“Jadi ini perempuan yang dipilih oleh Noah?”
Alice Silas, wanita berusia 39 tahun yang selalu mengejar dan mencintai Noah selama 20 tahun hidupnya, menatap tidak percaya pada foto yang ditunjukkan oleh sahabatnya, Seraphina Winter.
“Tentu saja,” jawab Seraphina santai. “Kemarin aku sengaja datang ke kafe itu. Aku amat sangat penasaran pada wanita yang digendong Tuan Noah.”
“Dan kamu menyebarkan foto wanita miskin ini?”
“Tentu saja, Alice. Supaya dia tahu tempat yang layak untuknya. Lihatlah, sekarang wanita itu pun jadi sasaran para netizen.”
“Seraaa, kamu memang sahabat terbaikku.” Alice memeluk Seraphina dengan semangat dan senyum lebar di wajahnya pun muncul.
“Aku mau kamu bahagia, Alice.” Seraphina membalas pelukan Alice. “Hanya kamu yang pantas bersanding dengan Tuan Noah.”
Mereka bersahabat sejak masih usia remaja. Saling mendukung dalam banyak hal dan selalu terbuka tentang orang yang disukai.
Seraphina sudah beberapa kali berganti pasangan ketika masih masa-masa berpacaran dan sudah dua kali bercerai, tapi Alice selalu setiap dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Alice berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Dia sendiri berhasil membangun kerajaan kecil untuk bisnisnya yang berfokus pada wanita dan tentunya dengan pangsa pasar wanita-wanita kaya. Pintar, cerdas, juga hebat dalam berbisnis, tapi Noah sama sekali tak melirik padanya.
“Tapi, bagaimana kalau Noah tahu kamu sengaja melakukan ini?” Alice tentu saja khawatir pada Seraphina.
“Tenang saja, aku membayar buzzer yang sangat ahli dalam hal ini. Nanti, perempuan miskin itu akan mundur dengan sendirinya.”
“Jika semua ini berhasil, aku akan membalas kamu dengan sangat baik.”
“Alice, sudahlah. Selama ini kita saling mendukung, itu sudah cukup untukku.”
“Apa kali ini akan berhasil? Berita kemarin saja ditutup sama bajingan Kevin itu!” gerutu Alice geram bercampur marah.
Dari sorot mata Alice, tergambar dengan jelas kebencian pada Kevin.
“Tenang saja, Tuan Noah ada di luar negeri saat ini dan lihat saja, tidak ada pergerakan dari mereka, kan?” Seraphina begitu sangat meyakinkan.
“Bagaimana kamu tahu?! Jadwalnya, kan, sangat rahasia.”
“Hahahaha … kamu lupa siapa wakil dari Kevin?”
Alice membelalak kaget. “Dia mau membantuku?”
“Tidak, Alice. Perempuan itu tidak akan mau memberitahukan apa pun tentang Tuan Noah dan pekerjaannya. Aku tidak sengaja mencuri dengar waktu kemarin ada acara keluarga.”
Alice mengangguk mengerti. Dia sangat tahu, perempuan kaku dan cupu bernama Elara Malachy, sepupu Seraphina-dari pihak ibu-sangat membenci sahabatnya itu.
“Dia sangat membenciku, bahkan seluruh keluarganya. Semua itu karena aku,” lanjut Seraphina dengan wajah sendu.
Alice tahu kalau Seraphina benar-benar sangat sedih dan ada penyesalan dalam diri sahabatnya itu.
“Sera, aku yakin kok. Nanti, suatu saat, dia akan berbaikan dengan kalian kok,” hibur Alice. Seraphina hanya mengangguk, tapi tahu Elara tidak akan pernah mau memaafkan dia dan keluarga besarnya.
Cukup lama mereka berdua berbicara, sampai-sampai lupa waktu dan mereka tersadar saat sekretaris Alice masuk.
“Ah, aku harus kembali ke ruanganku,” kata Seraphina dan mengambil tongkat kruknya.
“Bagaimana dengan kakimu?” tanya Alice yang terlihat khawatir.
“Kamu tahu sendiri.”
Seraphina mengedipkan mata. Alice hanya tersenyum dan menahan diri. Ada orang lain di ruangannya.
‘Dasar Sera. Ada saja idenya, sampai berpura-pura kecelakaan dan memakai gips,’ kata Alice dalam hati.
