Bab 35 Cinta di Antara Gelombang dan Lukisan

29 January 2026

Waktu terus berjalan, hari berganti hari. Sudah seminggu sejak Marcel dan Rihana pergi bulan madu. Di bawah sinar matahari yang cerah, Abidin dan istrinya, Destia, duduk bersama di teras rumah mereka. Mereka menikmati sarapan pagi yang disajikan dengan penuh kasih sayang oleh Destia.

Destia adalah seorang wanita yang setia kepada suaminya. Meskipun pernikahan mereka telah menghadapi banyak ujian, termasuk masalah keuangan dan konflik keluarga, Destia selalu berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga. Kini, mereka hidup dalam ketenangan dan kebahagiaan, meskipun Abidin sedang menghadapi masalah kesehatan yang serius.

Namun, di balik senyum dan kebahagiaan yang mereka tunjukkan, ada rencana tersembunyi yang Destia rancang. Dia ingin memanfaatkan Marcel, teman lama Abidin yang juga memiliki hubungan dengan perusahaan besar yang dipimpin oleh ayah Marcel. Destia berbicara pelan kepada Abidin, “Kang mas, Marcell itu orangnya baik. Kita bisa memanfaatkannya. Bagaimana menurutmu?”

Abidin memandang istrinya dengan penuh perhatian. “Kamu benar, sayang. Dengan kesempatan ini, kita bisa mengambil alih perusahaan itu. Tapi ingat, kita harus berhati-hati dan tidak mengkhianati kepercayaan Marcel.”

Destia menatap Abidin dengan mata yang penuh keraguan. “Saya heran, Pak Sudarta itu bukan siapa-siapanya Pak Ruswanda. Bagaimana bisa dia menjadi orang paling penting di perusahaan ini?” tanya Destia, suaranya penuh dengan keheranan.

Abidin merasa terganggu oleh pertanyaan istrinya. Pikirannya sudah lama terisi oleh rencana jahat. Dia berniat menghancurkan perusahaan Ruswanda, dan itu dimulai dari kehancuran Sudarta. Rupanya, Destia juga memikirkan hal yang sama.

Namun, Abidin adalah seorang master manipulator. Di balik senyumnya yang ramah, tak ada satupun yang mengetahui rencana kejahatannya. Di depan Destia, Abidin hanya berpura-pura baik dan merasa miskin. Dia tahu bahwa untuk mencapai ambisinya, dia harus bermain dengan cerdik dan memastikan bahwa tidak ada yang curiga.

Sementara itu, Marcel dan Rihana sedang berbulan madu di sebuah pantai, dimana Pantai itu memancarkan keindahan yang memikat. Rihana berdiri di tepi pasir, mata memandang ke arah laut yang biru. Udara sejuk menyentuh wajahnya dan dia merasa hidup. Marcell, suaminya berdiri di sampingnya, senyum lebar menghiasi wajahnya. Mereka baru saja menikah dan bulan madu di pantai ini adalah impian yang akhirnya terwujud.

“Kak Marcell,” bisik Rihana, “bisakah kita pergi lebih jauh? Ke tengah laut?”

Marcell mengangguk. Dia melihat perahu boot kecil milik nelayan yang terdampar di pantai. “Tentu saja, sayang. Kita bisa menyewa perahu ini.”

Mereka naik perahu, hati penuh kegembiraan. Rihana merasakan angin laut membelai wajahnya saat perahu meluncur ke tengah laut. Dia tertawa, menikmati momen ini bersama Marcell. Namun, tak lama kemudian, suasana berubah.

Gelombang besar muncul dengan tiba-tiba. Perahu oleng tak terkendali. Rihana terjatuh, tubuhnya terhempas ke laut. Marcell, tanpa ragu, melompat mengikuti istrinya. Dia berenang menuju Rihana yang berjuang mempertahankan napasnya.

“Rihana!” seru Marcell, menggapai tangannya. “Aku di sini!”

Rihana merasa terombang-ambing oleh ombak. Air masuk ke paru-parunya, dan dia hampir menyerah. Tapi Marcell datang, memeluknya erat. Dia melindungi Rihana dari gelombang yang mengamuk. Keduanya berjuang bersama, mencari perahu yang terombang-ambing.

Tak lama kemudian, ombak mulai mereda. Marcell menarik Rihana ke perahu yang masih mengapung. Rihana terbatuk-batuk, matanya berkaca-kaca. Marcell mencium keningnya dengan penuh cinta. “Kita selamat, sayang.”

Mereka duduk di perahu, basah kuyup dan lelah. Marcell mengayuh perlahan, membawa mereka kembali ke pantai. Rihana memandang suaminya dengan mata penuh syukur. Dia tahu di tengah badai ini, cinta mereka menguat. Marcell, pria yang rela menghadapi bahaya demi melindungi nyawanya, sebab Rihana adalah segalanya baginya.

Ketika mereka sampai di pantai, Rihana memeluk Marcell erat. “Terima kasih, Kak Marcell. Kau adalah pahlawan sejati.”

Marcell tersenyum. “Kita berdua adalah pahlawan, sayang. Kita selalu akan melindungi satu sama lain.”

Setelah Rihana terbangun dari pingsannya, Marcell segera memberikannya sebutir kelapa muda. Rihana memegangnya dengan tangan gemetar, bersyukur karena masih hidup setelah musibah tadi. Marcell menggenggam tangannya erat, matanya penuh perhatian.

