Bab 12 : Reaksi Teman Kantor

08 January 2026

Sejak misi pencarian tumbler dimulai, Rara dan Dio semakin sering terlihat berjalan berdampingan. Kadang sambil berbisik seperti agen rahasia, kadang sambil memeriksa pojok-pojok kantor yang bahkan satpam saja lupa kalau tempat itu ada dan hasilnya?

Satu kantor mulai heboh.

“Ra. Ra. Ra..." Mira muncul di samping cubicle seperti hantu yang hobi drama. “Boleh tanya sesuatu nggak?”

“Boleh.” Rara masih sibuk mengintip ke dalam laci meja kerjanya sendiri, berharap tumblernya bisa tiba-tiba muncul seperti NPC game.

“Kenapa sih akhir-akhir ini kamu kayak.” Mira meletakkan dua jarinya di pipi, membuat pose gemas, “jalan sama Kak Dio mulu?”

Rara langsung bangkit tegap.

“Ha?! Siapa? Aku? Jalan? Sama Dio? Siapa Dio?! Eh, maksudnya kenapa Dio?! Eh, maksudnya aku nggak jalan sama siapa-siapa!” Rara gagap sampai lupa cara bahasa Indonesia bekerja.

Mira memandangnya lama, mengangkat alis.

“Rara, dia itu karyawan baru. Nama lengkapnya ada di ID card, kamu pasti tahu.”

“Aku nggak ngeliatin ID card dia!” bantah Rara, terlalu cepat. “Aku cuma kebetulan ketemu! Kantor ini kecil! Eh, ya nggak kecil, tapi ya, kamu tahu lah!”

“Kebetulan? Setiap hari?” Mira melipat tangan. “Aku lihat kalian tadi sama-sama buka pintu gudang ATK. Kemarin sama-sama di pantry. Kemarin lagi bareng di mushola. Terus tadi pagi aku lihat kamu sama Dio lagi ngintip ke kolong sofa lobby.”

“Itu, itu pencarian bukti forensik.” “Dari sofa?” “Ya, siapa tau pelakunya sembunyiin tumblerku di bawah sofa, Mira!”

Mira menghela napas panjang. “Rara, yang hilang itu tumbler, bukan harta karun bajak laut.”

Rara menangkupkan dada dramatis, "tapi itu benda paling berharga dalam hidupku setelah pulsa internet!”


Di tempat lain, tepat di pojok ruangan divisi IT, Dio juga sedang jadi bahan bahasan.

“Bro!” Dimas, programmer paling nyinyir sekaligus paling haus gosip, mencondongkan tubuh. “Lu beneran jalan sama Rara mulu sekarang?”

Dio berhenti mengetik. “Nggak jalan, kok. Kita cuma, mencari sesuatu.”

“Sesuatunya bentuk silinder warna mint pastel itu kan?” “Ya.” “Dan lu sekarang partner pencarian resmi?”

Dio tersenyum kecil. “Begitulah.”

Vincent, yang dari tadi makan keripik tanpa peduli lingkungan kerja, nyeletuk, “Gue lihat Rara lari-lari di koridor sambil manggil nama lu. Pasti lu punya sesuatu yang dia mau.”

Dio hampir tersedak udara. “Nggak! Itu salah paham.”

“Hmm.” Dimas mengelus dagu ala detektif," tapi jujur, Ra itu lucu sih.”

Dio mengedip pelan. “Lucu gimana?”

“Lucu yang chaos, tapi lovable,” jawab Vincent. “Lu lihat sendiri kan, cara dia ngomong cepat? Cara dia panik kalau ide aneh muncul di kepalanya? Cara dia megang catatan misi kayak agen spy kids?”

Dio sebenarnya nggak mau mengiyakan, tapi bayangan Rara tadi pagi yang panik karena kepalanya nyangkut di balik tirai mushola gara-gara berusaha mengecek celah tempat wudhu, langsung muncul di kepalanya.

Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Gitu deh,” Dio akhirnya menjawab datar, walau wajahnya sedikit memerah.

Dimas dan Vincent saling menatap. Mereka menemukan sesuatu. Yaitu bahan gosip level premium.


Sore harinya di pantry, giliran Rara dapat gempuran dari dua rekan lain yang terkenal cerewet. Tia dan Lila.

“Jadi gimana? Kamu sama Dio?” Tia membuka percakapan tanpa pemanasan.

“Apaan?!” Rara hampir menjatuhkan sendok pengaduk kopinya.

Lila mengangguk cepat. “Iya, Ra. Kamu sekarang tuh sering banget bareng dia. Kayak, kayak pasangan agen rahasia yang punya misi khusus.”

“Karena kita memang punya misi! Misi pencarian tumbler!” Rara menunjuk ke atas drama, seperti sedang menyampaikan pidato deklarasi perang.

Tia dan Lila sama-sama memelototinya.

“Rara,” Tia mendekat, menepuk bahu Rara perlahan. “Kamu sadar nggak? Orang lain tuh bukan fokus ke tumblernya. Orang-orang fokus ke kaliannya.”

Rara mendelik. “Ke kami?”

“Iya. Kamu sama Dio.” Lila mengangkat alis penuh makna. “Liat aja, tadi pagi kalian datang bareng, kan?”

“Itu nggak sengaja!” Rara membela diri. “Aku cuma kebetulan masuk lift yang sama! Dia ada di dalam duluan! Masak aku harus turun lagi?!”

“Kalo kamu malu bisa kok turun lagi,” Tia sengaja menggoda.

“Aku nggak malu!” Rara memasang wajah tegas. “Waktu itu kamu jatuh keluar lift.” “Itu karena lantainya licin!” “Padahal lantainya kering.” “Kering, tapi ya, licin lah karena, karena , ya, pokoknya!”

Rara semakin salah tingkah. Kedua temannya langsung bertukar tatapan geli.

“Astaga, Ra,” Lila menahan tawa. “Kamu tuh, suka sama Dio ya?”

Rara langsung terbatuk-batuk, panik kayak habis ditodong pertanyaan ujian skripsi mendadak.

“Apa-apaan?! Siapa yang suka?! Aku nggak suka! Aku cuma.” Dia menggerak-gerakkan tangan acak, “penasaran sama tumb, maksudnya, penasaran sama perilaku, eh, investigasi ya, pokoknya begitu!”

Dio muncul dari pintu pantry dengan segelas teh di tangan.

“Rara?”

Rara membalikkan badan terlalu cepat. “Ha?! Yes, no, maybe, uh, hi!”

Tia dan Lila langsung pergi menjauh sambil cekikikan seperti makhluk-makhluk pembawa gosip yang puas melihat drama hidup seseorang.

Dio sedikit menatap mereka yang pergi, lalu kembali ke Rara.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lembut.

“Apa-apa? Apa? Siapa? Aku? Ngap-ngapain? Hehehe… aku OK banget!” Rara memaksakan senyum yang meronta-ronta minta perbaikan.

Dio menatapnya cukup lama, seolah mencocokkan perilaku absurd Rara dengan realitas.

“Teman-temanmu aneh juga ya,” katanya tiba-tiba.

Rara langsung mengambil napas lega, akhirnya ada topik aman.

“Aneh kan?! Mereka suka gitu, sok-sok jadi analis hubungan orang. Padahal aku nggak suka siapa-siapa!” Rara berkata terlalu cepat. “Dan kamu juga nggak suka siapa-siapa kan?!”

Dio hampir tersedak tehnya. “Hah? Tiba-tiba?”

“Maksudku, maksudku ya, kita ini cuma partner pencarian tumbler! Betul? Betul? Hahaha.”

Dio menatapnya, datar tapi lembut, seperti biasanya.

“Iya. Kita partner pencarian,” jawabnya sambil tersenyum kecil.

Anehnya, senyum tipis itu membuat wajah Rara memanas bagai wajan teflon.


