Bab 9: Permintaan Maaf Super Canggung

08 January 2026

Keesokan paginya, Rara datang ke kantor dengan langkah yang tidak seperti biasanya. Tidak ada drama hampir tersandung di lobi. Tidak ada teriak kecil karena lipstiknya meleleh. Tidak ada geger karena ID card tercebur ke got mini depan gedung. Hari ini dia fokus. Sangat fokus.

Karena hari ini dia harus minta maaf dan itu lebih menegangkan daripada presentasi bulanan, audit mendadak atau deadline dadakan. 

Rara menyelinap menuju pantry sambil membawa sebuah kantong kertas kecil. Isinya? Sebuah hadiah permintaan maaf yang ia siapkan dengan kepercayaan diri setipis tisue basah, kue coklat lumer homemade yang sebenarnya tidak sepenuhnya homemade karena separuh prosesnya dilakukan oven roti tetangganya.

“Semoga dia suka, semoga dia memaafkan, semoga bumi tidak menelan aku hidup-hidup.” Rara bergumam pada dirinya sendiri.

Ia sampai di depan pantry, mengintip seperti mata-mata level amatir yang sudah kena semprot bos sehari sebelumnya. Begitu melihat Dio sendirian sedang membuat kopi, Rara menarik napas panjang seperti mau menyelam ke dasar laut.

“Ra, kamu bisa. Kamu sudah menghadapi PPT nge-hang jam tujuh pagi. Kamu sudah menghadapi printer kantor yang kayaknya dendam sama kamu tiap hari. Ini cuma minta maaf. Cuma, cuma minta maaf ke cowok ganteng yang kamu tuduh mencuri tumblermu.”

Duh.

Rara menepuk pipinya sendiri.

Lalu masuk.

“Pa-pagi,” ucap Rara sambil memeluk kotak hadiah itu erat-erat di depan dada seperti pelindung dari serangan bertubi-tubi rasa malu.

Dio yang sedang menunggu air panas mengisi gelasnya, menoleh pelan. “Pagi.”

Tatapannya datar, bukan marah, bukan kecewa. Lebih ke arah bingung netral.

Rara justru tambah gugup. “Aku, eee… aku mau ngomong sesuatu.”

“Hmm?” Dio menunggu.

“Aku, ini, kemarin, aku,” Rara mulai gelagapan, memutar tangannya seperti orang mengocok minuman boba tak kasat mata.

Dio yang melihatnya mengerutkan alis kecil. “Kamu nggak apa-apa?”

“Apa-apa?! I-i, iyaa, aku apa-apa! Eh, maksudnya ya, aku kenapa-kenapa! Eh, bukan. Arrggghh, Oke. Aku ulang.”

Dia berhenti. Menarik napas. Mengangkat kotak kecil di tangannya.

“Aku mau minta maaf,” ucap Rara akhirnya, cepat sekali seperti peluru.

Dio diam beberapa detik. “Tentang?”

“Ehehe, tentang aku yang menuduh kamu ngambil tumbler aku.”

Hening.

Rara ingin menabrakkan kepalanya ke kulkas.

Dio memandangnya, lalu mengembuskan napas kecil sambil tersenyum samar. “Oh, itu.”

“Oh, itu?!” Rara gelagapan. “Aku kira kamu bakal marah setengah mati.”

“Aku bukan tipe orang yang marah sama hal kayak gitu,” jawab Dio jujur. “Lagipula kamu tampak benar-benar percaya itu. Aku sempat mikir kamu detektif undercover atau sesuatu.”

Rara menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aduh, malunyaaa!”

Dio menahan tawa. Suaranya kecil, tapi terdengar. “Tidak separah itu kok.”

“Parah! Sangat parah! Aku bahkan menguntit kamu dari pantry sampai lorong depan mushola dan aku foto tumblermu dari balik mesin kopi dan aku hampir masuk rapat CFO karena salah orang.”

Dio spontan mengangkat tangan. “Aku tahu yang itu. Satu kantor heboh.”

“Aaargghh,” Rara kembali menjerit tertahan. “Iyaaa, itu juga. Kamu pasti pikir aku aneh banget.”

Dio menatap Rara beberapa detik. “Aneh iya, tapi kayaknya itu sisi khas kamu.”

Rara mematung. “Itu pujian atau apa?”

“Netral,” jawab Dio polos.

Rara menunduk lesu. “Ya sudahlah. Pokoknya aku minta maaf. Beneran, beneran, beneran minta maaf.” Ia mendorong kotak kue coklat itu ke meja. “Ini tanda permintaan maafku. Jangan ditolak ya. Karena kalo ditolak, aku mungkin akan pulang ke rumah, bungkus diriku sendiri dan mengasingkan diri ke Papua.”

Dio mengambil kotak itu. Membuka sedikit. Melihat kue coklatnya. “Kamu bikin sendiri?”

“Lima puluh persen. Oven tetangga yang eksekusi.”

Dio tersenyum lagi, sedikit lebih lebar dari sebelumnya. “Terima kasih. Aku terima.”

Rara menghela napas lega, dramatis seperti habis lari maraton. “Syukurlahhh ya, tuhan.”

Baru beberapa detik lega, dia tiba-tiba teringat sesuatu.

“Eh, tapi ini gak berarti aku nyerah nyari tumblerku loh.”

Dio menghela napas kecil, tak marah, lebih ke pasrah. “Aku menduga begitu.”

