Rara berdiri di balik tiang dekat lobby lantai sebelas, dengan gaya seperti agen rahasia murahan yang terlalu banyak menonton drama investigasi. Tangan kirinya memegang ponsel, tangan kanannya memegang kertas bekas laporan yang ia lipat menjadi bentuk seolah-olah buku catatan investigasi. Rambutnya dikuncir tinggi, tapi karena ia berjalan sambil menunduk sejak tadi, kuncir itu sudah miring seperti antena rusak.
“Target bergerak,” gumamnya pelan sambil mengintip dari pinggir tiang.
Dio baru saja keluar dari pantry, membawa tumbler biru gelapnya. Tumbler itu sekilas sangat mirip dengan punya Rara, warna pastel mint dengan stiker hologram kecil. Masalahnya cuma satu: stiker itu beda tulisan. Tumbler Rara bertuliskan 'Hydrate or Diedrate', sedangkan milik Dio bertuliskan "Work Harder, Cry Later'.
Mirip? Ya. Persis? Tidak, tpi Rara sudah terlanjur heboh.
“Kalau dia ganti stiker? Atau dikletekin? Atau hilang terus ditempel ulang? Itu bisa saja terjadi,” bisiknya dramatis ke dirinya sendiri.
Ia melangkah mengikuti Dio yang berjalan ke lorong menuju ruang marketing. Pelan-pelan, mengendap-endap, dengan langkah selembut kucing, tapi suara hak sepatu Rara malah tok tok tok seperti dentuman palu.
Dio sempat menoleh.
Rara langsung menempel ke tembok seperti cicak hipertensi.
Dio mengernyit. Lalu lanjut jalan.
“Nyaris saja,” Rara menyeka keringat yang bahkan belum muncul.
Ia melanjutkan misi mata-matanya. Setiap beberapa meter, ia berhenti untuk berpose ala agen rahasia yang mengintip dari balik pot, dari balik dispenser galon, bahkan dari balik poster motivasi dinding bertuliskan “'Teamwork Makes the Dream Work'. Padahal orang yang lewat jelas melihat ujung kepalanya.
Rara tidak peduli. Demi tumbler kesayangannya, apa pun dilakukan.
Di koridor berikutnya, Dio menaruh tumblernya di atas printer sementara ia membantu rekan kantornya mengangkat kardus. Kesempatan emas.
Rara merunduk, perlahan merangkak seperti tokoh film detektif versi komedi. Rambutnya hampir tersangkut roda kursi kerja, tapi ia tetap melaju.
“Dapet!” bisiknya, lalu buru-buru mengangkat ponsel untuk memotret tumbler itu.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Namun, karena gugup, fotonya malah blur semua. Yang tertangkap hanya bentuk mint tidak jelas yang sekilas terlihat seperti bak mandi bayi.
“Argh!” Rara mengumpat pelan. “Fokus, Rara. Fokus. Kamu bukan intern. Kamu karyawan tetap. Kamu punya gaji tetap. Kamu bisa melakukan ini.”
Ia bersiap memotret sekali lagi.
“Rara?” Suara itu membuatnya membeku seperti patung lilin. Ia menoleh pelan. Ternyata itu bukan Dio. Itu rekan satu divisinya, Nina, sambil memegang map laporan.
“Lo ngapain merangkak di lantai kayak lagi cari kutu?” tanya Nina terbengong.
Rara berdiri cepat-cepat, menepuk-nepuk rok kantornya. “Aku, aku tadi nemu baut! Iya, baut! Kayak penting banget gitu. Buat keamanan kantor.”
Nina menatapnya dengan tatapan yang sudah terlalu sering melihat tingkah absurd temannya ini.
“Oke. Semoga bautnya ketemu.” Nina pun pergi.
“Baut apa,” Rara memukul pelan dahinya sebelum kembali fokus ke tumbler.
Baru ia mau angkat ponsel lagi, Dio kembali mengambil tumblernya dan berjalan pergi.
“Aaah! Jangan cepat-cepat dong!” Rara mengomel dalam hati sambil mengejar, kali ini dengan langkah besar yang masih berisik.
Setelah menguntit selama hampir sepuluh menit, Rara melihat Dio pergi ke arah ruang meeting besar, ruang rapat Board of Directors, tempat di mana orang sembarangan takut lewat kalau tidak ada urusan.
“Hah? Dia mau meeting sama bos besar? Tumbl… eh, bukan itu fokusnya. Aku harus dapat bukti dulu. Bisa saja tumbler itu punyaku!”
Dengan tekad yang aneh dan keberanian yang sama sekali tidak relevan, Rara mengendap menuju ruang meeting.
Sayangnya, di menit yang sama dari arah berlawanan muncul seorang pria jangkung, berkaca mata, rambut agak berantakan, memakai kemeja putih dan celana hitam. Dari belakang mirip Dio dan disinilah masalah dimulai.
Pria mirip Dio itu membuka pintu ruang meeting besar dan masuk.
Rara yang mengira itu Dio langsung berseru dalam hati, “Ketangkep! Aku harus foto tumblernya di dalam!”
Tanpa pikir panjang dan tanpa nalar yang sehat, Rara ikut masuk.
Pintu ruang meeting besar terbuka.
Di dalamnya sudah penuh. Sangat penuh.
Semua direktur duduk melingkar. Tim HR, finance, hingga marketing ada. Ruang itu sunyi karena sedang dalam presentasi serius. Projektor menyala, slide berjudul 'Quarterly Performance Review' terpampang besar dan Rara masuk dengan gaya membungkuk seperti pencuri, tangan membawa ponsel terarah ke depan, wajah penuh semangat investigasi.
Semua kepala menoleh.
