Bab 16. Viral

Penulis alend_
07 January 2026

Butuh waktu, hingga tas yang berisi barang pribadi Leona sampai di tangan.

“Terima kasih,” ucap Leona pada Kevin yang mengantarkan tas itu dan langsung menyerahkan ke tangannya.

“Sama-sama, Nona,” balas Kevin dengan menganggukkan kepala ringan. “Nona, sejak tadi ponsel Anda bunyi terus. Sebaiknya, periksa saja, mungkin ada hal yang penting.”

Mendengar ada hal yang penting membuat Leona bergegas mengambil telepon.

“Mungkin ada panggilan kerja baru,” gumam Leona dan masih bisa didengar oleh Noah dan Kevin. Untuk Leona, hal yang paling penting untuknya saat ini adalah panggilan kerja, tak ada yang lain.

Noah menatap wanita itu tak percaya dan Kevin hanya geleng-geleng kepala saja.

“Apa hanya kerja yang ada di otakmu itu?” tanya Noah.

“Iya!” jawab Leona cepat, singkat dan jelas. Tanpa menatap lawan bicara secara langsung.

Leona hendak membuka ponsel ketika dering panggil terdengar dan nama Karina pun muncul.

“Ya, Karina,” jawab Leona tak mau membuat sahabatnya menunggu terlalu lama.

“Kamu di mana? Kamu sembunyi di tempat aman, kan? Di mana? Biar kujemput,” cecar Karina tanpa jeda.

“Karina, ada apa? Tenang dulu. Aku tidak sembunyi, aku memang sedang ada urusan mendadak.” Leona bingung sendiri dengan sikap Karina.

“Bagaimana bisa tenang, kamu viral di internet!”

“A-apa?” Leona tak percaya mendengarnya. “Ba-bagaimana mungkin?”

“Kamu sekarang jadi sasaran netizen!”

Leona masih diam karena bingung, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Aku tidak paham. Kamu bicara apa?” tanya Leona pada akhirnya.

“Kamu tidak paham? Tunggu sebentar, aku kirimkan link-nya.” Secepat Karina mengirimkan link, secepat itu pula Leona menerima link dan langsung membukanya.

“I-ini?” Leona terkerjut mendapati adegan tadi, ketika Noah membopong Leona di pundaknya dan membawa masuk ke dalam mobil.

Berbagai macam opini buruk diberikan untuk Leona. Bahkan, julukan Cinderella pun sudah disematkan untuknya. Kakinya lemas seketika. Tubuhnya pun limbung dan terduduk.

“Leonaaa,” panggil Karina dari seberang telepon.

“Ada apa?” tanya Noah yang langsung saja panik karena Leona tiba-tiba limbung.

Noah melihat Kevin dengan tanda tanya. Kevin hanya menggelengkan kepala.

Leona menangis sambil menatap layar ponselnya dan Noah dengan cepat mengambil ponsel yang sudah tak layak pakai itu. Leona tidak berusaha untuk mengambil, tapi tatapannya sangat kosong dan wajah dibanjiri air mata. Ada ketakutan di sorot muka wanita itu.

“Kevin! Hentikan semua berita ini, hari ini! Secepatnya!” perintah Noah dan langsung menyerahkan ponsel Leona.

Kevin menerima ponsel itu dan langsung membaca berita yang sudah melenceng dari cerita awal.

“Baru sebentar, orang-orang itu sudah mulai menyebarkan rumor palsu. Tuntut semua yang sudah memberikan komentar buruk, jangan ada yang lolos satu pun!” perintah Noah dengan tegas.

“Baik, Pak!” jawab Kevin dan langsung keluar dari unit untuk melakukan tugasnya.

Noah mencoba untuk menenangkan. Namun, tak tahu harus bagaimana. Dia belum pernah berbuat baik pada wanita, kecuali mantan kekasihnya, cinta pertamanya.

Tetapi, kali ini rasanya berbeda. Noah tidak tahu kenapa rasa bersalah terhadap wanita ini begitu besar dan sangat mengganggunya.

Di luar, Kevin segera melakukan pekerjaannya.


Berita di internet memang reda dalam waktu kurang dari 24 jam. Ancaman yang diberikan pun tak main-main, hingga tak ada yang berani untuk berkomentar lagi.

“Kamu belum cerita apa pun,” ucap Karina lebih tepatnya menuntut jawaban.

Leona menatap Karina dengan mata sayu, habis menangis.

