Ada jeda panjang setelah kalimatku. Bukan jeda teknis. Bukan jeda karena sinyal.
Jeda itu seperti ruang kosong di antara dua tebing tinggi, tempat suara bahkan takut untuk memantul.
“…tapi ke kamu.”
Aku mendengarnya lagi di kepalaku, dengan suara yang bahkan bukan suaraku sendiri.
Telepon terakhir Ayah. Nama yang terakhir ia tekan. Suara terakhir yang ia pilih untuk dengar di seberang. Rian. Bukan aku. Rian tidak langsung bicara. Aku bisa merasakan napasnya di telepon, pelan, berat, seperti seseorang yang akhirnya berhenti lari dan menyadari bahwa kakinya gemetar.
“Ani,” katanya akhirnya. “Ya,” jawabku pelan. “Aku tidak mau kamu tahu dengan cara ini,” lanjutnya.
Aku tersenyum kecil, tidak terlihat tapi terasa di pipiku sendiri. “Aku tahu,” kataku. “Di cerita hidupku, aku jarang dapat versi ‘cara yang benar’.”
Ia tertawa pendek. Lelah. “Ayahmu telepon aku,” katanya, “dan tidak ada satu pun kalimat yang mudah di telepon itu.” Aku tidak menyela.
Biarkan kalimat itu berjalan pelan. Biarkan aku mendengarnya tanpa berpegangan apa pun.
“Dia bilang,” lanjut Rian, “bahwa dia tahu aku dekat dengan Sisca.”
Kata dekat menggantung lama. Dekat versi siapa? Dekat sampai mana? Tapi aku tidak memotong.
“Ayahmu tidak menuduh,” kata Rian. “Tidak menghakimi. Dia hanya… bertanya.”
“Bertanya apa?” suaraku lebih pelan daripada bisikan.
“Dia tanya,” Rian menarik napas,
“‘Kamu sayang Anita?’”
Aku menutup mata. Ayah. Selalu langsung ke pusat persoalan. Tidak berputar-putar, tidak juga menyederhanakan.
“Dan kamu jawab apa?” tanyaku.
“Aku jawab iya,” katanya.
Tidak ada keragu-raguan di nada suaranya ketika mengulang kata itu. Aku merasa dadaku menghangat dan perih sekaligus.
“Ayahmu diam sebentar,” lanjutnya, “lalu dia bilang sesuatu yang… sampai sekarang tidak bisa aku lupakan.”
Aku menunggu.
“Dia bilang,” suara Rian merendah, “‘Kalau kamu sayang Anita, jauhkan dia dari Sisca.’”
Kalimat itu turun perlahan ke dalam tubuhku.
Tidak seperti petir. Lebih seperti salju: dingin, halus, dan tetap menutup seluruh permukaan.
“Jauhkan?” ulangku.
“Iya.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Dia tidak jelaskan,” jawab Rian. “Dia hanya bilang begitu. Pelan. Tegas. Seperti kalimat yang sudah lama ia simpan.”
Aku tersandar pada dinding. Kata-kata bergerak sendiri di kepalaku. Jauhkan dia dari Sisca. Ayah menghabiskan napas terakhirnya untuk meminta itu. Aku tidak tahu mana bagian yang lebih menyakitkan, permintaannya atau kenyataan bahwa permintaan itu tidak pernah sampai padaku.
“Aku tanya balik,” lanjut Rian,
“‘Kenapa?’”
“Dan Ayah bilang?” tanyaku.
Rian terdiam beberapa detik, lalu menjawab, “‘Karena Sisca bisa membuat Anita memilih kehidupan yang bukan miliknya.’”
Aku tercengang. Kalimat itu bukan ancaman. Bukan juga fitnah. Lebih seperti seseorang yang melihat peta dari ketinggian dan tahu ada jurang di depan, walau yang berjalan di bawah hanya melihat padang rumput.
Aku menarik napas panjang. Sebagian diriku ingin membantah. Sebagian lagi justru merasa… dikenali. Aku memang seseorang yang mudah tenggelam dalam cerita orang lain. Pisces. Mudah hanyut. Mudah memeluk sesuatu yang bukan milikku, seolah aku diciptakan untuk menyelamatkan kehidupan yang bukan tugasku.
