Rara berjalan di samping Dio dengan langkah kecil-kecil penuh gelisah, menenteng 'Buku Investigasi Rahasia' yang kini sudah berisi coretan seperti catatan kriminal. Sementara Dio, seperti biasa, berjalan tenang, berjarak setengah meter dari Rara, jarak aman untuk menghindari kemungkinan Rara terpeleset, tersandung atau menabrak tanaman hias.
Mereka baru saja keluar dari ruang keuangan setelah dicek bahwa tidak ada tumbler ditemukan di sana kecuali botol bekas reimburse yang terlupakan. Rara menghela napas panjang.
“Huft... makin lama aku makin merasa tumblerku itu punya kaki,” gumam Rara.
“Kalau punya kaki, mungkin dia sudah kabur dari kamu,” jawab Dio datar.
Rara menoleh cepat. “Hah?! Maksud kamu tumblerku kabur karena aku tidak menyenangkan?!”
“Aku nggak bilang gitu,” kata Dio cepat.
“Kedengarannya gitu!” Rara memegang pipinya, dramatik. “Aku bahkan kehilangan benda karena benda itu muak denganku, sedih banget hidupku.”
“Aku bercanda, Ra.”
Rara terdiam, "itu barusan bercanda?” tanyanya pelan.
Dio mengangguk kecil.
Rara tertegun seperti baru melihat unicorn. “Dio, kamu bisa bercanda?!”
“Kadang,” jawabnya singkat.
“Dio bercanda, oh, wow, catat ini di sejarah kantor. Hari ini Dio akuntansi mengeluarkan candaan, aku merasa terhormat.”
“Rara, tolong jangan dijadikan pengumuman kantor.”
Rara langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. “Oke. Rahasia. Mulutku terkunci.”
“Bagus.”
Mereka melanjutkan perjalanan menuju lounge kecil di dekat area meeting. Rara duduk, sementara Dio bersandar di meja panjang.
Sesaat, Rara diam. Tidak terlihat gelisah, tidak panik, tidak sok-sok mata-mata. Wajahnya berubah lembut, langka seperti promo gaji naik.
“Aku mau cerita sesuatu,” katanya lirih.
Dio melirik, menunggu tanpa memaksa.
Tentang tumbler. Tentang seseorang di baliknya. Tentang alasan kenapa ia bisa segila ini demi sebuah benda.
“Itu hadiah dari sahabatku,” mulai Rara. “Namanya Nara. Dia sahabatku dari SMA. Dia orang yang sangat, sangat baik. Selalu ada buat aku. Dia pindah ke Jepang karena beasiswa kuliah. Dari dulu aku selalu bilang dia kayak kakak kedua buat aku.”
Dio mendengarkan. Fokus. Tenang.
“Waktu dia mau berangkat, dia kasih aku tumbler itu. Warna mint pastel, lucu banget, ada stiker-stiker aneh pilihan kita dan dia bilang, dia kasih tumbler itu supaya aku selalu ingat, meski jauh, dia tetap temanku.”
Rara tersenyum kecil, tapi matanya berkaca-kaca. “Jadi tumbler itu tuh, bukan cuma tempat minum. Itu bagian kecil dari masa SMA-ku yang penuh tawa dan drama bodoh. Dan aku janji nggak bakal hilangin, tapi malah hilang.”
Dio menatapnya lama. “Nara pasti nggak akan marah.”
Rara menatap lantai, "tapi aku marah sama diri sendiri. Aku ceroboh banget. Hal kecil begini aja aku nggak bisa jagain.”
Dio perlahan duduk di kursi di depannya.
“Kamu kehilangan barang yang penting. Wajar banget kalau kamu sedih.” Suaranya rendah, lembut, dan serius, " tapi kehilangan barang itu bukan berarti kamu kehilangan kenangannya.”
Rara mengerjap cepat, memproses kata-kata itu dan matanya melebar. “Dio,” bisiknya. “Itu barusan kata-kata paling bijak yang pernah aku dengar dari kamu.”
“Aku biasa menghibur orang seperti ini,” ucap Dio sambil memandang jauh.
Rara langsung mencondongkan badan, penasaran. “Kok, kayak pengalaman pribadi gitu?”
Dio terdiam sebentar. Lalu perlahan berkata, “Ada seseorang dulu.”
Rara, spontan, menepuk meja. “Woaahh! Oke. Oke. Ini seru. Aku siap mendengar.”
Dio mengerutkan alis. “Bukan cerita seru.”
“Oh, maaf, aku ulang.” Rara batuk kecil lalu menunduk serius. “Aku siap mendengar.”
Dio menghela napas pendek, lalu mulai bercerita.
Cerita Dio.
“Dulu aku pacaran lumayan lama dengan seseorang. Namanya Lena.” Dio menatap meja, tidak sedih, tapi jelas ini bukan kenangan manis.
“Kami cocok di awal, tapi lama-lama ya, ternyata hubungan kami tidak sehat. Dia suka mengatur. Semua hal diatur. Cara berpakaian, jam pulang, hobi, teman-teman, semuanya.”