“Aku harus cerita dari mana? Semuanya hanya cerita yang membuatku malu saja,” kata Leona pelan. Karina meraih tangan Leona dan menggenggam erat. Menyalurkan kehangatan dan kepercayaan akan persahabatan mereka.

“Cerita saja dari yang kamu ingat, Leona,” nasihat seorang pria bernama Lucian Orion, seorang dokter hewan, pemilik klinik hewan yang terletak tepat di sebelah Kafe Luxy.

Leona menatap pria berusia 42 tahun, seorang pria mapan yang masih saja lajang.

“Dengar tuh, kata Om Dokter.” Karina tersenyum memberikan ketenangan.

“Ini, minum dulu, kopi hitam yang manis untuk Leona dan kopi hitam sedikit gula untuk Karina.” Lucian meletakkan 3 gelas kopi dingin untuk mereka bertiga.

Klinik sudah tutup, sudah hampir petang, semua perawat dan pegawai sudah pulang. Jadi, Karina sengaja membawa Leona ke klinik Lucian untuk berbicara dan mendengar nasihat orang yang lebih dewasa dari mereka. Terlebih lagi, Lucian adalah seorang pria yang sudah memiliki anak, tapi sayang, dia kehilangan anaknya sejak masih baru dilahirkan.

Lucian menganggap Leona adalah putrinya dan Karina adalah sahabat dari putrinya.

Leona mulai bercerita, tidak dari awal. Urutannya tidak sesuai, semua karena dia panik. Namun, Lucian dan Karina dapat memahami cerita itu.

Lucian menyesap kopinya sambil berpikir dan Karina melontarkan makiannya.

“Dasar orang kaya tak punya hati!” maki Karina dengan marah.

Lalu, sesaat kemudian, dia mulai mencoba berpikir tenang.

Lucian tersenyum dan menanggapi, “Memang, orang-orang yang memiliki uang tak terbatas mampu melakukan apa pun. Semua mereka bisa kendalikan, terutama penguasa seperti Keluarga Jasper. Bahkan, pemerintah saja tunduk pada mereka.”

Karina dan Leona hanya bisa terdiam, sadar kalau mereka tak mungkin bisa melawan. Meskipun Karina tergolong dari keluarga kaya, tapi kekayaan keluarga mereka pun tergantung dari para konglomerat ini.

“Jadi, Leona mau melakukan apa?” tanya Lucian dengan nada bicara yang bijaksana.

“Saya tidak tahu, Om,” jawab Leona.

Mereka kembali hening.

“Tapi, Leona sudah tanyakan alasan Tuan Muda Jasper kenapa memilih Leona?” tanya Lucian lagi.

Pertanyaan yang membuat Leona tersadar. Dia bahkan tidak ingat, apakah pernah bertanya perihal ini. Dengan mata bingung, Leona hanya menggeleng.

Tiba-tiba saja terlintas dipikiran Karina satu ide yang menurutnya menguntungkan. “Terima saja, Leona.”

“Maksud kamu?!”

“Leona, kamu bisa kuliah dan nanti bisa kerja sesuai mimpimu. Memang, Grup Jasper tidak bergerak di bidang seni, tapi Tuan Noah itu punya universitas swasta terbaik dan ….” Karina mengambil tabletnya. “Ini, lihatlah ada Fakultas Seni dengan jurusan tujuanmu.”

Leona ikut membaca dan benar saja, Universitas Astralia memang memiliki Fakultas Seni terbaik di negara ini.

Hati kecilnya pun tergugah. Menempuh pendidikan di tempat bergengsi dan berada di urutan teratas. Kilatan matanya menunjukkan keserakahan.

‘Kirana ada benarnya juga, kalau aku minta balas jasa biaya kuliah sebagai balasan tawaran itu, harusnya Tuan Noah tidak akan jadi masalah, kan? Dia punya uang yang tak terbatas. Bisnisnya pun kuat, sangat kuat. Harusnya, biaya kuliah saja, bukan masalah besar untuk dia.’ Hati Leona tergerak, sisi serakah dalam dirinya mulai naik ke permukaan.

Lucian dan Karina melihat binar mata Leona yang berubah.

“Tidak apa, Leona. Hanya 2 tahun saja, tapi kamu bisa kuliah selama 4 tahun. Demi masa depanmu.” Karina mencoba memengaruhi.

“Karina, jangan seperti itu,” sela Lucian.

“Leona, pikirkan baik-baik. Apa pun keputusan kamu, semua ada plus dan minus-nya.”

Lucian benar, tidak bisa asal mengambil keputusan saja.

“Leona harus bisa berpikir dengan bijak ya,” ucap Lucian dengan bijaksana.