Rasanya Menjadi Milikmu-Aku Model! Bukan Properti-BAB 7

Penulis Ryukaze
12 September 2025

Mobil melaju kencang. Di kursi belakang, Ezra duduk tegak dengan kedua tangan terkepal di pangkuan. Rahangnya mengeras, matanya menatap kosong ke luar jendela. Kota yang ramai di luar kaca tampak kabur, tak lebih dari bayangan. Yang ada hanya satu wajah, Seira. Dan foto-foto sialan itu yang terus berputar di kepalanya.

Penthouse mewah itu sunyi saat Ezra tiba. Ia masuk dengan langkah panjang, membuka jas dan melemparnya begitu saja ke sofa. Matanya berkeliling, mencari sosok yang selalu ia inginkan, sekaligus membuatnya marah setengah mati.

Kosong.

Tak ada suara tumit sepatu beradu dengan lantai marmer. Tak ada aroma parfum khas Seira yang biasanya menyambut. Hanya sepi. Ezra merogoh ponselnya lagi. Pesan-pesan yang ia kirim sejak pagi tetap tak terbaca. Dia menghubungi sekali lagi—dan seperti sebelumnya, tidak ada jawaban. Detik demi detik berlalu, berubah menjadi menit. Ezra duduk di tepi sofa, mengetukkan jarinya di lengan kursi, seperti singa yang sabar menunggu mangsanya datang.

Dan akhirnya, pintu berderit terbuka. Seira masuk. Rambutnya tergerai acak, wajahnya lelah tapi tetap cantik. Di lengannya masih tergantung tas, seakan baru saja selesai dari pekerjaan yang panjang.

“Ezra?” suaranya pelan, sedikit terkejut melihat pria itu sudah menunggu di ruang tengah.

Ezra berdiri. Tatapannya tajam menusuk, seperti pedang yang sudah lama diasah. “Akhirnya kau muncul juga.”

Seira menghela napas. Ia tahu nada suara itu. Nada yang berarti badai. Ia menaruh tasnya dengan hati-hati, berusaha menjaga agar situasi tidak langsung meledak. “Aku baru pulang dari lokasi. Ada jadwal tambahan.”

“Jadwal tambahan?” Ezra memotong dengan tawa dingin. “Atau pria tambahan?”

Seira tertegun, menatap suaminya dengan alis berkerut. “Apa maksudmu?”

Ezra melangkah maju, jarak mereka semakin dekat. “Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku diam saja membiarkanmu pergi ke Bangkok? Aku punya mata, Seira. Aku tahu apa yang kau lakukan di sana.”

Seira menelan ludah. Ia bisa menebak apa yang dimaksud Ezra. Foto-foto itu. Tapi tetap saja, tuduhan itu menusuk. “Itu pekerjaan. Hanya pekerjaan. Jangan membuatnya seolah..”

“Pekerjaan?!” Ezra meledak, suaranya bergemuruh memenuhi ruangan. “Aku lihat foto-fotonya! Kau begitu mesra dengan pria itu! Menyentuh, menatap, bahkan hampir…” Ia menghentikan kalimatnya, giginya terkatup rapat karena amarah. “Kau milikku, Seira. Bukan untuk dipamerkan seperti itu.”

“Aku model, Ezra!” Seira balik meninggi, matanya berkaca-kaca. “Itu pekerjaanku! Kau tahu itu sejak awal kita bertemu!”

Ezra mendekat hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa inci. “Aku tidak peduli. Model atau bukan, aku tidak akan membiarkan siapa pun menempel padamu seperti itu.”

Seira menahan napas. Ada ketakutan, tapi juga ada luka. “Lalu aku harus apa? Berhenti bekerja? Duduk diam di rumah menunggu kau pulang larut malam dari rapat-rapatmu? Menjadi boneka cantik yang hanya bergerak saat kau mau?” Suasana menegang.

Ezra menatapnya lama, lalu suaranya merendah tapi justru lebih berbahaya. “Kau bahkan tidak menjawab pesanku. Tidak mengangkat teleponku. Apa kau terlalu sibuk dengan pria itu?”

“Tidak!” Seira hampir berteriak. “Aku sibuk dengan pekerjaanku. Itu saja. Kau selalu berpikir buruk tentangku, Ezra. Selalu!”

