Drama #Drama #roman

Jam Berdetak Kencang di Dadaku

Penulis Gwen
07 January 2026

Jam. Satu hal kecil di sudut kuitansi itu. Angka yang selama ini selalu kupikir hanya angka, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang bisa meremas jantung orang.

Dua jam sebelum Ayah meninggal. Aku mengulangnya dalam kepala. Dua jam. Bukan lima menit. Bukan semalam sebelumnya. Dua jam.

Cukup dekat untuk disebut kebetulan yang aneh. Cukup jauh untuk menyelipkan kemungkinan apa pun.

Aku duduk dengan tubuh membungkuk, siku bertumpu pada lutut. Kuitansi itu terlipat di telapak tanganku. Aku ingin merobeknya. Aku juga ingin menyimpannya. Aku tidak melakukan keduanya.

Aku hanya menatapnya, seperti menatap seseorang yang memegang sebuah rahasia dan menolak bicara.

Aku berbicara pelan, hampir seperti mengaji pada diriku sendiri:

“Jadi hari itu… Tante bertemu Rian di hotel… dua jam sebelum Ayah pergi…”

Aku berhenti. Aku tidak berani menyelesaikan kalimat itu.

Sebagian dari diriku langsung ingin berlari ke arah tuduhan paling gelap. Bagian lain menahan. Pisces dalam diriku memintaku bernapas dulu. Tidak semua cerita berjalan lurus dari “A” ke “kesimpulan yang paling menyakitkan”.

Aku memejamkan mata. Aku tidak sedang mencari siapa yang salah. Aku sedang mencari apa yang terjadi. Itu dua hal yang berbeda.

Aku tidak tidur malam itu. Aku hanya berganti posisi dari duduk ke berbaring lalu ke duduk lagi. Dinding menjadi teman bicara bisuku. Waktu bergerak aneh, kadang cepat, kadang berhenti sama sekali. Sekitar pukul dua pagi, aku bangkit. Aku berjalan ke kamar kerja Ayah sekali lagi.

Kamar itu seperti botol berisi udara masa lalu. Setiap kali kubuka, kenangan yang sebelumnya tenang mulai bergerak. Aku duduk di kursinya. Aku memutar kursi sedikit ke kanan, kebiasaan Ayah saat mencari ide dan aku tak pernah mengerti kenapa.

Di atas meja ada telepon rumah kecil. Tidak banyak yang masih menggunakan telepon rumah, tapi Ayah tetap mempertahankannya. Katanya, “Beberapa percakapan penting sebaiknya tidak berakhir sebagai notifikasi.”

Aku menatap benda kecil itu. Pisces dalam diriku berbisik pelan, lihat catatan panggilan. Tanganku bergerak sebelum pikiranku sempat menolak.

Aku menekan tombol kecil untuk melihat riwayat. Deretan angka muncul satu per satu. Beberapa nomor ku kenal. Beberapa tidak. Lalu ada satu baris terakhir, dengan waktu yang tidak asing. Jam yang sama. Dua jam sebelum Ayah meninggal.

Aku mendekat. Napas menempel di tenggorokanku. Nomornya tidak asing. Tidak.

Nomor itu bahkan hafal di tubuhku, bahkan jika aku kehilangan ponsel besok dan semua daftar kontak hilang. Nomor itu adalah Rian. Dadaku seperti dihantam sesuatu yang tidak terlihat. Aku memandang angka itu lama sekali, mencari kemungkinan kesalahan teknis, kerusakan jaringan, apa saja yang bisa kupakai untuk menyangkal. Tidak ada. Hanya angka. Nyata. Diam. Menyakitkan.

Ayah menghubungi Rian dua jam sebelum meninggal. Tidak Ibu. Tidak aku. Tidak keluarga. Rian. Aku bersandar ke kursi. Aku merasa seperti seseorang yang baru saja menemukan pintu lain di dalam rumah yang selama ini sudah kuhafal setiap ruangnya.

Dan pintu itu terbuka. Pagi datang tidak dengan matahari tapi dengan suara sendok mengenai piring dari dapur. Aku turun. Ibu duduk di meja makan. Ia terlihat lebih tua beberapa hari ini — atau mungkin aku baru menyadarinya sekarang. Keriput di sudut matanya lebih dalam, bahunya lebih turun sedikit.

“Pagi, Bu,” kataku.

“Pagi,” jawabnya, berusaha tersenyum.

Aku duduk. Aku tidak langsung makan. Aku hanya memperhatikan punggung tangannya yang mulai dipenuhi urat. Tangan yang dulu menuntunku berjalan, tangan yang sekarang berusaha menahan sebuah rumah agar tidak benar-benar runtuh.

“Bu,” kataku pelan.

“Ya?” Ia menoleh.

“Ayah… sebelum meninggal… telepon siapa?”

Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang kuprediksi. Ibu terdiam.

Sendok di tangannya berhenti sepersekian detik, hal kecil, tapi cukup. Ia menaruh sendok perlahan di piring, seperti seseorang yang menyerahkan senjata kecil.

“Kenapa kamu tanya begitu?” suaranya hati-hati. Aku menelan ludah.

“Karena aku menemukan sesuatu di kamar Ayah,” jawabku jujur.

Ibu melihat ke arah ruang kerja sebentar, lalu kembali menatapku. “Telepon terakhir Ayah…” katanya pelan, “tidak sempat kami bicarakan.”

Aku mendekat sedikit.

“Siapa?” tanyaku. Ia menunduk.

“Bukan Ibu?” tanyaku lagi. Ia menggeleng.