Alice pun melanjutkan kerjanya hingga malam menyentuh larut. Dia memang selalu bekerja keras. Tak ingin dianggap hanya nona kaya raya saja. Tambah lagi, dia juga mengincar posisi ahli waris di Keluarga Silas.
Untuknya, ahli waris tak harus selalu pria.
Dia, seorang wanita, sangat layak menjadi calon tunggal ahli waris The Silas’, kerajaan bisnis milik leluhurnya.
“Ayah sudah gagal, tapi tidak denganku. Tambah lagi, Kak Rita hanya bisa terikat masa lalu.
Bahkan, suaminya pun tidak bisa diandalkan.” Alice bermonolog. “Dan Noah, tetap hanya akan menikahiku saja. Lalu, Silas akan bersatu dengan Jasper.”
Sudah ada dalam angannya. Pernikahan mewah dengan konsep kerajaan ala Eropa akan digelar dan dua keluarga konglomerat akan menjadi satu.
“Dan saat itu terjadi, maka aku bisa disamakan dengan Ratu, kan?”
Obsesi Alice tak hanya Noah seorang, tapi hasrat menjadi wanita terhormat yang bahkan melebihi kehormatan dari istri Presiden.
Saat berangan tentang masa depannya, tiba-tiba bayangan orang-orang yang meremehkannya pun melintas di benak. Ekspresi pun berubah.
Wajah lelah yang awalnya tampak bahagia, berubah menjadi marah, terluka dan penuh dengan rasa sakit. Dendam yang ditahan begitu lama, semakin menambahkan kebencian dan hasrat untuk berada di puncak kejayaan.
Namun, sosok wanita muda yang tiba-tiba muncul entah dari mana membuat posisinya terancam. Jika sebelumnya ada banyak perempuan yang mencoba untuk mendekati Noah, Alice tidak peduli sama sekali.
“Semua perempuan-perempuan itu ditolak oleh Noah dengan tegas. Dan semua perjodohan pun diatolak tanpa memedulikan latar belakang keluarga.”
Alice menuang red wine ke dalam gelas dengan marah dan langsung menenggak tanpa jeda. Seolah-olah dia minum segelas air saja.
“Kenapa Noah memilih perempuan rendahan dan miskin? Perempuan itu pun jorok, hitam dan tak cantik! Apa yang sudah dilakukan oleh perempuan itu?” teriak Alice dan memecahkan keheningan malam di ruang kerjanya.
“Apa yang harus kulakukan ke perempuan miskin itu? Perempuan miskin tidak tahu diri!” maki Alice lagi.
Suasana hati Alice tiba-tiba berubah. Tadinya berangan indah, kini harus terjun menuju dasar mimpi buruk.
Dia membayangkan Leona dengan kulit hitamnya memakai gaun pengantin yang mewah dan mahkota, berjalan menuju altar.
Dan Noah, dia menunggu di sana, menyambut pengantin wanitanya.
“TIDAAAK!” Alice meradang.
Beberapa saat kemudian, senyum mengerikan terbit di garis bibirnya.
“Noah pasti hanya akan menikahiku saja. Dia bisa bermain-main dengan perempuan mana pun. Tapi, hanya aku yang akan diakui sebagai istri sah dari Noah Jasper!” ucapnya dengan lembut.
Sadar kalau kali ini perempuan yang dekat dengan Noah tidak bisa dianggap remeh olehnya, dia pun tak akan menganggap remeh. Ada sesuatu di dalam kepala. Dan berpikir akan melibatkan orang lain untuk menjalankan rencana.
“Sudah malam, aku pulang dulu dan besok akan kupikirkan caranya.”
Alice tak ingin sampai rumah hingga menyentuh dini hari. Dia menelepon sopirnya yang sudah dan menyuruh menunggu di pintu utama.
Di perjalanan, Alice sudah sangat lelah, baik pikiran maupun fisik. Tapi, isi kepalanya masih mencari orang yang tepat untuk menjalankan rencananya.
“Ada yang Anda pikirkan, Nona?’ tanya Dhani, sopir Alice yang tampan dan gagah, sekaligus pengawal pribadinya.
Alice menoleh, lalu tersenyum. “Apa sepupumu masih melakukan pekerjaan sepele?” tanyanya yang sudah menemukan rencana untuk perempuan yang bersama Noah.
“Jika uang yang diterimanya sepadan, pasti dia akan melakukannya.”
“Tentu saja sepadan.” Alice meregangkan tubuhnya. “Suruh dia temui saya di private room Hotel Cali.”
Dhani mengangguk saja dan paham dengan tugasnya.