Suara klik pintu bergema seperti suara petir dalam keheningan.
Rara membeku total.
Pria yang mirip Dio itu menatap Rara bingung dan ya, tentu saja itu bukan Dio.
Sang direktur utama, Pak Anton, pria berusia lima puluh dengan aura mengintimidasi, menurunkan kacamatanya.
“Bu Rara?” suaranya datar, dingin dan terdengar seperti akan memecat siapa pun yang tidak sesuai standar.
Rara refleks melambaikan tangan kecil-kecil seperti anak SD.
“Ha-halo, Pak.”
Semua orang menahan tawa. Beberapa menunduk sambil menggigit bibir. Beberapa lainnya pura-pura batuk untuk menutup suara cekikikan.
Pak Anton mengerjapkan mata. “Ada apa ya, Bu Rara? Ini rapat penting.”
Rara menelan ludah. “Saya, saya cuma mau memastikan.”
Semua menunggu.
Rara melihat ke sekitar, mencari inspirasi bohong yang paling tidak memalukan. Sayangnya, yang muncul di otaknya adalah tumbler.
“Mau memastikan kalau saya tidak salah lihat tumbler,” katanya akhirnya, wajah panas seperti ketangkap nyolong ayam.
Keheningan. Sunyi.
Lalu tiga detik kemudian.
“HAHAHAHAHAHA!”
Seluruh ruangan pecah tertawa. Bahkan Bu Citra dari HR sampai tepuk meja. Beberapa direktur sampai keluar air mata. Suasana rapat serius langsung berubah menjadi acara komedi.
Rara ingin lenyap ke lantai dua belas, terbang lewat jendela atau dikirim ke Mars. Apa saja, pokoknya jauh dari sini.
Pak Anton menutup wajahnya sejenak. “Bu Rara hanya untuk memastikan tumbler?”
“Iya, Pak, ” Rara mengangguk kecil. “Maaf, Pak.”
Dari sudut ruangan, seseorang berkata pelan, “Tumbler apa sih, sampai masuk ruang meeting BOD, Ra?"
Yang lain menambahkan, “Cinta pertama kali ya.”
“Kecanduan minum air sepertinya.”
Lalu gelak tawa lagi.
Rara ingin meleleh.
Pak Anton akhirnya menghela napas panjang. “Baik. Keluar dulu, Bu Rara. Lain kali kalau kehilangan tumbler, lapor ke satpam atau resepsionis ya, pokoknya bukan masuk ke rapat BOD.”
“Baik, Pak," Rara menunduk dalam.
Ia berbalik hendak keluar. Tetapi karena tubuhnya panik dan lututnya lemas, ketika mendorong pintu, ia malah kejedot pinggirannya.
“Duh!” jerit Rara kecil.
Sontak ada lagi yang tertawa.
Rara merangkak pelan keluar sebelum menutup pintu dengan hati yang jatuh berkeping-keping.
Begitu pintu menutup, ia menyandarkan punggungnya dan menurunkan kepala.
“Aku, aku barusan masuk rapat BOD. Demi tumbler. Astaga Rara!” Ia menutup wajahnya.
Suara langkah cepat terdengar dari ujung koridor.
Dio. Betulan Dio kali ini.
“Rara?” Dio berhenti tepat di depannya, membawa tumblernya.
Rara otomatis meluruskan tubuh secepat mungkin, seperti prajurit disapa jenderal. “Hai! Aku nggak ngelakuin apa-apa!”
Dio mengerutkan dahi. “Aku nggak bilang apa-apa.”
“Oh. Iya.”
“Kenapa muka kamu merah banget? Kamu habis olahraga?”
“Latihan malu. Eh, salah. Lupa. Sudah, lupakan.”
Dio menatap Rara dengan ekspresi campuran antara bingung, ingin tertawa, dan prihatin. “Kamu baik-baik aja?”
Rara mengangguk. “Baik. Sangat baik. Sangat ter… tekanan sih, tapi baik.”
“Hmm.” Dio melihat sekeliling, lalu berkata, “Yang kamu cari itu ya?” ia menggoyangkan tumblernya.
Rara langsung refleks menatap intens seperti kucing melihat ikan.
“TUMBLER!” serunya.
Dio kaget. “Astaga, jangan teriak gitu dong!”
“Maaf… maaf…” Rara menarik napas panjang. “Itu mirip banget sama punyaku.”
“Mirip?” Dio menaruh tumblenya di depan Rara, “tapi stiker aku beda.”
Rara mendecak lirih. “Iya sih.”
“Kenapa? Tumbler kamu belum ketemu?”
Rara menggeleng.
Dio mengangguk pelan dan, entah kenapa, terlihat simpatik. “Kalau gitu aku bantu cari lagi nanti sore. Sekalian tanya ke cleaning service.”
Rara mengerjap, lalu matanya berbinar. “Serius?”
“Serius,” jawab Dio pendek.
Rara senyum lebar, tapi kemudian ingat sesuatu.
“Kamu jangan sampai ikut rapat BOD ya.”
“Hah?” Dio bingung.
“Pokoknya jangan. Itu bahaya buat mental.”
Setelah Dio pergi, Rara berjalan kembali ke mejanya dengan langkah gontai, tapi sedikit lega. Dia memang memalukan, dia memang konyol, tapi ia merasa tidak sendirian lagi. Ada Dio yang anehnya, tidak menghakiminya.
Namun, tumblernya tetap hilang. Misteri tetap misteri dan Rara tahu, besok ia akan kembali melakukan hal konyol lainnya demi menemukan benda itu.
“Besok aku harus punya rencana baru,” katanya pada diri sendiri.
Lalu menambahkan. "Rencana yang tidak melibatkan ruang rapat BOD lagi.”