Aku memandangi nama itu lama sekali. Rian.
Empat huruf sederhana yang tiba-tiba terasa berat, seperti batu kecil dalam sepatu yang tidak bisa kau keluarkan di tengah jalan panjang.
Aku duduk. Kursi kayu itu berderit pelan, seolah ikut menahan sesuatu yang ingin runtuh. Tanganku gemetar ketika menyentuh sudut kertas itu. Bukan karena aku tidak pernah melihat kuitansi hotel sebelumnya, tapi karena kali ini, nama yang tertera di sana bukan milik orang asing.
Aku menarik napas. Aku membaca lagi. Pelan-pelan. Seolah huruf-huruf itu bisa berubah jika kuberi kesempatan: Nama hotel. Nomor kamar. Waktu check-in. Waktu check-out. Metode pembayaran. Dan lalu… Tanggal. Aku berhenti di sana.
Tanggalnya seperti menatap balik padaku. Aku membacanya sekali lagi untuk memastikan mataku tidak bermain-main dengan kepalaku. Tanggal itu adalah hari yang sama dengan hari Ayah dimakamkan. Bukan sehari sebelum. Bukan sehari setelah. Hari itu. Dadaku mengetat. Seolah udara dalam ruangan memutuskan untuk pergi duluan dan meninggalkanku sendirian. Aku menguapkan napas yang tidak terasa cukup.
“Kenapa…” suaraku hampir tidak keluar, bahkan untuk diriku sendiri, “…hari itu?”
Aku memegang kuitansi itu dengan dua jari, seakan-akan kertas itu benda rapuh yang bisa robek jika kusalahkan terlalu keras.
Hotel. Nama Rian. Tanggal hari Ayah meninggal.
Aku menatap kalung yang masih tergeletak di meja, bandulnya dingin terkena angin malam. Seperti benda yang sengaja ditinggalkan, atau tidak sengaja, atau mungkin… setengah sengaja.
Aku mendengar suara langkah pelan di lantai kayu.
Aku tidak menoleh. Aku bahkan sudah tahu siapa sebelum suara itu bicara.
“Aku cari kalungku,” kata Sisca pelan. Aku memejamkan mata sepersekian detik. Bukan karena kaget. Lebih karena tubuhku butuh jeda setipis kertas untuk memastikan suaraku tidak pecah saat aku bicara.
Aku berbalik. Ia berdiri beberapa langkah dariku. Wajahnya tenang. Alisnya sedikit turun. Tidak ada panik berlebihan, tidak ada usaha merebut. Ia hanya melihat ke arah benda itu, kemudian ke arahku.
“Boleh aku ambil?” tanyanya lembut. Aku mengangkat kalung itu. Bandul kecil itu bergoyang, menggantung di antara kami, seperti tanda tanya yang terlalu berat untuk diucapkan.
“Boleh,” kataku pelan.
“Tapi jawab dulu satu hal.”
Ia diam sebentar, lalu mengangguk.
“Baik.”
Aku meletakkan kuitansi itu tepat di samping bandul kalungnya.
“Ini jatuh,” kataku. “Atau sengaja ditinggal?”
Matanya turun ke arah kertas itu. Ada perubahan halus di wajahnya. Sangat halus. Seperti riak kecil di permukaan air yang tenang.
“Sejujurnya?” tanyanya.
“Sejujurnya,” ulangku.
“Sengaja,” jawabnya.
Jawaban itu tidak berteriak. Tidak dramatis. Tapi tubuhku bereaksi seolah ada seseorang yang baru saja menyalakan lampu terang di ruangan gelap tanpa peringatan. Aku menarik kursi. Aku duduk kembali.
“Aku mulai bingung,” kataku pelan. “Kamu datang kembali katanya bukan untuk keluarga. Kamu sudah kenal Rian bahkan sebelum aku mengenalnya. Kamu menyimpan kotak Ayah. Kamu bawa kalung yang mungkin jadi kuncinya. Lalu sekarang… kuitansi hotel atas nama Rian jatuh begitu saja dari kalungmu.”
Aku menatapnya lurus.
“Tolong,” kataku lirih, “berhenti berbicara setengah kalimat. Aku lelah menebak-nebak.”
Sisca tidak langsung bicara. Ia tidak duduk. Ia tidak bergerak. Ia hanya menatapku dengan tatapan seseorang yang sedang menimbang: mana yang harus diselamatkan lebih dulu, kebenaran atau orang yang mendengarkan kebenaran itu.
“Rian tidur di hotel itu hari itu?” tanyaku langsung.
“Aku tidak akan ceritakan hal yang bukan bagianku untuk diceritakan,” katanya pelan.
Jawaban yang diplomatis. Jawaban Gemini. Aku menggeleng pelan.
“Jawaban itu bukan jawaban, Tan.” Ia menatapku.
“Kalau kamu ingin tahu apa yang Rian lakukan hari itu,” katanya, “dengar dari Rian. Jangan dari aku.”
Aku menelan ludah. Baik. Itu adil. Menyakitkan, tapi adil. Tapi ada pertanyaan lain. Pertanyaan yang hanya bisa dijawab olehnya.
“Kalau begitu,” kataku, “aku tanya yang untuk bagiannya Tante.” Ia mengangguk pelan.
“Tanya.” Aku menunjuk kuitansi itu.
“Kenapa kuitansi ini ada di kalung Tante?” Matanya berkedip sekali. Ia tidak menyangkal. Ia tidak pura-pura tidak mengerti.
“Aku menyimpannya,” katanya pelan, “karena itu hari penting.” Aku tertawa kecil. Pecah.