Di meja kerja, Rara berusaha fokus pada spreadsheet, tapi fokusnya terganggu oleh fakta bahwa hampir semua orang melirik-liriknya.

Ada yang senyum-senyum. Ada yang bisik-bisik.

Ada pula yang menirukan gaya agen rahasia membawa tumbler imajiner.

Rara mengempaskan badan ke kursi.

“Kenapa sih, mereka semua begitu?” gumamnya.

Mira muncul lagi dari belakang.

“Karena kamu begitu.” “Aku kenapa?” “Kamu tuh, jarang banget jalan sama cowok mana pun. Eh begitu Dio muncul, kamu langsung intens kayak drama kantor ‘Office Romance Tumbler Edition’.”

“Mira… please!” Rara menutupi wajah pakai folder.

“Tapi jujur Ra, kalian cocok sih,” ucap Mira sambil tersenyum menggoda. “Dia calm, kamu chaos. Dia pendiam, kamu.”

“Aku apa?” “Kamu Rara.”

Rara mendengus keras, tapi pipinya memerah.


Sementara itu, di divisi IT. 

“Kak Dio.” Dimas mencondongkan kursi. “Gue denger tadi di pantry Rara panik banget pas lu muncul.”

“Hm?” Dio mengangkat alis.

“Lu bikin dia deg-degan ya?” “Bukan begitu.” “Jadi gitu?” “Bukan.”

Vincent ikut menimpali, "tapi lu tau nggak? Rara itu polos tapi niat banget. Gue denger dia tuh sampai bikin catatan detail tentang tumblernya,” katanya sambil mengangkat kertas berisi coretan Rara yang entah bagaimana sampai di tangan tim IT.

Ada gambar tumbler. Ada tanda panah.

Dio menutup wajahnya.

“Kalian dapat itu dari mana?” “Dari grup WA kantor. Viral, bro,” jawab Dimas ringan.

Dio hanya menghela napas pasrah, tapi senyumnya tipis. Sangat tipis. Namun, nyata. Bahkan ia sendiri tidak menyadari betapa seringnya ia tersenyum akhir-akhir ini.


Sore menjelang pulang, Rara dan Dio kembali bertemu di lobby.

“Besok kita cari ke area belakang pantry, ya?” kata Rara sambil mencatat lagi sesuatu di sticky notes. “Aku belum cek ventilasinya. Siapa tahu pelaku menyembunyikan tumblerku di.”

“Di ventilasi?” Dio mengulang, suara pelan khas orang sabar yang mencoba memahami logika orang chaos.

“Ya!” Rara mengangguk semangat. “Banyak orang jahat sembunyikan barang di ventilasi. Di film-film.”

Dio hanya bisa mengangguk kecil.

“Boleh. Kita cek.”

Rara terdiam sejenak. Tatapannya mengecil.

“Kamu, nggak capek kan, ikuti aku gini?"

Dio menatapnya lama, seperti memikirkan jawabannya baik-baik.

“Aku nggak capek,” katanya akhirnya. “Aku senang kok.”

Wajah Rara langsung memerah sampai telinganya.

“Se-senang karena misi ini menyenangkan kan? Hehehe. Hahaha. Hah.”

Dio tertawa kecil dengan pelan, tapi sangat nyata.

“Iya. Misinya menyenangkan dan partnernya juga.”

Rara hampir mati berdiri.


Hari itu Rara pulang dengan kepala pusing, hati hangat dan pikiran yang campur aduk, tapi satu hal jelas. Teman-teman kantor boleh menggoda. Tim IT boleh bergosip, tapi Rara mulai sadar sesuatu yang lebih besar dari sekadar tumbler hilang. Dio membuatnya gugup dengan caranya yang tenang dan Rara yang biasanya tidak pernah peduli soal laki-laki, kini mulai merasakan sesuatu yang ia belum berani akui, tapi pencarian tumbler harus lanjut. Misi belum selesai dan mungkin perasaannya juga baru mulai terbentuk.