Bab 32 Lelaki Misterius dan Jejak Nasib

27 January 2026

Lelaki misterius itu, dengan mantel hitam yang menggantung longgar di pundaknya, berdiri di sudut ruangan. Wajahnya tertutup oleh bayangan topi fedora yang rendah. Matanya, tajam dan gelap, memandang ke arah Marcel dan Rihana yang sedang berdansa di tengah kerumunan tamu undangan.

Dia mengutuk nasibnya dengan kata-kata yang penuh kekecewaan. Semua rencananya telah gagal. Rencana untuk menghentikan pernikahan ini, untuk menggagalkan kebahagiaan mereka, hancur berantakan. Lelaki misterius itu tahu bahwa dia tidak bisa mengubah takdir. Dia hanya bisa pergi.

Dengan langkah tergesa-gesa, dia meninggalkan ruangan itu. Di luar, hujan turun dengan derasnya. Jalanan basah dan gelap menyambutnya. Dia menarik mantelnya lebih erat, melindungi diri dari dingin yang menusuk tulang. Tapi lebih dari itu, dia merasa dingin dalam hati.

Namun, di tengah kepergiannya, Marcel dan Rihana tengah merayakan kebahagiaan mereka. Mereka berdua, terikat dalam janji suci pernikahan, tersenyum satu sama lain. Rihana, dengan gaun putihnya yang indah, tampak seperti peri yang turun dari surga. Marcel, dengan senyum lebar di wajahnya, memandanginya dengan penuh cinta.

Akhirnya, mereka menikah. Rihana menjadi gadis pujaan hati Marcel, dan Marcel menjadi pria yang dia impikan. Di sela-sela pernikahan, ayah Marcel memberikan selamat kepada putranya. Wajahnya yang tua dan bijaksana terpancar kebanggaan.

“Aku bangga padamu, Marcel,” ucap ayahnya dengan tulus. “Tapi sebenarnya, aku yang harus berterima kasih padamu, Ayah. Kau telah mendukungku untuk mendapatkan Rihana.”

Ayah Marcel mengangguk. “Cinta adalah anugerah terbesar, anakku. Kau telah menemukan cintamu, dan aku bahagia melihatmu bahagia.”

Sementara itu, Lelaki misterius itu, yang masih berdiri di tengah jalan, ia merenung. Dia tahu bahwa dia telah kehilangan. Tapi mungkin, hanya mungkin, ada kebahagiaan lain yang menunggunya di masa depan. Dia melangkah menjauh, meninggalkan jejak nasib yang tak terbaca di baliknya.

Angin malam bertiup lembut di sepanjang jalan setapak yang gelap. Lelaki itu, dengan mata yang membara, berbicara dengan tekad yang tak tergoyahkan. “Aku akan merebut kembali Rihana! Aku tak sudi kamu bahagia bersama Marcel, si bocah ingusan itu!” katanya dengan suara bergetar.

Namun, dalam hatinya, dia tahu bahwa ini bukan hanya tentang cinta. Itu adalah obsesi yang menggerogoti jiwanya. Rihana, wanita yang telah lama mengisi pikirannya, adalah lebih dari sekadar cinta. Dia adalah segalanya. Dan dia tidak akan membiarkan Marcel, dengan wajahnya yang polos dan senyumnya yang naif, mengambilnya darinya.

Lelaki itu menghilang tanpa jejak. Tubuhnya menyatu dengan kegelapan malam. Dia tahu dia harus bergerak cepat. Rihana dan Marcel sedang merayakan pernikahan mereka, dan dia tidak punya banyak waktu. Dia harus menghentikan ini sebelum terlambat.

Dia mengingat saat-saat ketika dia dan Rihana masih bersama. Mereka tertawa bersama, berbicara tentang masa depan, dan bermimpi tentang kebahagiaan yang abadi. Tapi kemudian, Marcel muncul dalam hidup Rihana. Lelaki itu melihat bagaimana Rihana tersenyum padanya, bagaimana matanya berbinar saat dia berbicara tentang Marcel. Dan dia merasa dendam.

Obsesi itu membutakan matanya. Dia mengikuti mereka, memata-matai setiap gerak-gerik mereka. Dia mencari celah untuk menghancurkan kebahagiaan mereka. Dan sekarang, di tengah hujan yang deras, dia berdiri di luar gedung pernikahan, menatap jendela yang terang benderang.

Rihana dan Marcel berdansa di tengah kerumunan. Wajah mereka bersinar. Lelaki itu merasa marah. Dia ingin masuk, menghentikan semuanya. Tapi dia tahu dia tidak bisa. Dia hanya bisa menghilang, seperti bayangan di malam yang gelap.

Dia berjalan menjauh, langkah demi langkah. Hujan membasahi mantelnya. Dia tahu dia telah kehilangan. Tapi obsesi itu masih membakar dalam dirinya. Dia akan kembali. Dia akan mencari cara untuk merebut Rihana kembali. Dan kali ini, dia tidak akan menghilang tanpa jejak. Dia akan meninggalkan bekas yang tak terlupakan.