“Penting?” ulangku. “Hari Ayahku meninggal penting?”
Mataku panas. Kali ini aku tidak menahannya. Bukan tangisan pecah, bukan teriakan, tapi air mata yang turun diam-diam seperti hujan dini hari.
Sisca maju satu langkah. Aku mengangkat tangan.
“Jangan,” kataku pelan. Ia berhenti.
Aku mengusap pipiku cepat-cepat, tidak ingin terlihat seperti korban, tidak ingin terlihat seperti sesuatu yang perlu diselamatkan.
“Kenapa penting?” suaraku pecah tipis. “Kenapa hari itu?”
Ia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dariku, “Karena hari itu adalah hari sebuah cerita lama berakhir… dan cerita yang lain mulai berjalan.”
Aku memejamkan mata. Aku membenci caranya bicara yang selalu indah, selalu metaforis, selalu membuatku harus menebak di dalam kepalaku sendiri.
“Cerita lama siapa?” kataku keras kepala.
Ia tersenyum sayu.
“Cerita Ayahmu,” jawabnya.
“Cerita masa lalu kami. Cerita yang tidak pernah kau minta untuk lahir bersama kamu.” Aku terdiam. Aku merasa seperti berdiri di tengah dua sungai: satu berisi air kenangan, satu berisi air masa depan, dan keduanya mengalir ke arahku bersamaan.
Aku mengambil kuitansi itu. Aku angkat.
“Kenapa ada nama Rian di sini?” tanyaku pelan.
Ia menggeleng pelan.
“Aku tidak bisa menjawab untuknya.”
Aku menatapnya.
“Apa Tante bertemu Rian hari itu?”
Ia berhenti. Sekian detik.
Lalu, “Iya.” Jawaban itu sederhana. Kenyataannya tidak.
Aku merasakan lututku menjadi ringan, tapi tidak sampai runtuh.
“Di hotel ini?” tanyaku.
“Iya.” Kali ini tidak ada jeda. Aku terduduk. Aku menertawakan sesuatu, meski tidak tahu bagian mana yang lucu.
“Bagus,” kataku.
“Bagus sekali. Tentu saja. Dunia ternyata punya selera humor.”
Aku menunduk, kedua telapak tangan menutupi wajah. Aku tidak membayangkan apa pun. Aku tidak ingin membayangkan apa pun.
Aku hanya membiarkan kalimat itu menempel di dinding pikiranku, Sisca bertemu Rian di hotel di hari Ayahku meninggal.
Ia maju satu langkah lagi.
“Nita,” katanya pelan.
“Apa?” suaraku serak.
“Kalau aku bilang,” katanya,“pertemuan itu bukan seperti yang kamu bayangkan… kamu mau percaya?”
Aku menurunkan tangan. Aku menatapnya.
“Aku sudah terlalu banyak membayangkan,” kataku.
“Dan aku capek membayangkan sendirian.”
Ia menatapku lama.
“Aku janji satu hal,” katanya akhirnya.
“Tidak ada yang kami lakukan hari itu untuk menyakitimu.” Ada jeda kecil.
“Bahkan,” lanjutnya, “sebagian dari yang kami lakukan hari itu… adalah tentang melindungimu.”
Kata melindungi bergema aneh di dadaku. Aku ingin marah. Aku ingin berteriak, “Hentikan menyebut pengkhianatan sebagai perlindungan!”
Tapi kalimat itu tidak keluar. Karena ada sesuatu yang mengganjal kalimat itu, intuisi. Pisces dalam diriku, yang selalu peka pada nada yang tidak diucapkan, berbisik, ada sesuatu yang belum kau lihat.
Aku menghela napas panjang.
“Aku tidak akan tanya lagi malam ini,” kataku.
“Kalau aku teruskan, aku akan mulai membenci orang yang seharusnya tidak kubenci.”
Sisca memejamkan mata pelan.
“Membenci kadang lebih mudah daripada bingung,” katanya.
“Aku tidak mau yang mudah,” jawabku.
Aku menyerahkan kalung itu padanya. Tangannya menyentuh tanganku sepersekian detik, hangat, nyata, manusia.
“Terima kasih,” katanya.
Ia melilitkan rantai kalung itu kembali di lehernya, bandul kecil itu jatuh tepat di tempatnya semula, di atas dadanya, menjaga sesuatu yang tidak bisa kulihat.
Aku berjalan melewatinya. Sebelum keluar ruangan, aku berhenti.
“Tante,” kataku pelan. “Hm?” “Kalau suatu hari nanti…aku tahu semuanya…apakah aku masih akan melihatmu seperti sekarang?”
Ia menatapku. Ada sesuatu di matanya yang selama ini tidak kulihat jelas, ketakutan kecil.
“Tidak,” jawabnya jujur.
“Kamu tidak akan melihatku seperti sekarang.”
Aku menunduk.
“Setidaknya jujur,” kataku.
Aku melangkah keluar. Kututup pintu. Lorong terasa panjang. Aku berjalan ke kamar. Aku duduk di tepi ranjang, memandang langit-langit. Aku mengangkat kuitansi itu sekali lagi. Mataku kembali ke tanggal. Tanggal itu tidak berubah. Tanggal itu akan selalu sama.
Dan di bawah angka-angka itu, aku baru menyadari sesuatu yang sejak tadi tidak benar-benar kulihat. Bukan hanya tanggal. Ada jamnya. Jam check-in. Jam check-out. Hatiku turun ke perut. Jam check-in: dua jam sebelum Ayahku menghembuskan napas terakhir.