Seharusnya hari itu berjalan normal seperti biasa dan seperti seharusnya dan seharusnya juga Rara bekerja seperti biasa, mengisi spreadsheet, membalas email klien atau minimal pura-pura sibuk ketika bos lewat, tapi hidup Rara tidak pernah mengenal kata normal.
Dari sejak ia kehilangan tumbler berwarna mint pastel kesayangannya itu, hidupnya berubah menjadi sinetron investigasi level receh dan hari ini adalah episode puncak. Rara menuduh sang tersangka utama.
Pagi itu, Rara berdiri di depan cermin toilet wanita. Ia menatap dirinya sendiri dengan wajah tegang.
“Rara, hari ini kamu harus tegas. Kamu harus cari kebenaran. Kamu harus hadapi dia.”
Ia menunjuk pantulan dirinya seperti motivator amatir di cermin.
“Tanya. Meskipun kamu deg-degan. Meskipun kamu takut salah orang. Meskipun kamu takut dia nganggap kamu aneh. Kamu udah aneh dari dulu.”
Rara mengangguk mantap, menghembuskan napas panjang. Begitu keluar dari toilet, ketegasan itu mulai goyah.
Di ujung lorong, Dio sedang berjalan sambil membawa tumblermya.
Tumbler mint pastel penuh dosa itu.
Degupan jantung Rara naik tiba-tiba ke tiga ratus persen seperti biasa.
Aku harus berani. Sekarang atau nggak sama sekali.
Rara menegakkan punggung, maju tiga langkah lalu mundur dua langkah. Maju lagi satu langkah. Dari jauh terlihat seperti robot transformer kehabisan baterai.
Dio melihat Rara dan memberi senyum ramah. “Pagi, Rara.”
“Pa-pagi!” Rara kaku seperti patung lilin.
Dio berhenti. “Kamu mau ke pantry?”
“I. Eu.” Rara membuka mulut. Bersiap bicara.
“Aku mau ngomong sesuatu.”
“Oh? Ada apa?”
Rara menggenggam tangan, wajahnya merah, mata berputar mencari keberanian.
“Dio… tumblermu itu.”
Dio menatap tumblermya, lalu menatap Rara. “Kenapa tumblerku?”
Rara menelan ludah.
Shit, ini momen hidup dan mati. Ini momen kebenaran. Ini momen di mana harga diri bisa hancur.
“Tumblermu itu, itu, itu.”
Dio menunggu dengan sabar. Rara menutup mata dan akhirnya berkata. “Aku curiga kamu pencurinya!”
Sunyi.
Hening.
Angin AC seperti berhenti berhembus.
Dio berkedip pelan. “Pencuri apa?”
“Tumbler! Tumbler aku!” Rara menunjuk tumblernya Dio dengan dramatis. “Warnanya sama! Bentuknya sama! Lecetnya mirip! Kamu sering ke pantry! Kamu, kamu.”
“Aku pencuri tumbler kamu?” Dio mengulang perlahan, memastikan ia tidak salah dengar.
Rara mengangguk.
Dio kembali terdiam.
Rara menunggu reaksi itu dengan keringat dingin.
Akhirnya, Dio menghela napas dan bukan kesal, lebih seperti bingung yang luar biasa.
“Rara,” katanya hati-hati, “tumblerku ini bukan punyamu.”
“Tapi mirip banget!” Rara spontan membela diri.
“Ini barang promo dari kantor lamaku. Satu divisi dapat yang sama persis. Kalau kamu ketemu teman kantor lamaku, kemungkinan mereka juga punya warna mint pastel begini.”
“Eh?”
“Ini edisi spesial ulang tahun perusahaan. Lihat di bawahnya.” Dio menunjuk bagian dasar tumbler. “Ada tulisan Limited Edition. Brighten Your Day.”
Rara menunduk melihat bawah tumblermya Dio dan ya, ada tulisan itu. Tumblernya Rara tidak punya tulisan itu.
Rara membeku.
“Oh, oh my, ya Allah.”
Wajahnya memerah. Panas. Panas level disetrika. Mau pingsan rasanya.
Dio menambahkan lagi, “Aku bahkan punya dua. Satu di rumah, satu yang ini.”
Rara menutup wajah dengan kedua tangan. “Astaga, aku malu banget!”
Dio tersenyum lembut. “Nggak apa-apa.”
“Gimana nggak apa-apa? Aku baru aja nuduh kamu kriminal tumbler!” Rara hampir teriak sambil memukul-mukul udara seperti kucing panik.