“Ayahmu tidak benci Sisca,” kata Rian pelan, seolah membaca pikiranku.
“Dia bilang itu juga.”
“Dia bilang apa?” tanyaku.
“‘Aku mencintai adikku. Tapi aku tidak percaya setiap cinta membuat orang sampai di tempat yang tepat.’”
Aku menutup mulut dengan telapak tangan.
Tiba-tiba aku ingin menemuinya. Bukan untuk bertanya. Hanya untuk duduk bersamanya di kursi ruang tamu seperti dulu dan melihat matanya ketika ia mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu.
Rian melanjutkan, “Sebelum telepon selesai… dia bilang satu kalimat terakhir.”
Suara Rian bergetar. “Ani,” katanya, “ini bagian yang paling berat buatku.”
Aku mengangguk, walau ia tidak melihat. “Dia bilang,” Rian menelan ludah, “‘Kalau kamu benar-benar sayang Anita… lepaskan Sisca.’”
Aku terdiam. Dunia mengecil. Hanya ada aku, telepon di tanganku, dan suara yang memantul sangat pelan di kepalaku.
Lepaskan Sisca. Ayah meminta itu kepada Rian. Aku bersandar, telapak tanganku dingin.
“Dan kamu?” tanyaku pelan.
Rian tidak langsung menjawab.
“Aku… bilang iya,” katanya akhirnya.
“Aku janji di telepon itu.”
Aku menatap langit-langit.
Janji.
Kata yang sederhana, yang sering kita ucapkan tanpa memperhatikan akibatnya, tapi malam ini terasa seperti besi panas.
“Lalu kenapa…” aku berhenti, mencari kata yang tidak menuduh, “…sekarang semuanya justru seperti ini?”
Aku dengar Rian menarik napas panjang, napas orang yang bingung pada dirinya sendiri. “Karena setelah telepon itu,” katanya pelan, “aku bertemu Sisca.”
Tubuhku menegang. “Dan?” tanyaku.
“Dia bilang kalimat yang hampir sama kuatnya,” lanjutnya.
“Dia bilang, kalau kamu benar-benar sayang Anita… jangan tinggalkan aku.’”
Aku memejamkan mata. Kedua kalimat itu muncul berdampingan: Lepaskan Sisca demi Anita. Jangan tinggalkan aku demi Anita.
Ayah di satu sisi. Sisca di sisi lain. Aku berada di tengah. Rian juga.
Tidak ada peran “orang jahat” yang jelas di sini, yang ada hanya orang yang sama-sama mencintai dengan cara yang saling bertabrakan.
“Jadi kamu berada di dua kutub?” tanyaku pelan.
“Iya,” jawabnya.
“Dan kamu memilih…?” tanyaku lagi.
“Aku tidak memilih cepat,” katanya lirih.
“Aku menunda. Dan penundaan itu yang menyakitimu sekarang.” Aku tertawa kecil sambil mengusap mata.
“Kadang,” kataku, “menunda adalah bentuk pilihan juga.”
Rian tidak membantah. Aku menatap jendela kamar. Langit belum benar-benar biru, tapi gelapnya sudah tidak penuh.
Aku berkata pelan, “Jadi Ayah memintamu menjauh dari Sisca.”
“Iya.”
“Dan Sisca memintamu tetap tinggal.”
“Iya.”
“Dan kamu…” aku menelan ludah, “…di mana sekarang?”
Rian terdiam, lalu ia menjawab dengan jujur, jujur yang menakutkan, “Di antara kalian.”
Aku tidak menangis. Aku hanya mengangguk pelan, walau ia tidak melihat.
“Aku marah,” kataku.
“Tapi bukan cuma ke kamu. Aku marah pada hidup yang meminta orang memilih bentuk cinta apa yang paling layak diperjuangkan.”
Rian tidak berkata apa-apa. Mungkin karena tidak ada kalimat yang cukup bagus untuk membungkus hal-hal seperti ini. Aku menarik napas.
