Bab 5 : Tatapan Pertama pada Dio

08 January 2026

Rara kembali berdiri di depan pantry seperti seorang pejuang yang menolak menyerah. Sudah sore, aroma kopi yang melekat sejak pagi mulai bercampur dengan wangi mie instan yang diseduh salah satu anak magang. Walau semangat kantor mulai turun, semangat pencarian Rara justru kembali naik.

“Aku harus cek sekali lagi,” gumamnya sambil mengepalkan tangan seolah ini momen klimaks film aksi.

Sari yang lewat hanya bisa geleng-geleng. “Ra, pantry itu bukan Narnia. Kamu nggak bakal tiba-tiba menemukan portal yang bawa tumblermu.”

“Siapa tahu,” jawab Rara keras kepala. “Kemarin aku kehilangan selai kacang, hari ini tiba-tiba muncul lagi. Semesta suka iseng.”

Sari hendak membalas, tapi Rara keburu jalan masuk ke pantry.


Pintu pantry terbuka dan Rara membeku. Bukan karena tumbler itu tiba-tiba muncul seperti hantu baik hati. Bukan juga karena dispenser mengeluarkan suara aneh, tapi karena ada sosok baru di sana.

Tinggi. Rapi. Kemeja putih licin tanpa satu kerutan pun. Rambut hitam tebal yang jelas-jelas disisir hati-hati. Wajah datar, terlalu tenang untuk ukuran manusia biasa seperti seseorang yang baru saja keluar dari iklan parfum minimalis yang penuh warna abu-abu, gerakan lambat dan suara angin.

Yang paling mencolok, lebih mencolok dari auranya yang tenang adalah benda di tangannya.

Tumbler warna pastel. Pastel persis warna tumbler Rara.

Ada stiker bunga kecil. Ada goresan tipis di bagian bawah. Ada bentuk tutup yang sama.

Rara refleks menelan ludah.

“Itu,” suaranya tercekat. “Itu tumblerku," tapi dia tidak berani berteriak begitu saja. Dia hanya membatin dengan suara hati yang meledak-ledak seperti orkestra drama.

Itu tumblerku. Itu pasti tumblerku. Itu sangat mirip. Ya ampun, itu kan?

Sosok pria itu menoleh karena suara pintu. Tatapannya mendarat pada Rara tanpa banyak ekspresi, tapi ada sedikit anggukan sopan.

Seperti robot baik hati atau kucing rumahan yang baru bangun tidur.

“Eh, hai,” sapa Rara kikuk.

Pria itu hanya mengangguk pelan. “Halo.”

Suara bariton lembut. Kalem. Beda banget dengan keriuhan orang-orang kantor lain yang heboh mengikuti drama tumbler hilang Rara.

Rara langsung memicingkan mata ke arah tumbler di tangan pria itu. Itu punyaku atau bukan?

Dia maju sedikit, lalu berhenti lagi. Kemudian maju setengah langkah. Lalu mundur satu langkah. Hatinya seperti detektif yang sadar dia sedang mengincar tersangka yang berbahaya, padahal sebenarnya cuma karyawan baru yang sedang membuat kopi.

Pria itu mengangkat alis sedikit. “Ada perlu?”

“Eh?!” Rara hampir menunjuk tumbler itu, tapi tangannya berhenti di udara seperti Wifi kantor yang putus nyambung.

“O-oh, nggak. Aku cuma… eh, cek dispenser. Iya. Cek dispenser.”

Dispenser langsung memendarkan suara beep kecil, seakan mengolok-olok kebohongan Rara yang jelas-jelas sedang tidak punya keperluan apa pun selain mengamati tumbler misterius itu.

Pria itu kembali pada aktivitasnya, menuang air panas ke tumbler miliknya. Rara memperhatikan. Hatinya sudah separuh ingin interogasi, separuh lagi takut salah tuduh. Akhirnya pria itu bicara duluan.

“Kamu Rara, ya?”

