Drama #Drama #roman

Pengakuan Rian yang Mulai Utuh

Penulis Gwen
07 January 2026

Kalimat itu tidak langsung sampai ke hatiku. Ia berhenti di udara sebentar, menggantung di antara kami, meminta ruang.

“Untuk seseorang.” Aku tidak bertanya “siapa” saat itu juga.

Bukan karena tidak ingin tahu, tapi karena aku bisa merasakan tubuhku butuh beberapa detik untuk mengejar pikiranku. Aku menatap Sisca. Ia tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengucapkan sesuatu yang bisa mengubah arah hidup orang lain.

“Untuk seseorang,” ulangku pelan, memastikan telingaku tidak salah dengar.

“Iya,” katanya datar, tapi lembut.

Aku menggenggam kain rokku.

“Boleh aku tebak?” tanyaku.

Ia tersenyum kecil. “Kamu tidak pernah butuh izin untuk menebak, Nita. Kamu hanya butuh keberanian untuk menerima kalau tebakannya benar.”

Kalimat itu menamparku dengan cara yang halus sekali. Aku menghela napas pelan. Ada nama di ujung lidahku. Nama yang tidak ingin kuucapkan. Nama yang sudah terlalu sering berdiri di antara kami belakangan ini. Tapi bibirku tidak bergerak. Pisces di dalam diriku… penakut pada saat-saat tertentu. Aku mengalihkan tatapan keluar jendela sebentar, lalu kembali padanya.

“Tante,” kataku, “seseorang itu… sekarang masih ada?”

Pertanyaan bodoh. Pertanyaan anak kecil. Tapi hanya itu yang keluar.

Ia menatapku lama. Bukan tatapan orang yang sedang memilih bohong atau jujur. Tatapan orang yang sedang memutuskan berapa banyak dunia akan diizinkan masuk.

“Iya,” jawabnya pelan. Aku menelan ludah.

“Dia tahu Tante kembali karena dia?” tanyaku lagi.

“Dia tahu,” katanya. Aku tertawa, bukan karena lucu, melainkan karena tubuhku butuh jalan keluar untuk sesuatu yang terlalu banyak.

“Hanya aku yang tidak tahu, ya?” kataku setengah bercanda.

“Bukan,” jawabnya pelan. “Banyak hal yang kamu tahu. Kamu hanya belum berani mengucapkannya.”

Sunyi. Sunyi yang sama seperti di malam-malam sebelum badai. Aku mendadak merasa lelah. Aku berdiri. Sisca tidak menahan. Aku melangkah ke pintu, tangan memegang gagang kayu itu, namun tubuhku belum bergerak ke mana pun. Aku menoleh sedikit.

“Aku akan nanya lagi nanti,” kataku. Ia mengangguk. “Kalau kamu siap,” katanya. Aku keluar. Menutup pintu pelan. Dan untuk beberapa detik di lorong itu, aku hanya bersandar pada dinding dan membiarkan dunia tidak memiliki bentuk.

Aku masuk kamarku. Lampu kupadamkan setengah. Aku duduk di lantai, punggung bersandar pada ranjang. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya… kosong penuh. Ada hal-hal yang tidak perlu ditangisi karena tubuh tidak tahu harus memulai dari mana. Ponselku bergetar. Satu pesan. Dari Rian.

“Sudah makan malam?”

Aku menatap layar lama. Lucu, ya. Di tengah benang kusut seperti ini, ada seseorang yang masih mempertanyakan hal-hal sederhana.

Aku membalas, “Sudah.” Beberapa detik. Balasan masuk.

“Boleh telepon?”

Aku mengetik, “Boleh.”

Telepon masuk tidak lama kemudian.

Aku mengangkat.

“Hallo,” katanya pelan.

Suara itu. Aku hafal lekuk suaranya, bagaimana ia naik sedikit saat gugup, bagaimana ia turun ketika ingin meyakinkan.

“Kamu capek banget ya?” tanyanya.

“Ada suara capeknya, ya?” sahutku.

“Bukan di suara,” katanya. “Di diamnya.”

Aku tersenyum kecil.

“Rian,” kataku.

“Ya?”

“Kalau aku tanya sesuatu, kamu jawab jujur?”

Ia diam. Beberapa detik. Kemudian ia berbisik, “Aku akan berusaha sejujur yang bisa kulakukan hari ini.” Aku tertawa lirih.

Jawaban Virgo. Selalu mengukur kapasitas jujurnya sendiri. “Baik,” kataku pelan. “Kamu sayang siapa?”

Sunyi. Bukan sunyi sambungan buruk.

Sunyi orang yang kehilangan tempat berpijak di dalam kalimatnya sendiri.

“Ani…” katanya pelan.

“Jawab,” kataku, tanpa keras, hanya dalam.

“Aku sayang kamu,” katanya akhirnya.

