa membayangkan. Bukan detilnya. Tapi rasanya.

“Terus?” tanyaku pelan. “Ayahmu melihat ke depan,” katanya. “Ia selalu begitu. Ia melihat apa yang akan terjadi lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun dari pilihan kita. Ia bilang aku tidak cukup kuat untuk hidup dengan konsekuensi itu.”

Ia menunduk sedikit.

“Aku marah. Tentu saja,” lanjutnya. “Bagiku waktu itu, dia seperti merampas apa yang paling kusayangi. Padahal… sekarang aku mengerti, sebagian dari yang ia lakukan adalah menyelamatkanku dari diriku sendiri.”

Aku tidak menyela. Aku hanya mendengarkan.

“Hubunganku… diakhiri,” katanya lagi. “Bukan dengan kata-kata lembut. Bukan juga dengan pertempuran hebat. Diakhiri dengan keheningan panjang yang diciptakan orang-orang yang lebih kuat daripada kami.”

Keheningan itu seperti memasuki ruangan. Aku bisa merasakannya, dingin, panjang, dan tidak punya pegangan.

“Lalu kamu pergi,” kataku. “Iya,” jawabnya. “Ke mana?”

“Ke tempat-tempat di mana aku bisa menjadi orang tanpa nama,” katanya. “Kota-kota yang tidak tahu siapa Sisca, siapa orang tuanya, siapa laki-laki yang pernah dicintainya, siapa yang melarang. Aku bekerja apa saja. Aku belajar bernafas tanpa merasa sedang dikejar masa lalu.”

Aku menatapnya.

Aku membayangkan perempuan berusia dua puluh-an, membawa koper kecil, naik kendaraan apa pun yang datang duluan, mencari tempat di mana tidak ada siapa pun yang bisa memanggilnya pulang.

“Tapi ternyata,” katanya pelan, “masa lalu bukan anjing yang berhenti mengejar hanya karena kamu berhenti berlari. Masa lalu duduk. Menunggu. Sampai kamu siap menoleh.”

Aku tertawa tanpa suara. Itu kalimat paling “Gemini” yang pernah kudengar, logis sekaligus puitis.

“Terus kenapa Tante balik sekarang?” tanyaku.

Ia menatapku lama.

Aku pikir ia akan menjawab karena kakakku meninggal. Aku pikir ia akan menjawab karena keluarga. Aku pikir ia akan menjawab karena sudah waktunya. Ternyata tidak.

Ia mengucapkan kalimat itu dengan tenang, sangat tenang, tanpa drama, “Aku kembali bukan untuk keluarga.”

Aku merasa jantungku berhenti sepersekian detik. Bukan untuk keluarga. Aku duduk lebih tegak tanpa sadar.

Aku menelan ludah. “Terus… untuk siapa?”

Ia tidak menghindari tatapanku. Ia justru menahannya. Dengan lembut. Dengan yakin.

“Untuk seseorang,” katanya. Hanya itu. Tidak menyebut nama. Tidak menyebut hubungan. Tidak menyebut masa lalu atau masa kini.

Tapi aku tahu. Aku tahu bahkan sebelum suaranya berhenti bergetar di udara. Seseorang itu bukan Ayahku. Bukan Ibu. Bukan aku. Bukan siapa pun dari keluarga.

Seseorang itu terhubung dengan semua benang yang sudah kutarik sejak awal, parfum yang sama, kafe yang sama, kalimat yang sama, rahasia yang sama. Aku memejamkan mata. Suara di kepalaku berbisik sangat pelan, Rian.