Sontak Rara refleks menegakkan punggung. “Hah?! I-iya, tapi kamu kok tahu?”

“Aku sempat dengar staf lain menyebut namamu di luar.” Jawabannya sederhana, tapi cukup membuat Rara canggung. Bukan karena namanya disebut, tapi karena ia takut rumor tumbler hilang itu sudah menyebar lebih cepat dari pandemi.

“Oh iya. Hehe.”

Suasana hening beberapa detik.

“Kamu Dio, ya?” tanya Rara akhirnya.

Pria itu mengangguk kecil. “Iya. Baru masuk kemarin. Di divisi Tech Dev.”

Rara manggut-manggut seperti orang paling mengerti teknologi padahal password emailnya saja masih pakai kombinasi nama dan tanggal ulang tahun.

“Oh Tech Dev ya, pantas kamu kelihatan pintar.”

“Emangnya kelihatan?” tanya Dio datar.

Rara ingin tenggelam di dispenser.

“Haha. Maksudnya rapi. Tertib. Berwibawa. Kayak ya, begitu lah. Kelihatan.”

“Hmm.” Dio menatap tumblenya sebentar, lalu tutup rapat.

Dia hendak pergi.

Insting Rara memanggil. 'Rara tanya, tanya sekarang. Itu tumblernya bukan?' Namun, Rara masih ragu. Bagaimana kalau dia salah? Bagaimana kalau itu tumbler milik Dio beneran? Bagaimana kalau dia malah mempermalukan diri sendiri? Ini bukan sekadar tumbler, ini soal harga diri. Akhirnya yang keluar dari mulut Rara malah, "tumblermu warna pastel, ya?”

Dio berhenti. Menoleh. Rara langsung ingin lari ke lantai dasar.

“Iya,” jawab Dio singkat. “Kenapa?”

“Nggak, lucu aja. Jarang cowok pakai tumbler warna pastel.”

Dio mengangkat sedikit bahu. “Aku suka warna yang lembut. Menenangkan.”

Sial. Jawabannya menenangkan juga.

“Oh iya. Bagus kok,” kata Rara sambil tersenyum nggak jelas.

Dio mengangguk kecil, lalu berjalan keluar pantry. Langkahnya tenang. Teratur. Berbanding terbalik dengan degup jantung Rara yang seperti drum konser rock.

Begitu Dio keluar, Rara langsung merosot ke kursi pantry.

“Itu mirip banget astaga aku harus ngapain?” serunya pelan sambil menutupi wajah.


Kecurigaan mulai memuncak. 

Setelah beberapa menit menenangkan diri, Rara kembali ke meja kerja, tapi pikirannya tidak di meja.

Tiap detik, gambaran tumbler di tangan Dio muncul lagi dan lagi.

Apa itu punyaku? Apa dia yang ambil? Apa dia nemu di suatu tempat? Apa dia diam-diam pengagum rahasia yang ingin punya kenangan sama aku, tunggu, apa ini kebanyakan drama?

Bayu yang duduk di seberang langsung mendengus saat melihat wajah pucat Rara.

“Kamu kenapa? Kayak habis denger pengakuan dosa.”

Rara mencondongkan badan. “Bayu. Aku tadi ke pantry dan aku lihat seseorang.”

“Oke. Lanjut. Aku deg-degan.”

“Karyawan baru.”

“Lanjut.”

“Namanya Dio.”

Bayu langsung mengangguk. “Oh iya, yang Tech Dev. Kelihatannya pendiam.”

“Pendiam banget. Kayak modem mati lampu.”

Bayu terkekeh. “Terus?”

Rara menatap Bayu lama, menahan napas. “Dia pegang tumbler.”

“Terus?”

“Tumblernya miri banget sama tumblerku.”

Bayu yang tadinya santai langsung duduk tegak. “What if, dia pencurinya?”

Rara menampar pelan lengan Bayu. “Jangan dibilang gitu! Kasihan!”

