Keesokan harinya, Rara datang satu jam lebih awal dari biasanya. Itu adalah sebuah keajaiban langka yang bisa masuk sejarah kantor. Rambut diikat rapi, sepatu tidak salah kiri-kanan, bahkan ia ingat membawa payung padahal langit cerah. Semua karena satu hal:
Operasi Pencarian Tumbler.
Rara tiba di pantry sambil membawa binder kecil yang ia sebut 'Buku Investigasi Rahasia' yang sebenarnya hanyalah notebook coklat isi 40 lembar bertuliskan 'Agenda Meeting' di sampulnya. Tulisan tangan Rara memenuhi lembar pertama. Pantry sudah disisir, lalu CCTV masih pending, divisi lain belum, gudang ATK suspicious area, mushola kemungkinan jika jatuh, basement adalah area misterius yang penuh potensi tumbler jatuh dan terguling dan Dio adalah tersangka tereliminasi, sementara.
Ia menatap tulisan itu dengan kebanggaan palsu seorang detektif amatir.
Tak lama, Dio muncul sambil membawa laptop kecil. Penampilannya seperti biasa, kemeja rapi, rambut tertata, wajah datar dengan versi manusia dari ikon default calm mode.
“Pagi,” sapanya pendek.
“Pagi, partner investigasi!” Rara memberi hormat seperti anggota pasukan rahasia. “Operasi pencarian bisa dimulai dalam waktu tiga, dua, satu.”
Dio memotong, “Rara, kita cuma nyari tumbler. Kita bukan di film mata-mata.”
“Dio,” kata Rara serius, menatapnya dalam. “Tumblerku bukan tumbler biasa.”
Dio terdiam. Menyesal memulai percakapan.
Misi pertama di gudang ATK.
Gudang ATK adalah ruangan yang jarang dikunjungi kecuali ketika ada orang sedang butuh spidol untuk presentasi sejam lagi dan panik karena hilang. Ruangannya gelap, penuh rak dan aromanya seperti campuran kardus, tinta printer dengan kenangan pahit karyawan yang leave requestnya belum diapprove.
Rara dan Dio masuk pelan, seolah ada jebakan laser.
“Kita cari di sekitar rak paling bawah dulu. Kalau tumblerku jatuh dan menggelinding, kemungkinan besar nyangkut di situ,” kata Rara sambil menyalakan senter HP.
“Kamu yakin tumbler bisa menggelinding sejauh ini?” tanya Dio sambil memeriksa sudut lain.
“Yakin! Aku pernah lihat video tumbler di TikTok jatuh dari meja dan terus menggelinding lima meter. Hidup ini penuh kemungkinan, Dio.”
Dio mengangguk pasrah.
Rara berjongkok, mengintip ke bawah rak. “Ada banyak debu, ada staples raksasa, ada stiker, ada, oh, ya Tuhan itu kecoa mati! Aaaaak!”
Dia melompat ke belakang, hampir menabrak Dio.
Dio memegang bahunya agar ia tidak jatuh. “Tenang.”
“Tenang?! Ada kecoa raksasa yang mati dengan posisi ngeri! Dia menatapku, Dio!”
“Dia mati, Rara.”
“Mati saja masih bisa menakutkan!”
Dio menarik napas panjang. “Oke. Kita skip bawah rak.”
Rara menepuk dadanya sendiri. “Deal.”
Beberapa menit kemudian, mereka menyisir rak lain. Tidak ada tumbler. Tidak ada benda yang mirip tumbler. Hanya kertas, kardus, binder dan barang-barang ATK misterius yang bahkan divisi keuangan tidak tahu fungsinya.
“Aku rasa tumblermu nggak ada di sini,” simpul Dio.
“Ya!” Rara menghela napas panjang, “tapi terima kasih udah mau cek.”
Dio menoleh. “Belum selesai. Kita masih punya beberapa tempat.”
Rara tiba-tiba tersenyum lebar. “Kamu serius mau lanjut?”
“Ya. Kamu kelihatan bakal nyari sendiri kalau aku tinggal dan aku takut kamu masuk ventilasi udara atau sesuatu.”
Rara menutup mulut. “Aku nggak sampai segitunya.”
Dio menatapnya, "oke mungkin aku bisa,” akunya.
Misi kedua di mushola.
Mushola adalah tempat tenang, lembut, penuh kedamaian. Namun, Rara memperlakukannya seperti tempat kemungkinan petunjuk terkuat.
“Mungkin aku taruh sebentar kalau habis wudhu,” gumam Rara sambil meneliti rak sandal.
“Rara, kamu ingat nggak, waktu itu kamu ke mushola?”
“Enggak.”
“Terus kenapa kita di sini?”
“Karena kemungkinan! Semua kemungkinan harus dipertimbangkan!”
Dio menatap karpet mushola, lalu ke arah pintu, lalu kembali ke Rara. “Baiklah.”
Rara mulai mengangkat ujung karpet mushola sedikit. “Mungkin jatuh ke bawah sini.”
“Jangan diangkat tinggi,” bisik Dio. “Takutnya orang pikir kita mau bongkar ruangan.”
