Bab 14. Menanti Jawaban

Penulis alend_
07 January 2026

Noah sudah menunggu, tapi sampai siang Leona belum menghubunginya dan memberikan jawaban. Bekerja dengan gelisah membuat Kevin pun tak bisa menahan diri untuk bertanya.

“Pak, ada masalah?”

“Leona belum memberikan jawaban, sampai saat ini.”

Kevin yang terkejut tentu saja semakin tertarik mendengar keluhan Noah.

“Jadi, Anda sudah berbicara dengan Nona Leona?” tanya Kevin dengan antusias. ‘Bisa juga tuan kaya ini bertindak sendirian.’ Walau hanya dalam hati, tapi kalimat itu ada sebuah pujian.

“Ya,” jawab Noah pelan.

Kemudian, dia menceritakan kejadian kemarin malam. Kevin tidaklah bodoh, dia dengan cepat menangkap kegelisahan Noah yang tidak masuk akal itu.

“Pak, belum 24 jam, bagaimana bisa Anda mengharapkan jawaban secepat ini?”

“Seharusnya, 12 jam juga sudah bisa memberikan jawaban, kan?” Noah jelas tidak mau kalah.

“Tetapi, Pak, masalah ini bukan hal sepele. Ada banyak yang akan dia pertimbangkan dan-”

“Ah, sudahlah,” potong Noah cepat. “Diskusi dengan kamu tidak ada gunanya.”

Ingin sekali rasanya Kevin menjitak jidat mahal berisik otak brilian itu. Namun, dia masih menghargai nyawanya dan masih menyayangi keluarganya yang tak sanggup menerima pemecatannya nanti.

“Apa jadwal saya berikutnya?” tanya Noah kembali duduk di balik mejanya.

“Hari ini, PT. Indira Virtual mengundang makan siang dalam rangka mengajukan proposal investasi. Waktu janji temu, sesuai yang Anda sepakati tepat saat jam makan siang. 15 menit lagi kita akan berangkat dan mobil Anda sudah siap di depan lobi utama.” Kevin menjelaskan.

“Ya sudah, kalau begitu. Hari ini, ponsel saya akan saya pegang terus.”

Kevin menatap Noah tak mengerti. “Saya rasa untuk yang satu itu, tidak perlu diberitahukan, Pak.”

“Kamu! Jangan coba-coba pegang ponsel saya,” kata Noah memberikan peringatan, mengabaikan perkataan Kevin.

“Baik, Pak!” jawab Kevin memilih mengalah saja.


Noah sangat tidak menyukai seorang pebisnis wanita yang datang berpakaian tidak sepatutnya. Matanya menatap dengan sinis. Selera makan Noah hilang seketika.

Melihat Noah yang sudah muak dengan bos mereka, 2 pegawai yang datang bersama wanita pebisnis itu hanya bisa menatap Noah ketakutan dan pasrah. Mereka sudah tahu, Noah tidak akan menyetujui proposal mereka.

‘Jangankan diterima, dibaca pun sudah pasti tidak,’ kata 2 pegawai itu dalam hati.

“Banyak sekali bicaramu!” bentak Noah dan membuat wanita dengan pakaian tak patut itu terdiam dan membeku. “Kau ini mau mengajukan kerjasama bisnis, atau mau menjual diri?”

Noah benar-benar membuat perempuan itu malu di depan kedua pegawainya.

“Sebaiknya, kau kembali ke universitasmu dan mulai semua dari semester 1.” Noah berdiri. “Jangan lupa untuk mengambil pelatihan berbusana yang baik dan pelatihan etika. Kalau tidak bersedia, silakan cari investor tua yang bersedia menjamah tubuhmu.”

Kevin sudah tahu akan seperti ini. Dia hanya menunggu Noah dengan diam saja.

“Tuan Muda Jasper, saya-”’

“Maaf, Nyonya," potong Kevin. Wajahnya menunjukkan ketegasan. “Anda akan black list dari Grup Jasper.”

Pernyataan Kevin itu tidak mendapat bantahan dari Noah. Sang bos hanya berjalan terlebih dahulu, meninggalkan ruang pribadi yang dipesan untuk menyambut Noah. Lengkap dengan makanan yang semua orang tahu, makanan itu adalah favorit Noah.

Sia-sia sudah usaha mereka, menggelontorkan uang yang tak sedikit hanya untuk ruang pribadi dan makanan mewah dengan hasil tak ada sama sekali. Belum lagi hasil kerja keras, buah pikiran dan lembur berhari-hari tak terbayarkan dengan semestinya.

