Bab 31 Rencana di Balik Pernikahan

26 January 2026

“Abidin, kamu dimana?” sahut ayahnya, Mustafa, mengirimkan pesan pada Abidin. “Apakah kamu sudah mendapatkan informasi tentang pernikahan anaknya Sudarta?”

Abidin hanya bisa tersenyum jahat. Ia membalas pesannya, “Tenang saja, Pah! Semuanya sudah beres.”

Malam telah tiba. Esok hari adalah hari pernikahan bagi Marcel dan Rihana. Di balik kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua keluarga, ada rencana jahat yang sedang disusun oleh Abidin. Ia tidak bisa menerima kebahagiaan Marcel, dan ia bertekad untuk menghancurkan pernikahan tersebut.

Rihana tampak begitu cantik dalam balutan rias pengantin, wajahnya berseri-seri memancarkan kebahagiaan. Marcell pun tak kalah mempesona, penampilannya yang gagah membuat semua orang terkesima. Di tengah keramaian acara pernikahan mereka, hadir pula Abidin dan Destia, sahabat dekat yang selalu mendukung. Tak ketinggalan, adik-adik Marcell turut meramaikan suasana.

Acara pernikahan Marcell dan Rihana diisi dengan hiburan musik yang meriah dan upacara adat yang sakral. Semua orang menikmati setiap momen, tertawa dan bersuka cita. Kemewahan dan kemeriahan acara ini membuat Abidin dan Destia merasa sedikit iri, mengingat pernikahan mereka dulu tidak semewah ini. Namun, di sisi lain, Evi, adik kedua Marcell, memiliki pandangan yang berbeda.

Evi, yang sangat kental dengan ajaran agama Islam dan fanatik terhadap hal-hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW, merasa resah. Dalam hatinya, ia berkata, "Zaman sekarang, yang campur baur antara laki-laki dan wanita serta terdapat musik-musik yang melalaikan, maka jika dari awalnya saja sudah keluar dari jalan taqwa, bagaimana mau mendapatkan yang barokah? Karenanya banyak bermasalah dan terjadi perceraian di kemudian hari."

Tak lama kemudian, acara ijab qobul pun akan segera dilaksanakan. Penghulu sudah hadir di tempat, siap memimpin prosesi sakral tersebut. Semua tamu undangan menanti dengan penuh harap, menyaksikan momen bersejarah dalam hidup Marcell dan Rihana. Di tengah kebahagiaan dan keraguan yang menyelimuti, mereka berharap pernikahan ini akan membawa berkah dan kebahagiaan abadi.

Sementara itu, di sudut lain, Endah, mantan kekasih Marcell, menjadi alat bagi Abidin. Dengan janji-janji manis dan tipu daya, Abidin berhasil meyakinkan Endah untuk ikut serta dalam rencananya. Endah, yang masih menyimpan rasa sakit hati, akhirnya setuju untuk membantu Abidin. Mereka merencanakan sesuatu yang bisa merusak kebahagiaan Marcell dan Rihana.

Hari yang dinanti-nanti pun tiba. Marcel dan Rihana bersiap-siap untuk mengucapkan janji suci mereka. Rihana tampak begitu cantik dalam balutan gaun pengantin putih yang elegan, sementara Marcel terlihat gagah dalam setelan jas hitamnya. Keduanya tampak bahagia dan penuh harapan untuk masa depan mereka bersama.

Namun, di balik layar, Abidin dan Endah sudah menyiapkan langkah-langkah mereka. Abidin, dengan senyum jahatnya, memegang amplop berisi bukti-bukti palsu yang menunjukkan bahwa Marcel telah berselingkuh. Endah, yang masih menyimpan rasa sakit hati karena masa lalunya dengan Marcel, merasa puas dengan rencana ini. Mereka berdua bertekad untuk menghancurkan pernikahan ini dan membuat Rihana kehilangan kepercayaannya terhadap Marcel.

Saat upacara pernikahan berlangsung, suasana begitu khidmat. Para tamu undangan duduk dengan tenang, menyaksikan momen sakral ini. Marcel dan Rihana saling menatap dengan penuh cinta, siap untuk mengucapkan janji suci mereka. Namun, tiba-tiba, Abidin dan Endah muncul di tengah-tengah upacara. Mereka berjalan dengan percaya diri menuju altar, menarik perhatian semua orang.

"Maaf, aku harus menghentikan upacara ini," kata Endah dengan suara lantang. Semua mata tertuju padanya, termasuk mata Rihana yang penuh kebingungan.