Rara langsung menurunkan karpet. “Iya juga.”
Mereka memeriksa rak sajadah, lemari kecil, bahkan lipatan telekung yang sudah sangat rapi. Namun, langsung Rara rapikan lagi saking takutnya merusak susunannya.
Semua nihil.
“Aku mulai curiga tumblerku berpindah dimensi,” kata Rara lirih.
Dio menatapnya sambil menekan tawa. “Tidak sesulit itu. Mungkin tertinggal di tempat lain yang kamu nggak ingat.”
“Kamu bilang gitu seolah aku mudah lupa,” jawab Rara.
Dio menatapnya lagi, "oke iya, aku memang mudah lupa.”
Misi ketiga di basement.
Basement kantor adalah tempat parkir yang gelap dan dingin. Angin yang masuk dari area samping menciptakan efek horor yang tidak perlu. Rara merasa cocok untuk 'lokasi investigasi lanjutan'.
“Menurutku tumblerku bisa aja jatuh pas aku turun dari motor waktu pagi itu,” katanya yakin, " tapi ini basement gedung kantor, bukan basement apartemen kamu,” jawab Dio.
Rara mematung. “Oh iya ya!”
Sementara Dio mencoba memahami logika Rara, Rara sendiri sudah sibuk mencari di belakang mobil-mobil orang.
Tiba-tiba Rara berhenti. “Dio, kamu dengar itu?”
Dio ikut mendengarkan. Ada suara kruk kruk kruk kecil.
“Apa itu?” Rara mulai panik.
“Itu suara kucing,” jawab Dio tenang.
“Aku kira itu makhluk penghuni basement!”
“Kamu nonton film apa semalam?”
Rara mengangkat tangan. “Kompilasi video horor Tumbler Hilang.”
“Hah?! Ada begituan?”
“Ada, buatan fans.”
Dio memutuskan tidak bertanya lebih jauh.
Mereka memeriksa dekat area tempat sampah daur ulang. Rara membuka satu kotak kardus berukuran besar, berharap tumblernya ada di sana.
Yang ia temukan, tumpukan botol minum bekas rapat, semuanya bau kopi dan sisa teh.
Tiba-tiba Rara berseru pelan, “Dio, kalau tumblerku ada di sini, itu akan menyakitkan sekali.”
“Tenang. Tidak ada di sini,” kata Dio, menutup kotak itu lagi.
Perhatian Dio terlihat dari hal-hal kecil, dia menyingkirkan barang-barang tajam agar Rara tidak tersandung, ia menahan pintu basement supaya tidak kena kepala Rara, ia mengingatkan Rara tiap kali Rara terlalu dekat dengan mobil orang.
Rara mulai memperhatikan itu.
Saat mereka berjalan kembali menuju lift, Rara menunduk.
“Dio,” panggilnya tiba-tiba.
“Hm?”
“Maaf kalau aku merepotkan.”
Dio menatapnya lama. “Kamu memang sedikit merepotkan.”
Rara meringis.
“Tapi nggak apa-apa,” lanjut Dio cepat. “Kamu berusaha menemukan sesuatu yang berarti buat kamu. Itu wajar.”
Rara mematung.
“Jadi, kamu nggak keberatan?” tanya Rara pelan.
Dio menatap lurus ke depan. “Selama kamu nggak menyimpulkan hal-hal aneh lagi, aku tidak keberatan.”
“Itu janji?” Rara bertanya lebih bersemangat.
“Bukan janji.”
“Kenapa?!”
“Karena aku yakin kamu tetap akan membuat kesimpulan aneh entah kapan.”
Rara membuka mulut hendak membantah, tapi ya, sulit menyangkal.
“Aku tersinggung, tapi aku tahu kamu benar,” ucap Rara akhirnya.
Dio hanya tersenyum kecil, senyum yang jarang muncul, tapi Rara sudah mulai mengenal artinya.
Sesampainya di lantai kantor, Rara meraih notebook 'Buku Investigasi Rahasia' miliknya.
Ia mulai mencoret. Gudang ATK kosong, mushola tidak ada tanda-tanda keberadaan tumbler, basement nihil yang ada kucing lucu. .
Dio memerhatikan dari samping. “Kamu beneran bikin laporan investigasi?”
“Ya dong. Ini serius. Operasi Tumbler Harapan, fase pertama selesai.”
“Mau lanjut fase dua?”
Rara menatap Dio dengan semangat membara.
“Mau!”
Dio menarik napas panjang, tapi tidak menolak.
Dalam hati Rara diam-diam berkata. "Dio itu, perhatian juga ya."
Lalu buru-buru menyangkal dirinya sendiri.
Ini bukan apa-apa! Ini cuma investigasi! Fokus Rara fokus! Jangan baper cuma karena dia buka pintu basement buat kamu!
Dio menoleh ke arahnya. “Kamu tadi ngomong sesuatu?”
Rara tersentak. “Tidakkk!”
“Baik,” jawab Dio datar.
Rara menggigit bibirnya.
Operasi tumbler masih jauh dari selesai dan hatinya, tanpa sadar, mulai bergerak sedikit.
Sangat sedikit. Namun, terasa.