Bab 15. Pekerjaan Lain Leona

Penulis alend_
07 January 2026

Melihat arah yang ditunjuk oleh Noah, Kevin pun sama terkejutnya. Tak menyangka wanita yang mereka kenal ada di sana, sedang bekerja bersama beberapa wanita lainnya. Bekerja sebagai buruh bangunan.

“Sa-saya juga tidak tahu, Pak.” Kevin memang benar-benar tidak tahu jika Leona juga melakukan pekerjaan kasar seperti ini.

“Bagaimana mungkin-” Noah kehabisan kata-kata.

Kedua tangan Noah bertolak pinggang menatap kesal bercampur marah. Leona Iris, gadis itu, bagaimana bisa melakukan pekerjaan kasar?

Sekarang, baik Kevin maupun Noah paham alasan di balik kulit kasar, keras kepala dan sikap kasar wanita muda itu.

Kevin tak tahu, kalau pekerjaan kasar dan biasa dilakukan oleh pria pun dilakukan oleh Leona. Keras sekali kehidupan Leona ini.

“Tuan Noah, Anda mengenal salah satu dari mereka?” tanya si Manager Konstruksi pelan dan penasaran.

Kevin memberikan kode untuk tidak bertanya. Dan mereka semua yang ingin tahu pun menuruti perintah dalam diam dari Kevin itu.

Noah berjalan dan mendekati para pekerja yang sedang sibuk dan fokus.

“LEONA IRIS, APA YANG KAMU LAKUKAN DI SINI?” Noah membentak.

Suara bentakan dan keras itu membuat semua pekerja yang mendengar terdiam dan langsung melihat ke arah asal suara.

Leona tentu saja terkejut, tak menyangka akan bertemu dengan Noah di tempat ini.

“A-apa yang Tuan lakukan di sini?” tanya Leona seperti orang bodoh saja.

“Tuan, Anda mengenal perempuan itu?” tanya si Manager Konstruksi yang masih diliputi rasa penasaran dan wajah pun mulai sedikit pucat.

Kevin berdiri dan menghalangi pria itu. “Anda tidak mengerti yang saya maksudkan tadi?”

Ditatap dengan tajam oleh Kevin membuatnya menjadi ciut, tak bernyali.

Noah mendekati Leona dan menarik tangannya tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

“Apa yang Anda lakukan?” Leona mencoba melepaskan diri.

Sayangnya, tenaga Noah jauh lebih besar. Jadi, Leona tidak mudah melepaskan diri.

Namun, bukan Leona namanya kalau tidak melawan. Berusaha berontak untuk melepaskan diri.

Keduanya persis seperti sepasang kekasih yang bertengkar.

Mendapatkan perlawanan, Noah yang sangat berusaha menahan diri pun mengambil tindakan.

Menggendong Leona tanpa meminta izin di pundak, seperti memanggul beras ukuran 10 kg.

“Aaaa ….” Teriakan Leona yang terkejut sangat kencang. “Turunkan aku!”

“Diam!” Noah tentu saja tidak akan tinggal diam. “Kevin! Pekerjaan di sini sudah beres.”

“Baik, Pak,” jawab Kevin lagi dan lagi dengan cepat dan patuh.

Kevin mengikuti Noah yang membawa Leona menuju mobil. Membuka pintu untuk mereka.

Noah memasukkan Leona dan mendorong agar perempuan itu masuk lebih ke dalam. “Jalan!” perintahnya.

Mobil meninggalkan lokasi pembangunan dan meninggalkan mereka yang menonton. Bahkan, beberapa pekerja mereka kejadian itu, sesaat setelah Noah memanggil nama Leona dengan suara keras.

Tentu saja, dalam waktu singkat, video pun menjadi viral.

Dalam waktu singkat, video pun sudah menjadi tren terpopuler dan menyebar ke seluruh penjuru negeri. Bahkan, semakin banyak video beredar, semakin banyak yang berubah dari aslinya. Tak tahu lagi yang mana video asli.

Leona pun menjadi bahan perundungan di internet dan orang-orang pun mulai mencari latar belakang gadis itu.

Di mobil, Noah dan Leona yang tidak tahu apa-apa masih sibuk berdebat. Kevin diam saja dan fokus menatap jalanan lurus ke depan. Begitu pun sopir, yang sedikit pun tidak berani melirik ke spion untuk tahu apa yang terjadi di belakangnya.

“Maaf, Pak, tujuan kita ke mana?” tanya Kevin yang sejak tadi tidak bisa mengambil keputusan.

“Grand City!” jawab Noah singkat dan tentu saja masih marah.

“Tidak! Saya mau turun di sini,” tolak Leona dengan cepat. “Pak Sopir, tolong berhenti,” pintanya ramah.