Hanya menatap punggung Tuan Noah dengan hampa dan mulai berpikir untuk mengundurkan diri. Sebentar lagi, berita tentang bos mereka yang cantik berusaha menjual tubuh demi investasi akan tersebar. Tentu saja, pikiran untuk mundur dari perusahaan secepatnya adalah pilihan terbaik, sebelum nama mereka pun ikut-ikutan kena imbasnya.

Sementara itu, Noah yang sudah berdiri di samping mobilnya pun.

“Kevin, jangan biarkan perempuan itu dan keluarganya atau semua kerabatnya mencoba untuk menjalin kerjasama dengan Grup Jasper. Termasuk semua yang bekerja di perusahaan mereka!” perintah Noah dengan dingin.

Kevin dengan cepat mencerna perintah itu. Jika yang dimaksud adalah pekerja di perusahaan itu, bukannya terlalu berlebihan?

“Pak, maaf. Saya rasa tidak etis jika para pegawai mereka harus dilibatkan. Dari semua informasi yang sudah saya kumpulkan, mereka tidak ada kaitannya dengan kejadian ini.” Kevin mencoba membela para pegawai yang tadi sudah seperti hilang harapan.

“Lalu? Apa hubungannya dengan saya?” Noah benar-benar tidak suka dengan cara wanita tadi. Bekerja dengan kotor, silakan saja. Tapi, jangan melibatkan dia secara langsung.

“Pak, beberapa dari mereka sudah bekerja dengan keras dan semua berakhir dengan sia-sia. Kasihan jika nantinya mereka akan kesulitan mendapatkan pekerjaan.”

“Itu bukan urusan saya! Lakukan saja perintah saya, Kevin Dorian!”

Jika sudah bicara seperti itu, maka Kevin tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa merasa kasihan saja pada pegawai kecil itu. Semoga saja, mereka punya jalan keluar.

Hanya bisa menurut dan melakukan perintahnya saja.

Noah masuk dan Kevin mulai memberikan instruksi melalui telepon.

‘Saya minta maaf,’ ucap Kevin dalam hati.

Meskipun Kevin terkenal sama kejamnya dengan Noah, tapi sekretaris tampan itu masih memiliki sedikit perasaan. Hanya sedikit, itu pun dia akan lihat dulu situasinya.

Tak semua orang pantas dikasihani atau mendapat belas kasihan, itu adalah motto hidup Kevin Dorian.

Kevin duduk di sebelah Noah dan sopir menyetir dengan kecepatan normal. Di belakang, Kevin sibuk menjelaskan perkembangan pembangunan gedung baru untuk bisnis pribadi Noah.

“Itu artinya, tidak ada kendala pembangunan, kan?” Noah menatap jalanan.

Entah kenapa, dia masih merasa tidak tenang. Bukan tentang perempuan tadi, tapi tentang perempuan muda yang jarak usianya 18 tahun dengannya itu.

‘Kenapa sampai jam segini dia belum menghubungiku juga? Harusnya, kami sudah tanda tangan kontrak.’ Noah terlalu yakin kalau Leona sudah mengambil keputusan dan akan menerima tawarannya.

Pikiran Noah berkelana jauh menanti jawaban Leona. Tanpa dia sadari, kalau mobil sudah berhenti sejak tadi di lokasi pembangunan.

“Pak, kita sudah sampai,” panggil Kevin membuyarkan lamunanannya.

“Ya,” jawab Noah singkat.

Telinga mendengar, mulut berbicara, tapi pikiran Noah masih pada Leona yang belum memberikan jawaban untuknya. Noah memang pria yang hebat dan kompeten, dia bisa memikirkan banyak hal pada saat bersamaan. Urusan pekerjaan dan urusan pribadi bukan hal yang bisa mengganggunya.

“Jadi, tidak ada kendala sampai soft launching?”

“Tidak, Tuan Noah. Semua akan sesuai dengan jadwal dan tidak akan melenceng sedikit pun,” jawab pria gendut dan dari wajahnya terlihat lebih tua darinya, Manager Konstruksi.

Noah mengangguk, “Baik kalau begitu.”

Dipandu oleh Manager Konstruksi, Noah pun berkeliling lokasi konstruksi dan mengamati setiap pekerja. Hingga matanya pun menangkap sosok yang sangat dikenali.

“Kevin!” panggil Noah hampir berteriak.

“Ya, Pak,” jawab Kevin cepat dan tanggap. Tahu kalau bosnya itu menemukan sesuatu.

“Kenapa dia ada di sini?” tunjuk Noah ke arah seorang pekerja yang sedang bekerja.