Hari berikutnya dalam pencarian tumbler Rara dimulai dengan semangat yang sebenarnya hanya dimiliki satu orang. Rara sendiri.
Dio? Ia datang dengan langkah tenang seperti biasa, tapi ada aura damai yang terpaksa berhadapan dengan badai bernama Rara.
“Dio, kita hari ini harus cek ruang server,” kata Rara sambil menepuk-nepuk map birunya seperti agen rahasia kelas menengah. “Menurut analisis mendalamku, hanya ada tiga area tersisa di lantai ini, ruang server, ruang genset dan kemungkinan kecil ruang penyimpanan helm proyek.”
Dio mengerjap pelan. “Kenapa helm proyek?”
“Karena orang jahat suka sembunyiin barang di tempat tidak relevan!” ujarnya serius.
"Baiklah.”
Keduanya berjalan menuju ruang server. Tentu saja, sebelum masuk, Rara sudah melakukan ritual yang dia anggap prosedur standar investigasi.
Ritual itu berupa menempelkan telinga ke pintu, mengetuk dua kali pelan, kemudian berbisik, " agen R. R melaporkan kesiapan.”
Dio berdiri di sampingnya, memegang map dengan sabar, sambil bertanya-tanya apakah hidupnya memang sudah ditakdirkan begini sekarang.
Begitu pintu ruang server dibuka, hawa dingin AC ekstrem langsung menyambut.
Rara menggosok lengan. “Astaga, ini kayak masuk ke kulkas raksasa.”
Dio menutup pintu pelan. “Memang harus dingin. Biar server stabil.”
“Kalau aku tinggal di sini, aku bisa stabil nggak?”
“Kayaknya nggak.”
Rara mengangguk. “Iya sih.”
Mereka mulai menyisir ruangan. Jejeran rak server berdiri tegak bagai pilar-pilar digital yang mengawasi.
Rara berjalan penuh curiga sambil mengarahkan senter kecil dari ponselnya seperti polisi, padahal ruangan itu terang sekali.
“Sini,” kata Dio, memanggil pelan. “Kalau kamu cek bagian bawah rak, hati-hati. Banyak kabel.”
“Hah? Kabel? Kabel apa? Kabel yang bersahabat atau kabel yang jahat?”
“Semua kabel bisa jahat kalau kamu sentuh sembarangan.”
Rara langsung gemetar dramatis. “Kenapa semua yang berhubungan dengan teknologi itu menyeramkan ya.”
Dio jongkok untuk mengecek bagian bawah perangkat server. Ia mengangkat satu bekas kotak kardus yang tampaknya pernah dipakai teknisi.
“Ini bukan punya kamu kan?” Dio mengangkat kardus itu.
“Kalau tumb, eh. Nggak, bukan. Aku tuh bukan kardus mania.”
Dio menahan senyum.
Rara kemudian mencoba mengecek bagian lain. Tanpa peringatan, dia tiba-tiba jongkok, melongok ke celah belakang rack server dan tentu saja. Tangannya hampir menyentuh sambungan kabel listrik tegangan tinggi.
“Rara! Jangan!”
Dio bergerak cepat, menarik lengan Rara sebelum jari gadis itu mendarat di kabel.
Rara terkejut sampai duduk di lantai. “Hah?! Ada apa?!”
“Kamu hampir nyentuh kabel listrik utama,” kata Dio sambil mengusap keningnya, sedikit panik.
“Serius? Aku bisa kesetrum?!”
“Bisa.”
Rara menoleh ke kabel, lalu menatap Dio, lalu menatap kabel lagi. Kemudian dia menutup mulutnya dengan tangan, shock terlambat.
“Astaga. Jadi tadi aku melakukan misi mati?”
“Bukan misi, itu pure nekad,” jawab Dio datar.
“Dio kalau aku kesetrum, tumblerku nggak akan ketemu.” Rara berkata sedih, seolah itu konsekuensi paling menyakitkan.
“Itu saja fokusmu?” Dio menatapnya tak percaya.
“Tentu saja! Itu tumbler kenangan!”
Dio akhirnya tertawa kecil. “Aku nggak tahu harus bangga atau takut.”
Setelah beberapa menit mengamati tiap sudut ruang server, hasilnya tetap nihil.
“Tumblerku tidak di sini.” Rara berdiri menatap langit-langit seakan berharap ada wahyu turun.
“Masih ada ruang genset,” kata Dio, "tapi itu agak berisik. Kamu siap?”
Rara mengangkat tangan seperti pramuka.
“Siap, senior!”
“Aku bukan seniormu.”
“Kalau begitu siap, mantan senior!” “Aku bukan itu juga.” “Siap! Dio!”
“Ya, itu lebih benar.”
Mereka berjalan ke ruang genset di lantai basement. Begitu pintu dibuka, suara mesin mengaum kencang seperti naga mekanik yang baru bangun tidur.