Hening lagi. Aku menunggu. Aku tidak memutus telepon.

Dan setelah beberapa detik yang terasa seperti menit, ia menambahkan, “…dan aku belum tahu bagaimana harus meletakkan perasaanku pada Sisca.”

Di situlah dadaku terasa seperti ada sesuatu yang pelan-pelan retak, tidak pecah keras, tidak dramatis, hanya retak halus, yang justru lebih lama sembuhnya. Aku tidak membalas. Aku menutup mata. Aku mendengar napasnya di seberang sana, panjang, menahan, mengukur setiap kemungkinan.

Aku tidak pernah membayangkan pengkhianatan bisa terasa begitu sunyi. Bukan teriakan, bukan pecahan piring, hanya detak jantungku yang mendadak terdengar terlalu keras ketika kusadari satu hal sederhana namun menghancurkan. Kekasihku jatuh cinta pada Tantenya… pada Tanteku sendiri. Dunia tidak runtuh dengan dramatis. Ia hanya bergeser sedikit, cukup untuk membuatku kehilangan keseimbangan.

Saat menyadarinya, udara di sekelilingku seperti menebal. Setiap gerakan menjadi lambat. Ada rasa tak percaya yang menolak pergi, seperti pintu yang terus berderit tapi tidak mau tertutup.

Aku mencoba menyangkal, mencari celah logika, alasan apa saja yang bisa menyelamatkan harga diriku. Namun tatapan mereka, cara namanya disebut, cara Rian tertawa terlalu lama pada hal-hal kecil yang diucapkan Tante… semuanya menyatu menjadi kebenaran yang terlalu jelas.

Aku marah, tetapi di balik amarah ada perasaan lain yang lebih rapuh: aku merasa tidak cukup. Aku mulai membandingkan diriku dengan Tante: caranya bicara, tertawanya, kedewasaannya.

Aku membedah diriku sendiri dengan kejam, mencari-cari apa yang kurang sampai seseorang yang kucintai memilih jatuh untuknya. Namun di antara retakan itu, ada diriku yang pelan-pelan bangkit, walau dengan lutut gemetar. Perasaan ini menyakitkan, ya, seperti menelan beling. Tapi aku juga tahu, cintanya tidak pernah sepenuhnya menjadi salahku untuk mempertahankan.

Aku berhak terluka, berhak marah, dan berhak pergi jika harus. Malam ini aku menangis untuk diriku sendiri, bukan karena aku kehilangan mereka, tapi karena aku akhirnya berani mengakui betapa dalam aku mencintai, dan betapa dalam pula aku bisa disakiti.

“Aku tidak pernah berniat menyakitimu,” katanya. “Aku tahu,” jawabku, berusaha bijak.

Aku sungguh-sungguh tahu. Luka paling dalam sering datang bukan dari orang jahat, melainkan dari orang baik yang tidak tahu bagaimana cara mengelola perasaan mereka.

“Aku bingung,” katanya lirih.

“Aku juga,” suaraku pecah tipis, hampir tidak terdengar.

Ada jeda panjang setelah itu. Tidak nyaman. Tidak menyakitkan. Hanya… jujur.

“Aku pengin kamu jujur pada dirimu sendiri dulu,” kataku akhirnya, mengulang kalimat yang pernah kudengar dari bibir Sisca.

Ironis? Mungkin. Tapi benar. Rian terdiam lagi.

“Aku berusaha,” katanya.

Dan untuk pertama kalinya, aku percaya itu. Kami menutup telepon beberapa menit kemudian tanpa janji apa-apa, tanpa rencana esok hari, tanpa menyebut kata putus, tanpa menyebut kata bertahan.

Kadang tidak menyebut apa pun justru lebih berat. Aku turun ke dapur untuk minum. Malam sudah larut. Rumah berbisik pelan dengan suara lemari kayu, kipas angin lama, dan gelas saling bersentuhan. Aku berjalan melewati ruang tengah. Langkahku berhenti. Meja. Di atasnya ada sesuatu.

Kalung Sisca. Kalung yang tidak pernah ia lepas sejak datang. Kalung dengan bandul kecil yang kutahu atau setidaknya hatiku tahu, bukan sekadar perhiasan. Aku mendekat. Bandul logam itu dingin ketika kusentuh. Aku memandanginya lama. Ada sesuatu di bawahnya.

Kertas terlipat. Kupikir hanya tisu atau catatan kecil. Aku mengangkat kalung itu sedikit, dan kertas itu ikut terangkat separuh. Bukan tisu. Kuitansi.

Aku menurunkannya di meja. Mataku membaca baris demi baris secara otomatis. Tanggal. Jam. Nama tempat.

Hotel. Aku berhenti di baris terakhir. Bukan karena hurufnya asing. Justru karena terlalu akrab. Nama tamu: Rian.