Bab 18. Masih Saja di Hujat

Penulis alend_
07 January 2026

“Maaf, Leona, apa benar kamu punya hubungan spesial dengan Tuan Noah?” tanya Hannah pelan, takut menyinggung perasaan Leona.

“Tidak.”

Jawaban singkat itu, lantas tak membuat Hannah dan yang lain merasa puas.

“Tapi, kenapa netizen-netizen itu menyerangmu seperti itu?” Danish yang penasaran pun ikut bertanya.

“Aku tidak tahu.” Wajah Leona yang frustrasi benar-benar menunjukkan ketidaktahuannya.

“Mereka jahat sekali! Kalau pun Leona benar ada hubungan dengan Tuan Noah letak kesalahannya di mana?” tanya Albert yang ikut marah.

Danish dan yang lain, yang sedang berkumpul dan berusaha menenangkan Leona menatap Albert dengan penuh tanda tanya.

“Kenapa, memangnya? Leona seorang wanita dan Tuan Noah seorang pria, tidak ada yang salah, kan? Kecuali, berjenis kelamin sama,” sahut Albert bicara tanpa berpikir.

“Benar, Albert. Tapi, bukan itu masalahnya,” sambut Hannah yang geram.

Saat itu juga, Hannah menyadari kesalahannya dalam berbicara dan hampir mengeluarkan kalimat yang mungkin saja menyinggung perasaan Leona.

“Lalu, apa?” Albert kembali bersikeras.

“Tuan Noah dan Leona, jarak usianya jaaauh! Itu masalahnya!” timpal Danish dengan cepat.

Semua mengangguk membenarkan, termasuk Hannah yang akhirnya lega karena Danish membantunya tanpa sengaja. Tapi, tidak dengan Leona.

“Sejauh apa memangnya?” tanya Albert yang sebenarnya ada humor dalam pertanyaan itu, tapi situasinya tidak sesuai.

“Tuan Noah berusia 39 tahun dan Leona masih 21 tahun,” jelas Hannah dengan cepat. “Selisih 18 tahun.”

Albert menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan hanya bisa tersenyum dengan wajah yang meminta maaf.

“Bukan!” Leona bersuara, tak ingin mereka berspekulasi yang aneh-aneh. “Saya itu miskin dan yatim piatu. Bagaimana mungkin saya bisa memiliki hubungan dengan orang kaya sehebat Tuan Noah?” Semua menatap iba pada Leona.

“Kenapa tidak mungkin?” Danish tiba-tiba saja bicara. “Kamu sebenarnya sangat manis, kulit kamu berubah begini juga, kan, karena kamu bekerja sangat keras, bahkan di bawah terik matahari.”

Danish berharap ucapannya itu dapat menghibur Leona dan dia mengatakan dengan sungguh-sungguh.

“Kita tidak tahu apa yang terjadi,” sela Hannah yang paham kalau Leona tak ingin mereka ikut terlibat. “Tapi, kalau Leona butuh bantuan, katakan saja, ya.”

“Iya, Kak Hannah, terima kasih.”

“Sebaiknya, kamu ambil ponselmu. Mungkin, Karina sudah tahu berita ini dan mungkin dia meneleponmu dari tadi,” kata Hannah lagi.

“Ya sudah, kita kembali kerja. Biar Leona di sini dulu, kalau kamu sudah tenang, kamu bisa kembali bekerja. Kalau situasi tidak terkendali, kamu ambil station backsink saja ya.” Danish bersikap sangat bijak.

“Baik, terima kasih, Kak Danish.”

Leona kini sendiri di ruangan para kru dan dia pun mengambil ponsel. Menyalakan dan benar saja, dia disambut banyaknya panggilan tak terjawab dari Karina.

Rasanya, tenaga sudah hilang entah ke mana. Untuk menelepon Karina saja seperti sudah tak bertenaga. Kepala Leona dipenuhi dengan komentar-komentar buruk di internet. Ponselnya dalam mode hening, jadi banyaknya panggilan masuk tak akan mengganggunya. Dia hanya ingin tenang dan sendiri untuk saat ini.

Leona menangis, meratapi diri. Kenapa dia harus ada dalam situasi ini.

“Seandainya, aku tidak tergiur dengan undangan beasiswa itu, aku tidak akan ada dalam situasi ini. Seandainya aku tidak terlalu serakah dan bermimpi terlalu tinggi, saat ini aku pasti akan baik-baik saja dan hidup dengan tenang.”