Endah menatap langit malam yang gelap, air mata mengalir di pipinya dicampur dengan air hujan. Dia merasa seperti dihina oleh Rihana, wanita yang telah mengambil segalanya darinya. Hidupnya hancur, dan dia tahu dia harus melakukan sesuatu.

Rihana, dengan senyum manisnya dan rambut hitam yang terurai, telah mengambil Marcel, pria yang Endah cintai. Tapi bukan cinta yang murni. Endah tahu dia hanya mencintai harta Marcel, kekayaan dan status sosialnya. Dia membenci dirinya sendiri karena itu.

Endah menggenggam pisau di tangannya. Obsesi dan dendam membara dalam dirinya. Dia ingin menghancurkan keluarga Marcel, membuat mereka merasakan penderitaan yang sama seperti yang dia rasakan. Dia ingin mengambil kembali apa yang telah dicuri darinya.

Dia mengintai di balik pepohonan, melihat cahaya di jendela rumah Marcel. Rihana dan Marcel sedang berdansa di tengah ruangan. Endah merasa marah. Dia ingin masuk, menghentikan semuanya. Tapi dia tahu dia tidak bisa. Dia hanya bisa menghilang, seperti bayangan di malam yang gelap.

Tapi kemudian, dia memiliki rencana. Dia akan menghancurkan keluarga Marcel dengan cara yang lebih halus. Dia akan mengungkapkan rahasia-rahasia mereka, menggali masa lalu yang gelap. Dia akan memisahkan mereka satu per satu, menggoyahkan dasar keluarga mereka.

Endah menghapus air mata dari wajahnya. Dia tahu ini bukan tentang cinta lagi. Ini tentang dendam dan obsesi. Dia akan mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Dan kali ini, dia tidak akan menghilang tanpa jejak. Dia akan meninggalkan bekas yang tak terlupakan.

Dalam kegelapan malam, Endah berjalan menjauh. Dia tahu dia telah kehilangan Marcel, tapi dia tidak akan berhenti. Dendamnya akan membimbingnya, dan dia akan menghancurkan keluarga Marcel dengan cara yang tak terduga. Cinta yang berubah menjadi racun, dan Endah adalah pembawanya.

Abidin merasa putus asa. Rencananya untuk menghancurkan pernikahan Marcel dan Rihana telah gagal. Dia berharap Endah bisa membantu melaksanakan rencana jahatnya, tetapi sayangnya, Endah juga tidak berhasil. Abidin duduk sendirian di sudut gelap kamarnya, memutar-mutar rencana-rencana lain dalam benaknya.

Sementara itu, Marcel dan Rihana tetap bahagia. Mereka tidak menyadari ancaman yang mengintai pernikahan mereka. Di antara senyum dan canda, mereka merencanakan masa depan bersama. Rihana, dengan matanya yang berbinar, bercerita tentang impian-impian mereka. Marcel, dengan tulus, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Rihana.

Namun, di balik layar kebahagiaan itu, Abidin masih merencanakan cara lain untuk menghancurkan hubungan mereka. Dia tahu dia harus berhati-hati, menghindari jejak yang terlalu mencolok. Abidin berbisik pada dirinya sendiri, “Marcel, lain kali aku akan mencoba dengan cara yang lain. Tunggu saja saatnya!”

Abidin mengingat masa lalu, ketika dia dan Marcel adalah sahabat baik. Mereka berdua pernah berbagi tawa, mimpi, dan rahasia. Namun, seiring berjalannya waktu, cemburu dan kebencian merasuki hati Abidin. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Rihana, wanita yang dia cintai diam-diam, memilih Marcel sebagai pendamping hidupnya.

Endah, teman dekat Rihana, juga terlibat dalam drama ini. Abidin mencoba memanfaatkan hubungan mereka untuk merusak pernikahan Marcel dan Rihana. Namun, Endah, gagal dalam rencananya Abidin.

Di malam yang gelap, Abidin menatap langit. Bintang-bintang tampak jauh dan tak terjangkau. Dia bertekad untuk terus berusaha, meskipun rencananya selalu gagal. Kegelapan dalam hatinya semakin dalam, dan dia bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah cinta sejati bisa menghancurkan segalanya?”

Marcel dan Rihana, tanpa curiga, melanjutkan hidup mereka. Mereka tidak tahu bahwa ada seseorang yang terus mengintai, menunggu kesempatan untuk menghancurkan apa yang mereka bangun bersama. Dan di antara ketidakberdayaan dan keputusasaan, Abidin merencanakan langkah berikutnya.

Kegelapan dalam hati Abidin semakin dalam. Dia merenung tentang cinta sejati. Apakah cinta bisa benar-benar menghancurkan segalanya? Ataukah dia hanya terjebak dalam lingkaran kebencian dan obsesi?