Kantor siang itu sunyi, setidaknya seharusnya seperti itu. Namun, suasana tenang itu pecah ketika sebuah kepala kecil dengan poni miring perlahan naik di atas sekat kubikel. Seperti prairie dog yang mengintip keberadaan predator.
Itu Rara dan target pengawasan hari ini?
Dio.
Karyawan baru yang bahkan mungkin baru sebulan masuk, tetapi sudah menjadi pemeran utama dalam teori konspirasi Rara karena satu alasan sederhana, tumbler mint pastel yang ia bawa.
Tumbler yang bentuknya terlalu mirip, warna terlalu mirip sampai goresan kecilnya pun nyaris sama.
Duh. Ini nggak normal, ini pasti punya aku, pikir Rara sambil mempersempit mata seperti detektif sinetron.
Dari kubikelnya, Dio mengetik dengan wajah fokus. Dia tipe pekerja yang auranya tenang, rapi dan punya tatapan sendu seperti karakter second lead drama Korea yang nggak pernah menang di episode akhir.
Ya ampun, cowok kayak gini mana mungkin pencuri tumbler, tapi pencuri tumbler memang harus berwajah tak bersalah. Biar tak terduga.
Logika Rara melompat-lompat seperti kambing lincah.
Dio menoleh sedikit, merasa seperti ada yang memperhatikannya.
Rara langsung jongkok.
Jongkok. Di kantor.
Di belakang kubikel.
Sambil menahan napas sekeras-kerasnya agar tidak bersuara.
“Rara?” panggil Siska dari meja sebelah.
Rara mengangkat tangannya dari balik sekat kubikel. “Sst! Sst! Jangan ganggu operasi penyelidikan.”
“Lo lagi ngapain jongkok?”
“Ini teknik menghindari deteksi visual.”
“Kamu pikir dia CCTV apa?” Siska memijat pelipis.
Rara tidak menjawab. Ia mengintip lagi.
Dio kembali mengetik. Tidak paham bahwa Rara sedang berjuang memecahkan misteri hidupnya.
Beberapa menit kemudian, Dio berdiri dan mengambil tumblernya. Ia menuju pantry.
Rara, secara refleks, berdiri cepat dan menabrak kursinya sendiri.
Brak!
Seluruh kantor otomatis menoleh.
Rara berdiri tegak, pura-pura elegan meski ekspresinya kesakitan karena tulang keringnya baru saja menabrak sudut besi.
“Tidak apa-apa! Ini bagian dari work life balance! Sakit-sakit sedikit, yang penting semangat!” katanya dengan suara keras dan penuh optimisme palsu.
Orang-orang mengangguk setengah bingung, lalu kembali bekerja.
Rara menoleh ke Siska. “Sis, aku harus ke pantry.”
“Jangan bilang kamu mau ngecek tumblerrr!”
Rara sudah kabur sebelum Siska menyelesaikan kalimatnya.
Di pantry, Dio sedang menuang air ke tumblernya. Cahaya dari jendela menyinari sisi tumbler itu. Warna mint pastelnya benar-benar menyerupai tumbler Rara. Bahkan detail tutupnya sama.
Rara berdiri di pintu, kaku seperti robot rusak. "Oh, my tumbler!"
Dio menoleh. “Eh, Rara. Mau pakai dispenser?”
“Ah? Iya. Tidak. Maksudnya mungkin. Bisa jadi. Nggak tahu juga. Hidup ini penuh misteri.”
“O-oke.”
Rara melangkah mendekati dispenser dengan langkah kaku. Ia memperhatikan tumblernya Dio dari sudut mata, seperti pejabat yang pura-pura nggak liat paparazzi padahal jelas-jelas melirik.
Dio menuang air. Rara menatap. Dio menutup tutupnya. Rara menatap. Dio mengangkat tumblermya. Rara menatap sampai Dio merasa ada aura pengawasan yang kental.
Akhirnya ia menoleh pelan. “Kamu oke, Ra?”
“Ha? Iya! Baik! Sehat! Kok sehat banget malah!” Rara terlalu semangat, seperti sedang promosi vitamin.
“Kamu kelihatan tegang,” kata Dio sopan.
“Ah enggak-enggak. Aku cuma stretching mata,” Rara memutar bola mata dengan cara aneh, membuat dirinya terlihat tidak sehat.
Dio tersenyum tipis, bingung namun tetap sopan. Ia tipe yang tidak ingin mempermalukan orang, apalagi rekan kerja yang baru dikenal.
Rara mencoba mendekat sedikit. “Tumblermu lucu ya, warna mint pastel.”
“Iya,” jawab Dio. “Hadiah dari kakak sepupu. Baru dibeli minggu lalu.”
Hah? Baru? Rara langsung memperhatikan detil kecil, ada stiker kecil motif awan di bagian bawah.