Sopir mendengar, tapi tidak memenuhi permintaan itu. Dia tidak pernah berani memberontak pada Noah, dia hanya sopir miskin yang hidup dari gaji yang diberikan Keluarga Jasper dan fasilitas dari Noah.

“Pak!” Leona memohon.

“Tidak ada gunanya, dia hanya akan menuruti majikannya,” kata Noah dengan tenang. Leona pun tahu maksud dari perkataan Noah dan saatnya dia untuk diam. Tak ada gunanya untuk membantah, sekeras apa pun.


Kevin tidak ikut ke unit tempat Noah membawa Leona.

Dua insan itu hanya berdua di dalam unit apartemen mewah yang sudah dikenali oleh Leona. Noah menenggak air dingin dengan cepat. Untuk alasan yang dia sendiri tak tahu, dia sangat marah. Setelah habis, gelas diletakkan dengan kasar untuk menyalurkan amarah.

“Apa harus bekerja seperti itu?” Noah tidak punya keinginan untuk berbasa-basi.

“Itu bukan urusan Anda, Tuan!” jawab Leona dengan ketus.

Mereka saling adu pandang.

“Itu urusan saya, Leona!”

“Saya dan Anda tidak punya hubungan apa pun, Tuan. Jadi, tidak seharusnya Anda bersikap seperti ini!”

Leona merasa tak ada gunanya untuk bersikeras mengemukakan pendapatnya. Dia akan selalu kalah dan Noah akan selalu benar.

Merasa tidak nyaman ada di tempat ini, Leona berniat untuk pergi.

“Leona, tawaran saya tidak main-main. Dan hanya untuk 2 tahun saja. Apa susahnya kamu terima?”

“Maaf, Tuan, tapi tawaran Anda sungguh tidak masuk akal!”

“Ini juga untuk masa depan kamu, Leona! Apa kamu tidak ingin melanjutkan mimpimu?”

“Tuan, saya memang sangat ingin menjadi seorang Kurator Seni, tapi saya ingin melakukan dengan cara saya sendiri!”

“Hahaha ….” Noah tertawa dan ada nada yang meremehkan dari nada itu.

Leona tersinggung dengan cara Noah yang jelas-jelas menyepelekannya. Tetapi, dia sadar diri.

‘Leona, dia benar. Harusnya kau tidak tersinggung sedikit pun!’ maki Leona dalam hati. ‘Dia benar, Leona. Dia berhak menganggapmu rendah! Dia berhak meremehkanmu karena kau itu miskin!’ Dia pun membenarkan sikap Noah terhadap dirinya.

“Ya, Anda benar, Tuan Noah Jasper!” Air mata sudah mengalir.

Wajah Leona sudah tegang. Rahangnya sudah mengeras, dia sedang menahan diri dan menerima penghinaan dari Noah. Semakin amarah ditahan, semakin deras air matanya turun. Tapi, tetap tak ada suara tangis yang keluar dari mulut Leona.

Noah pun terdiam, menyadari kesalahannya. Sejak awal, dia tak berniat menyinggung perasaan Leona.

“Maaf,” ucap Noah pelan dan berniat meraih lengan Leona.

Namun, Leona segera menjauhkan tangannya, sehingga Noah hanya menyentuh udara hampa saja. Untuk Noah, baru kali ini dia meminta maaf pada seorang wanita. Bahkan, dulu, ketika masih bersama mantan kekasihnya, tak pernah sekali pun dia meminta maaf.

Dan tidak ada alasan yang jelas untuk mendeskripsikan perasaan Noah saat ini.

“Tidak perlu meminta maaf, Tuan. Tidak ada yang salah dengan yang Anda katakan barusan.” Leona menghapus air matanya dan menetralkan dirinya.

“Saya-” Noah berhenti sendiri, bingung hendak mengatakan apa.

“Tuan, saya izin dulu. Barang-barang saya masih tertinggal di lokasi konstruksi. Di sana ada ponsel dan dompet saya. Hanya itu barang berharga saya. Di dalam dompet, ada uang yang cukup untuk makan saya sampai besok siang. Saya yakin, pekerjaan saya hari ini tidak akan dibayarkan karena saya tidak menyelesaikan pekerjaan saya.” Panjang lebar Leona bicara dan berharap pengertian dari Noah.

Noah langsung menghubungi Kevin dan menyuruh orang untuk mengambil barang milik Leona dan mengantarkan ke unit.

Leona tak mau lagi menatap Noah. Tahu kalau dia hari ini tidak bisa lepas dari pria konglomerat ini. Leona hanya diam dan meratapi nasib buruknya.