“Kita harus menghilangkan rasa trauma ini,” kata Marcell lembut. “Ayo, kita jalan-jalan ke perkebunan di sekitar pantai. Udara segar akan membantu.”

Rihana mengangguk. Mereka berjalan berdua, melewati hamparan hijau perkebunan. Rihana menikmati setiap hembusan angin, mencoba melupakan momen mengerikan ketika dia tercebur ke laut. Marcell selalu berada disisinya, mengajaknya berbicara, mengalihkan perhatiannya dari bayangan gelombang yang menghantui.

Tiba-tiba, Rihana terkilir kakinya. Nyeri menusuk, tapi Marcell tidak ragu. Dia memijat kaki istrinya dengan lembut, memastikan Rihana merasa lebih baik. Kemudian, tanpa ragu, dia menggendong Rihana menuju penginapan. Rihana terkejut oleh tindakan romantis suaminya. Marcell, pria yang selalu melindunginya, kini menggendongnya dengan penuh perhatian.

Di dalam penginapan, Marcell merawat luka Rihana. Rihana memandangnya dengan mata penuh kagum. “Terima kasih, Kak Marcell. Kau selalu ada untukku.”

Marcell tersenyum. “Kita adalah satu. Kita akan selalu melindungi dan mengasihi satu sama lain.”

Malam itu, di keheningan kamar mereka, Marcell mengambil kuas dan cat. Dia menggambarkan lautan yang mereka lihat hari ini. Rihana duduk di sampingnya, memandangi setiap goresan kuas. Lukisan itu indah, seperti cinta mereka yang tak tergoyahkan.

“Kak Marcell,” bisik Rihana, “aku ingin kembali ke laut. Di sana, aku akan menyerahkan tubuhku, hatiku, dan seluruh hidupku padamu.”

Marcell menatapnya dengan mata penuh cinta. “Dan aku akan selalu menjagamu, Rihana. Di antara gelombang dan lukisan, kita akan bersama selamanya.”

Marcell adalah pria yang memiliki keberanian dan ketulusan yang luar biasa. Dia tumbuh di lingkungan yang keras, di mana dia harus berjuang untuk bertahan hidup. Namun, Marcell tidak pernah kehilangan semangatnya. Dia selalu berusaha menjadi lebih baik, mengasah kemampuannya, dan memperjuangkan apa yang benar.

Di mata orang lain, Marcell mungkin terlihat pendiam dan serius. Namun, di balik wajahnya yang tenang, ada api yang menyala. Dia adalah seorang pejuang yang tak kenal lelah. Ketika Rihana, wanita yang mencuri hatinya, membutuhkan pertolongan, Marcell tanpa ragu melompat ke dalam laut untuk menyelamatkannya. Itu adalah tindakan spontan yang menggambarkan karakternya yang penuh perhatian dan berani.

Marcell juga memiliki bakat seni yang menakjubkan. Dia sering menggambar dan melukis, menciptakan karya-karya yang indah. Lukisan-lukisannya menggambarkan keindahan alam, laut, dan cinta yang mendalam. Bagi Marcell, seni adalah cara untuk mengungkapkan perasaannya, terutama kepada Rihana.

Marcell merasa seperti melayang di antara bintang-bintang. Masa honeymoon bersama Rihana adalah mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Di bawah langit malam yang penuh dengan cahaya gemerlap, mereka menemukan keajaiban cinta.

Rihana, wanita yang mencuri hatinya berbaring di sampingnya. Wajahnya yang lembut dan matanya yang penuh cinta membuat Marcell tak bisa berhenti memandanginya. Mereka telah melewati banyak hal bersama: gelombang yang menghantui, lukisan yang indah, dan kisah cinta yang tak terlupakan.

Kini, di bawah selimut putih yang lembut, Marcell dan Rihana menyatukan tubuh dan jiwa. Detak jantung mereka berpadu, mengalirkan cinta yang tak tergoyahkan. Marcell mencium bibir Rihana dengan lembut, menggenggam tangannya erat.

“Sayangku” bisik Marcell, “kau adalah bintangku. Kita telah menemukan surga di antara gelombang dan lukisan. Aku mencintaimu.”

Rihana tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Dan aku mencintaimu, Kak Marcell. Kita adalah satu.”

Mereka berdua terjaga di bawah langit yang penuh bintang. Cinta mereka mengalir seperti ombak yang tak pernah berhenti. Di antara bintang dan laut, Marcell menemukan arti sejati dari kebahagiaan.

Malam itu, Marcell dan Rihana berdiri di tepi pantai, bulan purnama memancarkan cahaya lembut. Suara ombak mengiringi langkah mereka, menciptakan suasana romantis. Semua terasa sempurna hingga Rihana menemukan sesuatu yang tersembunyi di antara pasir.

Dia membungkuk dan mengambil benda kecil. Marcell memandangnya dengan rasa ingin tahu. Rihana memegangnya dengan gemetar. “Kak Marcell,” bisiknya, “ini adalah Kartu Identitas Pak Mustafa.”

Marcell terkejut. Apa yang dilakukan oleh Pak Mustafa di sini? Misteri ini menggantung di udara dan Marcell dan Rihana bertekad untuk mengungkapnya. apa yang akan dilakukan oleh mereka ? tunggu di bab berikutnya.