Bab 17. Dihujat

Penulis alend_
07 January 2026

Noah sedang dinas ke luar negeri dan selalu membawa Kevin. Sedangkan Leona, berusaha untuk menghilangkan pikiran serakahnya dan memilih berdiri pada prinsipnya.

Leona memutuskan untuk tetap berjuang sendiri.

Beberapa hari berlalu penuh dengan ketenangan. Leona bisa bernapas dengan tenang dan bisa bekerja tanpa harus ada ketakutan.

“Leona, tolong bawakan ini ke customer yang di sana. Kakinya sakit, jadi sulit bergerak,” pinta Danish, pria berusia 25 tahun yang sekaligus senior Leona di Kafe Lux.

“Baik, Kak,” jawab Leona yang sudah melihat ke arah yang ditunjuk oleh Danish tadi.

Capucino panas dan donut toping cokelat dan macha pun dibawa Leona dengan hati-hati. Dengan senyum di wajah, dia meletakkan pesanan untuk wanita yang di sebelahnya terdapat sepasang tongkat kruk.

“Silakan, Nona. Selamat menikmati,” kata Leona tetap dengan senyuman manis di wajah.

“Terima kasih,” jawab wanita itu.

Tadinya, perempuan itu menatap ke luar jendela kaca yang besar. Tapi, ketika dia melihat Leona, ada hal yang membuat dia terkejut. Lalu, dengan cepat memindai Leona, dari atas hingga ke bawah.

“Nama kamu Leona?” tanya wanita itu setelah membaca nama yang tertulis di name tag pada seragam Leona.

Leona merasa bingung. “Iya, Nona, benar.” Tapi, dia masih menjawab dengan sopan.

“Oh!” Tiba-tiba saja, wajah perempuan itu berubah jadi sinis. “Ya, sudah,” jawabnya lagi lalu mengusir Leona dengan tangan kirinya, seperti menghalau seekor lalat saja

Siapa yang sangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini?

Kenapa dia harus diperlakukan seperti ini?

Karena pelayan? Atau, kah, karena dia sangat miskin?

Sehingga, para orang kaya itu memperlakukannya seperti binatang yang menghinggapi aroma yang sangat berbau?

Namun, Leona sadar dia tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Meskipun kafe ini milik saudara sepupu dari sahabatnya, dia tetap harus tahu diri.

Menahan rasa sakit, Leona tetap tersenyum dan mundur perlahan. Lalu, melangkah menuju lorong mengarah ke dapur.

Danish yang sedang bertugas di counter table pun menyaksikan adegan itu. Dia pun geram dan merasa iba pada Leona.

“Leona, tenangkan saja dirimu di ruangan crew ya. Urusan di sini, serahkan padaku, mumpung masih sepi,” ucap Danish menenangkan Leona.

Leona mengangguk dengan senyum getir di bibirnya. Langkah yang dipaksa kuat, meski kaki sudah tak tahan menopang tubuh.

Rekan-rekan kerja Leona yang lain pun menatapnya dengan tatapan yang sama dengan Danish, tapi mereka pun sama, tak bisa melakukan apa-apa pada orang kaya yang duduk dengan angkuh di depan sana.

Mereka sangat mengenal cara kerja Leona yang telaten dan rapi. Dia tak pernah mendapatkan keluhan dari konsumen. Dia juga sering mendapatkan reward karena kepuasan pelanggan terhadap cara kerjanya.

“Ada apa sebenarnya? Kenapa nona itu bersikap kasar pada Leona?” tanya Hannah, rekan kerja Leona yang berusia 23 tahun.

Beberapa rekan yang lain pun ikut bergabung, berjalan dengan tenang dan santai, seolah-olah tidak ada yang salah.

“Tidak ada yang salah, Leona bekerja seperti biasa. Tersenyum dengan ramah, menyapa dengan sopan dan meletakkan pesanan dengan baik,” jelas Danish sambil berpura-pura sibuk merapikan tisu yang memang rapi sejak tadi.

“Lalu, kenapa dia seperti mengusir Leona?” tanya Hannah dengan suara tertahan. Rahangnya merapat karena menahan marah, matanya melirik sinis dan marah sambil tangannya bergerak, berpura-pura merapikan toples-toples berisi biji-biji kopi.