Ezra mengepalkan tinjunya, menahan diri untuk tidak menghantam sesuatu. Nafasnya berat. “Kalau aku kehilangan kesabaran, jangan salahkan aku, Seira. Aku bisa membuat dunia ini runtuh hanya untuk memastikan kau tetap di sisiku.”

Ancaman itu nyata. Ezra bukan pria biasa. Ia punya kuasa, uang, pengaruh—dan jika ia mau, ia bisa membuat karier Seira hancur hanya dengan satu telepon. Seira menutup mata sejenak, air matanya akhirnya jatuh. “Kau… kau bahkan tidak sadar, kan? Aku mencintaimu. Tapi aku juga ingin tetap menjadi diriku. Kita sudah saling tahu selama ini, pekerjaan kita masing-masing. Kenapa  kau jadi makin aneh sekarang.”

Ezra tercekat sesaat. Kata-kata itu mengenai sesuatu di dalam dirinya. Tapi egonya terlalu besar untuk mengakuinya. “Kalau kau mencintaiku, buktikan. Jangan biarkan pria lain menyentuhmu.”

Seira menggeleng, melangkah mundur. “Cinta bukan berarti aku harus kehilangan diriku sendiri, Ezra.”

Keheningan berat turun di antara mereka. Ezra akhirnya berbalik, menahan amarah yang hampir meluap. Ia tahu kalau terus menekan, ia mungkin akan benar-benar kehilangan kendali. “Kau membuatku gila, Seira. Kau bahkan tidak tahu betapa aku membencinya… melihatmu di samping pria lain.”

Seira diam saja, ingin membalas mengatakan jika dia juga bisa gila jika Ezra berubah mencintainya seperti ini. Jam dinding berdetak lambat, tapi ruangan tetap terasa sesak. Ezra akhirnya melangkah keluar ke balkon, menyalakan rokok, menghembuskan asap dengan keras. Bahunya tegang, matanya menatap jauh ke bawah kota. Ia butuh menenangkan diri atau setidaknya berpura-pura bisa tenang.

**

Seira berdiri di ruang tengah. Dia menatap punggung Ezra, pria yang ia cintai, tapi juga pria yang kini membuatnya merasa sendirian bahkan saat mereka berada dalam ruangan yang sama. Seira menghela napas, menguatkan diri. Dia berjalan menuju lemari pakaian. Langkahnya tidak tergesa, tapi jelas penuh tekad. Tangannya terulur, membuka pintu lemari, mengambil beberapa potong pakaian, dan meletakkannya di atas ranjang.

Ezra masih di balkon, membelakangi ruangan. Asap rokok terakhir yang ia hisap menghilang bersama hembusan angin malam. Tapi telinganya tajam, menangkap bunyi gesekan resleting. Suara koper terbuka. Rahangnya menegang. “Kau mau ke mana?” tanyanya dari luar, nada suaranya tenang tapi berat, seperti batu yang dilempar ke dalam danau.

Seira tidak berhenti melipat gaun yang diambilnya. Dia hanya menghela napas, lalu menjawab dengan suara stabil, “Aku ada pemotretan.”

Tidak ada tambahan penjelasan. Tidak ada penekanan. Hanya kalimat pendek, cukup untuk menjawab tapi sekaligus menjaga jarak. Ezra berbalik. Matanya menatap ke dalam ruangan, melewati pintu kaca besar yang menghubungkan balkon dengan ruang tengah. Dilihatnya istrinya sibuk memasukkan pakaian satu per satu ke koper, seolah yang barusan terjadi di antara mereka hanyalah percakapan biasa. Rokok yang masih tersisa di tangannya ia lempar begitu saja ke lantai balkon, menghentakkan tumit sepatunya hingga bara merah padam.

Rahangnya bergerak kaku. “Kita belum selesai bicara soal foto itu.”

Seira mengangkat kepalanya sesaat, lalu menunduk lagi. Jemarinya sibuk merapikan baju. “Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semakin banyak aku bicara, kau hanya akan menuntut dan mengikatku.”

Kalimat itu membuat dada Ezra semakin panas. Ia melangkah masuk, pintu kaca dibanting hingga bergetar. “Kau pikir aku bisa membiarkanmu begitu saja?!”

