Drama

Bab 19. Dukungan dari Rekan

Penulis alend_
07 January 2026

“Tentu saja, Leona ini seseorang yang pantas disebut sebagai seorang wanita. Pekerja keras, mandiri, tidak mengandalkan orang lain.” Albert yang membalasnya.

Tangan kanan Albert merangkul akrab pundak Leona. “Tidak seperti seseorang! Sudahlah cuma magang kerja, tapi kelakuannya itu seperti pemilik kafe saja. Sepertinya wanita itu tidak butuh nilai yang bagus untuk kelulusannya,” sindir Albert yang tentu saja ditujukan kepada Cecilia.

Mata Cecilia membola lebar dan ingin marah. Namun, mulut tajam Albert sungguh sangat mengerikan.

“Mentang-mentang ayahnya punya uang banyak untuk membangun bisnis kafe, jadi dia pikir sama saja.” Albert bicara pada Cecilia, tapi mata menatap Leona. “Ah, nanti juga bangkrut dengan sendirinya.”

Semua yang mendengar menahan tawa. Selain Albert, tidak ada yang memiliki keberanian mengatakan itu. Mereka semua merasa tidak pantas jika harus melawan Cecilia hanya karena status saja. Berbeda dengan Albert, dia juga anak dari keluarga kaya, tapi memang selalu didik dengan keras untuk bisa bekerja.

“Pak Irvin juga bukan orang yang baik, sebenarnya. Tidak akan bisa mendapatkan nilai dengan mudah kalau tidak bisa bekerja. Bagaimana kalau universitas tahu ya, mereka punya mahasiswi pemalas seperti ini?” Albert kali ini menatap tajam pada Cecilia.

Mahasiswi yang sedangkan dalam program magang itu pun membalas Albert dengan tatapan tajam.

“Oh, ya? Kalau pun tahu, mereka bisa apa?” tantang Cecilia lagi.

“Wah, sepertinya Tuan Noah harus tahu nih.” Albert merasa di atas angin.

Apalagi, saat menatap Cecilia yang masih belum tahu sesuatu.

“Apa hubungannya?” Cecilia tentu tak mau kalah.

“Tuan Noah itu pernah makan masakanku,” sahut Chef Rhinata yang baru saja datang untuk bekerja.

“Sebelum kamu ada di sini, Tuan Noah dan sekretaris pribadinya yang kejam, dingin dan tampan itu pernah datang ke kafe ini hanya untuk menemui Leona.”

Rhinata membanggakan Leona.

“Sejak saat itulah, kami pun akhirnya membuat menu khusus untuk kafe ini. Jadi, kamu jangan meremehkan Leona ya. Tuan Kevin saja tidak berani, kenapa kamu sangat berani pada Leona? Tuan Kevin itu bahkan tidak berani menatap mata Leona secara langsung.”

“Betul sekali,” sambut pegawai lainnya dengan serentak.

Cecilia memang baru memulai magangnya di Kafe Lux, jadi dia tentu saja tidak tahu tentang kehadiran Noah dan Kevin.

Leona pun baru tahu kalau Kevin ternyata tidak menatap matanya secara langsung.

‘Ah, mana mungkin. Chef Rhinata pasti hanya mengada-ada saja,’ kata Leona dalam hati.

Namun, mahasiswi sombong itu tak percaya. “Kalau benar, kenapa tidak ada yang membicarakan Tuan Noah dan Tuan Kevin pernah ke sini?” Cecilia tak mau kalah.

“Hahaha ….” Chef Rhinata tertawa terbahak-bahak. “Karena kami tahu yang namanya privasi dan kami semua di sini saling menjaga. Coba kamu bayangkan, bagaimana jika semua orang tahu kalau Tuan Noah dan Tuan Kevin pernah makan dan menikmati siang di kafe ini? Kafe ini pasti sangat ramai. Kamu tidak akan kami terima di sini!” tegasnya lagi yang sudah lelah sama anak manja ini.

“Bukan tidak pernah membicarakan, Chef,” ralat Danish dengan cepat. “Pernah heboh, tapi dalam waktu kurang 24 jam, berita itu hilang. Tentu saja semua berkat kerja Tuan Kevin. Kamu tidak tahu, sih, waktu kemarin heboh. Padahal cuma beberapa waktu saja, kami di sini keteteran melayani pelanggan.”

“Uh, lelah sekali waktu itu,” lanjut Danish. “Tapi, lumayan juga. Kita jadi dapat insentif harian.”

Cecilia kehabisan kata-kata. Leona yang dibela pun merasakan ketenangan.