“Aku juga tidak tahu,” jawab Danish yang juga menahan geram dan marah.

“Dasar orang kaya sombong! Memangnya, dia bisa besikap seenaknya?” sambut Albert yang berdiri di belakang Danish.

Serentak, Danish, Hannah dan 2 orang lainnya yang ada di tempat itu melihat ke arah Albert.

“Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Albert bingung.

“Kamu dan keluargamu juga orang kaya, Albert,” sindir Hannah.

“Aku tidak termasuk ke dalam golongan mereka. Aku berdiri di atas kakiku sendiri. Aku bekerja dan memakai tenaga serta keringatku sendiri,” elak Albert cepat.

“Lalu, yang parkir di depan itu apa? Mobil hasil dari gajimu bekerja di sini?” sindir Danish lagi. “Mobil keluaran Italia!”

Mereka yang tadinya marah pun ingin tertawa. Namun, semua harus ditahan karena ada temannya yang sedang terluka.

“Sudahlah, semuanya kembali ke station,” perintah Danish sebagai Crew Leader para pekerja di Kafe Luxy.

Semua menurut dan langsung kembali ke posisi.


Dari pagi hingga selesai jam istirahat kantor, suasana kafe terasa sepi. Saat ini, memang tak banyak yang makan dan minum kopi di kafe. Situasi yang selalu terjadi di tengah bulan. Pekerjaan Leona dan teman-temannya pun tak terlalu berat. Namun, mereka cukup lelah secara emosi, terutama Leona.

Hannah sedang istirahat dan duduk di salah satu meja dengan jaket menempel di badan. Saat itu, dia tanpa sengaja mendengar bisik-bisik konsumen di belakangnya.

“Perempuan miskin itu bekerja di sini.”

“Yang mana orangnya?”

“Aku juga dari tadi cari, tapi dia tidak kelihatan.”

“Mungkin dia lagi off day.”

“Tidak, dia kerja hari ini. Seharian ini, banyak yang memoto dia sedang bekerja dan me-posting di medsos.”

“Coba lihat, mungkin dari banyaknya postingan, ada yang menampilkan wajahnya.”

“Lihat saja di IGram, terus cari namanya, Leona Iris.”

Mendengar nama Leona disebut, Hannah langsung membelalakkan matanya dan tangannya pun bergegas membuka IGram lalu mencari nama Leona.

“Astaga!” Hannah hampir berteriak, tapi dia langsung menutup mulutnya.

Kepalanya pun langsung menoleh ke arah lorong dapur. Spontan, tubuhnya bergerak hingga menimbulkan suara gesekan yang keras antara kaki kursi dan lantai. Beberapa pasang mata menatap ke arah Hannah. Tapi, dia tidak peduli, dia mengabaikan.

Dari arah lorong, tampak Leona berjalan menuju area lobi restoran dengan membawa pelengkapan kebersihan meja.

Tak berpikir terlalu lama, Hannah melesat tak lupa membawa gelas minuman capucino dinginnya dan menahan Leona yang hendak melakukan pekerjaan.

“Ada apa, Kak?” tanya Leona bingung dan tak mengerti. Leona selalu bersikap sopan pada orang yang lebih tua darinya.

“Jangan ke sana, masuk dulu.” Hannah berusaha membawa Leona masuk lebih dalam hingga menuju dapur.

Yang bekerja di dapur, menatap Hannah dan Leona dengan heran.

“Kak, ada apa?” tanya Leona lagi.

“Ini.” Hannah menyerahkan ponselnya yang menampilkan foto-foto Leona yang sedang bekerja.

Leona menatap tak percaya dan mulai membuka satu persatu foto-foto itu, dia juga membaca hujatan demi hujatan, hinaan demi hinaan, serta candaan demi candaan yang justru menghinanya.

Lagi, air mata Leona pun terjatuh dan tubuhnya pun ikut limbung. Syukurnya, Hannah dengan sigap menahan meskipun sedikit kopinya tumpah.

“Leona, masuk dulu ya, ke ruangan crew. Urusan lobi, bisa yang lain. Saat ini, kamu tidak seharusnya ada di depan.” Hannah membujuk Leona.

Leona kembali viral dan kembali dihujat, dimaki dan direndahkan. Dianggap perempuan yang tak layak jika bersanding dengan pria sehebat Noah Jasper.