bold text
Rani datang ke TMII dengan semangat yang tidak biasa, campuran ketegangan, kepanikan dan harapan yang berputar seperti mixer di dadanya. Semalam ia tidak bisa tidur. Ide videonya masih kacau, kantor memberi waktu mepet dan satu-satunya orang yang membuat semuanya terasa mungkin adalah Bagas.
Ia sudah merencanakan kata-kata yang akan ia ucapkan pada Bagas. “Gas, mau nggak jadi narator informal? Cuma suara, santai. Suara kamu cocok. Enak didengar. Tenang. Ramah dan...” Ia berhenti di situ dalam pikirannya dan bikin aku nyaman.
Rani menggeleng, mendorong rambutnya ke belakang telinga, mencoba menahan gejolak aneh yang sejak beberapa minggu terakhir makin tidak bisa ia abaikan.
Begitu sampai di area Keong Mas, ia melihat beberapa petugas sedang membersihkan halaman. Ada yang menyapu, ada yang mengecek kabel, ada juga yang merapikan bangku taman. Senja belum mulai turun, karena hari masih sore, tapi bayang-bayang bangunan raksasa berbentuk keong itu sudah memanjang, seolah mengisyaratkan sesuatu yang tidak biasa.
Rani mengusap kamera di dalam tasnya, memastikan posisinya aman.
“Gas pasti ada di sekitar sini,” gumamnya. “Dia biasanya muncul begitu saja.”
Namun, begitu ia mendekati pintu belakang gedung pertunjukan, tempat Bagas sering nongkrong, yang ia lihat justru hanyalah meja kosong. Tidak ada tas kain. Tidak ada botol air minum. Tidak ada suara gesekan alat musik tradisional kecil yang biasa ia bawa. Tidak ada suaranya yang lembut tetapi tegas.
Rani menelan ludah.
Ia mencoba menelusuri sisi kanan gedung, lalu sisi kiri. Ia melihat ke taman kecil tempat anak-anak sering berlari-larian. Ia mengintip area dekat miniatur rumah adat tempat Bagas kadang mengobrol dengan wisatawan.
Kosong.
“Bagas?” panggilnya pelan, lalu lebih keras. “Gas? Kamu di sini?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang membawa sisa-sisa tepukan daun palem.
Rani mendekati seorang petugas yang sedang membersihkan kaca Keong Mas.
“Pak, maaf Mas Bagas ada nggak, ya? Yang biasanya jaga sini, rambut agak panjang, suka bawa alat musik itu yang.” Deskripsinya terdengar seperti orang yang sedang mencari seseorang yang spesial dan itu sedikit membuat pipinya panas.
Petugas itu berhenti menyeka kaca. “Oh, Bagas? Biasanya dia udah nongol dari pagi, tapi hari ini nggak kelihatan sama sekali.”
“Tidak izin?” tanya Rani cepat.
Petugas menggeleng santai. “Nggak ada kabar. Kemarin sore masih lihat dia. Hari ini nggak muncul.”
Deg.
Ada sesuatu yang tiba-tiba menekan dada Rani dari dalam. Ia sendiri tidak mengerti, tetapi rasanya seperti seseorang mengambil sesuatu yang penting darinya secara mendadak.
Ia mencoba menjawab dengan senyum canggung. “Oh, begitu. Makasih banyak, Pak.”
Ia melangkah mundur dan berjalan perlahan ke arah bangku taman. Begitu duduk, ia menatap sepatu ketsnya yang mulai kotor karena sering syuting, lalu menatap sekeliling, pohon-pohon, bangunan-bangunan budaya, kolam, miniatur rumah adat. Semua masih sama, tapi kehadiran Bagas hilang.
Menghilang begitu saja.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, TMII terasa terlalu sunyi. Terlalu besar. Terlalu kosong.
Rani membuka ponselnya dan mencari kontak Bagas dan berusaha menelepon ke nomor Bagas, akan tetapi tidak ada jawaban. Tidak tersambung. Semesta seolah mengatur pertemuan. Sekarang semesta seolah menutup pintu.
“Kenapa tiba-tiba nomornya ga aktif?” gerutunya dengan penuh kebingungan.
Rani memejamkan mata, menarik napas pelan-pelan. Pikiran itu benar dan tidak benar pada saat yang sama. Bagas adalah bagaimana menyebutnya? teman? Kenalan? Sumber inspirasi? Partner atau seseorang yang membuat jantungnya berdetak dengan ritme yang tidak bisa ia kendalikan?