"Ada sesuatu yang harus kamu ketahui, Rihana," lanjut Endah dengan nada yang lebih lembut namun penuh dengan kepalsuan. "Marcel tidak setia padamu. Kami memiliki bukti bahwa dia telah berselingkuh."

Rihana terkejut dan merasa dikhianati. Tangannya gemetar saat menerima amplop dari Endah. Dengan hati-hati, dia membuka amplop itu dan melihat foto-foto yang menunjukkan Marcel bersama wanita lain. Air mata mulai mengalir di pipinya, dan suasana pernikahan berubah menjadi kacau.

Para tamu mulai berbisik-bisik, dan beberapa dari mereka bahkan berdiri untuk melihat lebih dekat. Marcel, yang juga terkejut, mencoba menjelaskan. "Rihana, ini tidak benar! Aku tidak pernah berselingkuh. Ini semua adalah kebohongan!"

Namun, Rihana terlalu terpukul untuk mendengarkan. Dia merasa dikhianati oleh orang yang paling dia cintai. "Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku, Marcel?" tanyanya dengan suara yang bergetar.

Abidin dan Endah tersenyum puas, merasa bahwa rencana mereka berhasil. Namun, di tengah kekacauan itu, seorang tamu yang tidak terduga muncul. Dia adalah sahabat lama Marcel, yang tahu tentang rencana jahat Abidin dan Endah. Dengan cepat, dia maju ke depan dan mengambil mikrofon.

"Semua ini adalah kebohongan!" katanya dengan tegas. "Abidin dan Endah telah merencanakan ini untuk menghancurkan pernikahan Marcel dan Rihana. Bukti-bukti ini palsu!"

Dia kemudian menunjukkan bukti-bukti yang sebenarnya, yang membuktikan bahwa foto-foto tersebut telah diedit dan dimanipulasi. Para tamu terkejut, dan suasana mulai berubah. Rihana, yang masih terisak, melihat bukti-bukti tersebut dan mulai menyadari kebenarannya.

"Marcel, maafkan aku," katanya dengan suara yang penuh penyesalan. "Aku seharusnya percaya padamu."

Marcel mengangguk dan memeluk Rihana dengan erat. "Tidak apa-apa, Rihana. Yang penting kita tahu kebenarannya sekarang."

Endah, yang merasa terpojok, mencoba melarikan diri, tetapi dia segera ditangkap oleh petugas keamanan. Upacara pernikahan dilanjutkan, dan Marcel serta Rihana akhirnya bisa mengucapkan janji suci mereka dengan damai.

Meskipun hari itu penuh dengan drama dan ketegangan, cinta sejati Marcel dan Rihana berhasil mengatasi semua rintangan. Mereka belajar bahwa kepercayaan dan kejujuran adalah dasar dari hubungan yang kuat, dan bahwa cinta sejati akan selalu menang, meskipun harus melalui berbagai ujian.

Setelah melewati badai yang tak terhitung jumlahnya, Marcel dan Rihana akhirnya menemukan kedamaian dalam pelukan satu sama lain. Pernikahan mereka, yang sempat terancam oleh intrik dan pengkhianatan, kini berdiri kokoh seperti benteng yang tak tergoyahkan. Abidin dan Endah, yang telah merencanakan begitu banyak kejahatan, akhirnya menerima ganjaran yang setimpal atas perbuatan mereka.

Dalam perjalanan yang penuh liku ini, Marcel dan Rihana belajar bahwa cinta sejati bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan tentang keteguhan hati dan keberanian untuk terus berjuang. Mereka menyadari bahwa cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya, meskipun harus melalui berbagai ujian dan cobaan. Di tengah segala kesulitan, cinta mereka tumbuh semakin kuat, membuktikan bahwa cinta sejati akan selalu menang.

Dengan suara yang penuh emosi, mereka mengucapkan janji suci mereka. “Aku berjanji untuk mencintaimu, menghormatimu, dan mendampingimu dalam suka dan duka,” kata Marcel dengan mata yang berbinar. Rihana menjawab dengan suara yang lembut namun tegas, “Aku berjanji untuk selalu berada di sisimu, dalam setiap langkah hidup kita.”

Ketika mereka saling menyematkan cincin, tepuk tangan dan sorak sorai menggema di seluruh ruangan. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka, menandai awal dari babak baru dalam hidup mereka.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah bayangan gelap muncul di pintu gereja. Semua mata tertuju pada sosok misterius yang berdiri di sana, dengan tatapan penuh dendam. Siapakah dia? Apa yang akan terjadi selanjutnya?