“Tapi kamu kan lagi nyari tersangka.”

“Iya, tapi. Dia pendiam. Introvert vibes! Masa iya? Kok tega banget dia?”

Bayu memutar kursi menghadap Rara dengan ekspresi paling dramatis. “Kadang yang pendiam justru paling misterius.”

“Bayu, kamu kebanyakan nonton thriller.”

“Ya terus kenapa,” jawab Bayu santai.

Rara memegang kepala. “Gimana kalau aku salah nuduh? Gimana kalau itu memang tumbler dia? Kan malu aku.”

“Ya dicek aja. Coba perhatiin detailnya.”

“Aku udah perhatiin!”

“Terus?”

“Mirip banget. Kayak saudara kembar tumblerku.”

Bayu mengangguk-angguk. “Mungkin modelnya umum.”

“Nggak umum. Itu hasil giveaway komunitas craft sahabatku dulu! Limited edition!”

Bayu refleks menutup mulut. “Woy serius? Berarti kemungkinan nyasar ke dia?”

“Nah, itu!"

Bayu langsung berdiri. “Ayo kita sergap.”

“Apa?! Jangan!” Rara menarik lengan Bayu panik. “Aku belum siap! Dia terlalu cool! Nanti aku gugup!”

Bayu memelototkan mata. “Ra. Kamu lagi kehilangan tumbler, bukan jatuh cinta.”

“Ya, tapi dua-duanya membuat aku deg-degan.”

Bayu menatap langit-langit. “Tuhan, sahabatku ini butuh bantuan.”

Rara memutuskan menunda penyelidikan. 


Sore semakin mendekat. Dio terlihat beberapa kali lewat lorong kantor, selalu dengan langkah tenang seperti orang yang hidupnya stabil dan tidak pernah kehilangan barang sentimental.

Tiap Rara melihatnya, dia langsung panik dan pura-pura sibuk membaca email kosong.

“Rara,” tegur Sari. “Kamu kenapa? Kok setiap Dio lewat, kamu kayak anak kucing takut dimandikan?”

Rara menutup wajahnya dengan map. “Sar, tumblernya dia mirip banget.”

“Terus kamu tanya dong.”

“Aku takut kalau itu beneran punya dia! Nanti aku malu!”

Sari menghela napas panjang. “Kamu tuh, lucu, tapi nyusahin diri sendiri. Ribet.”

“Aku butuh strategi,” kata Rara lirih. “Bukan keberanian.”

Sari menepuk bahu Rara. “Besok, kamu tanya. Kalau hari ini kamu masih gemeteran kayak gini, jangan.”

Rara mengangguk pasrah. Otaknya penuh pertanyaan. Hatinya penuh kecurigaan. Tumblernya entah di mana.

Dan Dio?

Dia cuma lewat sambil menatap layar ponselnya. Tenang. Adem. Tidak sadar bahwa hidupnya baru saja memasuki radar seorang perempuan ceroboh yang kehilangan tumbler kesayangan.

Rara menatap ke arah pintu pantry dari kejauhan. Kakinya gatal ingin mendekat, tapi jiwanya menahan diri.

Bukan hari ini. Bukan sekarang. Bukan saat jantungnya berdetak sekeras tadi ketika melihat Dio memegang tumbler pastel itu.

Besok. Mungkin besok dia akan punya keberanian.

Untuk menanyakan satu hal sederhana.  “Mas, tumbler itu punyaku bukan?”

Namun, untuk hari ini, Rara hanya bisa menatap punggung Dio dari jauh dan berdoa. “Tolong, semesta jangan bilang itu tumblerku atau kalaupun iya. Tolong jangan buat aku copot jantung pas ngomong sama dia.”

Yang jelas, pencarian tumbler belum selesai dan kini ada satu nama baru dalam daftar kecurigaan Rara. 

Dio. Pria pendiam bertumbler pastel.

Entah sekadar kebetulan atau pertanda bahwa drama tumbler ini akan semakin panjang.