Saat ini, Leona sangat menyesali kehadirannya dan sangat menyesali menyanggupi untuk menerima undangan waktu itu.

Dia menyesali semuanya, tanpa dia tahu kalau dia sudah menjadi target utama untuk rencana Noah Jasper.

“Tapi, kenapa aku? Kenapa bukan wanita lainnya? Kenapa harus wanita miskin dan yatim piatu sepertiku? Di luar sana ada banyak wanita cantik dan sepadan yang sudah pasti mau menjadi tunangannya!”

Leona semakin merendahkan dirinya. Lalu menelungkupkan badan di atas sofabed yang disiapkan untuk kru yang beristirahat.

Dia menangisi nasibnya.

Melalui telepon, Irvin mengizinkan Danish membiarkan Leona di ruangan sampai jam kerjanya selesai.

Leona yang tertidur sehabis menangis, tersentak bangun karena teringat dia masih jam kerja. “Astaga, sudah jam segini,” ucap Leona yang sudah kehilangan kendali pikiran.

Dia bergerak terlalu terburu-buru dan tulang keringnya langsung menabrak tepi meja kayu. “Arrgghh ….” Leona merintih kesakitan.

Air mata pun mengalir dengan deras. Menangis seperti baru saja terkena sayatan pisau tajam. Tangisannya tertahan, dia tak ingin mengganggu rekan kerjanya. Mereka sudah cukup baik untuk membiarkannya di tempat para kru beristirahat.

Niat untuk kembali bekerja pun ditunda lagi sampai hati dan perasaannya tenang, tapi mata dan wajahnya tentu saja menunjukkan hal yang berbeda.

“Sudah selesai jam kerjaku, tapi hari ini sepertinya aku harus pulang lebih lambat. Harus mengganti jam yang tadi sempat terbuang,” lirih Leona setelah melihat jam dinding.

Namun, ketika matanya menatap pantulan wajahnya di cermin, jelas sekali kalau dia baru saja menangis. Memaksa diri untuk tetap kuat adalah satu-satunya keahlian yang paling dikuasai oleh Leona.

“Leona,” panggil Danish membuyarkan pikiran sedih Leona.

“I-iya, Kak.” Leona terbata sambil menghapus jejak air mata, lalu menoleh ke arah Danish.

Danish tersenyum miris dan tidak tega melihat kru itu, yang paling bersemangat saat bekerja.

“Tadi bos bilang kamu bisa pulang dan istirahat.”

“Hah?!”

“Iya, kamu gak salah dengar kok. Pulanglah,” kata Danish meyakinkan karena wajah Leona menunjukkan sorot muka tak tega.

“Tapi, saya-”

“Tidak apa-apa. Lagipula, sejak tadi tidak terlalu ramai, kok.” Danish berusaha menenangkan Leona.

Padahal, waktu Leona di ruangan kru tadi, ada banyak pelanggan yang terdiri dari wanita-wanita kalangan atas datang dan memesan kopi dan camilan. Tentu saja, itu bukan tujuan utama mereka, melainkan mencari wanita yang sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Untungnya, Danish dan timnya bisa mengatasi semua dengan baik. Mereka berusaha menyembunyikan Leona dengan baik.

“Sudah, kamu tenang saja dan kembali lagi besok, untuk bekerja seperti biasa ya.” Danish tak tega melihat wajah sungkan Leona.

Sejenak ragu, tapi gadis itu pun mengangguk. Dia pun sadar, tak ada gunanya untuk bekerja dengan wajah dalam kondisi buruk seperti itu. Bisa-bisa, konsumen justru tidak nyaman.

Danish meninggalkan Leona. Dan gadis itu pun bersiap-siap untuk pulang, berganti pakaian dan memasukkan pakaian kerja ke dalam keranjang khusus pakaian kotor semua pekerja.


“Enak ya, yang jadi terkenal karena punya hubungan gelap dengan Tuan Muda Jasper,” sindir Cecilia kru magang di bagian dapur. Seorang mahasiswi jurusan tata boga dari Universitas Astralia yang sedang menempuh program magang dari kampusnya.

Leona menatap Cecilia dengan mulut tertutup dan tak sanggup untuk melawan, seperti biasa, jika wanita itu bekerja dengan tidak benar. Tangannya mengepal dengan kuat di kedua sisi tubuhnya.

“Saya heran, apa sih yang menarik dari kamu? Cantik? Tidak! Kaya? Apalagi itu.”