Melihat reaksi Cecilia, tentu saja Albert tidak akan tinggal diam. Seperti seorang yang punya dendam lama, Albert berusaha menghancurkan harga diri Cecilia. Dia benar-benar sudah muak.

“Kutunjukkan sesuatu kepada mahasiswi dari Universitas Astralia ini.” Albert menemukan sesuatu dan mengambil ponselnya dari saku dan membuka galeri. “Kamu harus melihat sesuatu.” Dia pun mendekat ke Cecilia dan mengarahkan ponselnya tepat di depan wajah gadis angkuh itu. “Ini Tuan Muda Jasper dan Tuan Kevin dan di situ ada Leona sedang duduk bersama mereka berdua. Eits … ini bukan foto editan. Ini asli! 100% nyata, no edit-edit. Kalau kurang, ada rekaman CCTV yang sengaja kami simpan hanya untuk kenang-kenangan.”

Rasanya, Cecilia ingin sekali membanting ponsel itu dan mengganti dengan ponsel keluaran terbaru dan paling mahal, masalah selesai. Tapi, begitu melihat merek dan tipe, Cecilia membatalkan niatnya. Meskipun dia kaya, dia tidak akan sanggup untuk membeli ponsel edisi terbatas itu.

Awalnya, dia pikir mobil mewah yang selaalu parkir di depan kafe adalah milik pelanggan tetap, tapi ternyata milik kru yang berasal dari keluarga kaya raya.

“Kalau begitu, kami pulang dulu ya dan kamu, selamat bekerja,” ucap Albert sambil menepuk-nepuk pelan pundak Cecilia. Bukan untuk memberikan semangat, tetapi sebuah sindiran.

Leona yang mentalnya sudah hancur sejak tadi, kini merasa sedikit membaik.

“Nona Leona, mari saya antarkan sampai di depan rumah,” ajak Albert.

“Hah?!” Leona terkejut mendengar ajakan itu.

Albert sangat mengenal kepribadian Leona yang tidak suka memanfaatkan teman untuk urusan pribadi. Tahu, kalau Leona pun tidak akan memanfaatkan teman kaya hanya untuk hasrat pribadi.

“Pulang. Jam kerja kita sudah habis,” ajak Albert lagi sambil menarik pelan lengan Leona.

Sebelum mereka berdua bertemu orang-orang yang sedang makan dan minum, Albert memakaikan boni hitam di kepala Leona.

Leona menatap Albert dengan mata yang bingung dan bertanya-tanya.

“Ini hanya untuk berjaga-jaga saja.” Albert menjelaskan maksudnya. “Kita tidak bisa keluar dari pintu belakang, hari ini ada barang masuk. Kamu sendiri paham, seperti apa sibuknya kalau ada barang yang masuk.”

Leona mengangguk dan memahami tujuan Albert. Kali ini, dia tidak menolak dan mengangguk, menerima kebaikan Albert.

Albert pun mengeluarkan kunci mobilnya dan menekan tombol kunci untuk membuka pintu mobil.

Tit tit

Suara dari arah mobil sangat besar, sehingga berhasil mengalihkan perhatian orang-orang ke arah luar. Pegawai yang ada di sana hanya tersenyum. Ide Albert untuk mengalihkan perhatian pun berhasil

Di pintu kaca, sudah berdiri Hannah yang berpura-pura sedang bekerja. Dia membuka pintu dengan sengaja.

“Ayo pulang!” Albert tak ingin membuang-buang waktu.

Dengan sedikit berlari, mereka berhasil keluar. Albert membuka pintu mobi untuk Leona dengan cepat lalu menutupnya.

Semua yang datang ke kafe hanya untuk melihat wajah Leona secara langsung pun berhasil terkecoh. Mereka yang waspada sejak tadi kehilangan kesempatan.

Hanya menyaksikan wanita yang sedang mereka cari sudah masuk ke dalam mobil mewah.

Albert melambaikan tangan kanan ke arah mereka dengan senyum manis sambil mengedipkan mata kirinya.

“See ya ….” Albert berteriak dari arah luar, kemudian masuk ke dalam mobilnya.

“Terima kasih, Kak.”

“Sama-sama, Leona. Kita harus saling membantu, kan? Sesama teman kerja harus saling mendukung.” Albert tidak pernah berbicara dengan serius dan bijaksana. Saat mengatakan kalimat itu, dia merasa kali ini sudah memberikan kata bijak yang luar biasa.

Dan Leona, benar-benar bersyukur kalau hari ini dia bisa pulang dengan tenang dan bisa berpikir dengan tenang juga.