Seira tetap tenang, atau berusaha terlihat tenang. “Aku harus pergi. Kesepakatan sudah dijalankan. Aku harus memenuhi tanggung jawabku.”

Suaranya datar, tanpa henti melanjutkan gerakan tangannya, melipat dan memasukkan pakaian. Ezra menatapnya lama. Amarah menggelegak di dadanya, tapi ia juga terlalu lelah. Tiga hari berturut-turut ia dipaksa menghadapi rapat-rapat yang menguras energi. Kepalanya berdenyut, tubuhnya kaku. Ia butuh istirahat, dan yang paling ia butuhkan sekarang adalah kehadiran Seira.

Dengan suara rendah, hampir bergumam tapi penuh penekanan, ia berkata, “Aku sedang lelah, Seira. Aku tidak ingin pertengkaran. Aku butuh kau.”

Seira berhenti sejenak, lalu menoleh. Tatapannya tajam, matanya berkaca tapi bibirnya tetap tegas. “Kalau kau bisa lakukan apa pun yang kau mau, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Tanpa harus menuntutku. Kau lelah? Istirahatlah. Aku masih ada pekerjaan.”

Sebuah tamparan tak kasat mata mendarat di dada Ezra. Untuk pertama kalinya, kata-kata itu membuatnya terdiam. Sesuatu di dalam dirinya berteriak ingin mengakui, ingin berkata ia tidak butuh dunia, tidak butuh rapat, tidak butuh kekuasaan, ia hanya butuh Seira. Tapi egonya terlalu keras untuk runtuh begitu saja.

Seira menutup koper dengan suara klik. Ia menarik resletingnya hingga rapat. Suara gesekan itu terdengar jelas di ruangan sunyi, seperti sebuah pengumuman.

Selesai.

Ia menggenggam pegangan koper, lalu mulai menyeretnya menuju pintu.

Langkah kakinya mantap. Gaung roda koper beradu dengan lantai marmer. Ia tidak melihat ke belakang, tidak menunggu reaksi.

Tapi sebelum ia sempat melangkah jauh, sebuah tangan besar menangkap pergelangan tangannya dengan keras. Tarikannya begitu mendadak hingga tubuh Seira sedikit terhuyung.

“Ezra!” pekiknya, terkejut.

Ezra menariknya mendekat, wajahnya gelap, matanya menyala. Suaranya rendah tapi mengancam, seolah setiap kata keluar dari dasar neraka. “Kau tidak akan selangkah pun pergi dari sini tanpa seizinku.”

Seira mencoba menarik tangannya, tapi genggaman Ezra tak bergeming. “Lepaskan aku!”

Ezra mendekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan. Nafasnya berat, penuh tekanan. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Kau pikir aku bisa tidur tenang, tahu kau ada di luar sana bersama orang-orang yang menatapmu seperti… seperti mereka berhak menyentuhmu?”

Seira menatapnya dengan sorot mata tajam, air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. “Ini bukan tentang mereka, Ezra. Ini tentang aku. Tentang siapa aku, tentang mimpiku. Kau tidak pernah mendengarku. Tidak pernah.”

Ezra terdiam sejenak. Kata-kata itu menohok. Tapi genggamannya tetap kuat.

Seira mengusap pipinya yang basah dengan tangan bebasnya. “Kalau kau benar-benar butuh aku, berhentilah memperlakukan aku seperti properti. Berhentilah menahanku.”

Suasana membeku.

Ezra menggertakkan giginya, rahangnya bergerak kaku. Dalam dadanya, ada pergulatan hebat: antara cintanya yang dalam dengan egonya yang menolak kalah. Ia ingin melepaskan, tapi ia juga takut jika ia melepaskan, Seira akan benar-benar hilang. Detik-detik terasa panjang.

Seira berusaha memberontak melepaskan diri. Dia meraih kopernya lagi, melangkah ke arah pintu. Tubuhnya bergetar, tapi ia tetap berjalan. Pintu itu hampir terbuka. Hanya tinggal satu tarikan lagi, Seira bisa meninggalkan penthouse, meninggalkan semua tekanan dan bara yang nyaris melahapnya hidup-hidup.

Namun sebelum ia sempat melangkah keluar, suara berat Ezra menggema dari belakang.

“Cukup.”