“Bukan aku?”

Ia kembali menggeleng. Hatiku berdebar keras. Aku hampir berbisik.

“Rian?” Ibu mengangkat wajahnya perlahan. Di matanya, ada sesuatu antara terkejut dan lega karena tidak perlu menjadi orang yang mengatakan namanya lebih dulu.

“Kamu sudah tahu,” katanya pelan.

Aku tersenyum kecil tanpa rasa.

“Belum,” jawabku.

“Aku baru tahu namanya. Belum tahu ceritanya.”

Ibu meremas ujung taplak meja.

“Waktu itu…” katanya, “Ayahmu terlihat gelisah. Ia menutup pintu kamar kerjanya. Sesaat kemudian aku dengar suara telepon. Aku tidak tahu ia bicara dengan siapa. Aku hanya tahu… setelah telepon itu, ia terlihat lebih tenang.”

Lebih tenang. Kata itu menempel di pikiranku.

“Bu,” kataku pelan, “apa Ayah bilang sesuatu sebelum..”

Suara Ibu memotongku. “Dia cuma bilang satu kalimat,” katanya. “‘Semuanya akhirnya pulang ke tempatnya masing-masing.’”

Aku menggenggam pinggiran kursi. Kata-kata itu seperti kunci kecil lain yang meluncur ke dalam lubang yang belum tahu milik pintu yang mana.

“Bu,” kataku lagi, “kalau suatu hari aku tahu sesuatu yang mungkin menyakitkan… Ibu mau dengar?” Ibu menatapku lama.

“Mau,” katanya.

“Selama kamu juga mau dengar sesuatu yang mungkin menyakitkan Ibu.”

Aku mengangguk pelan.

Kami berdua tersenyum. Senyum orang yang tahu bahwa kebenaran tidak datang untuk memanjakan siapa pun. Aku masuk kamar. Aku duduk di lantai. Aku menatap ponsel.

Nama Rian berada di layar sebelum aku memutuskan untuk memanggil. Ibuku benar tadi: tubuh mendahului pikiran untuk hal-hal tertentu. Telepon tersambung.

“Hallo?” suara itu muncul, sedikit serak, seperti kurang tidur.

“Rian,” kataku.

“Ani?” Nada suaranya berubah, seperti refleks. “Kamu kenapa?”

“Aku mau tanya,” kataku.

“Oke,” katanya pelan. “Aku dengar.”

Aku mengatur napas.

“Ayahku,” ucapku pelan, “dua jam sebelum dia meninggal… menelepon kamu?”

Sunyi. Bukan sunyi sinyal. Sunyi orang yang tidak lagi bisa bersembunyi di balik kalimat-kalimat aman.

“Ya,” katanya akhirnya.

Aku menutup mata. Hanya satu kata, tapi cukup.

“Kenapa?” tanyaku pelan. Bukan teriak. Bukan memaksa. Hanya ingin tahu.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya pelan.

“Mulai dari awal,” kataku, suara itu terasa bukan suaraku sendiri. Rian menarik napas.

“Ayahmu tahu soal aku dan Sisca,” katanya. Kata itu mengenai dadaku, tapi tidak menghancurkan. Lebih seperti membuka.

“Sejak kapan?” tanyaku.

“Sejak sebelum kamu tahu,” jawabnya jujur.

Aku tertawa kecil, bukan karena lucu.

“Tentu saja,” gumamku.

Rian melanjutkan. “Dia tidak marah. Bukan seperti yang kubayangkan. Dia… lebih seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang berat.”

Aku bisa melihatnya. Ayah duduk di kursi, alisku berkerut, senyap yang bekerja lebih banyak daripada kata-kata.

“Ayahmu telepon aku hari itu,” suara Rian bergetar tipis, “untuk bilang satu hal.”

“Apa?” bisikku. “Dia bilang,” kata Rian pelan sekali,

“‘Kalau kamu mau jujur, lakukan sekarang. Jangan tunggu dia tahu dari orang lain.’”

Aku terdiam.

Air mata yang sejak tadi enggan turun akhirnya mengalir. Ayahku. Bahkan di ujung hidupnya, ia masih memikirkan cara seseorang melindungi seseorang lain dari jenis luka tertentu.

Aku menggigit bibir.

“Dan kamu?” tanyaku. “Kamu jujur?” Rian terdiam agak lama.

“Aku… terlambat,” katanya akhirnya. Aku menutup wajah dengan tangan. Bagian dari diriku ingin memarahinya. Bagian lain mengerti bahwa orang jarang tepat waktu untuk hal-hal yang paling penting.

“Ada satu lagi,” kata Rian pelan. Aku menurunkan tangan.

“Ayahmu bilang,” lanjutnya,

“‘Anita jauh lebih kuat dari yang kamu pikirkan. Yang dia butuhkan bukan kamu memilihnya… tapi kamu berhenti berbohong.’”

Aku terisak pelan. Bukan menangis keras. Menangis yang keluar seperti air dari gelas yang terlalu penuh.

“Rian,” kataku.

“Ya?”

“Aku menemukan sesuatu lagi.”

“Apa?”

Aku mengusap air mataku.

“Bukan hanya kuitansi hotel,” kataku pelan.

“Bukan hanya kalung Sisca. Bukan hanya foto lama.” Aku menelan ludah.

“Sebelum meninggal,” kataku, “telepon terakhir Ayah…”

Aku berhenti sesaat, lalu mengatakannya, “…bukan ke Ibu. Bukan ke aku. Tapi ke kamu.”