“Aku bakalan cari terus,” lanjut Rara sambil mengepalkan tangan. “Aku bahkan belum menyerah untuk curiga ke seluruh penjuru kantor ini!”

“Semoga kali ini tanpa salah masuk rapat direksi,” sahut Dio lirih.

Rara menutup mulut. “Itu kecelakaan,” katanya lirih.

Dio mengangguk sopan. “Tentu.”

Walaupun ekspresi wajahnya jelas berkata. “Ia kecelakaan yang sangat kamu ciptakan sendiri.”


Setelah insiden permintaan maaf itu, suasana jadi canggung. Rara berdiri memegang lengannya, menggoyang-goyangkan kaki seperti anak sekolah ketahuan silent read webtoon di kelas.

Dio tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia memutuskan kembali membuat kopi, sedangkan Rara cuma berdiri menatap lantai.

Beberapa detik kemudian Rara berseru, “Ah! Aku harus balik kerja! Hahaha! Banyak kerjaan! Banyak banget! Super sibuk! Hahaha.”

Dia tertawa terlalu keras.

Dio memandangi cangkirnya. “Kamu baik-baik saja?”

“Tidak,” jawab Rara jujur, “tapi aku akan pura-pura iya.”

Lalu dia kabur.

Secara literal. Dengan langkah cepat seperti dikejar deadline hidup.


Rara kembali ke meja kerjanya dan langsung menenggelamkan wajah ke meja.

“Hoooooh malu banget! Malu banget Raaaaraaa!” teriaknya pelan.

Siska, teman satu timnya, mengintip dari balik monitor. “Kamu ngapain teriak ke meja?”

“Memproses rasa malu.”

“Astaga, masih soal tumbler?”

Rara mengangkat kepala, sorot matanya dramatis layaknya tokoh sinetron jam tujuh malam. “Siskaaa, aku menuduh orang tidak bersalah. Orang baru pula. Bayangkan reputasiku sekarang.”

Siska meringis. “Ya, semoga dia pikir kamu cuma unik?”

“Unik bagaimana?!” Rara panik.

“Unik yang tidak mengancam keselamatan umum?”

Rara memukul mejanya pelan. “Aku harus hidup dengan ini seumur hidup.”

“Udah. Move on. Fokus kerja. Nanti balik-balik kamu ke pantry lagi polos-polos cuma buat liat tumbler orang.”

Rara memalingkan wajah, "nggak janji.”

Siska menghela napas. “Rara!”

“Oke oke, aku kerja,” gumam Rara sambil membuka laptop, " tapi sumpah, aku nggak bakal nyerah sampai tumblerku ketemu.”


Siang hari.

Rara yang sudah lumayan pulih dari drama paginya, kembali keluar dari meja untuk mengambil air putih, tapi sebelum sampai pantry, dia bertemu Dio di lorong. Mereka saling menatap satu detik, lalu Rara refleks menunduk seperti kucing ketangkep makan ikan asin.

“Eh, halo,” sapa Dio duluan.

“Halo,” jawab Rara, suara kecil sekali.

Dio menarik napas sejenak, lalu berkata, “Ngomong-ngomong soal tumbler kamu. Kalau kamu mau, aku bisa bantu nyari. Mungkin liat CCTV atau tanya beberapa orang yang shift malam.”

Rara terbelalak. “Serius?!”

Dio mengangguk. “Iya. Kan kamu sangat sayang dengan tumbler itu.”

Rara langsung terharu. “Kamu kok, baik banget.”

“Bukan baik,” jelas Dio sambil menatap lurus. “Lebih tepatnya aku ingin kamu berhenti mencurigai orang tidak bersalah secara acak. Takutnya korban berikutnya aku lagi.”

Rara menabok lengan Dio pelan. “Ih!”

Tawa kecil akhirnya lolos dari bibir Dio adalah hal yang jarang terlihat sejak ia mulai bekerja di kantor itu.

Benar saja.

Sore itu, Dio mengirim pesan via internal chat kantor ke Rara. "Kalau kamu ada waktu besok, kita coba cek CCTV lantai pantry." "Seriously?! Kamu mau beneran bantu?!" "Iya, tapi jangan all caps." "Maaf, hehe..."

Siska melihat percakapan itu dari balik bahu Rara dan langsung menyenggolnya.

“Ra. Rara, itu namanya awal mula romansa.”

Rara menepis. “Hah?! Nggak. Ini investigasi. Pure investigasi.”

“Hmm.” Siska menyeringai. “Investigasi rasa-rasa manis.”

“Diam, Sis.”

“Kalau dia bantu kamu sampai malam pulang bareng, hmm…”

“Ssshh!”

Siska tertawa. “Yah whatever. Yang penting kamu udah minta maaf. Lagipula cowok itu baik banget sampai mau bantu nyari.”

Rara diam.

Lalu tersenyum kecil.

“Dia memang baik kok.”

Hanya itu yang dia akui.

Sisanya? Dia simpan sendiri. Termasuk rasa deg-degan kecil setiap Dio menatapnya dengan tatapan datar, tapi hangat.


Sore makin larut.

Saat Rara pulang, ia menatap kembali isi lacinya yang kosong tempat tumbler kesayangannya dulu bersemayam.

“Besok,” ucapnya pelan. “Besok pencarian akan berlanjut.”

Ia tidak tahu bahwa seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan, tepat sebelum pintu lift tertutup.

Dio.

Dengan kotak kue coklat buatan Rara masih terselip di tangannya dan dengan senyum kecil yang ia sembunyikan di balik ekspresi kalemnya.