Rara langsung menutup telinga. “Kenapaaa ini suaranyaaaa kayak pesawat mau lepas landas!!!”
Dio sudah memakai earplug. Ia memberikan sepasang pada Rara.
“Pakai ini.”
“APA?!” Rara berteriak.
“PAKAI INI!” Dio menirukan dengan volume tinggi, tetap kalem.
“OHHH! OKAYYY!”
Rara dengan panik berusaha memasang earplug-nya, tapi malah menjatuhkan satu, mengambil, lalu menjatuhkan lagi, sampai ketiga kalinya.
Dio akhirnya mengambil, lalu memasangkan dengan hati-hati.
“Hei, kamu bisa ngomong? Aku nggak denger apa-apa,” kata Rara setelah earplug terpasang.
“Emang itu tujuannya,” jawab Dio.
“APA?!”
Dio hanya menggeleng sambil tersenyum, kemudian mulai menyisir area ruang genset.
Rara mengikuti dari belakang, tapi karena earplug, dia berbicara sangat keras.
“Diioooo!!! Kalo ketemu tumblernya aku akan.”
“Aku bisa denger kok,” kata Dio sambil menoleh.
“Masih bisa denger ya?!”
“Jangan teriak.”
“Aku ngerasa suara kecil banget!”
Suaranya menggema di seluruh ruangan sampai teknisi genset yang bekerja di ujung ruangan menoleh dengan ekspresi bingung campur geli.
Beberapa menit berlalu.
Rara merangkak memeriksa kolong box genset. Dio memeriksa sisi lain.
Saat Rara bangkit dari posisi merangkak, kepalanya hampir terbentur sudut besi. Dio spontan menahan bahu Rara dan menariknya menjauh.
“Hati-hati. Kamu bisa luka.”
“O-oh?” Rara langsung mematung. “Eh, makasih!”
Dio mengangguk pelan. “Kamu ini, harusnya investigasi bukan serang diri sendiri.”
“Maafkan aku, aku hanya terlalu bersemangat.”
“Sangat terlihat.”
Mereka melanjutkan pencarian sebentar dan akhirnya, setelah sekitar 20 menit.
Tidak ada juga.
Begitu keluar dari ruang genset, Rara melepaskan earplug sambil mengusap telinga.
“Dioooo, telingaku bergetar.”
“Itu halusinasi habis dengar suara keras.”
“Aku takut kalau nanti tidur telingaku masih berdengung.”
"Itu normal."
“Kalau berdengungnya ngomong tumbler, tumbler, gimana?”
“Itu bukan normal, itu kamu.”
“Benar juga.”
Dio terkekeh.
Saat mereka berjalan kembali ke area kantor, Rara tiba-tiba berhenti.
“Dio!”
“Hm?”
“Kamu nggak capek? Maksudku, serius loh, ini hari kedua kamu turun-turun ke ruang server, ruang genset, dan membahayakan nyawamu mengikuti aku.”
“Aku tidak membahayakan nyawaku.”
“Ya. Tadi kamu narik aku biar aku ga kesetrum!”
Dio menghela napas kecil. “Itu refleks. Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
Rara terdiam.
Kata-kata sederhana itu membuat dadanya hangat, seperti disiram teh manis panas, tapi versi menggemaskan.
“Makasi ya, Dio,” ucap Rara pelan, kali ini tanpa dramanya.
Dio menatapnya cukup lama, lembut.
“Iya. Sama-sama.”
Saat mereka kembali ke koridor kantor, Mira dan Dimas kebetulan lewat.
Mereka melihat Rara dan Dio berjalan berdampingan, keduanya tampak capek tapi akrab.
Mira langsung menyenggol Rara. “Gimana pencarian kalian berdua?”
Rara menghela napas lesu. “Belum nemu.”
“Tapi kalian makin kompak,” Mira berbisik nakal.
Rara memerah.
Di sisi lain, Dimas memberi kode jempol pada Dio. “Mantap, bro.”
Dio hanya menatapnya datar. “Kami cuma cari tumbler.”
“Tumbler atau hati seseorang?”
Dio berhenti berjalan, "aku pergi dulu,” katanya datar sambil melangkah menjauh.
Rara menutup wajah. “Astaga aku malu, mereka itu kenapaa,” tapi Dio sempat menolehkan kepala.
“Besok lanjut lagi ya,” katanya pelan.
Rara langsung mengangguk berlebihan. “I-iya! Besok kita lanjutkan investigasi mega besar ini!”
Dio tersenyum tipis. Membuat Rara semakin deg-degan.
Pencarian hari kedua tidak membuahkan tumbler, tapi satu hal jadi semakin jelas. Dio tidak hanya peduli pada misinya. Ia peduli pada orang yang bersamanya dan Rara, meski chaos dan absurd, mulai merasakan ada sesuatu yang lembut muncul di antara tawa, kejanggalan dan investigasi gila mereka.
Misi berlanjut. Perasaan juga mulai pelan-pelan ikut bergerak.