'Oh. Tumblermu ada stiker awannya punyaku nggak pakai stiker itu.'
Rara menghela napas panjang tanpa suara. Bukan napas lega, lebih seperti napas bingung.
“Ra?” panggil Dio saat melihat ekspresi Rara berubah cepat seperti gif error.
“Ya?”
“Kamu kenapa lihat tumblerku terus?”
Deg.
Rara tersenyum lebar. Sangat lebar. Lebih lebar dari batas yang dianjurkan WHO.
“Enggak! Enggak lihat! Aku cuma, istilahnya, mengapresiasi desain. Kan sekarang semua barang ada estetikanya.”
“Oh, gitu…”
Dio menutup botolnya. “Ya sudah, aku balik dulu ya.”
“Oke,” jawab Rara, tapi matanya masih terpaku ke tumbler itu sampai Dio keluar dari pantry.
Begitu Dio menghilang dari pandangan, Rara langsung menunjuk dispenser sambil berbisik, “tapi kok mirip bangeeet sih?!”
Rara menampar ringan pipinya sendiri. “Fokus. Jangan halu. Bisa saja itu cuma kebetulan. Atau seri terbaru atau hmmm…”
Ia menatap langit-langit pantry seperti sedang berkonsultasi dengan malaikat logistik.
“Apa Dio mencuri tumblerku lalu ganti stiker biar beda? Apakah itu strategi pelaku?”
Rara menggeleng cepat. “Enggak-enggak. Jangan nuduh orang tanpa bukti," tapi otaknya yang gemar drama langsung menyela, tapi bukti visual sudah delapan puluh persen mirip.
Siang hari, kembali di ruang kerja.
Dio memeriksa catatan laporan. Ia mencoba fokus, tapi suasana di sekitarnya terasa diawasi.
Ia mengangkat kepala.
Benar.
Dari balik sekat kubikel, ada mata bulat sedang mengintip ke arahnya dan itu jelas bukan halusinasi.
Itu Rara.
Dio berkedip. Rara pun berkedip.
Dio menunduk lagi, melanjutkan mengetik. Lima detik kemudian, ia menoleh. Rara cepat-cepat menarik kepalanya. Namun, antena kuncirnya masih terlihat.
Kok dia aneh sekali hari ini? pikir Dio.
Rara sebenarnya tidak bermaksud membuatnya resah, hanya ingin memastikan apakah tumbler Dio memiliki goresan kecil seperti tumblermya yang hilang.
Jadi setiap kali Dio mengambil tumblernya, Rara otomatis langsung mengintip, menganalisis, membuat catatan mental, panik lalu sembunyi lagi.
Dio akhirnya menghela napas. Gadis itu sungguh aneh. Lucu, tapi aneh.
Sore hari, Dio ke pantry lagi untuk mengisi ulang air dan seperti ritual harian, Rara mengikutinya dengan jarak aman 4 meter, langkah pelan dan upaya menyamar sebagai orang yang kebetulan jalan lewat.
Begitu Dio berhenti di depan pantry, Rara mendadak berhenti juga di tengah koridor tepat di samping dispenser sanitasi tangan. Ia pura-pura mencium aroma udara.
Oh Tuhan, aku terlihat gila, pikir Rara. Tidak apa-apa, yang penting investigasi!
Dio menoleh. Rara langsung menatap langit-langit.
“Rara.”
“Hah? Ya? Kenapa?”
“Kamu ngikutin aku ya?”
“Eng, enggak!” jawab Rara terlalu cepat.
Lalu, sadar betapa mencurigakannya itu, dia menambahkan, “Aku cuma suka udara di sini. Adem.”
Dio mengerutkan alis. “Di sini sama aja kayak di kubikel.”
“Tidak sama! Molekul udaranya lebih fleksibel!” Rara asal bicara.
Dio menahan tawa.
Ia merasa ada pola aneh hari ini. Bukan sekadar kebetulan.
Namun, karena Dio tipe yang sopan dan tidak konfrontatif, ia menahan diri untuk tidak menanyakan lebih jauh. Ia hanya mengangguk dan kembali minum, tapi sambil berjalan keluar pantry, ia sempat memikirkan satu hal.
Rara itu aneh, tapi kenapa rasanya lucu ya?
Sementara itu, Rara kembali ke meja dengan sebuah kesimpulan baru. Tingkat Kemiripan yang mencapai sembilan puluh persen, tingkat Kecurigaan di angka tujuh puluh persen dan status tersangka di hati, belum disampaikan ke publik.
Rara mendesah.
“Ini makin ruwet, tapi itu tumbler memang beneran mirip. Aku harus lanjut penyelidikan.”
Rara menggenggam pensilnya dramatis.
“Dio, apa benar kamu tersangkanya?” Rara mematung sejenak.
Lalu tersipu sendiri.
“Eh, tapi kok deg-degan sih.”