“Tenang, tenang,” kata Dio sambil menahan tawa. “Aku bukan pencuri tumbler.”
Rara ingin tenggelam ke dalam karpet kantor, berputar seperti bor tanah sampai masuk ke bumi.
Ia menunduk, menutupi muka dengan rambutnya.
“Dio maaf ya. Sumpah. Aku benar-benar malu sekarang. Aku bahkan nggak bisa lihat wajahmu.”
“Rara, aku nggak tersinggung kok.”
“Tapi itu tuduhan berat!”
“Pencurian tumbler?”
“Itu berat buat aku!”
Dio tertawa kecil. Nada tawanya bikin Rara makin mau melarikan diri ke gudang dokumen dan hidup di sana selamanya.
“Aku, aku pergi dulu ya,” kata Rara pelan.
“Mau ke mana?”
“Ke, kemana pun kaki membawaku menjauh dari rasa malu ini.”
Dio menahan tawa lagi. “Rara, jangan kabur.”
“Aku harus kabur. Aku nggak bisa menghadapi kenyataan. Selamat tinggal, Dio. Kalau bos nanya aku kemana bilang aja aku menyatu dengan udara.”
Rara berbalik hendak kabur, tetapi Dio menahan lengan bajunya dengan pelan dan sopan.
“Ra, serius. Aku nggak apa-apa.”
Rara berhenti.
“Benar?”
“Benar. Aku cuma bingung kenapa kamu bisa curiga sama aku sampai sejauh itu.”
Rara menatap Dio yang kini tersenyum lembut. Senyum yang entah kenapa bikin dadanya mencelos.
“Sebenarnya,” Rara menghela napas panjang. “Tumblerku itu penting banget buat aku. Ada kenangan. Dari sahabatku.”
Seketika ekspresi Dio berubah. Bukan lucu atau bingung lagi, tapi mengerti.
“Oh, pantes.”
“Dan karena itu, aku panik. Mungkin terlalu panik.”
“Wajar,” kata Dio, masih sopan, suaranya tenang. “Kalau aku punya barang penting dan hilang, aku juga pasti nyari sampai panik.”
Rara mengangguk, melihat lantai. “Aku benar-benar minta maaf ya. Serius. Kamu nggak akan laporin aku ke HRD kan?”
“Hah? Ngapain?”
“Ya siapa tahu kamu tersinggung terus, terus kamu lapor aku mau mencemarkan nama baik tumbler punyamu.”
Dio tertawa sampai menutup mulut.
Rara menunduk lagi, makin malu.
Setelah tawa mereda, Dio berkata, “Rara, kamu lucu.”
Jantung Rara melewatkan satu ketukan. Ia mendongak. “Hah?!”
Mata Dio yang teduh itu menatapnya serius tapi hangat.
“Aku bilang kamu lucu. Cara kamu ngomong. Cara kamu panik. Cara kamu berusaha keras cari tumblermu. Kamu, unik.”
Rara langsung kehabisan suara. Wajahnya merah. Kakinya gemetar.
“Aku, eh? Oh? Makasih? Mungkin?” katanya lirih.
Dio tersenyum sekali lagi lalu berjalan pergi.
Rara berdiri mematung dalam diameter 30 cm rasa malu.
Setelah lima detik, ia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Ya ampun, aku dituduh lucu! Padahal aku habis nuduh orang!”
Ia berbalik, berjalan pelan sambil menepuk-nepuk pipi.
Namun, rasa lega mulai terasa di dadanya.
Dio tidak marah. Dio tidak tersinggung. Dio bahkan memuji, tapi di balik semua itu, satu hal masih belum berubah.
Tumbler Rara tetap hilang.
Misterius. Tak terlacak dan entah mengapa setelah kejadian ini. Rara paling tidak ingin tumbler itu kembali ditemukan oleh Dio.
“Ya Tuhan!” Rara memukul dadanya sendiri pelan. “Kenapa jadi deg-degan?! Ini bukan skrip drama romansa! Aku cuma kehilangan tumbler!”
Wajah Dio terbayang lagi dan pipi Rara memanas lagi.
“Aku harus fokus. Fokus cari tumbler!”
Namun, langkahnya berubah menjadi ringan. Mungkin karena beban tuduhannya sudah hilang.
Mungkin karena Dio sangat sopan atau mungkin karena ada sesuatu lain yang mulai tumbuh, tapi jelas, perburuan tumbler Rara belum selesai.
Belum sama sekali dan Rara harus menemukan tumblernya dengan segera.