Ia membuka matanya lagi dan mencoba mencari di sekitar kawasan yang lebih jauh. Mungkin Bagas membantu petugas lain. Mungkin ia sedang memperbaiki alat musiknya. Mungkin ia sedang istirahat di gazebo dekat danau mini.
Namun, ketika ia menelusuri semuanya satu per satu, hasilnya sama.
Kosong.
Setelah hampir satu jam mencari, Rani akhirnya berdiri di depan pintu Keong Mas, menatap lengkungan emasnya yang memantulkan cahaya lembut matahari. Ia menelan rasa sesak yang mulai menggumpal di tenggorokan.
“Kenapa aku sampai segini paniknya?” bisiknya. Ia memegang tali tas kamera. Jari-jarinya dingin.
Bagas bukan siapa-siapa. Ia bukan keluarga. Bukan rekan kantor. Bukan pacar. Ia hanya seseorang yang ditemui di tengah pekerjaan, seseorang yang kebetulan nyambung, seseorang yang membuatnya merasa dilihat.
Dihargai.
Didukung dan entah bagaimana dia disentuh hatinya.
Rani mendesah panjang. “Harusnya nggak sampai serumit ini.”
Namun, hatinya tidak setuju.
Ketika hari mulai beranjak menuju sore, Rani memutuskan duduk di tepi kolam dekat rumah adat Bali. Angin hangat membawa aroma rumput dan suara air yang tenang. Tempat itu biasanya membuatnya rileks, tapi kali ini justru membuatnya ingin berteriak.
Ia membuka laptop, mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat draft revisi videonya, tapi tulisan-tulisan di layar tidak masuk ke otaknya.
Dalam draf itu, ia sudah menulis ide baru beberapa hari lalu, termasuk konsep narasi informal dengan suara Bagas, suara yang hangat, jujur dan natural, cocok untuk vibe video edukatif yang tidak terlalu kaku. Voice overnya akan menjadi jembatan antara visual dan emosi penonton.
Sekarang semua itu seperti hancur begitu saja.
“Aku butuh dia,” gumam Rani.
Begitu kalimat itu keluar, dadanya langsung menghangat lalu dingin dalam hitungan detik. Ia sadar makna ganda dari kata butuh itu dan itu membuatnya sulit bernapas.
Ia bangkit berdiri, menyambar tasnya dan memutuskan berjalan ke halaman depan TMII.
Langkahnya berat. Tanpa arah. Tanpa tujuan.
Di pelataran luas dekat patung Garuda besar, Rani berhenti. Banyak pengunjung lewat, tapi ia tidak fokus pada mereka. Ia hanya menatap langit yang mulai berubah oranye samar.
“Bagas, kamu ke mana sih,” suara Rani lirih, hampir seperti doa.
Seketika itu, ia menyadari sesuatu yang membuat jantungnya menegang.
Sejak kapan ia begitu peduli? Sejak kapan ketidakhadiran seseorang mengusik pikirannya sedalam itu? Sejak kapan keresahan bisa sebesar ini, sampai membuatnya lupa napas sendiri?
Apakah ini karena proyek videonya yang terancam gagal atau karena ada bagian dari hidupnya yang sedang berubah dan ia tidak siap?
Rani menggigit bibir. Matanya terasa panas.
Ia benci kehilangan kendali. Ia benci ketika sesuatu tidak bisa ia prediksi dan Bagas adalah ketidakpastian terbesar yang pernah mendekati hidupnya.
Hampir satu setengah jam kemudian, Rani masih belum menemukan apa-apa.
Akhirnya ia menyerah. Ia memutuskan pulang, tapi ketika ia melangkah menuju pintu keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh kembali ke arah seluruh kawasan TMII. Tempat yang selama ini hanya menjadi lokasi kerja, kini rasanya seperti rumah kedua karena seseorang yang baru ia kenal, tapi meninggalkan jejak mendalam.
“Kalau kamu tiba-tiba muncul minggu depan, terus bercanda seolah semuanya biasa saja.” Rani bergumam, “aku nggak tahu harus marah atau lega.”
Ia tersenyum pahit.
“Kamu bikin aku kacau, Gas.” Dengan langkah berat, ia keluar dari TMII.
Hari itu, untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir, ia pulang dengan membawa sesuatu yang menggantung, ketidakhadiran seseorang yang perlahan mulai mengisi ruang hatinya dan Rani tahu satu hal, ketika seseorang menghilang tiba-tiba, barulah kamu sadar seberapa besar ia hadir dalam hidupmu.