“Rian,” kataku.
“Ya?”
“Kamu mau jujur satu hal lagi?”
“Mau,” katanya pelan.
“Kalau tidak ada aku…kalau hanya ada kamu dan Sisca…apa yang akan kamu lakukan?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Keberanian semacam apa yang sedang menguasai tubuhku, aku tidak tahu. Sunyi. Aku bisa mendengar detak jam di dinding. Rian lama sekali tidak menjawab.
“Aku tidak akan pura-pura jadi pahlawan,” katanya akhirnya.
“Aku… mungkin masih akan memilih Sisca.” Tidak ada retorika. Tidak ada hiasan. Tidak ada pemanis. Hanya itu.
Dan anehnya, air mata tidak jatuh. Yang terasa justru sesuatu yang mirip kelegaan. Kelegaan pahit.
Karena sekarang aku tahu betul di mana aku berdiri, bahkan kalau itu artinya aku berdiri bukan di tempat yang kupikir sebelumnya.
“Terima kasih,” kataku pelan.
“Untuk apa?” suaranya serak.
“Untuk tidak menyelamatkanku dengan kebohongan,” jawabku.
Kami terdiam cukup lama setelah itu, sampai akhirnya aku berkata, “Rian.”
“Ya?”
“Kita belum selesai,” kataku.
“Tapi hari ini aku berhenti memaksa jawabannya harus menyenangkan buatku.”
Aku memutus telepon dengan pelan. Bukan karena marah. Karena percakapan itu sudah sampai ke ujung jalan hari ini. Aku duduk lama memandangi tangan sendiri.
Aku berpikir tentang Ayah. Tentang bagaimana ia menghabiskan sisa tenaganya untuk meninggalkan kalimat, bukan uang, bukan nasihat panjang, bukan warisan materi. Hanya kalimat, jauhkan Anita dari Sisca. berhenti berbohong. lepaskan Sisca. Aku memejamkan mata.
Aku mendengar suara Ayah seperti dulu ketika aku kecil dan sakit, ketika ia menepuk bahuku dan bertanya:
“Kalau harus memilih sembuh atau tetap nyaman, kamu pilih yang mana?”
Waktu itu aku tidak paham. Sekarang aku tahu. Malam berikutnya aku tidak memanggil siapa pun.
Aku duduk di beranda, membiarkan udara lembap menyentuh kulitku. Aku merasa tidak lebih ringan. Tapi aku merasa lebih jujur pada diriku sendiri, dan itu jenis rasa sakit yang berbeda. Aku mendengar langkah pelan dari belakang.
Aku tidak menoleh. Suara itu muncul, tenang, akrab, tidak pernah terburu-buru, “Boleh aku duduk di sini?”
Sisca.
Aku menggeser sedikit. Ia duduk di sampingku. Kami tidak langsung bicara. Bintang tidak banyak malam itu. Tapi satu, dua, cukup untuk membuat langit tidak terlihat sepenuhnya kosong.
“Nita,” katanya pelan.
“Ya?”
“Aku tahu kamu sudah tahu beberapa hal.”
Aku tidak menjawab. Ia melanjutkan, “Aku tidak akan lari lagi.”
Aku menoleh pelan. Ia menatap ke depan.
“Aku sudah terlalu lama menghilang,” katanya.
“Kalau kali ini aku pergi, itu bukan karena takut. Itu berarti aku benar-benar memilih untuk tidak kembali.”
Aku menunggu kalimat berikutnya. Ia menarik napas dalam-dalam.
“Sebelum ayahmu meninggal,” katanya, “aku bertemu Rian.” Itu aku sudah tahu. Aku diam.
“Kami bicara lama,” lanjutnya.
“Dan aku bilang satu hal padanya.”
Aku menoleh. Ia menoleh juga. Dan di dalam mata itu, aku melihat sesuatu yang tidak sering ia perlihatkan, bukan misteri, bukan permainan, melainkan kepedihan yang jujur.
“Aku bilang,” katanya pelan, “kalau kamu benar-benar sayang Anita… jangan lepaskan aku.”