Rara ikut mengerutkan kening. “Kok kayak dosen killer.”
“Lebih parah,” jawab Dio datar.
Rara mengangguk-angguk dramatis.
“Awalnya aku kira itu bentuk perhatian,” lanjut Dio, "tapi makin lama, aku merasa nggak jadi diri sendiri. Aku kehilangan banyak hal. Kegiatan yang aku suka. Teman-teman. Bahkan waktu aku sendiri.”
“Terus kalian putus?” tanya Rara pelan.
Dio mengangguk. “Ya dan itu perlu waktu lama untuk bikin aku sadar hubungan yang sehat itu harusnya bikin kamu merasa aman, bukan tertekan.”
Rara menatap Dio lebih lama. Ada sesuatu yang berubah dalam cara ia memandang pria itu. Tidak hanya sebagai orang kalem di pantry yang dicurigai mencuri tumbler, tapi seseorang dengan luka yang pernah ia simpan rapat-rapat.
“Dio.” Rara berkata pelan, “kamu pantas dapat yang lebih baik, tau.”
Dio menoleh kecil. “Aku tahu.”
“Tapi beneran. Kamu tuh, baik, sabar, rapi, sopan, suka nolongin aku padahal aku nyebelin dan ya, kamu kayak air putih dingin di hari panas.”
Dio menghentikan gerakan tangannya, "maksudnya apa itu?”
“Menyejukkan,” jawab Rara mantap, " tapi kadang bikin pusing kalau kebanyakan.”
Dio menatapnya. “Jadi aku bikin kamu pusing?”
“Iya, tapi dalam arti baik,” jawab Rara cepat.
Dio menunduk, mengusap lehernya kikuk. “Hmm… oke.”
Rara tersenyum kecil.
Keheningan muncul. Bukan canggung, tapi hangat. Seperti dua orang yang mulai membuka diri tanpa ada yang memaksa.
Rara memainkan jari-jarinya. “Kamu nggak benci perempuan setelah itu?”
“Tidak. Hanya lebih hati-hati.”
Rara mengangguk. “Makes sense.”
“Dan kamu,” lanjut Dio, “sepertinya jauh dari tipe yang akan ngatur-ngatur orang.”
“Loh kok begitu?”
“Kamu bahkan nggak bisa ngatur dirimu sendiri,” jawab Dio.
Rara terperangah. “Itu bener, tapi tetep aja rasa kok, sakit di hati ya?!”
Dio tertawa kecil, sebuah tawa halus, pendek, tapi asli. Rara sampai berhenti bergerak.
“Kamu ketawa?!” “Kamu lucu,” katanya pelan.
Rara membeku. “Aku? Lucu?” “Ya.” “Maksud kamu, lucunya objek penelitian atau lucu menyenangkan?” “Aku nggak jawab.”
Rara menjerit pelan dalam hati, 'aaaaaa dio bilang aku lucu aaaa', tapi luarannya hanya batuk-batuk tidak natural.
“Aku senang kamu cerita, Dio,” kata Rara lembut. “Nggak gampang kan, buka cerita kayak gitu.”
Dio mengangguk pelan.
"Tapi kamu hebat bisa keluar dari hubungan buruk tanpa jadi pahit.”
“Kadang masih rusak sedikit,” jawab Dio jujur.
“Wajar,” balas Rara. “Yang penting kamu tetap tahu kamu orang baik. Orang baik selalu ketemu hal baik nantinya.”
Dio menatap matanya sesaat.
“Aku harap begitu.”
“Pasti,” jawab Rara mantap. “Kalau nggak, biar aku yang hadepin dunia.”
Dio menghentikan napas sepersekian detik, "kamu ngomong apa sih.”
Rara tersadar. “E-eh, maksudku sebagai teman! Teman!” Dio mengangguk tipis. “Ya, teman.”
Sebuah kata yang tiba-tiba terdengar hangat.
Setelah beberapa saat istirahat, Rara bangkit dari kursinya. Wajahnya kembali penuh semangat absurd.
“Baik! Istirahat curhat selesai! Waktunya kembali ke misi pencarian 5umbler harapan!”
Dio berdiri perlahan. “Kita kemana sekarang?”
Rara membuka notebook investigasi dan menghentakkan jari ke satu baris tulisan.
“Fase berikutnya. Loker dan area belakang kantor!”
Dio menatap langit-langit sebentar. “Oke.”
Rara tersenyum lebar. “Dio, makasih ya.”
“Untuk apa?”
“Untuk ini semua. Buat bantu aku. Buat dengarin aku. Buat cerita ke aku.”
Dio memalingkan wajah, entah karena malu atau canggung, "sama-sama.”
Saat mereka berjalan keluar lounge, jarak di antara mereka lebih dekat. Tidak lagi setengah meter. Kini hanya beberapa langkah kecil.
Pencarian tumbler masih panjang, tapi di antara tumpukan rak, gudang gelap, dan ruangan kantor yang melelahkan.
Sesuatu lain mulai ditemukan.
Perlahan.
Tanpa mereka sadari.